back to top
Selasa, Juni 9, 2026

Menjaga Lingkungan Wujud Ketakwaan yang Sering Dilupakan

Lihat Lainnya

Badrut Tamam
Badrut Tamam
Penulis lepas, Blogger dan Content Publisher #tamamtalk #mataairlerengsemeru #menitigelombangrindudipulaumukaseribu

Ketika berbicara tentang ketakwaan, banyak orang yang langsung memahaminya sebagai ibadah ritual saja seperti salat, puasa, zakat, atau membaca Al-Qur’an. Padahal, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama makhluk dan alam sekitarnya.

Termasuk menjaga lingkungan juga, yang ternyata tidak hanya masuk dalam urusan kebersihan atau gaya hidup saja, melainkan bagian dari manifestasi iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Allah SWT telah menciptakan bumi sebagai tempat hidup yang lengkap bagi manusia. Gunung, sungai, lautan, pepohonan, hewan, hingga udara yang kita hirup merupakan nikmat besar yang Allah titipkan. Karena itu, mensyukuri nikmat bukan hanya dengan mengucap “alhamdulillah”, tetapi juga dengan merawat dan tidak merusaknya. Allah SWT berfirman:


وَاِذِاسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ کُلُّ اُنَا سٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ کُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ


Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa menikmati karunia Allah SWT itu diperbolehkan, tetapi tidak boleh diiringi dengan perilaku merusak.

Realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak bencana ekologis terjadi akibat ulah manusia sendiri. Seperti penebangan liar, pencemaran sungai, pembakaran hutan, eksploitasi sumber daya berlebihan, hingga sampah plastik yang menumpuk adalah contoh nyata bagaimana kerakusan manusia mengancam keseimbangan bumi. Padahal Allah SWT sudah mengingatkan:

Baca Juga:  Sinetron Religi: antara Haus Rating dan Dakwah yang Terburu Nafsu


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ


Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan lingkungan bukan menjadi masalah moral dan spiritual lagi. Saat manusia merusak alam, sungguh manusia itu sedang melakukan kedzaliman kepada makhluk lain dan melanggar amanah Allah SWT.

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut bahwa orang yang berbuat kerusakan adalah pihak yang tidak dicintai-Nya.

Nabi Mengajarkan Ekologi Jauh Sebelum Menjadi Tren sekarang

Menariknya, jauh sebelum isu perubahan iklim, pemanasan global, dan sustainability menjadi pembahasan dunia modern, Rasulullah SAW telah mengajarkan prinsip-prinsip ekologis.

  1. Bijak Menggunakan Air
    Air adalah sumber kehidupan. Islam mengajarkan agar manusia tidak boros, bahkan dalam ibadah. Anas bin Malik meriwayatkan:
    “Rasulullah SAW mandi dengan satu sha’ air dan berwudhu dengan satu mudd.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jumlah air yang digunakan Nabi sangat sedikit menurut ukuran saat ini. Ini menunjukkan bahwa efisiensi dan kesederhanaan adalah sunnah.

Ironisnya, banyak orang hari ini membiarkan keran menyala terus saat wudhu, mandi berlebihan, atau membuang air tanpa kebutuhan. Hemat air bukan hanya soal penghematan biaya, tetapi juga bentuk tanggung jawab ekologis.

  1. Menjaga Kebersihan dan Mencegah Pencemaran
Baca Juga:  Hass Murad Pasha, Panglima Utsmaniyah Berdarah Bangsawan

Islam sangat memperhatikan ruang publik dan kenyamanan bersama. Rasulullah SAW bersabda:
“Waspadalah terhadap dua perkara yang mendatangkan laknat.” Para sahabat bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan umum atau tempat berteduh manusia.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa mengotori lingkungan hingga mengganggu orang lain adalah perbuatan tercela.

Dalam konteks modern, larangan ini bisa diperluas pada membuang sampah sembarangan, mencemari sungai, membakar sampah sembarangan, hingga polusi yang merugikan masyarakat.

Sebaliknya, Nabi justru menjadikan menjaga lingkungan sebagai amal kebajikan, dengan menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah menjadi sedekah. Sampah kecil yang kita ambil dari jalan pun bernilai ibadah.

  1. Menanam Pohon Bernilai Sedekah

Salah satu ajaran Islam yang luar biasa adalah dorongan untuk penghijauan. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, satu pohon yang ditanam bisa menjadi amal jariyah berkelanjutan. Buahnya dimakan manusia, daunnya memberi oksigen, akarnya menahan erosi, dan batangnya menjadi habitat makhluk lain.

Bahkan Rasulullah SAW memberikan motivasi yang sangat kuat:
هِشَامُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Saya mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Jika kiamat hendak terjadi dan di tangan kalian ada biji tumbuhan, maka jika kalian sanggup menanamnya sebelum benar-benar terjadi kiamat, lakukanlah”. (HR. Ahmad No. 12981)

Baca Juga:  Resensi Buku "Usul Fikih: Kajian Tentang Sumber Hukum Islam" Edisi Kedua

Dari sabda Rasulullah di atas kiranya pertanyaan apa yang paling tepat bagi kita agar dapat memahami lebih dalam matan hadis yang terdengar sangat sederhana ini. Bukankah sekilas kita dapat memahami, bahwa inti pesan yang terkandung adalah perintah untuk melakukan kebaikan apapun, tidak mengapa bila itu sangat kecil, tidak terlihat, dan nyaris tidak bermanfaat sama sekali karena telah dihadapkan begitu dekat dengan kiamat, selagi masih ada waktu, walaupun sangat sempit, bila mampu, janganlah ragu, lakukanlah.

Ketakwaan Tidak Berhenti di Masjid

Menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya rajin beribadah ritual, tetapi juga peduli pada kondisi sekitar. Membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, tidak merusak tanaman, mengurangi plastik sekali pakai, menjaga kebersihan masjid, sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar adalah bagian dari pengamalan iman.

Ketakwaan sejati bukan hanya terlihat saat berdiri dalam salat, tetapi juga saat seseorang memperlakukan bumi yang Allah amanahkan kepadanya. Sebab Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Menjaga lingkungan bukan tren sesaat, bukan pula agenda aktivis semata. Melainkan ibadah.

Karena bumi yang kita pijak hari ini bukan warisan dari generasi sebelumnya saja, tetapi titipan juga untuk generasi berikutnya. Maka, saat kita menjaga lingkungan, sejatinya kita sedang menjaga amanah Allah SWT.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru