back to top
Rabu, Agustus 19, 2026

Lumpuhnya Otak di Ujung Promt: Refleksi Trikoda IMM

Lihat Lainnya

Studi menunjukkan bahwa penggunaan Artificial Intelligence (AI) selama 10 menit dapat menyebabkan penurunan kinerja otak. Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti dari Carnegie Mellon University, University of Oxford, Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan University of California. Dalam penelitian tersebut, para peserta ditantang untuk menyelesaikan soal matematika dan tes pemahaman bacaan.

Para peneliti mengungkapkan ketergantungan AI dalam waktu singkat saja memberikan dampak negatif yang signifikan. Bagaimana dampak yang ditimbulkan jika hal tersebut terakumulasi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Tentu hal tersebut akan menimbulkan kekhawatiran bagi kita. Kini tak jarang mahasiswa menyelesaikan tugas akademiknya hanya dengan “promting”. Maka tak heran jika mahasiswa mempunyai karya tulis yang sangat bagus tapi tak mampu menjelaskan apa yang ia tulis dengan baik.

Namun apakah sejak awal hadirnya AI ditujukan untuk hal semacam ini. Untuk mengetahuinya mari kita tengok kebelakang. AI pada awalnya diperkenalkan di konferensi Darmounth 1956 oleh John McCarthy. Fokus utamanya menciptakan alat yang mampu meniru kemampuan manusia; seperti berahasa, pembentukan konsep, memecahkan masalah dan peningkatan diri.

Lalu, Jepang pada tahun 2016 memperkenalkan Era Society 5.0. Era ini menginginkan keamanan dan kesejahteraan melalui integrasi manusia dengan teknologi (salah satunya AI). Jadi AI diharapkan dapat membantu manusia dalam memecahkan problem kehidupannya. Era society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusatnya (human-centered). Sehingga kualitas manusia menjadi persoalan utama, karena yang akan menentukan baik buruknya teknologi terletak pada manusianya.

Baca Juga:  Dzawin Nur Ikram, Pelawak Tunggal Humoris Radikal

Bisa kita tarik kesimpulan bahwa teknologi sebagai alat bantu dan tidak memiliki kesadaran moral. Hal ini bisa kita buktikan dengan teknologi yang bisa membantu pendidikan maupun untuk manipulasi. Karena itu moralitas teknologi sebenarnya terletak pada manusia yang menggunakannya. Sehingga bisa kita simpulkan teknologi tidak otomatis menentukan masa depan secara otomatis. Justru manusialah yang menentukan arah penggunaan teknologi.

Sekarang bisa kita lihat bahwa persoalan utamanya bukan pada teknologinya. Namun, pada siapa yang menggunakan teknologi, bagaimana teknologi digunakan dan untuk apa teknologi digunakan. Disinilah trikoda menemuka titik relevansinya.

Religiusitas: menentukan siapa yang menggunakan teknologi

Religiusitas bukan hanya aktivitas ritual semata, tapi lebih kepada membentuk kesadaran etik dan tanggung jawab spiritual. Tangung jawab disini bukan semata antara manusia dengan manusia lainnya, tapi tanggung jawab yang terikat dengan perjanjian antara manusia dengan Tuhannya.

Teknologi tanpa moral sangat memungkinkan untuk disalahgunakan. Karena AI bisa digunakan untuk edukasi ataupun manipulasi informasi. Era society 5.0 rentan dengan budaya instan dan ketergantungan teknologi. Disinilah religiusitas memberikan kompas moral agar menjaga manusia agar tidak kehilangan arah dan tetap sadar tanggung jawab moral.

Sehingga ditengah perkembangan teknologi di era society 5.0 manusia tidak terombang-ambing dan kehilangan arah. Tapi, tetap bisa betahan menjadi subjek yang bermoral dan berimplikasi pada arah peggunaan teknologi yang semestinya.

Baca Juga:  Makanan Islami adalah yang Halal dan Tayib!

Intelektualitas: menentukan bagaimana penggunaan teknologi

Intelektualitas bukan dipandang sebatas sebagai capaian akademik ataupun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Intelektualitas disini kita artikan sebagai sebuah kemampuan kognitif, seperti: berpikir kritis, rasional, analitis dan logis.

Dalam era ini, terutama AI dalam pendidikan dimana mahasiswa semakin tergantung dengan AI, maraknya budaya copy-paste – jawaban AI tanpa memastikan validitas jawaban atau bahkan mempertanyakan apakah jawaban AI benar – yang pada ahirnya menyebabkan penurunan proses berpikir secara mendalam. Padahal seharusnya AI digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir.

Intelektualitas hadir sebagai kesadaran kritis. Artinya, kita tidak menerima mentah-mentah informasi yang diberikan oleh algoritma AI. Sehingga kita tidak mudah terjebak pada bias algoritma, tentunya adaptif tapi tetap kritis dengan cara memverifikasi setiap informasi yang didapatkan. Maka dengan intelektualitas manusialah yang mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan teknologi.

Humanitas: menentukan untuk apa teknologi digunakan

Humanitas menegaskan tujuan teknologi seharusnya untuk kemaslahatan dan martabat manusia. Teknologi saat ini terutama AI mempunyai potensi membantu sesama, disisi lain menyimpan ancaman kejahatan digital yang dapat merugikan orang lain.

Ancaman tersebut muncul karena dehumanisasi yang disebabkan industrialisasi dan teknologisasi. Dimana teknologi tidak ditempatkan sebagai alat bantu – tetapi penentu nilai kemausiaan – manusia sebatas dianggap sebatas data, komoditas dan sekrup dalam sistem otomatis. Akibatnya empati digantikan oleh efisiensi dan orientasi profit semata.

Humanitas memberikan orientasi peradaban. Teknologi harus digunakan untuk kemaslahatan kehidupan manusia, kesejahteraan bersama dan seharusnya mempu memperkuat solidaritas sosial antar masyarakat sekitar. Humanitas menginginkan secangih-canggihnya teknologi, harus ditempatkan untuk kemaslahatan kemanusiaan.

Baca Juga:  Kolaborasi IMM dan Mahasiswa Palestina Menguatkan Pendidikan Global

Bisa kita tarik kesimpulan bahwa trikoda IMM bukan sekedar identitas organisasi ataupun jargon kaderisasi. Tetapi sebagai konstruk manusia ideal yang mempunyai nilai dan pada ahirnya memberikan arah peradaban, terutama di era society 5.0. Sehingga dengan ini memberikan gambaran ideal seorang kader IMM. Bukan menjadi anti teknologi, tetapi menghadirkan nilai dan memberikan arah dalam perkembangan teknologi. Pada ahirnya bukan hanya soal kecanggihan teknologi dan AI premiumnya, tetapi kualitas manusia dibaliknya. Teknologi sebagai alat dan trikoda memberikan fondasi nilai: religiusitas dalam moral, intelektualitas dalam berpikir dan humanitas dalam tujuan.

Ironisnya, ahir ini kita menyaksikan pelajar dan akademisi memilih “jalan pintas” – menyerahkan seluruh tugas, proses berpikir, bahkan pemecahan masalah – semata-mata kepada AI. SUNGGUH! Seharusnya sebagai kader malu jika trikoda yang kita hafal berhenti diujung lidah, namun daya kritis dan kapasitas intelektual lumpuh karena ketergantungan penuh kepada AI.

Ahir kata, mari kita tempatkan AI secara semestinya: alat bantu untuk memperluas kemaslahatan, bukan pengganti otak dan hati nurani. Jangan pernah menukarkan dimensi religiusitas, ketajaman berpikir dan rasa kemanusiaan dengan kemudahan semu. Kemajuan teknologi harus senantiasa sejalan dengan tingginya martabat manusia yang mengendalikannya.

Editor: Anas

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru