PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

Setelah Sultan Osman Bey, terdapat sultan Dinasti Ottoman yang lain bernama Sultan Orhan. Sultan Orhan dikenal dengan kapasitas militernya yang hebat. Beliau juga memiliki kebijakan-kebijakan yang menekankan sikap toleransi pada masyarakat Ortodoks. Epidemi besar Black Death juga terjadi pada masa kekuasaan Sultan Orhan.

Sultan Orhan I (1323/4-1362)

Sultan Orhan I lahir di Söğüt, 1281. Ayahnya adalah Sultan Osman Bey, ibunya bernama Malhun Hatun, binti Syaikh Edebali. Pada tahun 1299, Orhan menikahi Nilufer, anak perempuan penguasa Bizantium Yarhisar (benteng tak dikenal di wilayah Sungai Sakarya di barat laut Asia Kecil, Turki). Putra mereka, Suleyman Pasha, penakluk Balkan, digadang gadang menjadi Sultan Utsmani berikutnya.

Ibnu Battutah mengklaim telah bertemu dengan Sultan Orhan, “Raja terbesar dari raja-raja Turkmen dan yang terkaya dalam kekayaan, tanah, dan pasukan militer.” Sultan Orhan ‘bertarung dengan orang-orang kafir’ dan terus mengunjungi di antara lebih dari seratus kastilnya, memeriksa bahwa mereka dalam keadaan baik, tidak pernah tinggal lebih dari sebulan di satu tempat (Howard, 2017: 34).

Penulis Bizantium seperti Nikephoros Gregoras dan Kaisar Bizantium John Kantakouzenos, keduanya sezaman dengan Sultan Orhan. Mereka berdua memberikan informasi yang jelas tentang pemerintahannya. Catatan mereka sangat berharga karena sebagian besar kisah dari sumber-sumber Turki ditulis lebih dari satu abad setelah kematiannya dan bersifat legendaris (Agoston, 2009: 442).

Orhan meninggal dalam keadaan mengasingkan diri 4 tahun setelah kematian mendadak putranya. Suleymen Pasha terjatuh dari kuda setelah pengepungan Halil pada 1358/7, dia tercatat sebagai salah satu sultan dengan umur terpanjang (Shaw, 1976: 17).

Anak-anak Sultan Orhan

Selain putra sulungnya Sulayman, Orhan juga memiliki beberapa putra seperti Ibrahim (1316 – 1362) putra dari Asporça, Gubernur Eskişehir. Ia dihukum mati oleh saudara tirinya, Murad. Kemudian juga Sultan (1324–1362), Murad (1326 – 15 Juni 1389) – putra dari Nilüfer, menjadi penguasa Dinasti Ottoman ketiga sepeninggal Sultan Orhan.

Baca Juga  Muhammad Abduh (8): Sang Mujaddid dan Karya-karya Monumentalnya

Terdapat anaknya yang lain, Kasım (meninggal 1346), putra dari Nilüfer. Halil (1347–1362), putra dari Theodora Kantakouzene. Saat masih kecil, Halil ditangkap oleh bajak laut Genova dan diselamatkan oleh Ioannes V Palaiologos, Kaisar Romawi Timur. Halil kemudian menikah dengan sepupunya, Irene Palaiologina, anak dari Kaisar Ioannes V dengan Permaisuri Helena Kantakouzene. Halil dihukum mati oleh Murad lantaran hendak merebut takhta. Halil memiliki dua putra, Gündüz dan Ömer.

Kejayaan, Toleransi dan Wabah Black Death

Sultan Orhan I menggantikan ayahnya yang wafat, Sultan Osman Ghazi. Sultan Orhan merebut kota-kota penting di daerah yang sekarang disebut sebagai Turki barat laut. Pada Dinasti Ottoman selama pemerintahan Orhan, bagian barat laut Asia Kecil dikonsolidasikan ke dalam basis kekuasaan Dinasti Ottoman. Ketika kekuasaannya semakin kuat dan luas, semakin banyak suku-suku Turki bergerak ke barat untuk bergabung dengan Dinasti Ottoman.

Seperti pendahulu mereka Kesultanan Seljuk, Dinasti Ottoman pada era awal mempekerjakan banyak pejabat Bizantium. Secara administrasi, Dinasti Ottoman umumnya mengikuti tradisi administrasi Islam timur. Pada zaman Sultan Orhan I, banyak orang Persia datang untuk menjadi staf administrasi. Catatan dan arsip sering disimpan dalam bahasa Farsi daripada Turki, meskipun tetap menjadi bahasa lisan. Dinasti Ottoman juga mulai membangun madrasah, mengundang para teolog dan cendekiawan untuk pindah sehingga Bursa akan menjadi pusat peradaban baru.   

Sultan Orhan I juga mencetak koin perak pertamanya di Bursa pada 1327. Ia mendirikan sebuah madrasah di Iznik pada 1331. Dan pada tahun 1340 ia menciptakan pusat perdagangan di Bursa, dengan pembangunan pasar dan bedestan, sebuah pasar tertutup untuk penjualan barang-barang berharga. Ibnu Battuta mengunjungi Bursa di sekitar tahun 1333 dan menggambarkannya sebagai sebuah kota besar dengan pasar-pasar tersusun dan jalan-jalan lebar (Inalcik: 22).

