back to top
Selasa, Juli 28, 2026

Login Muhammadiyah, Jangan Sampai Logout

Lihat Lainnya

Arif Jamali Muis
Arif Jamali Muis
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan istilah yang cukup menarik: “Login Muhammadiyah.” Ungkapan itu muncul dalam berbagai unggahan, komentar, video pendek, bahkan percakapan anak-anak muda. Ada yang mengaitkannya dengan cara Muhammadiyah menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri, Kalender Hijriah Global Tunggal, kemandirian organisasi, pendidikan, rumah sakit, hingga cara berpikir Muhammadiyah yang dinilai rasional dan sederhana.

Fenomena ini tentu menarik. Tetapi barangkali kita perlu menahan diri untuk tidak terlalu cepat merayakannya sebagai tanda bahwa generasi muda sedang berbondong-bondong menjadi Muhammadiyah. Ada sesuatu yang lebih penting untuk dibaca. “Login Muhammadiyah” tampaknya sedang memperlihatkan perubahan cara generasi baru membangun kedekatan dengan organisasi dan memilih identitas keberagamaannya.

Pilihan kata login sendiri menarik. Generasi sebelumnya mungkin lebih akrab dengan istilah “masuk Muhammadiyah”, “menjadi anggota Muhammadiyah”, atau “bergabung dengan Persyarikatan”. Generasi digital menggunakan bahasa yang mereka kenal sehari-hari: login.

Dalam dunia digital, login berarti membuka pintu untuk masuk ke sebuah ekosistem. Seseorang belum tentu memahami seluruh isi di dalamnya. Ia baru mulai masuk, melihat, menjelajah, kemudian menentukan apakah akan bertahan atau keluar. Begitu pula barangkali yang terjadi dengan Muhammadiyah. Orang yang mengatakan “login Muhammadiyah” belum tentu sudah memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah. Belum tentu pula memahami Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, atau berbagai keputusan tarjih. Bisa jadi ia baru merasa bahwa cara Muhammadiyah memandang agama terasa dekat dengan pikirannya.

Karena itu, fenomena ini pertama-tama bukan persoalan keanggotaan. Ia adalah fenomena kedekatan dan pilihan identitas. Di sinilah perubahan zaman sedang terjadi. Dahulu identitas organisasi keagamaan banyak diwariskan melalui keluarga dan lingkungan. Seseorang dekat dengan Muhammadiyah karena orang tuanya Muhammadiyah, sekolah di sekolah Muhammadiyah, atau tumbuh di lingkungan Muhammadiyah. Generasi sekarang hidup dalam dunia berbeda. Melalui telepon genggam, mereka dapat mendengarkan beragam pandangan keagamaan, mengikuti banyak tokoh, membaca berbagai gagasan, membandingkan argumentasi, dan menyaksikan praktik organisasi keagamaan tanpa harus terlebih dahulu menjadi bagian darinya.Identitas yang dahulu banyak diwariskan kini semakin menjadi sesuatu yang juga dipilih. Maka menjadi menarik ketika seseorang yang tidak mempunyai latar belakang keluarga Muhammadiyah kemudian mengatakan, “Saya kok cocok dengan Muhammadiyah.”

Baca Juga:  Kunjungi SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, Haedar Nashir Merasa Istimewa

Pertanyaannya kemudian: mengapa Muhammadiyah? Barangkali salah satu jawabannya adalah karena generasi muda semakin sulit diyakinkan hanya dengan klaim. Mereka ingin melihat bukti.

Di titik ini Muhammadiyah mempunyai modal sosial yang cukup panjang. Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang pentingnya pendidikan, tetapi mendirikan sekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi membangun rumah sakit. Tidak sekadar berbicara tentang keberpihakan kepada kelompok lemah, tetapi mengembangkan pelayanan sosial, filantropi, kebencanaan, dan berbagai gerakan pemberdayaan. Teologi Al-Ma’un yang selama ini menjadi napas gerakan Muhammadiyah ternyata menemukan bahasa baru dalam masyarakat digital: agama harus terlihat manfaatnya.

Ada pula citra rasionalitas yang melekat pada Muhammadiyah. Cara Muhammadiyah menjelaskan persoalan keagamaan melalui argumentasi, ilmu pengetahuan, hisab, hingga gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal menarik perhatian sebagian generasi muda. Yang mereka lihat bukan semata-mata soal kapan Muhammadiyah memulai puasa atau merayakan Idul Fitri. Lebih daripada itu, mereka melihat adanya keberanian mengambil keputusan dengan argumentasi yang dapat dijelaskan. Dalam dunia yang penuh informasi dan klaim, kejelasan argumentasi menjadi sesuatu yang berharga.

Tetapi Muhammadiyah jangan terlalu cepat berpuas diri. Ramainya “Login Muhammadiyah” di media sosial belum tentu berarti kaderisasi Muhammadiyah otomatis berhasil. Menyukai Muhammadiyah berbeda dengan memahami Muhammadiyah. Memiliki KTAM berbeda dengan mempunyai komitmen gerakan. Simpati juga belum tentu berubah menjadi kesediaan berkhidmat. Justru ujian sesungguhnya dimulai setelah orang login.

Baca Juga:  Mencoblos di Australia: Pemilu 2024 dan Kebahagiaan Kami

Apa yang ditemukan generasi muda ketika mereka benar-benar masuk ke dalam Muhammadiyah? Mereka mungkin melihat Muhammadiyah di media sosial sebagai organisasi yang rasional, terbuka, modern, dan berkemajuan. Tetapi apakah pengalaman yang sama mereka temukan ketika datang ke ranting, cabang, masjid, atau forum-forum Muhammadiyah?

Apakah anak muda mempunyai ruang untuk bertanya?, Apakah gagasan baru memperoleh tempat?, Apakah mereka diberikan kesempatan memimpin, berkarya, dan melakukan eksperimen?, Apakah Muhammadiyah siap berdialog dengan isu-isu yang dekat dengan kehidupan mereka: kecerdasan buatan, lingkungan hidup, budaya digital, kewirausahaan, kesehatan mental, kreativitas, dan perubahan dunia kerja?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak orang yang sedang mengatakan “login Muhammadiyah”. Jangan sampai Muhammadiyah terlihat sangat progresif di layar, tetapi terasa berbeda ketika anak muda memasuki kehidupan organisasinya. Sebab orang mungkin datang karena Muhammadiyah yang mereka lihat di media sosial, tetapi mereka akan bertahan karena Muhammadiyah yang mereka alami dalam kehidupan nyata. Muhammadiyah juga sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil alih fenomena ini dan mengubahnya menjadi slogan birokratis. Tidak semua yang tumbuh organik di kalangan anak muda harus segera dibuatkan spanduk, seminar, atau program resmi. Biarkan sebagian percakapan itu tumbuh secara alamiah. Sebab kekuatan “Login Muhammadiyah” justru muncul ketika orang merasa menemukan Muhammadiyah, bukan merasa sedang direkrut Muhammadiyah.

Baca Juga:  Sejarah Haji Indonesia (1): Muhammadiyah Pelopor Perbaikan Haji

Yang perlu disiapkan Persyarikatan adalah ekosistem setelah mereka masuk: ruang belajar yang terbuka, kaderisasi yang dialogis, forum yang memberi kesempatan generasi muda berbicara, serta ruang pengabdian yang memungkinkan mereka menghadirkan gagasan baru.

Muhammadiyah harus mampu mengubah simpati menjadi partisipasi, partisipasi menjadi pemahaman, pemahaman menjadi komitmen, dan komitmen menjadi gerakan yang memberi manfaat. Fenomena “Login Muhammadiyah” tentu patut disyukuri. Ia menunjukkan bahwa Muhammadiyah masih mempunyai daya tarik bagi generasi yang hidup dalam dunia yang jauh berbeda dengan generasi para pendahulunya.

Tetapi kita tidak boleh lupa satu hal sederhana. Dalam dunia digital, setelah login selalu tersedia pilihan logout. Karena itu, tugas Muhammadiyah bukan sekadar membuat semakin banyak orang masuk. Tugas yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka menemukan ruang untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan memberi manfaat setelah berada di dalamnya.

Login hanyalah pintu masuk. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh apa yang mereka temukan setelah pintu itu terbuka.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru