back to top
Minggu, November 8, 2026

Self-Diagnosis di Media Sosial: Antara Memahami Diri dan Terjebak Label

Lihat Lainnya

Khalid Al Hakim Putra Sunaryadi
Khalid Al Hakim Putra Sunaryadi
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Setiap kali membuka media sosial, kita mudah bertemu konten bertajuk “tanda-tanda kamu mengidap ADHD”, “ciri orang dengan anxiety”, atau “kamu mungkin autis kalau…”. Banyak orang merasa terwakili, lalu menyimpulkan kondisinya sendiri tanpa pemeriksaan secara profesional. Bagi segelintir orang, kesimpulan itu terasa melegakan karena akhirnya ada nama untuk rasa yang selama ini sulit dijelaskan.

Namun di balik kelegaan itu, ada persoalan yang tidak bisa diabaikan. Sebuah studi di The Canadian Journal of Psychiatry terhadap 100 video teratas berhashtag #adhd di TikTok menemukan bahwa 52 dari 100 video berisi informasi yang menyesatkan, dan hanya 11 persen diunggah oleh tenaga kesehatan profesional. Di sisi lain, tidak semua orang punya akses mudah ke psikolog atau psikiater karena biaya, jarak, dan stigma, maka muncul sebuah dilema, yaitu apakah self-diagnosis perlu ditolak sepenuhnya, atau justru dipahami sebagai langkah awal yang wajar?

Untuk menjawabnya, tulisan ini meminjam dua lensa filsafat, yaitu Materialisme dan Eksistensialisme. Keduanya memang tidak membahas kesehatan mental secara langsung, akan tetapi dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kapan mengenali diri lewat media sosial menjadi sikap yang sehat, dan kapan berubah menjadi sebuah jalan pintas.

Materialisme memandang realitas pada dasarnya adalah materi, termasuk pikiran yang dipahami sebagai hasil kerja otak dan tubuh. Dalam pandangan ini, gangguan seperti depresi atau ADHD bukan sekadar perasaan, melainkan kondisi yang berakar pada proses biologis dan hanya dapat dipastikan lewat pengamatan serta pemeriksaan yang terukur.

Baca Juga:  KHA Dahlan: Amal Saleh atau Materialisme Historis?

Jika diterapkan pada self-diagnosis, rasa “cocok” dengan daftar ciri belum cukup menjadi bukti. Sulit fokus bisa berasal dari kurang tidur, stres pekerjaan, atau kebiasaan menggulir layar berjam-jam, bukan dari gangguan saraf. Video berdurasi 30 detik juga tidak memuat riwayat hidup, durasi gejala, dan tingkat gangguannya terhadap aktivitas sehari-hari, padahal hal-hal itulah yang dipertimbangkan dalam pemeriksaan klinis.

Karena itu, Materialisme mengajak kita memperlakukan dugaan sebagai hipotesis yang perlu diuji. Namun ia juga tidak berarti menyingkirkan pengalaman orang yang merasa ada yang tidak beres. Rasa itu bisa menjadi data awal yang layak dicatat dan dibawa ke tenaga profesional, akan tetapi bukan sebagai kesimpulan akhir.

Jika Materialisme membantu kita menimbang kebenaran sebuah klaim, Eksistensialisme mengajukan pertanyaan lain, yaitu apa yang kita lakukan setelah memiliki label? bagi Jean-Paul Sartre, eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak memiliki hakikat tetap, akan tetapi membentuk dirinya lewat pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan itu.

Dari sini, self-diagnosis memiliki dua kemungkinan. Pertama, ia dapat menjadi langkah awal untuk mengenali diri dan mencari bantuan. Seseorang yang menemukan nama bagi pengalamannya bisa merasa tidak sendirian, lalu berani berkonsultasi. Kedua, label dapat berubah menjadi apa yang Sartre sebut mauvais foi atau itikad buruk, yaitu menjadikan label sebagai esensi tetap yang membebaskan kita dari tanggung jawab memilih. “Aku begini karena aku ADHD” bisa menjadi cara berhenti bertanya apa yang dapat diubah dan bantuan apa yang perlu dicari.

Baca Juga:  Kewajiban Menjaga Lisan dalam Islam

Eksistensialisme tidak menolak diagnosis. Ia mengingatkan bahwa label seharusnya membuka proses memahami diri, bukan menutupnya. Bahkan setelah diagnosis dipastikan profesional sekalipun, pilihan tentang bagaimana menjalani hidup tetap berada di tangan kita.

Materialisme dan Eksistensialisme memberikan dua sudut pandang yang berbeda tetapi saling melengkapi. Materialisme mengingatkan bahwa klaim tentang kondisi diri perlu diuji dengan bukti. Eksistensialisme mengingatkan bahwa apa pun hasilnya, kita tetap bebas dan bertanggung jawab atas cara menyikapinya. Keduanya menunjukkan bahwa persoalan ini tidak harus berakhir pada dua pilihan, yaitu mempercayai semua yang kita tonton atau mencemooh siapa pun yang mencari tahu tentang dirinya.

Kita dapat merasa ada yang tidak beres tanpa langsung menyimpulkan penyebabnya. Kita dapat memakai konten media sosial sebagai pemantik tanpa menjadikannya vonis. Dan kita dapat menuntut layanan kesehatan jiwa yang lebih terjangkau tanpa menyalahkan mereka yang, karena terbatasnya akses, memilih mencari jawaban lewat layar ponsel.

Pada akhirnya, self-diagnosis yang sehat bukan yang berhenti pada label, melainkan yang berlanjut pada pemeriksaan dan tindakan. Mungkin kita memang tidak selalu bisa langsung mendapat jawaban pasti. Tetapi kita masih dapat menentukan ke mana rasa penasaran itu akan dibawa.

Editor: Anas Nashuha

Artikel Sebelumnya

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru