Izinkan Aku Berzina, Wahai Rasul! - IBTimes.ID
Akhlak

Izinkan Aku Berzina, Wahai Rasul!

2 Mins read

Pemuda yang Ingin Berzina

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah Saw Lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina!”.  

Mendengar permintaan aneh yang diungkapkan oleh pemuda tersebut, para sahabat yang saat itu ada di sekeliling Nabi kontan mengusirnya. Namun Rasulullah Saw mencegah mereka. “Dekatkan ia kepadaku,” pinta Nabi.

Ketika pemuda tersebut telah berada dekat dengan beliau, Rasulullah Saw lalu bertanya kepadanya, “Apakah kamu rela jika ibumu yang dizinai?”.

“Demi Allah, tentu saja aku tidak rela, ya Rasul,“ jawabnya.

“Begitu juga orang lain, mereka tidak rela jika ibunya dizinai olehmu”, lanjut Rasulullah.

“Apakah kamu rela jika anak perempuanmu yang dizinai orang lain?”, tanya Rasul lagi.

“Demi Allah, tentu saja aku tidak rela, ya Rasul”, jawab si pemuda.

“Begitu juga orang lain, mereka tak akan rela jika anak perempuannya dizinai olehmu”, kata Rasul.

“Apakah kamu rela jika saudara perempuanmu dizinai orang lain?”.  

“Demi Allah tentu saja aku tidak rela, ya Rasul,”.

“Begitu juga orang lain, mereka tak akan rela saudara perempuannya dizinai olehmu,”.  

“Apakah kamu rela jika bibimu yang dizinai oleh orang lain?”.

“Demi Allah, tentu saja aku tidak rela, ya Rasul,”.

“Begitu juga orang lain, mereka tak akan rela jika bibinya dizinai olehmu.”.  

Dalam riwayat Ahmad diceritakan bahwa Rasul Saw kemudian mengusap kepala si pemuda dan mendoakannya. Sejak peristiwa itu pemuda tak pernah lagi berpikir untuk berzina.

Cara Nabi Menasehati

Cara yang digunakan oleh Rasulullah Saw untuk menenangkan gejolak batin pemuda itu sangat menarik. Sebagai seorang muslim, pemuda itu pasti tahu belaka bahwa zina itu haram.

Baca Juga  Rasulullah Menghormati Jenazah Non-Muslim, Jangan Sampai Kita Menolak

Tapi hasrat untuk berzina sudah mencapai ubun-ubun. Maka ia mencoba mencari dukungan bagi tindakan yang sudah bulat di hati. Ia datang dan meminta izin kepada Nabi Saw

Nabi Saw bisa saja membombardirnya dengan ayat-ayat tentang zina, memberikan gambaran seram tentang hukuman dan ancaman siksa di neraka, tapi beliau tidak melakukannya.

Sebab Nabi tahu bahwa tidak mudah menjernihkan secara mendadak pikiran seseorang yang perasaannya telah dikuasai nafsu dan birahi, bahkan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sekalipun.

Maka Nabi Saw pun memulai dengan menyentuh pikirannya, membimbing akal sehatnya. Ia bertanya dan mengajaknya berpikir secara sehat.

Hilangnya dorongan untuk zina hilang dari pikiran pemuda itu saya kira bukan hanya berkat doa Nabi Saw tapi juga karena akal sehatnya yang sudah terang setelah dinyalakan oleh Nabi. Nabi Saw bahkan sama sekali tidak merasa bicara tentang dosa dan siksa neraka.

Utamakan Dialog

Dialog tidak hanya membuat seseorang merasa didengarkan, diakui kehadirannya, tapi juga membuka banyak kemungkinan. Pemuda yang ingin berzina itu jadi mengerti akibat yang sebelumnya tidak ia pahami.

Pelajaran Nabi Saw tentang dialog ini kerap kita lupakan. Terhadap orang-orang yang memiliki pandangan berbeda alih-alih membuka diri, kita cenderung mengeluarkan mereka sebagai bagian dari keluarga besar dan membiarkan mereka sendiri. Kita menolak berbicara atau berdialog dengan mereka.

Resistensi ini pada akhirnya membuat kita sangat berjarak dan tidak bisa memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu.

Padahal, pemahaman atas motivasi-motivasi yang mendorong sikap mereka penting diketahui agar kita bisa memberikan masukan dengan tepat.

Kita sering kali berasumsi bahwa sumber utama perilaku menyimpang adalah pemahaman agama yang keliru. Bahwa mereka salah memahami ayat ini.

Baca Juga  Ahlus Shuffah, Golongan Manusia yang Dipedulikan Rasul

Bahwa mereka mengabaikan teks lain sehingga tidak memiliki pemahaman yang utuh. Lalu kita sibuk memberikan penjelasan mengenai tafsiran yang benar tentang agama kepada mereka.

Asumsi itu tidak keliru. Pemahaman yang salah memang melahirkan perilaku yang salah. Hanya saja acap kali solusi suatu masalah tidak dengan semata memberikan tafsiran yang benar. Sebuah perilaku dibentuk oleh banyak variabel.

Buktinya, pemuda dalam hadis di atas tetap ingin berzina meski memahami bahwa zina dilarang. Ia bahkan sedang mencoba mencari jalur alternatif agar perbuatan itu diboleh ia lakukan dengan meminta izin kepada Nabi.

Maka di sinilah pentingnya terus membangun dialog. Kita bisa membayangkan apa jadinya, jika penolakan para sahabat terhadap pemuda dalam hadis itu dibiarkan oleh Nabi. Pemuda itu mungkin akan melampiaskan hasratnya untuk berzina. Lagi dan lagi.

Ya, orang yang dibiarkan sendiri bisa melakukan hal-hal yang gila.

Editor: Yahya FR

Muhammad Zaid Su'di
1 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Articles
Related posts
Akhlak

Berhati-hatilah dalam Memberi Persepsi

3 Mins read
Manusia: Makhluk yang Suka Memberi Persepsi Saat manusia berinteraksi dengan manusia yang lainnya, persepsinya akan ikut menyertai dalam interaksinya. Tentu ada banyak…
Akhlak

Ramadhan, Momentum Gembleng Kesalehan Sosial

3 Mins read
Ramadhan dan Kesalehan Sosial Bulan Ramadhan adalah momen atau kesempatan untuk menyucikan diri, hati dan pikiran. Waktu untuk muhasabah tentang apa saja…
Akhlak

Karakter Muruah: Integritas Estetika Jiwa dalam Kaca Bening

8 Mins read
Muruah adalah Bunga Diri Muruah – Kemulian dan kebeningan pribadi seseorang tidak hanya terletak pada laku tapa, semedi, dan khalwat-nya di hadirat…

Tinggalkan Balasan