back to top
Senin, Oktober 26, 2026

Kunjungi Pesantren Muhammadiyah Weru, Fajar Riza Ul Haq Tekankan Pesantren sebagai Wadah Pendidikan Karakter dan Ketangguhan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Pendidikan masa kini menghadapi tantangan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks ini, pendidikan karakter di pesantren menjadi perhatian Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat menghadiri Sarasehan Pendidikan di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026).

Fajar menilai keberhasilan seseorang tidak cukup diukur dari kemampuan akademik. Ketangguhan menghadapi tekanan, kemampuan bangkit dari kegagalan, dan kemauan untuk terus berproses menjadi faktor penting dalam perjalanan hidup.

“Yang menentukan kesuksesan seseorang adalah resiliensi. Yaitu, ketangguhan untuk bertahan di tengah tekanan, untuk bangkit lagi ketika jatuh,” ungkapnya dalam Sarasehan Pendidikan di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, Weru, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).

Pandangan tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya menempuh pendidikan di pesantren selama kurang lebih sepuluh tahun. Sejak jenjang tsanawiyah hingga kuliah, Fajar berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain dan dari satu kota ke kota lain.

“Ada tiga kota yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Dan itu saya habiskan sebagian besarnya di pondok pesantren. Jadi, saya mengalami bagaimana kehidupan di pondok pesantren yang mungkin kondisi banyak pesantren saat ini lebih baik daripada dulu,” ujarnya.

Karakter sebagai Bekal Menghadapi Perkembangan Teknologi

Menurutnya, pendidikan karakter di pesantren memiliki relevansi kuat di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi membutuhkan pengguna yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab dalam memanfaatkannya.

Baca Juga:  Fajar Riza Ul Haq: Masjid Harus Jadi Pusat Pendidikan Berkemajuan

“Karakter itu foundational skill. Keterampilan dasar dalam kehidupan. Karakter menjadi fondasi yang penting untuk menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Harus ada rasa tanggung jawab saat menggunakan teknologi. Karakter itulah yang sebenarnya dibangun di pondok pesantren,” ujar Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.

Ia juga menghubungkan pembentukan karakter dengan misi kenabian dalam memperbaiki akhlak.

“Sebuah hadis menyebutkan bahwa misi Nabi Muhammad diutus adalah untuk memperbaiki akhlak. Innama buitstu li utammima makarimal akhlaq. Proses pembentukan itulah yang hendak dibentuk selama di pesantren,” imbuhnya.

Pada hari yang sama, Fajar berdialog dengan santriwati Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Muhammadiyah Atmo Wahjono yang terintegrasi dengan SMK Muhammadiyah Watukelir. Ia menanyakan rencana mereka setelah lulus, lalu menyarankan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kepada salah satu santriwati yang ingin kuliah.

“Setelah lulus dari pesantren ini rencana mau kerja atau kuliah?”, tanya Fajar. “Kuliah,” jawab seorang santriwati yang masih belum menentukan kampus pilihannya.

“Di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) saja kuliahnya. Saya alumni UMS juga,” bujuknya sambil bercanda.

Dengan demikian, pendidikan karakter di pesantren diharapkan mampu menyiapkan generasi yang tangguh, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru