Di Tahap Mana Level Pemikiran Kita Sekarang? - IBTimes.ID
Filsafat

Di Tahap Mana Level Pemikiran Kita Sekarang?

2 Mins read

Pemikiran | Manusia sebagai makhluk yang istimewa, merupakan anugerah yang diberikan Tuhan melalui akalnya. Akal merupakan pusat kemuliaan manusia. Dengan akal, ia dapat berfikir untuk kehidupanya. Tapi terkadang pula, dengan akal, ia berusaha mencoba untuk merusak dunia.

Atau dalam Islam disebut dengan orang mufsidun. Padahal dengan akal itu, Tuhan mencoba memberi jalan untuk manusia, mengukir semesta dengan ilmu, amal, dan pengetahuannya. Sebab Tuhan sudah memberikan jaminan kepada mereka ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya dengan kenikmatan di dunia maupun akhirat.

Sejarah dimulai saat manusia bergerak dengan akalnya, mencoba menggali inovasi demi inovasi untuk kebutuhan hidupnya. Konsep sejarah ini dimulai dari sejarah corak pemikiran manusia yang digagas oleh penganut aliran positivisme, yakni Auguste Comte yang memberikan penjabaran tentang tahap-tahapan manusia dalam berfikir.

Auguste Comte adalah pendiri ilmu fisika sosial atau yang sering kita kenal dengan sosiologi. Ilmuwan ini termasuk, ilmuwan aliran evolusionisme di dalam ilmu sosiologi. Maka, kita akan simak penjelasan beliau tentang tahapan pemikiran manusia, berikut ulasanya.

Pertama, Teologis

Yakni tahapan di mana manusia masih menggunakan penafsiran gejala-gejala yang ada dengan kekuatan adikodrati (gaib). Pada saat itu, manusia meyakini alam semesta ini pasti memiliki rahasia-rahasia yang tertentu.

Manusia tahapan ini masih bersifat primitif dan belum sempurna untuk menggunakan akalnya. Kecuali hal yang praksis untuk kehidupanya.

Kedua, Metafisik

Di mana, manusia menganggap bahwa setiap gejala memiliki kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan diungkapkan.

Pada tahapan ini, mereka meyakini semua hal yang menakjubkan berasal dari dewa-dewa. Akal mereka sudah mulai bisa memikirkan siapa yang menciptakan hidup ini, dan apa substansi manusia ada.

Baca Juga  Paradigma Psikologi Islam Mana yang Paling Efektif?

Ketiga, Positivistik

Yakni di mana manusia memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan konkret, tanpa ada halangan dari pertimbangan pertimbangan lainya.

Atau saat itu adalah masa peralihan di mana ilmu pengetahuan dianggap sebagai kebenaran mutlak. Mereka menjadi berbangga-bangga dengan penemunya dan menganggap semua ini harus objektif atau dapat dipertanggungjawabkan. Mereka menyangkal ilmu harus terbebas dari nilai.

Permasalahanya adalah, banyak dari kalangan ilmuwan Barat masih menyebarkan budaya berpikir dari tahapan positivistik tadi. Bahwa kehidupan ini harus rasional dan dapat dipertanggungjawabkan dan tak ada hubungannya agama dan ilmu pengetahuan.

Kita dalam Masa Peralihan Positivistik Menuju Integrasi Ilmu.

Budaya dari Barat hari ini yang negatif harus kita tinggalkan. Apalagi, kita seorang muslim yang masih percaya dan berpegangteguh kepada agama. Bahayanya ilmu tanpa agama, seperti yang dikatakan Albert Einstein, seorang Ilmuwan terkenal, yakni:

“Ilmu Pengetahuan tanpa Agama adalah pincang, Agama tanpa Ilmu adalah buta.”

Einstein mengajarkan kita, bahwa kehidupan hari ini seperti adanya smartphone, media sosial, robotik, medis, dan lainnya harus dibekali dengan agama. Supaya semua itu dapat menjadi control untuk diri sendiri. Tidak menyalahgunakan dalam hal negatif. Dan supaya manusia tahu dan ingat bahwa dirinya bisa begini, menciptakan itu, melakukan itu, semuanya adalah karunia Tuhan.

Maka, perkembangan pemikiran manusia sangatlah dinamis ini masih berlangsung hingga sekarang. Menurut pendapat Kuntowijoyo seorang Ilmuwan sejarah Indonesia, tahapan corak pemikiran manusia sekarang berada fase integrasi Ilmu.

Salah satu penandanya periodesasi ini adalah munculnya lembaga pendidikan yang mengintegrasikan dengan agama. Seperti UIN, IAIN, STAIN, dan lembaga pendidikan lainya yang mampu menggabungkan Ilmu dan Agama.

Jadi sebenarnya kita sudah mencapai tahapan berpikir yang rasional dan empiric (pengalaman) namun jangan melupakan dengan dimensi teosentris(ketuhanan). Dengan itu, diharapkan manusia akan menjadi makhluk yang love wisdom. Yang mencintai ilmu dan kebijaksanaan untuk kebaikan. Di mana, masyarakat sudah mengkorelasikan antara science, philosophy, dan religion.

Namun fakta yang terjadi tahapan manusia didominasi berpikir yang hanya dalam koridor agama masih ada di dalam masyarakat.

Baca Juga  Inti Kritik Derrida ke Saussure: Makna itu Tak ada yang Pasti

Mungkin kita masih berusaha untuk mencetak masyarakat yang open-minded dengan pengetahuan dan kondisi saat ini, Yang harus selektif seperti menangkap informasi yang terjadi. Kita harus mencetak generasi berpengetahuan dan berpedoman, seperti seorang sarjana kimia juga harus ahli dalam ilmu syariah. Dengan begitu kemajuan akan begitu pesat di negeri ini.

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
3 posts

About author
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah TulungagungMahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Articles
Related posts
Filsafat

Ibn Arabi Bukan Penganut Panteisme

4 Mins read
Wahdat al-wujud (kesatuan wujud) merupakan istilah yang lazim disandarkan pada pandangan Ibn Arabi mengenai Tuhan dan alam raya, bahwa Tuhan dan alam…
Filsafat

Berkenalan dengan Teologi Pembebasan Farid Esack

4 Mins read
Teologi Pembebasan Farid Esack | Farid Esack melalui teori hermeneutika Al-Qur’an, mencoba untuk mengubah klaim kebenaran eksklusif agama dengan gagasan plularis dan…
Filsafat

Cahaya dalam Perspektif al-Ghazali, Seperti Apa?

4 Mins read
Cahaya merupakan istilah dan realitas yang sangat dekat dengan para sufi. Salah satu sufi yang berbicara tentang cahaya secara intens adalah al-Ghazali….

Tinggalkan Balasan