back to top
Sabtu, Juni 27, 2026

Dialektika dan Retorika Semu: Menolak Matinya Ruang Dialog Generasi-AI

Lihat Lainnya

Fachrudin Ad’han Tohari
Fachrudin Ad’han Tohari
Mahasiswa S1 Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam, Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Malang

Suatu ketika dalam sebuah kelas, saya menyimak presentasi teman tentang mata kuliah “Teologi dan Filsafat”. Bahkan bagi mahasiswa sendiri, filsafat merupakan bidang yang cukup berat, dan beban itu dipertemukan lagi dengan muatan teologi yang menurut saya jauh lebih kompleks. Ketika melihat teman saya mempresentasikan materi tanpa sekalipun menatap audiensnya, saya mulai meragukan sejauh mana ia benar-benar memahami subtema yang sedang dijelaskan.

Seusai presentasi, beberapa mahasiswa langsung mengacungkan tangan. Cara mereka bertanya yang selalu terpaku menatap layar gawai membuat saya menyimpulkan cepat. Sang presenter kemudian mencatat poin-poin tersebut dan langsung terbenam di balik layar ponselnya selama beberapa menit. Fenomena ini sudah menjadi pemandangan lumrah di kelas. Saya menduga, presentasi tersebut bersandar pada AI, dan sang penanya pun menggunakan bantuan serupa. Ironisnya, ruang diskusi yang seharusnya menjadi ruang temu pikiran manusia, kini berubah menjadi tempat bertemunya antar-output algoritma.

Fenomena tersebut tentu memiliki banyak faktor penyebab. Namun, salah satu yang patut menjadi perhatian adalah semakin memudarnya budaya berpikir kritis dan dialogis yang selama ini menjadi ruh filsafat. Kaum intelektual muda hari ini hidup di tengah post-truth era, sebuah situasi ketika informasi tersedia secara melimpah dan jawaban dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Dalam kondisi demikian, filsafat sering kali dipandang sekadar sebagai pengetahuan yang menarik untuk dipelajari, bukan sebagai cara berpikir yang perlu dilatih. Kebenaran seolah dianggap telah tersimpan secara mutlak dalam database Google maupun Artificial Intelligence-nya GPT, Gemini, Claude dll. Tanpa disadari, keyakinan semacam itu perlahan mengikis ruang-ruang dialogis dalam dunia pendidikan.

Baca Juga:  1 Syawwal 1443 H, Mungkinkah Serentak?

Letak persoalannya sebenarnya bukan pada penggunaan AI dalam proses belajar. AI justru merupakan partner perjalanan intelektual yang sungguh menakjubkan dalam mendukung tumbuh kembang pikiran manusia. Persoalan muncul ketika dialog manusia mulai tergantikan oleh dialog dengan kecerdasan robot buatan. Alih-alih memanaskan ruang akademik dengan pertentangan pikiran yang sehat, banyak forum intelektual hari ini justru dipenuhi oleh pertentangan yang lahir dari prompt yang berbeda. Yang beradu bukan lagi pengalaman berpikir manusia, melainkan keluaran algoritma yang saling dipertemukan.

Bentuk Dialog yang Semestinya

Dalam buku berjudul Cara Kerja Ilmu Filsafat dan Filsafat Ilmu, yang merupakan kumpulan beberapa artikel mengenai filsafat ilmu, dijelaskan bahwa terdapat berbagai pola dialog yang berlangsung dalam kehidupan manusia. Artikel pertama yang berjudul “Dialektika: Cara Kerja Ilmu Filsafat” menjelaskan konsep dialektika atau dalam bahasa Yunani disebut he dialektike, yang berarti “lewat berbicara”. Dalam KBBI, dialektika diartikan sebagai cara bernalar dan menyelidiki suatu persoalan melalui dialog.

Di antara berbagai bentuk dialektika yang dijelaskan, salah satu yang menarik adalah Dialektika Sokrates (Maieutike). Sokrates memberikan dimensi etis pada metode dialektika dengan menjadikannya sebagai sarana mencari definisi paling mendasar dari sesuatu demi mencapai kebenaran yang lebih hakiki. Proses ini tidak sekadar bertukar pendapat, melainkan juga pemurnian cara berpikir. Karena itulah Sokrates menyebut metode tersebut sebagai maieutike, yakni “kebidanan jiwa”, sebuah proses membantu kelahiran pengetahuan melalui dialog.

Sederhananya, dialektika adalah proses melahirkan pengetahuan baru melalui pertemuan dua pandangan yang berbeda. Dari pertentangan itulah lahir pemahaman yang lebih matang dibandingkan posisi awal kedua belah pihak.

