Memang, saya mengunjungi Isfahan baru pertama kali. Namun, ada sejumlah momentum yang membuat saya merasa begitu akrab dengan kota ini. Saat itu, sebagai mahasiswa strata satu di Universitas Muhammadiyah Malang, antara tahun 1995-1999, saya mengikuti mata kuliah Sejarah dan Peradaban Islam. Di antara banyak pembahasan yang lain, sampailah kami pada satu materi tentang tiga imperium besar Islam yang berjaya pada masanya: Syafawi di Persia, Usmani di Turki, dan Mughal di India. Imperium Syafawi adalah sebuah dinasti yang menjadi tonggak kejayaan peradaban Islam pada sekitar abad ke-16 M (1501-1722). Dengan Isfahan sebagai ibukota, Imperium Syafawi pernah menjadi kiblat dunia dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Kenyataan sejarah itu memikat minat. Lalu, saya bergerak untuk memperluas wawasan tentangnya. Semakin dalam pengetahuan tentang Isfahan saya dapat, semakin jauh saya terseret oleh magnet historisnya. Kekaguman pada sejarah Isfahan dan pencapaian historisnya membawa saya pada satu imajinasi. Saya menulis sebuah novel berjudul Kembara. Sejatinya novel ini tak bertutur tentang Dinasti Syafawi atau Persia. Tetapi saya tergoda untuk mengangkat Isfahan sebagai salah satu latar berlangsungnya alur cerita. Sumbernya adalah perpaduan antara sejarah dan berita. Kepada buku-buku sejarah saya berkonsultasi. Aneka sumber berita saya gali. Kemudian, dengan bekal itu, saya mengolah imajinasi.
Imajinasi tentang Isfahan semakin menjadi, tatkala saya harus menulis sebuah pengantar untuk buku antologi puisi karya penyair kenamaan Zawawi Imron, pada 2016. Kiai penyair itu hendak menerbitkan puisi-puisinya di Penerbit UMM Press, namun ia menghendaki sebuah kata pengantar. Entah apa pertimbangannya, saya yang dipilih. Kata Kiai Zawawi, sesekali yang memberi pengantar karya sastra harus berasal dari kalangan non-sastrawan agar terjadi dialog lintas ilmu. Salah satu puisi dalam antologi itu berjudul “Di Atas Isfahan.” Ini betul-betul sebuah kebetulan. Saya berusaha menuntaskan bacaan dan penghayatan atas puisi-puisi itu, namun tak cukup waktu. Akhirnya dalam sebuah perjalanan menuju Perancis, membaca draf buku itu saya tuntaskan. Di atas pesawat, layar monitor di depan kursi saya menujukkan bahwa penerbangan akan melintasi udara Isfahan. Saya terperanjat. Maka ketika berada di atas Isfahan, saya membuka dan membaca puisi “Di Atas Isfahan” tadi. Batin saya berteriak girang. Ternyata, bukan hanya dalam puisi. Saya memang benar-benar di atas Isfahan.
Sejarah dan imajinasi tentang Isfahan akhirnya menjelma realitas. Di penghujung Januari 2020, eksotisme Isfahan benar-benar bisa saya rengkuh. Setelah beberapa hari menjelajah kota Qum, pada suatu pagi, saya dan rombongan bergerak menuju Isfahan. Perjalanan berjarak sekitar tiga jam dengan mobil. Diselingi istirahat untuk sarapan pagi di kawasan pegunungan antara Qum dan Isfahan, akhirnya kami mencapai kota berjuluk Nisfi Jahan (setengah dunia) ini ketika hari mulai disiram sinar matahari. Matahari sebenarnya bersinar terang hari itu. Tetapi sergapan hawa dingin pada saat itu tak dapat dihindari.
Memasuki Isfahan, suasana eksotis segera terasa. Bangunan-bangunan dengan seni arsitektur yang bernilai tinggi menghiasi di kanan kiri. Di sana-sini aroma kesejarahan begitu kentara. Bayangan akan Isfahan yang historis semakin nyata, manakala kami berkunjung ke sebuah situs sejarah yang keunikannya demikian terasa. Kami memasuki sebuah pelataran yang bangunannya didominasi warna coklat bata. Sebuah menara tua berdiri di sana. Itulah Menara Jonban atau yang dalam bahasa Persia disebut dengan Monar Jonban.
Menara ini sangat unik. Sebuah bangunan yang tak seberapa besar, dengan pintu lengkung di tengah. Di bagian atas bangunan itu berdiri tegak dua menara di sisi kanan dan kiri. Menara ini dikenal dalam bahasa Inggris sebagai shaking minaret atau menara yang bergoyang. Disebut demikian, karena di antara dua sisi menara itu, jika salah satunya digerakkan, maka menara lainnya ikut bergoyang. Menara ini adalah bukti pencapaian seni dan sekaligus ilmiah pada masa Dinasti Syafawi. Karena tak hanya dibangun dengan memperhatikan sisi artistik, tetapi juga menggunakan prinsip-prinsip ilmu fisika.
Agha Faraz, seorang staf Universitas Internasional Mustafa, Qum, yang menemani perjalanan kami menuturkan apa Menara Jonban itu sejatinya. Dalam jarak yang tak terlalu jauh dari Menara Jonban, kami berdiri membentuk setengah lingkaran, mendengarkan penuturan Faraz. Untuk meyakinkan kami akan keistimewaan menara itu, Faraz dengan semangat menaikinya. Ia kemudian menggoyang satu menara, dan menara lainnya bergoyang pula. Suara lonceng gemerincing menandai gerakan kedua sisi menara. Secara refleks, kami bertepuk tangan untuk merayakan ketakjuban.
Rombongan pun bergerak meninggalkan Monar Jonban. Selanjutnya kami bergeser ke sebuah tujuan, yakni sebuah jembatan dengan 33 pintu lengkung yang melintas di atas sungai Zayandeh. Meski terlihat tua, bangunan itu kokoh dan terlihat sangat historis. Karena hari itu adalah Jum’at, jembatan itu ramai pengunjung. Masyarakat Iran dari berbagai umur seperti tak ingin ketinggalan merasakan peninggalan keagungan peninggalan Dinasti Syafawi itu. Tak berselang lama, kami menuju Masjid Jami’ Isfahan. Mengunjungi berbagai masjid di Iran, selalu menghadirkan ketakjuban. Aristektur yang teliti dan bernilai seni tinggi dengan mudah kita temukan di setiap sudut masjid. Saking indahnya, untaian-untaian kalimat indah pun tak mampu menggambarkannya dengan sempurna. Kami menjalankan shalat Jum’at di masjid ini untuk kemudian bergerak kembali.
Perjalanan waktu pada akhirnya menuntun kami ke sebuah lapangan yang telah lama ingin saya kunjungi. Tidak lain, inilah lapangan yang sering disebut sebagai lapangan terindah di dunia, Maidan Naqshi Jahan. Ketika pada akhirnya raga saya telah menyatu dengan udara Maidan, tidak sulit bagi saya memahami lapangan nan-elok menawan ini. Sejarah dan imajinasi saya tentang Maidan Naqsi Jahan terkonfirmasi. Istana Ali Qapu dan Masjid Lutfullah yang selama ini saya nikmati dalam bayangan, saat itu benar-benar hadir dalam kenyataan.
Sisi-sisi maidan saya nikmati dalam ketelitian. Tak ketinggalan, Bazaar Isfahan yang berada di kompleks maidan juga saya kunjungi. Ada satu anekdot di sini. Di kelas, kami banyak belajar tentang ‘irfan. Pada satu sesi, seorang profesor berbagi materi tentang ‘irfan nadhari (teoretis) dan ‘irfan amali (praktis). Keduanya berhubungan. Teori dan praktik ‘irfan, harus sama-sama dijalankan. Lalu dalam candaan, kami menambahkan tipe ‘irfan yang lain, yakni ‘irfan suuqi atau ‘irfan bazaari. Ini tentu bukan soal serius. Ini hanya menggambarkan bahwa selama di Iran, di setiap kesempatan kami tidak lupa mampir ke berbagai tempat (terutama bazaar) untuk belanja aneka rupa barang. Maka, Bazaar Isfahan pun tak lepas dari sasaran praktik ‘irfan suuqi kami.
Belum puas menikmati maidan dan bazaar, adzan maghrib berkumandang. Kami kembali bergeser. Mobil yang bergerak dengan kecepatan sedang membelah padat Isfahan. Tak terlalu lama mobil berjalan, kemudian menepi. Di tepi sebuah ruas jalan yang dekat dengan terminal, terlihat pria dan wanita Persia yang rata-rata berparas elok itu, berkerumun dalam balutan busana yang serba gelap. Sesekali menebar tegur sapa sesama mereka. Mereka bergantian memungut gelas berisikan teh yang disajikan dalam sebuah tempat yang menyerupai warung kontainer. Faraz memberi isyarat, kami harus bergabung.
Rupanya, teh itu disediakan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang melintas. Meneguk teh panas dalam suasana musim dingin yang ganas, memang sangat mengasyikkan. Namun mengetahui cerita di balik teh gratis itu tak kalah menakjubkan. Ya, teh gratis disediakan di berbagai titik kota untuk memperingati wafatnya Sayyidah Fatimah Ma’shumah (putri salah seorang imam dalam Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah). Maka, di berbagai sudut kota di seantero Iran, pemandangan seperti ini dengan mudah ditemukan. Kunjungan ke Isfahan hari itu, kami akhiri dengan shalat maghrib dan isya’ secara berjamaah di sebuah masjid. Ada yang menarik, di satu bagian lantai di depan pintu, terdapat Amerika lengkap dengan benderanya. Tulisan itu ditempel di lantai dengan tujuan agar setiap orang yang masuk masjid, menginjak bendera dan nama Amerika Serikat. Wow…!
Meninggalkan Isfahan dalam keremangan malam, pikiran saya kembali berimajinasi tentang Dinasti Syafawi. Benar, Dinasti Syafawi memang kini tak ada lagi. Kini, mereka hadir sebagai sejarah masa silam. Tetapi, Isfahan akan tetap hidup sebagai bukti kedigdayaan akal budi insani. Isfahan adalah bukti ketika agama menjadi inspirasi dan menyatu dalam ekspresi seni yang kaya dan tinggi. Hanya dengan mata jernih dan bebas dari prasangka madzhabi, manusia mampu menangkap makna hakiki Isfahan baik sebagai sejarah, realitas atau imaji.
(FI)


