Berorganisasi: Berkorban untuk Keluarga atau Keluarga Jadi Korban? - IBTimes.ID
Perspektif

Berorganisasi: Berkorban untuk Keluarga atau Keluarga Jadi Korban?

4 Mins read

Keluarga adalah salah satu tempat di mana kita pulang, pulang saat membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Juga pulang untuk melepas rindu dan mendapat kasih sayang.

Terkadang, meski sekadar senyuman dari istri dan anak, mampu menjadi obat dan pelepas penat ketika kita sudah lelah dengan aktivitas yang ada. Seperti lelahnya setelah bekerja, ataupun kegiatan yang lainnya.

Semua teratasi dengan adanya canda tawa serta senyum ramah dari mereka (keluarga). Sehingga rumah seakan menjadi surga ketika kita mampu dan bisa mendapatkan ketenangan dan kedamaian hati, yang mungkin biasa disebut dengan kata harmonis.

Selain soal pekerjaan, kadang keluarga sering kita tinggal pergi hingga berhari-hari. Namun, kepergian kita karena mempunyai tugas dan amanah lain, misalnya aktif di sebuah organisasi atau yang lainnya.

Terlebih lagi di organisasi, banyak sebagian waktu tersita hanya untuk rapat dan memikirkan umat, yang pastinya tiada upah untuk itu. Malah yang ada kita merogoh kocek pribadi demi berjalannya organisasi, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa bagi seorang aktivis.

Tak peduli apapun profesinya, meskipun hanya bergaji ratusan ribu, tetapi masih menyisakan sedikit untuk memberikan sumbangsih. Tetapi dari kesemuanya, waktu adalah yang paling berharga.

Karena pastinya, banyak pekerjaan di dalam rumah yang sebenarnya menanti ketika libur pekerjaan diluar rumah, tapi semua tersita untuk kegiatan ataupun agenda di organisasi. Apakah keluarga menjadi korban? Atau inikah sebuah pengorbanan untuk keluarga?

Berorganisasi, Keluarga Jadi Korban?

Dalam keluarga, pasti setiap kepala di semua anggota keluarga mempunyai pemikiran masing-masing, itu pun lumrah dan manusiawi. Namun ketika kita memilih masuk ke sebuah organisasi, kita harus mengikuti aturan di dalamnya.

Sehingga, setiap agenda dan kegiatan organisasi, kita kudu hadir dan pasti terlibat di dalamnya. Berawal dari pertanyaan seorang teman, “Kamu seharian nggak pulang, nggak di cari/tanyakan istrimu?” sontak pertanyaan yang membuat saya harus berpikir untuk mencari jawabannya.

Baca Juga  Bencana Ekologis, Jadi Modern Tak Harus dengan Merusak

Namun, saya sangat beruntung, karena mempunyai istri yang mengerti keadaan suaminya. Padahal, pasti dia ‘ribet’ mengurus rumah dan anak-anak, harusnya suami ada untuk membantunya di rumah. Tetapi, terkadang hal yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga akhirnya keluarga yang ditinggalkan.

Apakah keluarga menjadi korban? Sejatinya tidak, dalam konteks Bermuhammadiyah, kita mungkin sudah tak asing dengan kalimat yang disampaikan oleh Jenderal Sudirman, “Sungguh berat jadi kader Muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang!” Iya, memang berat!

Di satu sisi, kita punya tanggungjawab di rumah (kepada keluarga), di sisi lain kita mempunyai amanah dalam berorganisasi yang seakan keduanya tak bisa jika disuruh memilih salah satu di antaranya.

***

Tetapi, ketika kita dalam Bermuhammadiyah dengan hati ikhlas, maka akan merasakan rasa yang gembira. Tanpa beban dan tanpa tekanan, memang tanggung jawab kepada keluarga kita tanggung hingga di akhirat kelak, begitu pula dalam menjalankan amanah organisasi.

Tapi beruntunglah kiranya ketika kita memiliki pasangan yang juga aktif dan berkecimpung di dunia yang sama, sehingga mengerti dan memahami posisi dan keadaan pasangannya, dan yang beruntung salah satunya adalah saya.

Ketika istri sedang mengikuti kegiatan di Nasyiatul Aisyiyah, maka peran di rumah akan menjadi tanggungjawab saya, dari ngurus anak hingga membersihkan rumah. Sehingga, saat ia pulang yang pastinya lelah, ketika sampai rumah dengan keadaan semuanya sudah rapi, akan menjadikan hati dan pikirannya lebih tenang dan tentram.

Jadi, dengan ikut organisasi, dengan Bermuhammadiyah, tidak akan ada keluarga yang dikorbankan. Karena dalam Muhammadiyah, kita sering diberikan bekal bagaimana cara merawat keluarga dan mengatasi permasalahan yang ada.

Apalagi, ketika keduanya (suami istri) juga turut serta dalam kegiatan yang ada. Kita bisa berbarengan ketika menghadiri acara atau kegiatan yang diadakan Persyarikatan, bukankah itu suatu kenikmatan?

Baca Juga  Going Wireless With Your Headphones

Bermuhammadiyah: Menjadi Bagian Solusi atau Masalah?

Ketika kita aktif berorganisasi, sesungguhnya kita sedang memberikan hal terbaik bagi keluarga kita. Semisal kita aktif di Persyarikatan, maka akan ada nilai-nilai moral dan sosial yang dapat kita berikan kepada keluarga kita.

Apa yang kita lakukan untuk Muhammadiyah, adalah untuk keluarga kita juga. Di mana dalam berorganisasi, pasti ada saja ujian di dalamnya, dari integritas hingga yang lainnya.

Kalau saja kita lengah dan tergoda, maka bukan hanya organisasi saja yang kita korbankan, tetapi juga nama baik keluarga. Namun sebaliknya, jika dalam berorganisasi, Bermuhammadiyah kita lurus secara moral, akhlak, ucap, dan sikap.

Maka, akan membawa kebaikan pula bagi keluarga kita, sehingga nantinya akan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Tentunya, kita tidak mau nantinya anak kita mempertanyakan periode atau kepemimpinan kita (semisal kita diamanahi menjadi pimpinan) mengalami permasalahan yang merugikan Persyarikatan.

“Kenapa ayah tidak menjadi bagian dari solusi malah menjadi sumber masalah?” bukankah itu suatu pertanyaan yang akan membuat rasa malu dan menjadi beban bagi diri kita sendiri nantinya jika kita tidak amanah?

Oleh karena itu, dalam berorganisasi sejatinya bukan hanya menjadi pelangsung, penerus (regenerasi) saja, tetapi juga sebagai ujian yang bisa saja nantinya menjadi acuan bagi anak-anak kita.

Menduduki pimpinan bukanlah suatu posisi yang mudah, karena bisa jadi sebelum kita dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kita oleh Allah Swt, kita sudah dimintai pertanggungjawaban oleh anak kita, keluarga kita sendiri.

Maka, bermuhammadiyah bukan hanya menghidup-hidupi dakwah gerakannya saja, tetapi juga menjaga nama baiknya untuk kepentingan bersama. Bukan untuk kelompok tertentu, partai tertentu, atau bahkan keluarga.

Namun, melalui aktifnya kita di organisasi, di Muhammadiyah, mari kita jadikan diri kita bagian dari solusi, bukan malah menjadi bagian atau sumber dari masalah. Agar menjadi teladan bagi anak cucu kita, dan nantinya ketika mereka menjadi penerus, kita wariskan kebaikan yang kita tanam.

Baca Juga  Keluarga: Lembaga Awal Penanam Nilai-Nilai Kebaikan

Berorganisasi Supaya Hidup Bermanfaat

Menjadi kader, anggota, ataupun pimpinan dalam suatu Persyarikatan, haruslah kita imbangi dalam peran kita sebagai bagian dari keluarga, khususnya suami atau ayah dari anak-anak kita.

Adanya kita dalam berorganisasi agar menjadi suatu hal yang bermanfaat dan memberi manfaat bagi diri kita, serta keluarga kita. Kewajiban kita kepada keluarga jangan sampai kita abaikan demi organisasi, ataupun tanggungjawab kita dalam organisasi jangan sampai menjadikan keluarga kita merasa kehilangan sosok dan posisi kita sebagai bagian dari mereka, entah sebagai suami ataupun ayah.

Sehingga, keluarga tidak merasa keikutan serta keaktifan kita dalam organisasi menjadi suatu masalah bagi mereka, entah karena waktu yang kurang (sering keluar rumah), atau yang lainnya.

Maka, beruntunglah ketika istri kita mampu memahami keadaan posisi suaminya, serta beruntung pula ketika suami mengerti tanggungjawab istrinya dalam berorganisasi. Semoga,  dalam kita berjuang melalui organisasi menjadi amal kebaikan bagi kita dan mengalir pula kebaikan itu kepada keluarga kita.

Serta, semoga kita kehadiran kita dalam organisasi memberikan manfaat bagi keberlangsungan organisasi, bukan malah menjadi permasalahan dalam berorganisasi. Aamiin.

Editor: Yahya FR

Avatar
84 posts

About author
Sekretaris Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Solokuro, Lamongan 2018-2022
Articles
Related posts
Perspektif

Inside Out: Diri Sendiri yang Nggak Sendirian

4 Mins read
Pernahkan pembaca sekalian mendengar ungkapan “be yourself” atau “ikuti kata hatimu”? Ternyata, ungkapan sederhana ini nggak sesederhana kedengarannya. Bukan karena kita sulit…
Perspektif

Bagaimana Cara Menjadi Kritis Sekaligus Humanis?

4 Mins read
Kritis adalah kata yang semakin sering kita dengar dalam beberapa waktu terakhir. Di media massa, dalam retorika politisi, pada ceramah guru, dan…
Perspektif

Masa Depan Rekomendasi Jakarta 1438/2017

3 Mins read
Rekomendasi Jakarta 1438/2017 – “𝘉𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘳𝘦𝘬𝘰𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘑𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢 2017 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘳𝘪𝘯𝘴𝘪𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩…

Tinggalkan Balasan