Baca Juga:  Makna Filsafat itu Tak Hanya "Cinta Kebijaksanaan"

Bentuk dialog yang kedua adalah retorika, yaitu seni menggunakan bahasa secara efektif untuk memengaruhi orang lain. Selama ini banyak orang mengenal Aristoteles sebagai tokoh utama dalam pengembangan retorika. Akan tetapi, Aristoteles sebenarnya mengembangkan gagasan yang telah lebih dahulu muncul dalam tradisi pemikiran Yunani kuno. Dalam retorika terdapat unsur pembuktian melalui silogisme yang kemudian menjadi bagian penting dari pilar logos Aristoteles. Karena itu, retorika dan dialektika memiliki hubungan yang sangat erat.

Lalu di mana letak perbedaannya?

Secara sederhana, dialektika berorientasi pada pencarian kebenaran, sedangkan retorika lebih berorientasi pada upaya meyakinkan pihak lain terhadap suatu kebenaran yang diyakini. Dalam praktiknya, dialektika idealnya hidup di ruang kuliah, organisasi, maupun kehidupan sosial sehari-hari. Sebaliknya, retorika lebih mudah ditemukan dalam ruang pengadilan atau arena perdebatan yang menempatkan pihak-pihak tertentu untuk mempertahankan posisinya masing-masing.

Meski demikian, keduanya tidak dapat diposisikan secara hitam-putih sebagai yang lebih baik atau lebih buruk. Keduanya memiliki fungsi dan konteks penggunaan yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu menempatkannya secara proporsional dalam kehidupan sosial yang terus berkembang.

Rekonstruksi Dialog: Mengembalikan Fitrah Berpikir di Tengah Disrupsi Teknologi

Dalam artikel “Dialektika: Cara Kerja Ilmu Filsafat” karya A. Setyo Wibowo, terdapat sebuah refleksi menarik yang dijadikan penutup:

“Filsafat adalah keterlibatan kritis-dialogis, pertama dengan dirinya sendiri, dan baru kemudian melalui yang lain, yang tersarikan dalam istilah dialektika.”

Dalam konteks hari ini, makna “yang lain” tidak perlu dibatasi hanya pada mitra dialog. Ia dapat berupa gagasan, buku, data, realitas sosial, bahkan algoritma AI yang setiap hari berinteraksi dengan kita.

Baca Juga:  Filsafat Kejahatan, Asal Muasal Korupsi

Di sinilah letak miskonsepsi yang mulai muncul di kalangan mahasiswa. Kehadiran AI semestinya tidak mematikan daya kritis, melainkan justru mendorong keterlibatan kritis-dialogis dengan diri sendiri sebelum seseorang memasuki ruang publik. Ketika mahasiswa menyerahkan sepenuhnya proses berpikir, penyusunan argumen, bahkan pertanyaan kepada AI tanpa terlebih dahulu mengujinya secara kritis, yang terjadi bukanlah penguatan intelektualitas, melainkan alienasi berpikir akut.

AI sejatinya adalah partner perjalanan intelektual yang luar biasa. Namun ia tetap hanya berfungsi sebagai pemantik, bukan pengganti akal manusia. Tantangan utama mahasiswa hari ini bukan lagi sejauh mana mereka mampu menghafal informasi, sebab AI dapat melakukan itu dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tantangan yang sesungguhnya adalah sejauh mana mereka mampu menyaring, menguji, mengontekstualisasikan, dan mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermakna.

Oleh karena itu, rekonstruksi ruang dialog mahasiswa harus dimulai dari pembenahan hulu, yakni kemampuan kritis dan analitis setiap individu. Sebelum memasuki ruang kelas, forum organisasi, atau ruang diskusi lainnya, seorang intelektual muda perlu menjadikan AI sebagai mitra tanding dalam berpikir, bukan sebagai joki pengganti proses berpikir itu sendiri.

Ketika setiap mahasiswa hadir dengan gagasan yang telah diuji secara kritis, ruang dialog akan kembali menemukan denyut kehidupannya. Perdebatan tidak lagi sekadar menjadi ajang mempertukarkan hasil prompt, melainkan menjadi proses bersama untuk melahirkan pengetahuan baru. Sebab jika ruang dialog benar-benar digantikan oleh pertukaran keluaran algoritma, maka yang mati bukan hanya tradisi diskusi kampus, melainkan juga kemampuan manusia untuk menemukan kebenaran melalui pergulatan pikirannya sendiri.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru