Abdullah: Cahaya Kesederhanaan Pendidik Kota Angin

 Abdullah: Cahaya Kesederhanaan Pendidik Kota Angin

Ilustrasi. Sumber: Suara Muhammadiyah

Oleh: Hendriana

Terjaminnya mutu pendidikan di Indonesia tergantung dengan terjaminnya mutu pendidikan Muhammadiyah, hal ini memang banyak diamini oleh sebagian kalangan Bangsa Indonesia, tentu rasionalisasinya sangat sederhana, karena partisipasi Muhammadiyah dalam memncerdaskan kehidupan Bangsa dengan fasilitas pendidikan yang hampir menyasar seluruh sasaran pendidikan, dari tingkat Taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Muhammadiyah menyediakan, 117 Perguruan tinggi, 4.346 TK ABA-PAUD, 2.604 SD/MI, 1772 SMP/MTs, 1143 SMA/SMK/MA, 102 Pondok Pesantren dan 82 Sekolah Luar Biasa. Selain itu Muhammadiyah kerapkali dihadiahi kursi Menteri, meskipun tahun sekarang Pemerintah memberikannya kepada Bos Ojek online, yang mungkin didesain hanya beberapa saat saja, selanjutnya bisa saja diganti oleh Muhammadiyah. Dengan rasionalisasi tersebut memang sudah sepantasnya Muhammadiyah dikatakan sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa.

Perkara ini memang bukan hal yang sepele, terlebih pekerjaan mencerdaskan kehidupan Bangsa termuat dalam Prembuale Undang-undang 1945, menjadi tujuan Negara, artinya satu bidang yang harus mendapatkan perhatian ekstra dari seluruh elemen Bangsa. Tentu banyak aral melintang dalam mewujudkannya. Terlebih pendidikan dihadapkan dengan era global, Menurut Zamroni, dampak globalisasi terhadap pendidikan.

Salah satunya, mucul kecenderungan komersialisasi dan komoditisasi. Dunia pendidikan hari ini dijadikan sebagai lahan untuk meraup keuntungan bagi sebagian orang. Menciptakan pendidikan dengan fasilitas yang sangat baik, serta bayaran sekolah yang sangat tinggi, secara tidak langsung dikhususkan bagi orang-orang yang mampu dalam membayarnya.

Ajaran Keikhlasan Muhammadiyah

Sejak 107 tahun yang lalu Muhammadiyah didirikan, pendiriannya ditandai dengan pengabdian memberantas kebodohan. Kiai Dahlan mendirikan sekolah yang mirip dengan sekolah pemerintah Belanda, namun seluruh muridnya bukan berasal dari kalangan priyai, tetapi diambil dari anak-anak yang terlantar di Kauman. Sebelum melakukan transfer ilmu, Kiai Dahlan terlebih dahulu mendatangi mereka ketepian jalan, memberi makan serta memandikan mereka di sungai.

Setelah itu Kiai Dahlan melakukan transfer ilmu kepada seluruh anak didiknya. Pegawai sekaligus satrinya turut membangun dan menggalang dana bagi sekolah yang dirintis Kiai Dahlan, tidak mendapatkan gaji sama sekali, pesan Kiai Dahlan yang sangat populer, yaitu “Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Masih banyak keikhlasan Kiai Dahlan dalam mengabdikan hidupnya bagi Bangsa tercinta, hal ini menjadi aset besar, yang mungkin jarang dimiliki.

Keikhlasan Kiai Dahlan nampaknya dipahami betul oleh tokoh Muhammadiyah yang terus mempersembahkan hidupnya, dalam mencerdaskan anak Bangsa, tanpa mengharapkan imbalan yang diberikan oleh pihak manapun. Pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan tokoh Muhammadiyah di Daerah, termasuk Kabupaten Majalengka, tempat kelahiran penulis.

Setelah 9 tahun penulis bergabung di Muhammadiyah, tepatnya di Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, penulis mendapati tokoh yang sangat kokoh memperjuangkan Amal Usaha Muhammadiyah dalam bidang Pendidikan.

