Pencegahan Covid-19 Islami ala Tariq Ramadan

 Pencegahan Covid-19 Islami ala Tariq Ramadan

Ketika kemarin merebak pendapat berwatak jabariyah, yang menuduh fatwa salat di rumah sebagai tanda lemahnya iman, saya santai saja. Mereka orang-orang yang beragama dengan level kecerewetan cukup tinggi, yang esok-lusa mungkin akan belajar bungkam bila korban sudah mencapai ribuan orang. Sekarang saja mereka masih menyepelekan.

Tapi pendapat mereka menarik dibahas. Menariknya begini: sekilas, tampak ada heroisme yang tidak ingin memisahkan agama dan dunia. Takut salat di masjid karena sakit dan maut yang telah ditentukan Allah adalah kesalahan. Tapi, ujung dari pendapat ini adalah pemisahan agama dan dunia. Sebab, mereka menolak fatwa sains tentang penularan virus.

Pertanyaannya: apakah dalam Islam sains tidak diakui? Tidak bisakah Islam dan sains saling menerangkan satu sama lain? Sudah banyak intelektual yang menjawab relasi Islam dan sains, tapi kali ini saya ingin memperkenalkan Tariq Ramadan kepada pembaca.

Tariq Ramadan dan Ide Moderasi

Tariq adalah cendekiawan besar Islam saat ini. Ia aktif mengkampanyekan wajah moderat Islam namun dengan pemikiran yang cukup radikal. Tariq memadukan antara Islam dan kultur Eropa dengan sangat baik, yang justru membuatnya dikritik oleh kebanyakan umat Islam sekaligus membuat cemas politisi Eropa. Ia kerap difitnah karena gagasannya. Tapi gagasannya apik.

Tariq secara serius menyarankan “moderasi setara” antara ulama teks (‘ulamā al-nuṣūs) dan ulama konteks (‘ulamā al-wāqi’). Maksud dari moderasi ini adalah: tidak adanya pembedaan antara apa yang kita anggap sebagai ilmu agama berpendekatan tekstual (usul fikih, tafsir, dll) dan ilmu non agama berpendekatan empiris (sains, sosial, psikologi).

Mendudukkan secara setara antara ahli agama dengan ahli ilmu duniawi adalah usul yang tidak gampang diterima. Sebab, Tariq ingin para ahli dalam bidang seperti sosiologi, antropologi, biologi, medis, atau psikologi dianggap sebagai ulama dan dianggap setara hujjah-hujjahnya. Usul moderasi Tariq punya empat landasan.

Pertama, adanya pembedaan antara yang ṡawābit (tetap, tak berubah, absolut, sakral) dan yang mutagayyirāt (yang berubah, temporal, profan, historis). Ṡawābitberkenaan dengan akidah dan ibadah (yang patuh pada teks suci), sedangkan mutagayyirāt berkenaan dengan muamalat, yang butuh kepatuhan plus, yakni pada teks dan perkembangan ilmu-ilmu empiris.

Artinya, di wilayah mutagayyirāt, umat tidak bisa hanya mengandalkan petunjuk teks-teks suci dan otoritas tekstual saja. Umat membutuhkan petunjuk ilmu pengetahuan dan otoritas ilmu terkait. Petunjuk teknis pencegahan Covid-19 tidak terdapat dalam teks suci. Umat harus mendengarkan otoritas dunia medis untuk mengatasi hal itu.

Kedua, bila kita meyakini syariat memiliki tujuan-tujuan agung (maqāṣid), maka konteks atau al-wāqi’ tidak boleh dilepaskan ketika memahami teks. Teks suci adalah sumber etika, dan penerapannya membutuhkan pertimbangan kontekstual. Caranya adalah dengan merujuk pada perkembangan isu tertentu dalam bidang studi tertentu, yang dikupas oleh ahlinya. Seperti petunjuk pencegahan Covid-19 ahlinya adalah para tenaga medis.

Petunjuk kontekstual itu didapatkan dari pergulatan terhadap realitas, bukan teks. Karena itulah Tariq menolak acara “dengar pendapat”, yakni ketika ahli teks mengundang ahli konteks untuk presentasi suatu masalah, lalu keputusan akhir ada di tangan ahli teks. Tariq ingin agar keduanya memecahkan masalah sebagai mitra setara, demi kebaikan umat.

Ketiga, Islam mengenal bukan hanya adaptasi, melaikan juga transformasi. Tariq melihat gejala umum: dalam hal berhadapan dengan situasi baru, kalau bukan terkungkung dalam tekstualisme, paling jauh ulama hanya berpegang pada maṣlaḥah sebagai argumen. Menurutnya, itu bentuk sikap tidak percaya diri; ulama tidak menguasai ilmu pengetahuan.

Tariq tidak menginginkan adaptasi (contohnya: rukhṣah dan maṣlaḥah), sebab adaptasi membuat Islam tidak cerkas berhadapan dengan situasi baru. Tariq menginginkan transformasi: lebih rekonstruktif, lebih berani menjawab tantangan zaman. Dengan begitu, Islam tidak terkesan marjinal hanya karena sibuk melindungi sederet nilai―alih-alih menerapkannya.

Keempat, perluasan makna ulama hingga mencakup para ahli dalam bidang-bidang al-wāqi’ (dalam hal ini ilmuan sains-eksakta dan humaniora) dikarenakan oleh terbaginya wahyu menjadi dua, yakni “wahyu tertulis” (written revelation) dan “wahyu terbentang” (unfurled revelation). Karena Qur’an kecil dan Qur’an besar itu sesungguhnya sama, buat apa dibedakan?

Wahyu tertulis melahirkan ilmu-ilmu dan ulama-ulama teks. Wahyu terbentang melahirkan ilmu-ilmu dan ulama-ulama konteks. Keduanya sesungguhnya berasal dari ibu yang sama. Ṭanṭāwī Jawharī menyatakan bahwa ilmu agama Islam terdiri dari dua jenis ilmu, yakni (1) ilmu saintifik-eksakta (‘ulūm al-āfāq) dan ilmu humaniora (‘ulūm al-anfus), dan (2) ilmu syari’ah.

Pencegahan Covid-19 Islami

Dengan demikian, Tariq tidak menginginkan adanya ilmu yang dituduh tidak ukhrowi atau tidak Islami hanya karena dikembangkan oleh bukan Islam. Apakah ada ilmu bedah Islami? Ilmu bedah dikembangkan dari pengalaman mempelajari tubuh manusia. Apakah ada tubuh manusia yang tidak Islami? Tidak ada. Maka ilmu bedah Islami dan tidak Islami pun tak ada.

Islami atau tidaknya sebuah ilmu ditentukan dari nilai yang dituju prakteknya. Maka pertanyaan bagaimana pencegahan Covid-19 secara Islami terjawab, yakni, mencegah seperti dianjurkan pakar medis. Tenaga ahli yang menguasai pencegahan Covid-19 adalah tenaga medis. Sebab, anjuran itu mewujudkan kemaslahatan. Jangan takut dituduh tidak Islami karena kampanye salat di rumah. Saat ini, salat di rumah adalah cara menciptakan kemaslahatan.

Tentu saja pemikiran Tariq Ramadan tidak lepas dari kritik. Salah satu masalah yang dihadapi gagasan moderasi setara ini adalah “politik pengetahuan”. Di dunia Islam terdapat banyak otoritas yang kadangkala saling bertentangan. Pun di dunia akademik Barat. Ilmuan teks dan non-teks berkolaborasi secara setara―ilmuan yang mana? Ilmuan yang memihak siapa?

Tapi, terlepas dari itu, saya yakin Islam sesungguhnya fleksibel dalam aksi namun ketat dalam refleksi. Islam diterapkan secara sederhana, dengan penerapan yang mengikuti perkembangan zaman, tapi pergulatan di level nilai dan tafsir atas kebenaran harus bertenaga. Bila tidak demikian, umat Islam akan rapuh. Kuat badannya, tapi ombang-ambing kepribadiannya. []


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

Aprizal Sulthon Rosyid

Direktur Eksekutif the Reading Group for Social Transformation (RGST)

Related post

8 Comments

    Avatar
  • I have been surfing online greater than 3 hours as of late, yet I never found any interesting article like yours.
    It is pretty worth enough for me. Personally, if all site owners and bloggers
    made excellent content material as you did, the net can be a lot more useful than ever before.

  • Avatar
  • I really love your website.. Great colors & theme. Did you create this
    web site yourself? Please reply back as I’m hoping to create my
    own personal site and would like to find out where you got this from or
    just what the theme is named. Kudos!

  • Avatar
  • I think this is among the most significant information for me.
    And i’m glad reading your article. But wanna remark on some general things,
    The site style is wonderful, the articles is really excellent
    : D. Good job, cheers

  • Avatar
  • Wonderful beat ! I wish to apprentice while
    you amend your web site, how can i subscribe for a blog web site?
    The account helped me a acceptable deal. I had been tiny bit acquainted of this your broadcast provided bright clear idea

  • Avatar
  • Hmm it looks like your blog ate my first comment (it was super
    long) so I guess I’ll just sum it up what I wrote and say, I’m thoroughly enjoying your
    blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still
    new to the whole thing. Do you have any points for inexperienced blog writers?

    I’d definitely appreciate it.

  • Avatar
  • I simply want to tell you that I am just beginner to blogging and really liked you’re web-site. Likely I’m going to bookmark your blog post . You certainly have superb articles. Cheers for revealing your blog.

  • Avatar
  • A remarkable share, I simply offered this onto a coworker that was doing a little analysis on this. And also he as a matter of fact bought me breakfast since I located it for him. smile. So let me rephrase that: Thnx for the reward! But yeah Thnkx for investing the time to discuss this, I feel strongly regarding it and love learning more on this subject. Preferably, as you come to be experience, would certainly you mind updating your blog site with more information? It is very helpful for me. Huge thumb up for this post!

  • Avatar
  • I was suggested this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my trouble. You are wonderful! Thanks!Nice blog here! Also your web site loads up fast! What web host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my website loaded up as quickly as yours lol

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.