Perspektif

Cinta dan Kekecewaan pada Indonesia

3 Mins read

Pancasila dan Kondisi Pendidikan Kita

Di atas kertas, ideologi Pancasila adalah fondasi yang melampaui proses keterbentukan bangsa bernama Indonesia. Pancasila adalah semacam visi yang terus menerus diusahakan dan diperjuangkan di tengah keragamaan masyarakat Indonesia, baik dari segi etnik, ideologi, sosial, maupun budaya.

Tidak hanya ada nilai ketuhanan, keadilan, distribusi ekonomi, melainkan juga sebagai upaya harmonisasi yang disebut dengan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan dalam masyarakat ada dalam Pancasila.

Namun, dalam praktek di lapangan, Indonesia adalah pasar liberal yang paling luas. Indonesia adalah hutan rimba, di mana yang paling kuat yang bertahan. Akibatnya, dengan struktur sosial semacam ini, masing-masing dari kita mencari selamat untuk diri sendiri, keluarga, orang terdekat, dan komunitas.

Cari selamat inilah yang kemudian membuka pasar-pasar komersial yang menawarkan keistimewaan bagi mereka yang punya uang, khususnya dalam institusi pendidikan dengan jalur swasta. Candaan kalau ingin bagus harus bayar selalu mengena setiap kita memikirkan institusi pendidikan negeri apa yang terbaik untuk anak-anak kita.

Sementara, kalau akses pendidikan gratis kita tidak boleh berharap terhadap pendidikan yang berkualitas. Di sini, membayar secara mahal untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang baik untuk anak-anak adalah semacam prasyarat di tengah minimnya usaha pemerintah untuk secara serius memperbaiki kualitas pendidikan dari jenjang SD-SMA.

Mengapa hal itu terjadi? Ini karena, elit politik yang berkuasa, bahkan dalam institusi yang terkecil di dalamnya, tidak memiliki imajinasi bagaimana membangun bangsa. Sebaliknya, bagi mereka, negara adalah akses terbaik untuk mengakumulasi kapital secara brutal dan merusak.

Regulasi memang ada. Struktur pemerintahan tersedia. Akses jalur pemerataan sudah tertancap. Fondasi visi kenegaraan sudah tertanam. Namun, itu semua bukan untuk rakyat, melainkan segelintir elit yang berkuasa dan institusi politik yang ada di dalamnya.

Baca Juga  Mewujudkan Pendidikan yang Berkeadilan

Sebuah Kekecewaan pada Indonesia

Saya sebut brutal, misalnya, di tengah situasi covid-19, ini dana sosial yang diperuntukkan untuk rakyat dipotong habis-habisan, baik di level kementerian sosial, diwakili oleh Juliari Peter Batubara maupun pemerintah daerah di beberapa kota. Di sisi lain, di tengah harga minyak goreng kelapa sawit yang cukup tinggi permintaannya secara internasional, justru Dirjen Kementerian Perdagangan melalui empat orang oknum menjual bahan mentahnya di pasar internasional. Padahal Indonesia adalah produsen terbesar Minyak Sawit Mentah.

Sementara itu, atas nama prioritas atlet yang memungkinkan untuk dapat meraih emas, perwakilan institusi pemerintah, atlet yang dianggap kurang potensial, tidak diikutkan di ajang Sea Games yang akan datang.

Hal ini disuarakan oleh Sutjiati Narenda, atlet Senam Ritmik. Ia memilih menjadi warga negara Indonesia dan menjadi atlet ketimbang harus menjadi warganegara Indonesia, karena kecintaannya terhadap tanah air dari darah sang Ayah. Meskipun ia sebenarnya bisa memilih untuk berkarir di tanah air ini.

Di sisi lain, kita tahu, dari segi dana, Indonesia punya. Namun, sejauhmana dana itu bisa diakses untuk kemajuan atlet? Hal inilah yang menjadi pertanyaan yang terus dikemukakan di publik.

Di tengah brutalnya struktur sosial semacam ini, atas nama nasionalisme, orang-orang Indonesia yang pintar diminta untuk balik ke Indonesia. Ini karena, ilmunya dianggap bermanfaat untuk mengembangkan bangsa ini ke depan. Namun, saat mereka balik, tidak hanya ditelantarkan, bahkan tidak sedikit harus mencari jalan keluar mencari perekonomian sendiri untuk bertahan.

Di tengah minimnya sistem meritokrasi di Indonesia, membangun bangsa atas nama nasionalisme dengan menyuruh kader-kader terbaik bangsa itu seperti misi menegakkan benang basah. Hal itu tampak memungkinkan di atas kertas. Kenyataannya, itu bisa menjadi mimpi buruk bagi orang-orang diaspora Indonesia yang pulang kampung, tapi justru menderita di negara sendiri.

Baca Juga  LUAR BIASA! Orang Indonesia Kebal Virus Corona?

Bagaimana Kecintaan Kita Terhadap Indonesia?

Ironisnya, di tengah situasi brutal semacam ini, kecintaan kita terhadap bangsa ini tidak pernah surut. Kehadiran Niki dalam panggung konser Coachella dengan petikan gitarnya menyanyikan lagu “Sempurna” karya Andra and the Backbone membuat kita bersungut, “Bangke, merinding banget lihatnya”. Apalagi, ketika Rich Brian menceritakan dirinya dari Indonesia dan latarbelakang visual Monas di panggung konser besar tersebut.

Melihat mereka berdua, ada kebanggaan tersendiri melihat nama Indonesia disebutkan.  

Jujur, tidak ada yang mencintai Indonesia selain kita, di mana pun kita berada. Namun, rasa cinta ini tiba-tiba surut melihat kelakuan elit politik yang menjadi predator dengan menjadikan dana rakyat sebagai bancakan korupsi di tengah krisis. Kita hanya bisa mengelus dada di tengah sistem meritokrasi yang selalu tebang pilih.

Mereka inilah yang menghancurkan imajinasi kebangsaan Indonesia yang begitu kuat. Meskipun dalam perjalanan waktu, tiba-tiba kita bisa mencintai Indonesia di tengah kehadiran talenta-talenta muda kreatif yang mendunia.

Kita begitu mencintai Indonesia, di tengah individu dan komunitas yang membangun solidaritas Indonesia lebih baik melalui tindakan kerelaan dalam bentuk tenaga dan uang.

Namun, kecintaan itu bisa tiba-tiba runtuh di tengah busuknya elit politik yang menjadi predator; menghabisi dana rakyat untuk kepentigannya sendiri. Ironisnya sekali lagi,  itu dilakukan di tengah krisis!.

Editor: Soleh

Print Friendly, PDF & Email
78 posts

About author
Peneliti di Research Center of Society and Culture LIPI
Articles
Related posts
Perspektif

Memimpin adalah Mengelola Perubahan

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Frasa ini acap kali penulis sampaikan ketika menyampaikan sambutan atau amanat yang mengiringi upacara pelantikan pimpinan atau…
Perspektif

Piala Dunia Qatar: Ajang Syiar Islam Moderat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pagelaran akbar sepakbola empat tahunan Piala Dunia (World Cup) tahun 2022 untuk pertama kalinya diadakan di negara…
Perspektif

Mencoba Memahami Konsep Habitus, Kapital, dan Arena Pierre Bourdieu

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Pierre Bourdieu lahir di kota kecil pedesaan di Perancis tenggara pada 1930, Bourdieu tumbuh di rumah tangga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *