back to top
Selasa, Mei 19, 2026

Merosotnya Rupiah Membuka Luka Ekonomi Rakyat

Lihat Lainnya

Rahmat Rusma Pratama
Rahmat Rusma Pratama
Ketua Bidang BPBPA DPD IMM Jawa Tengah, Pegiat JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, dan Pengamat Sosial, Ekonomi, dan Politik

Tulisan ini hadir dihadapan pembaca sebagai respons terhadap Pidato Bapak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada saat meresmikan Operasionalisasi 1.061. Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, bahwa “Dollar mau berapa ribu kek, kalian di desa tidak pakai dolar”. Dari penggalan isi pidato tersebut mengindikasikan bahwa seolah-olah tidak ada efek domino melemahnya rupiah terhadap dolar bagi ekonomi rakyat Indonesia.

Pada Minggu 17/5/2026 siang nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dollar yaitu mencapai 17.600 rupiah per satu dollar Amerika Serikat. Bahkan diprediksi akan terus melemah ke angka 18.000 dalam dua pekan kedepan. Ini menunjukkan bahwa ada sinyal serius yang tidak mengenakkan tertuju pada kondisi ekonomi masyarakat bawah.

Statetment presiden Prabowo trersebut memancing reaksi public tak terkecuali penulis yang sedikit kecewa dengan lontaran ucapan beliau. Yang seolah-olah masyarakat Indonesia ini tidak memahami hukum kausalitas perekonomian dunia. Saya rasa ini kurang bijak, walaupun penulis paham bahwa pak prabowo sebenarnya ingin mengirim sinyal harapan kepada para investor. Agar tidak menarik uangnya dari Indonesia dan  aktivitas perekonomian dalam negeri masih di jalur yang aman.

Padahal yang terjadi di lapangan, kelas sosial yang paling berdampak pada melemahnya rupiah adalah kelas sosial yang paling bawah. Efek pertama yang paling merasakan guncangan masyarakat adalah naiknya harga barang pokok yang kita konsumsi sehari-hari.

Baca Juga:  Ketika Baqir Ash-Sadr Berbicara tentang Ekonomi Islam

Kontradiksi Stabilitas Ekonomi dengan Realitas Rakyat Kecil

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap pelemahan rupiah tidak memberikan dampak serius terhadap masyarakat bawah. Justru bertolak belakang dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Sebagaimana yang dikutip oleh BBC.com bahwa ekonomi Indonesia masih ditopang oleh impor sekitar 70%. Adapun impor tersebut tersebar pada industri tekstil, elektronik, kimia, obat-obatan, minyak dan gas, hingga kendaraan pribadi. Tidak hanya sampai disitu, juga masih ada barang impor. Sekitar 9% untuk barang konsumsi seperti daging, buah, kedelai, bawang putih, ponsel, baju dan sepatu hingga skincare.

Adapun, bahan dasar tempe dan tahu yaitu kedelai yang saat ini masih impor sekitar 90%. Sudah berdampak kepada para pengusaha dan tentunya para konsumen. Sebagai mata rantai terakhir dari perjalanan perputaran ekonomi.

Seorang pengusaha tahu asal Semarang yakni Joko Wiyatno yang diwawancarai oleh reporter bbc.com mengungkapkan “bahwa harga awal kedelai 7.000 per kilogram, saat ini sudah mencapai harga 10.500 per kilogram”.

Jika harga barang dasar sudah naik, tentu yang jadi korban adalah konsumen. Mungkin harga tahunya sama, tetapi ukuran tahunya bisa menipis atau mengecil. Demi untuk melancarkan usahanya agar tetap jalan, maka di ambillah langkah terpaksa tersebut.  

Belum lagi pada persoalan minyak dan gas sebagai bahan utama untuk menyalakan dapur ibu-ibu disetiap rumah. Ingat, Indonesia masih bergantung pada impor salah satunya impor dari Amerika Serikat. Bahkan untuk gas (LPG), menurut data CNBC Indonesia.com bahwa sekitar 70-75 % masih impor dari Amerika Serikat.

Baca Juga:  Apa itu Demokrasi?

Krisis Ekonomi dan Terhimpitnya Sektor Pangan Rakyat

Melihat situasi ini, siap-siap saja rakyat indonesia akan merasakan pahitnya kenaikan harga BBM, gas elpiji, dan gorengan-gorengan berbahan dasar kedelai seperti tempe goreng, tempe mendoan dan tahu isi. Tempe, tahu dan gorengan sebagai makanan yang paling merakyat dan murah pun akan lumayan memberatkan masyarakat.

Disisi lain jenis makanan yang cukup murah di wilayah pesisir seperti ikan dan sejenisnya juga berdampak, utamanya bagi para nelayan. Kasusnya sudah terjadi di Kabupaten Pati dan Tegal Jawa Tengah. Ratusan kapal nelayan hanya bersandar tanpa aktivitas dan ribuan anak buah kapal (ABK) juga terdampak kehilangan pekerjaanya. Yang setiap hari hanya melaut. Mereka memilih tidak melaut karena alasan mahalnya harga bahan bakar minyak solar non-subsidi kisaran Rp.23.600 – Rp.26.000 per liter.

Salah satu nelayan Pati bernama Tukidi yang diwawancarai oleh salah satu wartawan rmoljawatengah.id memutuskan tidak berlayar karena tangkapan ikan tidak menentu sementara harga solar sangat tinggi. Jadi sudah sangat jelas bahwa tanggapan presiden terhadap melemahnya rupiah kontradiktif dan sangat susah diterima oleh akal sehat.

Oleh karena itu, Pemerintah yang dipimpin oleh Prabowo Subianto sebaiknya jujur saja pada rakyat bahwa perekonomian kita sedang tidak baik-baik saja, agar kita sebagai rakyat ikut bahu membahu membantu masalah perekonomian ini. Namun faktanya pemerintah malah sebaliknya berpura-pura seolah-olah negara ini sedang baik-baik saja. Akhirnya nanti yang akan dirugikan adalah rakyat, bukan para kapitalis. Inilah yang saya sebut sebagai redupnya cahaya mata hati bangsa.

Baca Juga:  Salahuddin al-Ayyubi dan Rakyat yang Terlupakan

(Nashuha)

Artikel Sebelumnya

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru