back to top
Sabtu, Mei 30, 2026

Belajar tentang Nyala Iman dari “Khutbah Jalanan” Nasrani di Papua

Lihat Lainnya

Genap empat bulan tinggal di Sentani, Jayapura di Papua memberi saya banyak pengalaman budaya yang sebelumnya tidak pernah saya jumpai selama hidup di Jawa. Salah satu yang paling unik adalah umat Kristen di sini (Sentani) yang berkhutbah di pinggir jalan menggunakan pengeras suara.

Awalnya saya benar-benar mengira sedang terjadi demonstrasi. Nada bicara mereka tinggi, penuh emosional, disampaikan dengan semangat yang menyala-nyala di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan keramaian pasar. Dari jauh, suasananya lebih mirip orasi politik dibanding kegiatan keagamaan.

Kehadiran seseorang yang berdiri di pinggir jalan, memegang mic, membawa speaker besar di sebelahnya, lalu berkhotbah dengan suara lantang seperti sedang orasi politik, menarik perhatian saya karena belum pernah saya temui sebelumnya di Pulau Jawa.

Pertama kali melihatnya saat saya sedang melewati Wamena, Jayapura. Saat itu saya mengira sedang ada demo. Terlebih yang bersuara merupakan sosok wanita. Jadi pikiran saya saat itu “Wahh kayaknya ada demo tentang perjuangan kaum perempuan nih. Keren.” Dari jauh suaranya seperti massa aksi.

Sebagai seorang Muslim sekaligus pendatang, pengalaman itu terasa asing. Di Jawa, ruang publik jarang diisi dengan model khotbah seperti itu. Dakwah Islam di lingkungan tempat saya tumbuh cenderung disampaikan dengan nada tenang, santun, dan perlahan.

Bahkan, tidak sedikit khutbah Jumat yang berlangsung sangat datar hingga membuat jamaah kehilangan fokus. Saya kira banyak orang pernah mengalami momen ketika khatib baru beberapa menit berbicara. Tetapi pikiran jamaah sudah melayang ke mana-mana. Memikirkan pekerjaan, urusan rumah, atau sekadar menunggu khutbah selesai.

Baca Juga:  Sejuta Cerita di Balik Iklan Sirup Marjan

Dari situlah saya mulai berpikir bahwa persoalan dakwah tidak hanya terletak pada isi pesan, tetapi juga pada cara menyampaikan pesan tersebut. Sebab, sejujurnya, beberapa kali saya justru merasa semangat khotbah jalanan yang saya dengar di Papua terdengar lebih menggugah dibanding sebagian khutbah Jumat yang terlalu monoton.

Tentu, saya tidak sedang membandingkan mana agama yang paling benar. Bukan itu persoalannya. Yang saya refleksikan adalah energi dalam penyampaian keyakinan. Saya melihat ada keberanian, keyakinan, dan kesungguhan yang terasa hidup dalam cara orang Papua berbicara tentang iman. Mereka menyampaikan keyakinan seolah-olah apa yang mereka ucapkan benar-benar penting untuk didengar banyak orang.

Pengalaman itu membuat saya merenungkan kembali wajah dakwah Islam hari ini. Di banyak tempat, dakwah sering kali terjebak menjadi rutinitas formal. Mimbar Jumat berubah seperti ruang membaca teks administratif yang aman, normatif, dan terlalu berhati-hati agar tidak menyinggung siapa pun. Akibatnya, pesan agama terkadang kehilangan daya sentuh emosionalnya.

Padahal, jika melihat sejarah Islam, dakwah Rasulullah bukanlah dakwah yang dingin dan tanpa tenaga. Dalam sebuah hadits riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah berkhutbah, “kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan semangatnya berkobar-kobar.” Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar penyampaian informasi keagamaan, melainkan seruan moral yang lahir dari kegelisahan dan keyakinan yang mendalam.

Dan dalam konteks ini, bukan berarti bahwa dakwah melalui ceramah atau khutbah yang dilakukan oleh kita harus selalu berkoar-koar. Melainkan, terkadang saya merasa bahwa memang di beberapa momen, penyampaian pesan itu juga harus memperhatikan intonasi yang mengiringinya.

Baca Juga:  Tasawuf di Muhammadiyah (1): Lahirnya Neo-Sufisme

Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian besar terhadap cara menyampaikan dakwah. Allah berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini sering dipahami sebatas anjuran untuk bersikap lembut. Padahal makna “hikmah” jauh lebih luas. Hikmah berarti ketepatan dalam memilih cara, waktu, dan pendekatan. Ada situasi ketika dakwah perlu disampaikan dengan kelembutan. Namun ada pula keadaan ketika manusia perlu dibangunkan dari kelalaian dengan suara yang tegas dan penuh semangat.

Pengalaman beberapa kali melihat khotbah “jalanan” di Papua membuat saya sadar bahwa ekspresi keberagamaan memang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Papua memiliki karakter masyarakat yang lebih ekspresif dan terbuka dalam menunjukkan identitas sosial maupun keagamaan. Karena itu, khotbah di ruang publik menjadi sesuatu yang lumrah dijumpai.

Sementara masyarakat Jawa lebih akrab dengan budaya komunikasi yang halus dan penuh unggah-ungguh. Perbedaan itu bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai bentuk keragaman cara manusia mengekspresikan keyakinannya.

Namun di tengah perbedaan tersebut, saya merasa umat Islam tetap perlu melakukan refleksi terhadap kualitas dakwahnya sendiri. Kita memiliki masjid yang sangat banyak, pengajian di berbagai tempat, majelis taklim, dan akses dakwah yang luas. Tetapi kadang yang hilang justru ruh dalam penyampaiannya. Dakwah terdengar terlalu formal dan kehilangan getaran emosional yang mampu menggugah hati.

Baca Juga:  Ketika Al-Ghazali Membela Al-Hallaj

Pemikir Muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal, dalam bukunya Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, pernah menekankan bahwa agama tidak boleh berhenti sebagai ritual yang kering. Menurut Iqbal, agama harus menjadi energi yang menghidupkan kesadaran manusia.

Gagasan ini relevan dengan kondisi dakwah saat ini. Ketika agama hanya disampaikan sebagai kewajiban rutin tanpa semangat dan daya hidup, maka pesan-pesan moralnya mudah kehilangan pengaruh di tengah masyarakat.

Hal serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Paulo Freire melalui bukunya Pendidikan Kaum Tertindas. Freire menjelaskan bahwa komunikasi yang hidup bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membangunkan kesadaran manusia. Dalam konteks dakwah, pesan agama tidak cukup hanya benar secara isi, tetapi juga harus mampu menyentuh kesadaran orang yang mendengarnya.

Karena itu, pengalaman sederhana mendengar khutbah jalanan di Papua justru menjadi semacam tamparan reflektif bagi saya. Saya mulai menyadari bahwa yang sering membuat orang kehilangan perhatian terhadap ceramah agama bukan selalu karena ajarannya membosankan, melainkan karena cara penyampaiannya kehilangan nyawa.

Di era ketika manusia begitu mudah terdistraksi oleh media sosial, hiburan digital, dan arus informasi yang cepat, dakwah tidak cukup hanya mengandalkan formalitas. Dakwah membutuhkan keberanian, energi, dan kemampuan menyentuh emosi manusia. Sebab agama pada dasarnya bukan sekadar kumpulan teks yang dibacakan, tetapi nilai yang harus dihidupkan dalam jiwa. Karena terkadang yang perlu dibangunkan bukan hanya umatnya, tetapi juga cara kita menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada manusia.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru