Perspektif

Benarkah Kesetaraan Gender Bukan Solusi?

3 Mins read

Isu tentang gender tampaknya tak akan meredup begitu saja. Setiap kelompok berlomba-lomba mengeluarkan gagasan untuk merumuskan bagaimana solusi yang tepat bagi permasalahan perempuan. Bahkan baru-baru ini, sedang gencar adanya counter narasi dari sebutlah salah satu media muslimah yang menentang gagasan feminisme terkait kesetaraan gender. Penasaran? Di bawah ini dua argumen yang sering mereka gaungkan.

Pertama, Kesetaraan gender hanya akan menghancurkan tatanan keluarga.

Dalam hal ini, mereka berpedoman pada sebuah research di suatu negara yang nilai kesetaraan gendernya tinggi. Ternyata negara tersebut memiliki angka perceraian yang lebih tinggi jika dibandingkan negara dengan angka kesetaraan gender yang rendah. Hal ini disinyalir jika perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar untuk bekerja sebagaimana laki-laki, maka akan semakin banyak anak yang kurang kasih sayang, suami kurang diperhatikan, dan akhirnya rumah tangga berantakan.

Kedua, Kesetaraan gender adalah upaya eksploitasi akan perempuan.

Pandangan ini didapat dari pernyataan Sri Muyani, bahwasannya perempuan menyumbang angka terbesar dalam kemiskinan. Karena itu, perempuan harus didorong untuk memasuki pekerjaan sektor formal. Dengan kata lain, menurut mereka selama ini kesetaraan gender hanya dimaknai sebagai konsep pendorong ekonomi negara, atau bentuk lain dari eksploitasi negara akan perempuan.

***

Oke, dua argumen di atas terdengar sangat masuk akal. Argumen yang tepat untuk menyerang sistem pemikiran barat dan sistem pemerintahan negara sehingga terlihat heroik ketika mampu memunculkan sistem pemikiran dan pemerintahan yang baru. Tapi maaf, kali ini bukan sistem tandingan itu yang akan saya bahas, namun bagaimana sebagai seorang muslim dan muslimah menanggapi feminisme dengan konsep kesetaraan gendernya.

Penggunaan istilah kesetaraan gender ini memang agak tricky dan sedikit membingungkan. Jujur saja, dalam perjuangan hak perempuan, penulis lebih suka menggunakan istilah keadilan (equity) daripada kesetaraan (equality). Lain kali akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Istilah kesetaraan gender semakin membingungkan apabila dibenturkan dengan konsep gender dalam Islam.

Baca Juga  Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Wajar saja, feminisme dan tuntutan kesetaraan gender lahir lewat gerakan di Eropa, sebuah gerakan yang tidak berdasarkan ketuhanan, melainkan dari ketidaksetaraan dan ketidakpuasan. Lalu bukankah berarti kenyataan sejarah dan dua argumen di atas sudah cukup menjadi alasan kita menolak konsep feminisme dan kesetaraan ? Ah tidak juga.

Setiap gagasan pasti memiliki celah untuk dibantah. Tak terkecuali dua pendapat di atas. Apalagi jika kita benturkan dengan fakta dan realita yang ada.

Kesetaraan gender bukan hanya masalah seberapa banyak perempuan bisa bekerja

***

Ya, kesalahan dari dua pendapat di atas adalah  hanya menisbatkan kesetaraan gender pada seberapa besar akses perempuan untuk bekerja. Padahal kesetaraan gender tidak hanya melulu soal itu, tetapi juga berkaitan dengan akses pendidikan, kesehatan, budaya, bahkan politik.

Kita harusnya berterimakasih kepada gerakan kesetaraan gender di luar sana yang setidaknya mampu menyadarkan perempuan Indonesia untuk melakukan pembelaan atas dirinya. Kita tentu tidak akan lupa pada kisah heroik Kartini yang berhasil menyadarkan diri sehingga dengan berani mengutuk kultur patriarki.

Memang benar, dalam Islam sudah ada aturan memuliakan perempuan. Namun dalam aturan,  selalu terjadi penyimpangan. Bayangkan jika perempuan tetap bungkam, akses pendidikan dibatasi, akses politik dijegal, akses pekerjaan dihambat, perempuan hanya akan menjadi makhluk yang berjalan di tempat.

Bukannya apa, jika melihat dari kasus kesewenang-wenangan dalam rumah tangga, ternyata cukup mengkhawatirkan. Tak sedikit suami yang menganggap istrinya lemah tak berdaya hanya karena menganggap dirinya paling berkuasa atas ekonomi dan politik dalam keluarga. Maka tak jarang jika terjadi kekerasan verbal, kekerasan fisik, dan bahkan perselingkuhan.

Belum lagi melihat kasus perceraian di Indonesia. Setidaknya ada setengah juta perempuan yang resmi menyandang status janda sepanjang tahun 2019. Bayangkan jika setengah juta janda tersebut sebelumnya tidak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan, tentu akan sangat memberatkan hidup perempuan yang bersangkutan. Mungkin maksud lain dari pemerintah mendorong perempuan dalam ekonomi adalah agar perempuan bisa bertahan dalam kondisi yang bahkan tidak diinginkan.

Baca Juga  Nasehat Ulama Muhammadiyah Kepada Jokowi

Lalu bagaimana dengan fakta jika perempuan yang bekerja di luar juga menanggung pekerjaan rumah, bukankah itu hanya akan memberatkan perempuan? Jawabannya tentu saja memberatkan. Namun jika memang perempuan harus bekerja di luar untuk membantu suaminya dan juga untuk alasan pengamalan ilmu, maka di sinilah dituntut adanya komunikasi dan kolaborasi dengan laki-laki yang menyandang status sebagai suami.

***

Suami-istri harus sadar, tanggung jawab mengurus rumah dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama, tidak bisa dibebankan pada salah satu pihak saja. Dan sebaliknya,  ketika perempuan memilih untuk tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, maka itu adalah kebebasan individu perempuan tersebut.

Tidak bisa kemudian kita mengatakan dia tertindas selama itu adalah pilihan pribadinya. Di sini, perkara yang tidak boleh adalah jika terdapat diskriminasi dan pemaksaan.

Antara Islam dan Feminisme

Hal yang harus kita pahami bersama adalah feminisme tidak hanya melulu soal kesetaraan gender. Feminisme juga berkaitan dengan gerakan pembebasan, dan Islam itu membebaskan. Maka dalam tataran konsep ‘membebaskan’, sebenarnya tidak ada yang rancu antara Islam dan feminisme. Hanya pembebasan dalam Islam itu didasarkan pada ketuhanan, sedangkan pembebasan dalam feminisme itu semata karena kemanusiaan.

Jadi ketika dalam praktiknya gerakan feminisme ini ada yang bertolak belakang dengan aturan Islam, ya wajar saja. Hanya saja, bukan berarti feminisme dan kesetaraan gender ini kemudian kita kutuk habisa-habisan. Karena tidak bisa kita mungkiri, dalam sejarah manusia, gerakan ini cukup mampu mengubah wajah perempuan di mata dunia. Ini hanya soal pemaknaan kita terhadap istilah dan ketajaman rasa kita dalam membedakan nilai. Untuk itu, menjadi smart moslem itu perlu!

Jadi, Kesetaraan Gender Bukan Solusi?

Jika melihat kompleksitas masalah perhari ini dan bagaimana kacamata Islam memandang, tentu saja kesetaraan gender bukan solusi, atau tepatnya tidak cukup untuk menjadi solusi. Ingat, mengapa hanya ada 2 jenis gender yang Allah ciptakan, apa untuk untuk saling berkompetisi? Apa untuk saling menggagahi? Tidak, tapi untuk saling melengkapi.

Baca Juga  Benarkah Al-Qur'an Peduli dengan Kesehatan?

Jadi, dalam konsep perjuangan perempuan, tidak cukup hanya dengan tuntutan kesetaraan. Tetapi juga perlu adanya kerjasama dengan laki-laki dalam menciptakan gerakan pencerdasan serta menciptakan iklim sosial tanpa diskriminasi dan pelecehan.

Editor: Yahya FR
Print Friendly, PDF & Email
4 posts

About author
Ketua Korps IMMawati PC IMM Sukoharjo 2020, Aktivis Gender Equity
Articles
Related posts
Perspektif

Memimpin adalah Mengelola Perubahan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Frasa ini acap kali penulis sampaikan ketika menyampaikan sambutan atau amanat yang mengiringi upacara pelantikan pimpinan atau…
Perspektif

Piala Dunia Qatar: Ajang Syiar Islam Moderat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagelaran akbar sepakbola empat tahunan Piala Dunia (World Cup) tahun 2022 untuk pertama kalinya diadakan di negara…
Perspektif

Mencoba Memahami Konsep Habitus, Kapital, dan Arena Pierre Bourdieu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pierre Bourdieu lahir di kota kecil pedesaan di Perancis tenggara pada 1930, Bourdieu tumbuh di rumah tangga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *