back to top
Rabu, April 15, 2026

Mengapa Hadis Harus Dikritisi, Bukan Ditolak?

Lihat Lainnya

Badrut Tamam
Badrut Tamam
Penulis lepas, Blogger dan Content Publisher #tamamtalk #mataairlerengsemeru #menitigelombangrindudipulaumukaseribu

Pernah nggak sih kita bertanya, kenapa dalam Islam kita bukan hanya diminta beriman kepada Allah SWT, tapi juga kepada para Rasul? Jawabannya sederhana, karena para Rasul adalah “jembatan” yang membawa pesan Allah SWT kepada kita.

Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Tapi ibadah itu tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Maka diutuslah para Rasul, bukan karena mereka meminta, apalagi ambisi pribadi, melainkan murni karena anugerah dari Allah SWT. Mereka menerima wahyu, lalu menyampaikan kepada umat manusia. Dan iman kepada Allah SWT selalu berdampingan dengan iman kepada Rasul.

Artinya, beriman bukan percaya saja tapi juga membenarkan semua yang dibawa Rasul, menerima ajarannya, dan taat mengikuti petunjuknya. Maka ketika kita mengaku beriman, otomatis kita juga harus menerima ajaran Nabi Muhammad SAW, termasuk sunnah atau hadisnya.

Bayangkan begini, kalau Al-Qur’an adalah “konsep besar”, maka hadis adalah “panduan praktisnya”. Tanpa hadis, banyak ajaran Islam akan terasa abstrak.

Contoh sederhana, Al-Qur’an memerintahkan shalat, tapi tidak menjelaskan secara detail bagaimana tata caranya. Nah, di situ hadis berperan. Dari hadis kita tahu jumlah rakaat, bacaan, hingga gerakan shalat. Hadis itu penting, tapi tidak semua bisa langsung dipakai.

Mayoritas ulama sepakat bahwa hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. Tapi menariknya, tidak semua hadis bisa langsung dijadikan pegangan. Kenapa?

Baca Juga:  Ketika Ibn Arabi dan Immanuel Kant Mengadili Ibrahim (Part 2)

Karena dalam sejarah, hadis tidak langsung dibukukan secara rapi sejak zaman Nabi. Pada masa itu, penyampaian hadis lebih banyak dilakukan secara lisan. Baru sekitar satu abad setelah wafatnya Nabi, hadis mulai dikodifikasi secara resmi.

Di masa jeda itu, muncul tantangan besar, adanya pemalsuan hadis, baik karena konflik politik, fanatisme kelompok, atau kepentingan tertentu.

Contoh nyata dalam konflik politik masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, ada pihak-pihak yang membuat hadis palsu untuk mendukung kelompoknya. Ini tentu berbahaya kalau tidak disaring.

Karena peristiwa itu para ulama tidak tinggal diam. Mereka membuat sistem seleksi yang sangat ketat untuk memastikan mana hadis yang benar-benar berasal dari Nabi, dan mana yang tidak.

Bagaimana Ulama Menyaring Hadis? Ulama hadis bekerja seperti “detektif sejarah”. Mereka tidak asal percaya. Setiap hadis diteliti dari dua sisi, pertama sanad (jalur periwayatan). Sanad itu seperti rantai orang-orang yang menyampaikan hadis, dari Nabi sampai ke perawi terakhir.

Ada lima syarat utama agar sanad dianggap sahih, yaitu rantainya harus bersambung (tidak terputus), para perawinya harus jujur (adil), ingatannya kuat (dhabit), tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat, tidak ada cacat tersembunyi

Contoh kasus, kalau ada hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang dikenal suka berdusta, maka hadis itu langsung diragukan, meskipun isinya terlihat bagus. Makanya ada ungkapan ulama:“Sanad adalah bagian dari agama. Tanpa sanad, orang bisa berkata apa saja.”

Baca Juga:  11 Kategori Pengkritik Jurnal Terindeks Scopus, Kamu yang Mana?

Kedua, matan (isi hadis). Setelah sanad lolos, isi hadis juga diuji. Tidak semua yang “terdengar religius” itu benar. Beberapa kriteria matan yang sahih, bahasanya baik dan wajar, maknanya tidak bertentangan dengan akal sehat, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, tidak bertentangan dengan fakta sejarah

Contoh hadis yang bermasalah:

الباذنجان شفاء من كل داء

“Terung adalah obat segala penyakit”

النظر إلى الوجه الجميل عبادة

“Melihat wajah cantik adalah ibadah”

Sekilas terdengar menarik, tapi kalau diuji, ini tidak sesuai dengan logika, ilmu pengetahuan, dan tidak didukung dalil kuat. Maka hadis seperti ini ditolak.

Contoh lain yang lebih serius lagi, ada hadis yang menyebut 

ولد الزاني لا يدخل الجنة إلى سبعة أبناء

“anak zina tidak masuk surga sampai tujuh turunan”. Ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain (Q.S. Al-An’am ayat 164). Maka hadis ini tidak bisa diterima.

Dan juga ada yang salah paham, mengira bahwa mengkritik hadis berarti meragukan Nabi Muhammad SAW. Padahal justru sebaliknya. Kritik hadis itu dilakukan untuk menjaga kemurnian ajaran Nabi.

Para ulama tidak sedang menguji Nabi, tapi menguji jalur penyampaian hadis, apakah benar sampai kepada kita secara valid atau tidak. Bayangkan kalau tidak ada proses ini, agama bisa tercampur dengan ucapan-ucapan palsu yang mengatasnamakan Nabi.

Baca Juga:  Rasisme adalah Dosa Asli Amerika

Beberapa orientalis seperti Ignaz Goldziher pernah menuduh bahwa ulama Islam hanya fokus pada sanad dan mengabaikan isi hadis. Tapi faktanya tidak demikian. Sejak awal, ulama seperti Imam Syafi’i sudah menetapkan bahwa hadis harus diuji dari dua sisi, sanad dan matan. Bahkan banyak ulama setelahnya yang memperkuat metode ini.

Artinya, sistem kritik hadis dalam Islam sebenarnya sangat komprehensif, tidak hanya melihat “siapa yang bicara”, tapi juga “apa yang dibicarakan”. Dan ini sebagai bentuk kehati-hatian luar biasa dalam menjaga agama.

Memahami hadis bukan hanya soal menerima, tapi juga memahami proses bagaimana hadis bisa sampai kepada kita. Dari proses itu, kita akan melihat betapa seriusnya para ulama menjaga warisan Nabi, agar tetap murni, otentik, dan bisa diamalkan dengan penuh keyakinan.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru