back to top
Kamis, Mei 28, 2026

Tastafi Go International: Dakwah Dayah untuk Dunia

Lihat Lainnya

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Dosen UNISAI Samalanga, Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga, Pengurus PW Ansor Aceh dan Mantan Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Pelantikan serentak Pengurus Majelis TASTAFI se-Aceh, dalam negeri, dan luar negeri di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Jumat malam, 15 Mei 2026, bukan sekadar agenda organisasi. Ini merupakan penanda bahwa dakwah dayah sedang memasuki babak baru: dari tradisi lokal menuju jaringan global. Kegiatan itu dirangkai dengan pengajian akbar Abu Syekh H Hasanoel Basri HG atau Abu MUDI dan dihadiri jamaah dari berbagai daerah, termasuk pengurus TASTAFI luar daerah dan luar negeri.

Menjaga Akar, Menyapa Dunia

TASTAFI, singkatan dari Tasawuf, Tauhid, dan Fikih, sejak awal lahir sebagai gerakan pencerahan keagamaan. Dalam catatan Dayah MUDI Mesra, Abu MUDI pernah menjelaskan bahwa TASTAFI bertujuan memberi pencerahan kepada masyarakat tentang ilmu fardhu ‘ain dan hukum Islam. Sementara kajian akademik menyebut TASTAFI lahir dari keprihatinan ulama terhadap penyimpangan akidah dan kemunduran spiritual masyarakat Aceh.

Di sinilah letak kekuatan TASTAFI. Ia tidak berdiri di atas euforia massa semata, tetapi di atas kebutuhan umat terhadap ilmu yang bersanad, akidah yang lurus, fikih yang membimbing, dan tasawuf yang melembutkan hati. Dalam masyarakat modern yang dibanjiri informasi agama dari media sosial, otoritas ilmu sering kali kalah cepat oleh potongan video pendek, debat emosional, dan ceramah viral tanpa kedalaman metodologis. TASTAFI hadir untuk mengembalikan umat kepada cara belajar yang beradab: mendengar ulama, memahami dalil, menimbang konteks, dan membentuk akhlak.

Argumen ini sejalan dengan Imam al-Ghazali. Dalam tradisi pendidikan ruhani Islam, al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Kutipan yang masyhur dari Ayyuhā al-Walad berbunyi: “al-‘ilmu bilā ‘amalin junūn”, ilmu tanpa amal adalah kegilaan. Maknanya jelas: dakwah tidak boleh hanya melahirkan orang yang pandai berbicara agama, tetapi miskin amal dan akhlak. Bila TASTAFI ingin mendunia, ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah pengurus atau luas jaringan, melainkan sejauh mana ilmu yang disampaikan mengubah perilaku umat.

Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari memberi peringatan yang lebih halus. Dalam al-Hikam, beliau berkata: “al-a‘mālu ṣuwarun qā’imah”—amal hanyalah bentuk yang berdiri; ruhnya adalah keikhlasan.  Tentunya pesan ini penting bagi TASTAFI. Gerakan yang besar rawan tergoda oleh kebanggaan simbolik: banyak cabang, banyak jamaah, banyak publikasi. Tetapi tasawuf mengingatkan bahwa kebesaran dakwah bukan pada gemuruh acaranya, melainkan pada kejernihan niat dan manfaatnya bagi umat. TASTAFI harus menjaga agar “go international” tidak berubah menjadi slogan, tetapi menjadi perluasan khidmah.

Baca Juga:  Madzahibut Tafsir: Meneliti Madzhab Tafsir dari Klasik hingga Kontemporer

Dari Plato sampai Gus Baha: Dakwah sebagai Pendidikan Jiwa

TASTAFI dapat dibaca bukan hanya sebagai majelis pengajian, tetapi juga sebagai gerakan pendidikan jiwa. Dalam kerangka filsafat, Plato pernah mengatakan: “The direction in which education starts a man will determine his future life.” Artinya lebih kurang arah pendidikan seseorang menentukan masa depannya. Sosok Plato berasal dari tradisi Yunani, gagasan ini menemukan relevansinya dalam dakwah dayah. Masyarakat yang pendidikannya diarahkan pada tauhid, fikih, dan akhlak akan melahirkan manusia yang stabil secara iman, tertib dalam ibadah, dan santun dalam kehidupan sosial.

Di sinilah TASTAFI memiliki fungsi peradaban. Ia tidak hanya menjawab pertanyaan “apa hukumnya?”, tetapi juga membentuk manusia yang tahu bagaimana hidup sebagai Muslim. Tauhid menjaga orientasi hidup; fikih mengatur tindakan; tasawuf membersihkan dorongan batin. Tiga unsur ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat diaspora Aceh dan Muslim Nusantara di luar negeri, yang sering berhadapan dengan tantangan identitas, pendidikan anak, makanan halal, relasi sosial lintas budaya, serta praktik ibadah di lingkungan minoritas Muslim.

Gus Dur memberi fondasi sosial yang sangat penting bagi arah dakwah ini. Kutipan yang sering dinisbatkan kepada beliau berbunyi: “Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.” Dalam konteks TASTAFI, kalimat ini bukan ajakan untuk melemahkan prinsip agama, melainkan cara menjaga agar dakwah tetap beradab. TASTAFI harus tegas dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi tetap santun dalam komunikasi. Ia harus kuat menjaga tradisi, tetapi tidak boleh kehilangan kelembutan saat menyapa masyarakat global.

Warisan “Islam ramah” Gus Dur juga dibaca sebagai salah satu wajah Islam Indonesia yang dikagumi karena mampu mengawinkan agama dan demokrasi secara damai. Maka, ketika TASTAFI melangkah ke luar negeri, ia membawa peluang besar: memperkenalkan Islam Aceh yang berilmu, teduh, dan berbudaya. Inilah modal sosial yang tidak dimiliki oleh semua gerakan dakwah.

Gus Baha memberi penegasan yang sejalan. Dalam salah satu penjelasannya yang dimuat NU Online, beliau mengingatkan bahwa “ajaran Islam itu harus tersenyum, atau wajahnya ceria.”Kutipan ini sederhana, tetapi sangat dalam. Dakwah yang benar tidak selalu harus keras, tegang, dan penuh ancaman. Ada saatnya agama disampaikan dengan senyum, humor, kelembutan, dan kejernihan akal. TASTAFI perlu mengambil spirit ini, terutama di ruang digital yang sering penuh kemarahan, saling serang, dan potongan narasi yang memecah belah.

Baca Juga:  Meneropong Tantangan dan Problematika Dakwah Islam

Buya Hamka juga memberi arah yang sangat solutif. Pesan dakwah yang dinisbatkan kepada Hamka berbunyi: “Dakwah itu membina, bukan menghina.” Kalimat ini seharusnya menjadi etika publik TASTAFI. Dakwah tidak boleh berubah menjadi panggung mempermalukan orang yang belum tahu. Dakwah harus mengangkat, bukan menjatuhkan; mengobati, bukan melukai; mengajak, bukan mengejek. Dengan prinsip ini, TASTAFI dapat diterima bukan hanya oleh jamaah tradisional dayah, tetapi juga oleh generasi muda, masyarakat urban, dan diaspora.

Dari Seremonial ke Ekosistem Dakwah Global

Tantangan terbesar TASTAFI setelah “go international” bukan bagaimana memperluas nama, tetapi bagaimana menjaga mutu. Perluasan jaringan tanpa sistem kaderisasi akan melahirkan struktur yang besar, tetapi rapuh. Pelantikan pengurus di berbagai daerah dan luar negeri harus diikuti dengan strategi dakwah yang terukur, kurikulum yang jelas, kader yang siap, dan media yang profesional. Alfakir mencoba menawarkan beberapa solusi dan saran meskipun sebagaian telah dan mulai dirintis, diantaranya:

Pertama, TASTAFI perlu menyusun kurikulum dakwah bertingkat. Untuk jamaah umum, materi dapat dimulai dari fardhu ‘ain: akidah dasar Ahlussunnah wal Jamaah, fikih ibadah, akhlak keluarga, dan tasawuf praktis. Untuk kader, materi perlu diperkuat dengan kitab-kitab muktabar, metode istinbath hukum, kaidah fikih, serta adab berdakwah. Dengan begitu, TASTAFI tidak hanya menjadi pengajian rutin, tetapi sekolah masyarakat yang berkelanjutan.

Kedua, TASTAFI perlu membangun pusat kaderisasi dai muda dayah. Generasi baru harus menguasai kitab, memahami realitas sosial, dan mampu berbicara dengan bahasa zaman. Kader TASTAFI tidak cukup fasih membaca teks Arab, tetapi juga harus mampu menjawab problem modern: krisis keluarga, literasi digital, radikalisme media sosial, kecemasan generasi muda, ekonomi umat, dan tantangan diaspora. Inilah makna aktual dari pesan al-Ghazali: ilmu harus bergerak menjadi amal.

Ketiga, TASTAFI perlu serius membangun ekosistem dakwah digital. NU Online pernah mencatat bahwa kajian TASTAFI asuhan Abu MUDI dapat diakses secara daring melalui Zoom dan telah menjangkau luar Aceh, bahkan hingga Eropa dan benua lain. Artinya, fondasi global itu sudah ada. Tinggal bagaimana ia dikelola lebih profesional: video pendek, podcast, artikel populer, kelas daring, infografis fikih, dokumentasi kitab, dan arsip pengajian yang mudah diakses.

Baca Juga:  Belajar dari Kosmopolitan Kesultanan Malaka Pertengahan Abad ke15

Keberadaan  dakwah digital TASTAFI tidak boleh mengejar viralitas kosong. Konten harus tetap menjaga adab, akurasi, dan sanad. Jangan sampai ilmu dayah yang mulia dikemas secara sembrono hanya demi mengejar algoritma. Di sinilah Ibnu ‘Athaillah relevan: amal dakwah harus punya ruh ikhlas. Media hanyalah alat; tujuan utamanya tetap membimbing umat.

Keempat, TASTAFI perlu membuka layanan konsultasi keagamaan diaspora. Masyarakat Aceh di luar negeri membutuhkan jawaban praktis: bagaimana mendidik anak dalam lingkungan non-Muslim, bagaimana menjaga shalat di tempat kerja, bagaimana memastikan makanan halal, bagaimana mengurus pernikahan, warisan, atau persoalan keluarga lintas negara. TASTAFI dapat membentuk forum fikih diaspora berbasis daring, dengan ulama dayah sebagai rujukan dan kader lokal sebagai penghubung.

Kelima, TASTAFI perlu menjaga wajah dakwah yang ramah dan merangkul. Prinsip Gus Dur, Gus Baha, dan Hamka harus menjadi etika komunikasi publik. Dunia sudah terlalu bising oleh kemarahan. Dakwah dayah harus tampil sebagai suara yang menenangkan, bukan menambah kegaduhan. TASTAFI harus kuat dalam prinsip, tetapi lembut dalam pendekatan; kokoh dalam akidah, tetapi lapang dalam muamalah; teguh menjaga tradisi, tetapi cerdas membaca zaman.

Pada akhirnya, “Tastafi Go International, Dakwah Dayah Mendunia” adalah gagasan besar yang layak dirawat. Dari Aceh, TASTAFI membawa warisan dayah: tauhid yang meneguhkan, fikih yang menuntun, dan tasawuf yang melembutkan. Dari al-Ghazali, ia belajar bahwa ilmu harus menjadi amal. Dari Ibnu ‘Athaillah, ia belajar bahwa amal harus bernyawa ikhlas. Dari Plato, ia belajar bahwa pendidikan menentukan masa depan manusia. Dari Gus Dur, ia belajar bahwa Islam harus tampil ramah. Dari Gus Baha, ia belajar bahwa agama harus menghadirkan senyum.

Berdasarkan paparan di atas hendaknya dakwah di era digital seperti saat ini  keberadaan dakwah harus membina, bukan menghina. Bila semua itu menjadi napas gerakan, TASTAFI tidak hanya akan besar secara organisasi, tetapi juga matang sebagai gerakan peradaban. Ia dapat menjadi jembatan antara dayah dan dunia, antara tradisi dan modernitas, antara Aceh dan diaspora global. Maka, dari Masjid Raya Baiturrahman, pesan itu seharusnya menggema lebih jauh: dakwah dayah bukan sekadar menjaga masa lalu, tetapi membimbing masa depan. Lantas sudahkah kita masyarakat juga warga Tastafi sudahkah mengadopsinya dalam berdakwah?

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru