لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
قآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا و قآَلَ اَللهُ تَعَآلَي
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ
اَمَا بَعْدُ
اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’assiral Muslimin/ah Sidang Shalat Idul Adha yang Berbahagia
Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Allah SWT, Alhamdulillah,atas nikmat dan karuniaNyalah, di pagi hari yang cerah ini, 10 Zulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2026 M, kita masih diberi nafas kehidupan untuk meningkatkan kadar ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Apakah taqwa itu? Menurut Raghib al-Ashfahani, ‘taqwa’ adalah memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan (حفظ الشئ مما يؤذه وضره) (Al-Asfahany, 677). Muhammad Abduh, penulis kitab tafsir Al-Manar, menyebutkan bahwa ‘taqwa’ bermakna menjauhkan diri dari kemudharatan. Sedangkan menurut Muhammad Ali As-Shabuni taqwa adalah sikap takut terhadap murka Allah. Sikap takut tersebut diwujudkan dalam bentuk menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Seraya tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.
Ada dialog yang indah antara dua sahabat Nabi SAW yang mulia, yaitu dialog Umar bin Khatab dengan Ubay bin Ka’ab tentang arti taqwa. Suatu ketika Umar bertanya kepada Ubay, “Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?” Umar menjawab, “Tentu saja pernah”. Ubay bertanya kembali, “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?”. Umar menjawab, “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati”. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat takwa.”
Dari dialog Umar dan Ubay ini dapat kita petik pelajaran penting tentang hakikat taqwa. Bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang hidupnya senantiasa penuh kehati-hatian. Setiap saat ia selalu memastikan bahwa dirinya tidak menginjak duri-duri larangan Allah SWT.
Ibarat mudik ke kampung halaman yang memerlukan bekal, begitupula dengan “mudik” ke kampung halaman abadi nanti, yaitu negeri akhirat, juga memerlukan bekal. Dan tidak ada bekal terbaik kecuali bekal taqwa. Dalam surat Al-Baqarah [2]: 197 Allah swt berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal sehat.”
Sebab itu, tetaplah bertakwa dalam setiap keadaan, di segala cuaca, kapanpun, di manapun dan dalam keadaan apapun. Sebab, hakikat syukur yang sesungguhnya adalah ketakwaan kepada-Nya. Terlebih lagi, Allah telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Maka sudah sepantasnya kita membalasnya dengan ketaatan, penghambaan, dan ketakwaan yang tulus kepada Allah SWT.”
إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah…” (QS Al-Kautsar [108]: 1-2).
اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Ada banyak suri tauladan dan hikmah yang dapat kita petik dari kisah Nabiyullah Ibrahim AS dan peristiwa Idul Kurban. Allah SWT Berfirman dalam suratAl-Mumtahanah [60] ayat 4:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya”
Hikmah dan suri tauladan apa sajakah yang dapat kita petik dari peristiwa Idul Kurban dan Nabi Ibrahim AS? Setidaknya ada tiga hikmah atau falsafah dari peristiwa Idul Kurban dan Nabi Ibrahim AS, yaitu:
Pertama, Kurban Mengajarkan Pentingnya Keseimbangan Keshalihan Individual dan Keshalihan Sosial
Di dalam peristiwa agung Idul Kurban terkandung pesan mendalam bahwa kesalehan individual harus senantiasa berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Karena itulah, setelah Allah memerintahkan kita menegakkan shalat Iduladha, Allah melanjutkannya dengan perintah berkurban: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ — ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.’
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama tidak boleh dipisahkan. Shalat adalah simbol kesalehan individual, sedangkan kurban merupakan manifestasi kesalehan sosial yang menghadirkan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.
Di dalam ibadah kurban terdapat nilai luhur penguatan relasi kemanusiaan, yakni semangat berbagi, kepedulian, dan kasih sayang antar sesama. Daging kurban yang dibagikan bukan sekadar makanan, tetapi simbol hadirnya cinta dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Melalui kurban, Islam mendidik umatnya agar tidak hidup hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan turut merasakan denyut penderitaan dan kebutuhan saudaranya. Sebab sejatinya, kesalehan bukanlah milik pribadi yang dinikmati sendiri, tetapi cahaya kebaikan yang harus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Di dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali diceritakan sebuah kisah yang sarat dengan pelajaran tentang pentingnya kesalehan sosial. Suatu ketika, Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT seraya bertanya, ‘Wahai Allah, aku telah melaksanakan berbagai ibadah yang Engkau perintahkan. Dari semua ibadah itu, manakah yang paling Engkau cintai? Apakah shalatku?’ Allah SWT menjawab, ‘Bukan. Shalatmu itu manfaatnya kembali kepada dirimu sendiri, karena shalat mampu menjagamu dari perbuatan keji dan mungkar.’
Kemudian Nabi Musa AS bertanya lagi, ‘Apakah dzikirku, ya Allah?’ Allah menjawab, ‘Bukan. Dzikirmu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan dzikir itu hatimu menjadi tenang dan tenteram.’ Nabi Musa kembali bertanya, ‘Apakah puasaku, ya Allah?’ Allah SWT menjawab, ‘Bukan. Puasamu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan puasa engkau belajar menundukkan hawa nafsumu.’
Lalu Nabi Musa AS bertanya kembali dengan penuh kerendahan hati, ‘Kalau begitu, ibadah apakah yang paling Engkau cintai, ya Allah?’ Maka Allah SWT menjawab, ‘Ibadah yang paling Aku cintai adalah ketika engkau menghadirkan kebahagiaan bagi orang yang sedang berada dalam kesusahan.’
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa agama tidak hanya menuntut kesalehan ritual, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial. Sebab, ibadah yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang melahirkan berdampak dan meberikan manfaat, meringankan penderitaan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama manusia.
Sebab itu, dalam hadis Hasan disebutkan bahwa “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan kurban”. (HR al-Tirmidzi dan Ibn Majah). Mengapa kurban termasuk ibadah yang paling dicintai Allah? Karena di dalamnya terdapat unsur membahagiakan orang lain.
Hal ini menegaskan bahwa untuk menggapai keridhaan Allah tidak cukup hanya dengan mengejar keshalihan individual saja, akan tetapai juga diperlukan keshalihan sosial. Bahkan Allah melabeli mereka yang tidak penduli kepada fakir miskin dan anak-anak yatim dengan gelar “pendusta agama” (يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ)? (QS. Al-Maun [107]: 1-7).
Sebab itu, jumhur ulama dari kalangan Imam Syafi’i dan Imam Malik menghukumi kurban dengan sunnah muakkadah. Sunnah yang mendekati wajib. Hal tersebut di dasarkan pada hadis:
مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan (kelonggaran rizki), tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami,” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam hadis lain juga disebutkan:
يَا يُّهَاالنَّاسُ اِنَّ عَلى كُل أهْلِ بَيْتٍ في كلِّ عَامٍ أُضْحِيَّة
“Hai manusia, sesungguhnya setiap penghuni rumah pada tiap-tiap tahun disunahkan berkurban,” (HR Abu Dawud).
Idul Kurban yang hadir setiap tahun senantiasa mengingatkan kita bahwa praktik beragama tidak cukup hanya berhenti pada ranah ritual dan simbol semata, tetapi harus melahirkan dampak dan manfaat bagi sesama. Ibadah kurban adalah wujud kesalehan sosial, sebuah ibadah yang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, kepedulian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Sebab hakikat manusia terbaik sebagaimana sabda Rasulullah SAW, khairunnas anfa’uhum linnas, adalah manusia yang paling besar manfaatnya bagi orang lain. Karena itu, ibadah yang paling dicintai Allah bukan ibadah yang bersifat individual, tetapi ibadah yang paling luas dampaknya; menghadirkan kebaikan, kasih sayang, dan kemaslahatan bagi sesama.
Cendekiawan muslim, Prof Azyumardi Azra mengatakan bahwa agama tidak boleh hanya berhenti pada tataran doktrin atau ritual. Beragama harus memberikan dampak langsung berupa perwujudan kasih sayang, perdamaian, dan keadilan sosial bagi seluruh alam. Dan ibadah kurban adalah contohnya.
اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’assiral Muslimin, Rahimakumullah
Kedua, Hakikat Kurban adalah Menyembelih Nafsu Kebinatangan dan Melepaskan Belenggu Kepemilikan.
Hakikat kurban sejatinya bukan hanya sekadar menyembelih hewan kurban semata. Lebih dari itu, kurban adalah simbol dan spirit untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang masih bercokol dalam diri manusia. Ketika kambing, sapi, atau unta disembelih, maka pada saat yang sama seharusnya kesombongan, kerakusan, kezaliman, dan hawa nafsu hewani dalam diri kita juga ikut disembelih.
Kurban harus melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, lebih peduli kepada sesama, lebih jujur, dan lebih tunduk kepada Allah SWT. Tidak lagi merasa paling hebat, paling kuat, paling benar, atau paling pintar. Sebab, manusia yang dikuasai nafsu hewani akan mudah menindas, serakah, rakus, acuh terhadap penderitaan orang lain, bahkan tidak mampu lagi membedakan antara yang halal dan haram. Nafsu-nafsu hewani itu harus disembelih hingga hati kembali dipenuhi ketakwaan
Hakikat kurban juga merupakan latihan untuk menyembelih rasa kepemilikan dalam diri manusia. Memang secara simbolis yang tampak disembelih adalah hewan (Kambing, Sapi atau Unta), namun sesungguhnya secara hakiki yang sedang disembelih adalah “rasa kepemilikan” terhadap apa yang paling dicintai.
Karena itu Allah tidak langsung memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih Kambing, Sapi atau Unta, melainkan memerintahkan beliau mengorbankan Nabi Ismail AS, putra yang sangat dicintainya dan telah lama dinantikan kehadirannya. Dari peristiwa itu, Allah ingin menunjukkan bahwa cinta kepada-Nya harus berada di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim lulus dalam ujian ketundukan, karena beliau rela menyerahkan apa yang paling berharga demi ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam konteks kehidupan hari ini, bisa jadi “Ismail-Ismail” itu hadir dalam bentuk yang berbeda. Bisa jadi Ismail kita pada konteks hari ini adalah harta yang kita kumpulkan, saldo ATM yang kita banggakan, kebun yang luas, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, jabatan yang dipertahankan, atau aset-aset dunia yang begitu kita cintai. Semua itu pada hakikatnya hanyalah titipan Allah.
Maka kurban mengajarkan kepada kita agar jangan sampai hati kita diperbudak oleh rasa memiliki. Sebab, semakin kuat rasa kepemilikan itu menguasai hati, semakin sulit seseorang berbagi dan berkorban di jalan Allah. Melalui ibadah kurban, Allah mendidik kita agar mampu melepaskan keterikatan dunia, menumbuhkan keikhlasan, dan menyadari bahwa segala yang kita miliki pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’assiral Muslimin, Rahimakumullah
Ketiga, Kurban Memberikan Pesan Bahwa Manusia Harus Dimuliakan
Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan Ismail terdapat di dalam surat As-Saffat [37]: 102-107. Ketika keduanya telah berserah diri dan saat Nabi Ibrahim sedang membaringkan putranya untuk melaksanakan perintah Allah, tiba-tiba Allah menggantinya dengan seekor hewan sembelihan. Allah berfirman:
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Ada makna simbolis yang sangat mendalam ketika Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor hewan sembelihan. Di balik peristiwa agung itu, Allah SWT hendak mengajarkan kepada umat manusia bahwa manusia tidak boleh dikorbankan demi ambisi, kekuasaan, kepentingan, ataupun kejayaan duniawi. Darah manusia adalah mulia dan harus dijaga kehormatannya. Karena itu, mengorbankan sesama manusia demi hawa nafsu, politik, keuntungan, dan kepentingan sesaat tidak pernah dibenarkan dalam ajaran Islam.
Padahal Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 32 bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar seakan-akan sama dengan membunuh seluruh manusia. Sebaliknya, menyelamatkan satu nyawa seakan-akan telah menyelamatkan seluruh umat manusia. Betapa Islam sangat memuliakan kehidupan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Rasulullah SAW pun mengajarkan bahwa sesama manusia harus saling mencintai dan menyayangi. Beliau mengibaratkan umat manusia seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lain turut merasakannya. Dalam hadis yang lain, Nabi SAW juga menggambarkan manusia bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Karena itu, semangat Idul Kurban seharusnya melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan, bukan kebencian dan permusuhan.
Namun realitas dunia hari ini justru memperlihatkan luka kemanusiaan yang begitu mendalam. Peperangan dan pertumpahan darah antar sesama manusia masih terjadi di belahan dunia. Seperti yang terjadi di Palestina, Lebanon, dan Iran. Puluhan ribu nyawa melayang, anak-anak kehilangan orang tua, rumah-rumah hancur, dan tangisan pilu kemanusiaan terdengar menyayat hati. Semua ini menjadi pengingat bagi kita bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan semata, tetapi juga panggilan untuk memuliakan manusia, menjaga kehidupan, dan merawat dunia dengan kasih sayang.
اَللهُ اَكْبَرُاللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’assiral Muslimin, Rahimakumullah
Demikianlah falsafah yang dapat kita petik dari peristiwa ibadah kurban. Semoga dapat meningkatkan kadar ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan ini harus kita mulai dari diri dan keluarga kita. Karena dari keluarga-keluarga yang bertakwa inilah akan lahir masyarakat dan bangsa yang bertakwa. Sehingga negeri Indonesia menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang alamnya banyak memberikan kebaikan dan semua masyarakatnya berprilaku baik.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (Al-A’raf [7] ayat 96).
Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa.
.اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَخْمَعِيْنَ
اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين اللَّهُمَّ انْصُرْإِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين اللَّهُمَّ ثَبِّتْإِ يمَانَهُمْ وَأَ نْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَىقُلُوبِهِم
اَلَّلهُمَّ تَقَبَّلْ مِنّآ صَلاَتَنا َوَجَمِيعَ عِبآدَتِنآ بِرِضآكَ وَفَضْلِكَ الْكَرِيْم وَتُبْ عَلَيْنآ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ
أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ
(Nashuha)