Baca Juga  Hijrah Nabi Ibrahim: Dari Politeisme Menuju Monoteisme

Perlakuan Terhadap Masyarakat Ortodoks

Namun, sikap dan kebijakan Dinasti Ottoman terhadap pemerintahan berbeda dari Bani Seljuk dalam hal-hal tertentu, termasuk perlakuan terhadap masyarakat Ortodoks. Bani Seljuk mengalami kesulitan mengendalikan resimen kesukuan mereka, yang sering menjarah biara-biara lokal. Di bawah sultan Dinasti Ottoman di awal, lembaga-lembaga Kristen tetap terjaga. Orang-orang Kristen masih diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, tetapi mereka dilindungi oleh al-Quran.

Kebijakan kekristenan yang terkendali ini sangat penting bagi ekspansi Dinasti Ottoman pada abad ke-14 dan ke-15. Akhirnya, hampir semua populasi penduduk Ortodoks di Eropa Tenggara dan Asia kecil akan berada di bawah kekuasaan Dinasti Ottoman. Banyak orang Kristen Ortodoks lebih suka di bawah pemerintahan dengan sikap toleransi sultan-sultan Dinasti Ottoman daripada di bawah pemerintahan kacau dari Kaisar Bizantium. Lebih buruk lagi, raja-raja Katolik Eropa Barat selalu menindas kaum Ortodoks, tidak menunjukkan sikap toleransi.

Kekuatan Militer Dinasti Ottoman

Tentara Dinasti Ottoman mendapatkan reputasi sebagai prajurit paling ditakuti di Asia Kecil. Pada 1341, kaisar Bizantium Andronikos III meninggal, hingga membuat dua faksi internal dalam kekaisaran yang memicu perang saudara. Selama perang tersebut, kedua belah pihak menyewa tentara bayaran Turki, banyak dari tentara itu adalah pasukan Sultan Orhan.

Ketika tentara bayaran Turki akhirnya habis, mereka merebut semenanjung Gallipoli yang strategis. Kemudian mereka membentengi semenanjung itu pada 1354, memberi mereka kendali atas Dardanella dan mengundang sultan Orhan untuk mengambil alih. Ini adalah pijakan yang diperlukan Dinasti Ottoman untuk berkembang ke Eropa untuk pertama kalinya. Ottoman segera menyapu Balkan, yang telah jatuh ke dalam kekacauan setelah kematian penguasa Serbia Stefan Dušan dan pecahnya Black Death. Ketika Sultan Orhan meninggal, upaya perluasannya dilanjutkan oleh putranya dan penggantinya Murad I (Harl, 2017: 27-29).

Baca Juga  Tiga Ciri Khas Masyarakat Kampung Kauman

Black Death mencapai Konstantinopel pada 1348 & 1361, epidemi tersebut juga menyerang Mosul dan Baghdad pada 1348. Ibnu Battutah kehilangan ibunya karena wabah ini. Dia menyaksikan doa, puasa, dan prosesi keagamaan yang dilakukan sebagai ikhtiar terhadap Black Death di Damaskus pada musim panas 1348. “Seluruh penduduk kota bergabung,” tulisnya. Orang-orang Yahudi pergi dengan Taurat mereka dan orang-orang Kristen dengan Injil mereka, bersama para wanita dan anak-anak; seluruh pertemuan mereka dengan berlinangan air mata dan permohonan dan doa yang rendah hati, memohon bantuan Allah melalui Kitab-Kitab-Nya dan para Nabi-Nya (Howard, 2017: 41).

***

Sultan Orhan wafat pada 1362, meninggalkan warisan negara yang tangguh dengan wilayah signifikan di Anatolia dan Eropa. Struktur Dinasti Ottoman di bawah Orhan tetap menjadi area perdebatan sengit di antara para sarjana. Sumber-sumber kontemporer Bizantium hanya menekankan sifat religiusitas dari Dinasti Ottoman dan kekerasan serangannya. Namun penaklukan Sultan Orhan dan konsolidasi kepemilikannya mulai membawa efek budaya baru yang luar biasa.

Uskup Agung Selonika, Gregory Palamas, dalam surat suratnya (1354) menunjukkan penyesalannya terhadap perkawinan campuran orang-orang Kristen Bizantium di Anatolia menyebabkan kehilangan putri mereka terlebih dahulu, kemudian kepercayaan mereka, dan terakhir bahasa mereka. Palamas bersedih hati atas jumlah masuk Islamnya rakyat Bizantium dan menggambarkan sebuah masyarakat yang sudah menghasilkan anggota dwibahasa yang terbiasa dengan kebiasaan para penakluk, meskipun kemudian hal ini terbantahkan dengan kebijakan Sultan Orhan yang memberkan mata pelajaran Kristen Bizantium di madrasah-madrasah Utsmani sebagai wujud sikap toleransi agama (Agoston, 2009: 443).

Share Artikel

contributor

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ushuluddin yang mencintai Hadits, Sejarah dan Filsafat. Dapat disapa melalui akun Instagram @lhu_pin

Tinggalkan Balasan