Abdullah: Ruhhul Ikhlas Itu Masih Ada

Salah satu Amal Usaha Muhammadiyah di Majalengka, yaitu SMP Muhammadiyah Jatiwangi, berdiri sejak tahun 1963, mengalami kemajuan sejak berdirinya, namun kehidupan selalu mengalami pasang surut, termasuk juga lembaga ini. Sekitar tahun 1997, lembaga ini jatuh. Bangunan yang telah didirikan secara kokohpun diwacanakan akan dijual.

Karena tidak mendapatkan murid dan ditinggal oleh guru-gurunya, ditambah dengan Ketua PCM setempat merasa prustasi dihadapkan dengan situasi seperti ini sehingga menambah situasi kalut pada saat itu. Namun Majelis Dikdasmen masih melakukan upaya untuk mempertahankan lembaga tersebut.

Hal ini direspon baik juga oleh salah satu guru di lembaga tersebut, Abdullah namanya, akrab disapa pak Dudung, yang tersisa dengan Kepala Sekolah, yang mencari siswa hingga akhirnya mendapatkannya. Dengan perjuangan ini, SMP Muhammadiyah Jatiwangi tetap hadir mencerdaskan anak bangsa hingga saat ini.

Abdullah telah mengabdikan dirinya di lembaga Muhammadiyah sejak 01 Juli 1985, perannya memang sangat sentral dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa maupun menghidupkan Muhammadiyah di Majalengka. Setelah menjadi tokoh yang menyelamatkan SMPM Jatiwangi, Abdullah mengajak salah satu saudagar menjadi anggota Muhammadiyah untuk menghidupi segala kebutuhan pembelajaran di lembaga tersebut.

***

Sehingga, banyak terobosan yang dilakukan. Di saat sebelum pemerintah Presiden SBY meluncurkan program wajib belajar 9 tahun, SMP Muhammadiyah telah lebih dulu menggratiskannya. Di saat Presiden Jokowi memberikan sepeda bagi siswa yang dapat menyebutkan lima nama ikan, SMP Muhammadiyah telah lebih dulu memberikan sepeda bagi Siswa yang rumahnya jauh dari sekolah.

Setiap langkahnya memang patut diteladani kezuhudannya. Penulis pernah menanyakan berapa gaji yang didapatkan dari SMPM ? beliau menjawab, hingga kini tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Pernah ditawari untuk melakukan sertifikasi guru, beliau menolak, jarak rumahnya dari SMPM juga jauh, sekitar 9 KM.

Duhulu ditempuh dengan sepeda, kini beliau memiliki motor bebek 125 CC. Didikannya sangat tidak toleran, terkhusus bagi siswa yang melanggar ketetapan Tuhan. Setiap pagi, beliau memastikan siswanya mendirikan sholat. Siswa akan diinterogasi, jika tidak melaksanakan. Beliau menyiapkan hukuman dengan melaksanakan sholat shubuh dan beristighfar hingga pembelajaran selesai, absen sholatpun disiapkan bagi siswa yang membandel tidak melaksanakan sholat.

Abdullah juga konsen terhadap pengentasan buta al-Qur’an, setiap pergantian tahun ajaran, beliau mengetes kemampuan siswanya dalam membaca al-Qur’an. Bagi siswa yang bermasalah, tentu disiapkan sarana untuk memperlancar maupun memasihkan bacaan. Beliau menyadari betul bahwa kecerdasan siswa muncul berbanding lurus dengan ketakwaannya, ketakwaan dapat menstimulus perkembangan pemahaman siswa, hal ini nampaknya diinspirasi dari firman Allah :

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ……..

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Baqarah : 282.)

Langkah-langkah sepele Abdullah mungkin tidak seberapa dibanding dengan pahlawan yang menguncurkan keringat dan darah. Namun Abdullah telah membuka mata orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahwa perlu pengorbanan yang ekstra bagi terwujudnya cita-cita Bangsa. Kini ribuan siswa yang dulu, dipupuk dengan keimanan telah mengabdikan dirinya bagi Bangsa di bidangnya masing-masing.

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *