Beragama Secara Substansial, Bukan Simbolik Belaka! - IBTimes.ID
Akhlak

Beragama Secara Substansial, Bukan Simbolik Belaka!

5 Mins read

Keteguhan Iman Era Kelimpahan

Moderenitas, industrialisasi, dan globalisasi, tidak mungkin dianggap “terdakwa” yang kehadirannya menggerus iman penganut agama; kedatangannya membuat pemeluk agama lalai menjalankan ritual keagamaan dan kemunculannya menggoyahkan rasa spiritualitas dan kemanusiaan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Esa.

Teknologi era kelimpahan membuat keterkejutan dan ketakberdayaan umat beragama dalam menata moral keluarga dengan etika-agamanya masing-masing. Hal itu disebabkan “kesakralan” agama diterjang “badai” pluralisme budaya dunia yang diminta atau tidak dengan bebas masuk pada perangkat alat-alat elektronik seperti HP dan segenap pirantinya.

Seperti “pisau” bermata dua; satu sisi teknologi mempermudah dan memanjakan hidup penggunanya. Namun pada sisi lain, sering “melukai” penggunanya. Apabila tidak waspada dengan “jebakan” yang dibuat oleh para ahli program perangkat tersebut.

Maka jangan heran, banyak anak dan remaja yang mengakses informasi “sampah” seperti; seks, pornografi, kekerasan, desas-desus, hoaks, dan amoral lainnya. Sehingga dalam waktu yang lama, mereka terlena dan membiarkan pikiran mereka “ditusuk” dan “diracuni”, yang terjadi adalah keinginan untuk memcoba apa yang sudah lama mereka saksikan dan hasrat memuaskan diri dari “provokasi” informasi “sampah” tersebut. Di sinilah perlunya keteguhan iman di tengah hantaman era kelimpahan saat sekarang ini.

Kontekstualisasi Imani untuk Ketercerahan Spiritual

Derasnya arus teknologi informasi “menggusur” etika-agama dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Bukanlah sikap bijak dengan membuang perangkat tersebut, lalu menutup diri dan masa bodoh dengan perkembangan informasi yang maha-menjelajah ke ruang-ruang terkecil dari kehidupan manusia. Atau, menyepi (khalwat) ke goa-goa, bukit dan gunung, supaya iman pemeluk agama aman dari “keterjajahan” teknologi informasi ataupun “mengunci” diri dari pergaulan sosial supaya iman tidak “tersudut” dari hegemoni sekulerisme kaum pemuja ambisi, kursi, gengsi, dan materi.

Sungguh, bukanlah jiwa pemberani dari pengikut agama yang lari dari realitas sosial yang sudah akut tersebut. Bukan pula manusia bernyali bagi penganut agama yang tak berdaya “mengusir” penatnya pikiran dan sesaknya hati atas “badai” budaya globalisasi. Dan tidaklah pantas pendukung agama jika tak mampu berhadapan dengan dogma, doktrin, dan ritus dari media massa yang membahana “dikhotbahkan” dan “diibadahi” dengan berbagai program acara. Sementara, pendukung agama juga memiliki dogma dan doktrin agama dalam Kitab Suci dan risalah Rasul-Nya masing-masing.

Baca Juga  Problematika Perilaku Melampaui Batas Manusia

Dalam realitas di ataslah, umat beragama bangkit untuk memelihara iman dengan “meng-install” hati dengan dogma, doktrin, dan ritual agama dalam rangka mencerahkan spiritualitasnya. Serta,  terdepan dalam mengaktualisasikan iman secara kontekstualisasi dalam ranah sosial dan kemanusiaan.

Revitalisasi Sikap Keberagamaan Umat dan Kemanusiaan

Ekspresi rasa beragama umat, tentu sesuai dengan sejauhmana dogma, doktrin, dan ritual agama mempengaruhi kehidupan mereka. Banyaknya kuantitas ibadah tidak menjamin penganut agama berprilaku ramah dalam kehidupan sosial dan belum tentu santun pada kehidupan kemanusiaan. Juga, tidak selalu menjunjung etika-agama dalam pergaulan di arena publik. Kepincangan tersebut disebabkan seberapa dalam spiritualitas pengikut agama memahami dogma, doktrin, dan ritual agamanya. Serta, sejauhmana etika-agama menjadi kearifan publik dalam perilaku sosial.

Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam buku Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus, (Bandung: Mizan, 1999, h. 3) menjelaskan, bahwa ada dua macam cara beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri.

Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya, tetapi, tidak di dalamnya. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Saya ingin menyatakan bahwa cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati, dan fitnah, masih akan tetap berlangsung.

Pada yang kedua, yang intrinsik, yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment, dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Cara beragama seperti ini, terhunjam ke dalam diri penganutnya. Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.

***

Jadi, penjelasan Jalaluddin Rahmat di atas mengisyaratkan, bahwa cara beragama ekstrinsik mungkin bisa dianggap cara beragama “gincu”, yang hanya menonjolkan “warna” sebagai hiasan pada bibir. Penganut agama seperti ini mengespresikan rasa beragama secara simbolistik. Yakni,  memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan. Seperti berhaji hanya untuk gengsi sosial dan gelar, menyantuni fakir, miskin, dan anak yatim menjelang pilkada supaya disebut kandidat yang dermawan, gemar umroh supaya dianggap spiritualnya lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Baca Juga  Posisi Pancasila dan Agama dalam Negara

Sebenarnya, orang yang beragama simbolistik ini seperti kembang api yang dilemparkan saat malam hari. Ia tanpa mercuswar dengan aneka warna di saat gelap. Namun setelah itu, kembali hilang ditelan kegelapan. Maka, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Seakan-akan niat tulus tapi disusupi keinginan-keinginan (nafsu) seperti: gensi, kursi, materi dan ambisi terselubung.

Jadi, agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman, atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama secara simbolistik saja, seperti; puasa, shalat, umroh, haji, dan sebagainya, akan tetapi subtansinya tidak jelas.

Sedangkan, cara beragama secara intrinsik, bisa disebut sebagai ekspresi beragama “garam”; mungkin saja di luarnya biasa-biasa saja, baik cara berpakaian, gaya bicara, dan etika. Namun dalam pergaulan sosial dan kemanusiaan sangat terasa jiwa religiusitasnya.

Di mana, ia menganggap dogma, doktrin, dan ritus agama bukan pada simbolik belaka. Akan tetapi, “produk” agama baginya merupakan esensi ajaran yang mengatur seluruh hidup seseorang. Sehingga, agama diterima sebagai faktor pemadu pada realitas sosial dan kemanusiaan. Prinsip-prinsip beragama secara subtantif terhunjam ke dalam batin terdalam penganutnya. Maka cara beragama “garam” ini yang mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil’alamin bagi  jagad raya ini. Inilah sikap agama yang inklusif, subtantif dan wasathiyah.

Autentisitas Kedaulatan Iman Bagi Kaum Beriman

Secara umum iman adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujud kepercayaan itu bukan hanya “gincu” yang manis dan indah menghiasi bibir. Akan tetapi, iman sesungguhnya adalah dibenarkan dengan hati (tashdiiqun bil qolbi). Hati ruhani yang tak abstrak itu hanya dapat dirasakan getarannya, apabila senantiasa suci dan murni (qalbun-salim).

Baca Juga  Etika dalam Ekonomi, Perlukah?

Hati yang sublim mampu membaca hal-hal di luar rasional, apabila kesuciannya terpelihara dengan kualitas ritual ibadah yang dimaknai secara subtansial. Apabila kemurniannya terjaga dengan kuantitas zikir dan pikir (zikir kontemplasi) yang tercerahkan secara esensial; dan, apabila kesublimannya tak ternoda dengan memadukan ibadah ritual yang terimplementasi pada realitas ibadah sosial dan kemanusiaan.

Wujud iman juga diikrarkan dengan lisan (iqroorun bil lisaani). Pribadi beriman selain menjaga hati yang suci, murni dan sublim, juga harus memelihara ucapannya, supaya ucapannya tetap dalam iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kaum beriman yang loyal kepada Tuhan Yang Maha Esa, tentu menafikan “pemujaan” kepada gengsi, ambisi, materi, dan kursi. Selain itu, ia pun tidak “menyembah” syahwat, kekuasaan, harta benda, manusia, dan segala bentuk “berhala” yang merendahkan kemanusiaannya.

***

Kemudian, iman tidak terbatas pada pembenaran hati dan pernyataan lisan, tetapi butuh pembuktian pada kehidupan nyata. Maka iman harus diwujudkan dengan diamalkan dengan anggota (wa af’aalun bil arkaani).

Realitas sosial, budaya, ekonomi, politik dan kemanusiaan menuntut kaum beriman, sejauh mana imannya mampu mencari solusi pada problematika kehidupan. Bisakah iman menjawab kesenjangan ekonomi; sanggupkah iman menjernihkan prilaku politik “aji mumpung”; di manakah peran iman saat budaya hedonisme, premisivisme, glamorisme, dan individualisme “memborbardir” pribadi umat beragama; bagaimana sikap iman saat keadilan sosial yang sudah “akut”, dengan jurang pemisah antara kaya dan miskin; dan, dapatkah iman memberikan penyadaran saat hukum dipermainkan dan dijual-belikan oleh “oknum” penegak hukum; kemudian, dimanakah posisi iman saat kemanusiaan dinestapakan, seperti: kekerasan mengancam anak-anak dan perempuan, jual beli anak-anak, remaja korban narkoba, jual kehormatan di tengah himpitan ekonomi, dan lain sebagainya.

Maka, sinilkah peran agama mengembalikan keutuhan kemanusiaan yang autentik dalam era globalisasi dan mengedepankan etika-agama dalam wilayah pergaulan, serta kearifan publik dalam semua segmentasi kehidupannya. Beragama haruslah dibuktikan di wiayah privasi dan publik: menjadi “garam” di tengah “gincu” populisme Islam.

Editor: Yahya FR

Avatar
11 posts

About author
Alumnus Program Pascasarjana (PPs) IAIN Kerinci Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Kosentrasi Studi Pendidikan Karakter. Pendiri Lembaga Pengkajian Islam dan Kebudayaan (LAPIK Center). Aktif sebagai penulis, aktivis kemanusiaan, dan kerukunan antar umat beragama di akar rumput di bawah kaki Gunung Kerinci-Jambi. Pernah mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam “Ummul Quro” Semarang.
Articles
Related posts
Akhlak

Salam Bukan Sekedar Basa-Basi

3 Mins read
Komunikasi adalah kunci berlangsungya silaturahmi. Di masa pandemi, komunikasi daring merupakan upaya mendukung pemerintah untuk tetap jaga jarak dan di rumah saja…
Akhlak

Mental Seorang Juru Dakwah

5 Mins read
Saya mengucapkan selamat kepada teman-teman yang sudah memilih profesi dakwah sebagai jalan ibadahnya. Dengan demikian, Allah sudah mengangkat derajat Anda sebagai khairukum…
Akhlak

Meraih Kebenaran Agama: Mencerahkan dan Meneguhkan!

5 Mins read
Bagi yang ateis, mungkin saja institusi atau agama secara lembaga dianggap kurang penting. Sikap tersebut bisa saja disebabkan cara pandang yang “miring”…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa