back to top
Selasa, Juli 14, 2026

Gus Bach: Islam Berkemajuan Harus Sampai ke Jamaah Akar Rumput Muhammadiyah

Lihat Lainnya

Admin
Adminhttp://pemred.ibtimes.id
IBTimes.ID - Rujukan Muslim Modern. Media Islam yang membawa risalah pencerahan untuk masyarakat modern.

IBTimes.ID – Ahad pagi, 12 Juli 2026, suasana pengajian Al Manar di kompleks Universitas Muhammadiyah Ponorogo terasa berbeda. Udara pagi yang sejuk menyelimuti area kampus, menambah semangat dan khidmat para jamaah yang mulai memadati tempat duduk sejak matahari mulai menanjak. Jamaah yang hadir bukan hanya wajah lama pengurus ranting atau aktivis organisasi. Banyak di antara mereka adalah warga biasa, pengikut atau jamaah Muhammadiyah di lapisan paling bawah, yang selama ini lebih sering menjadi objek dakwah ketimbang subjek yang memahami utuh ideologi gerakannya.

Di hadapan jamaah yang tampak antusias di tengah hangatnya sinar matahari pagi itulah Bachtiar Dwi Kurniawan, yang akrab disapa Gus Bach, menyampaikan gagasan penting. Ia menegaskan bahwa penanaman paham Islam Berkemajuan selama ini terlalu terpusat pada kader, aktivis, dan pimpinan persyarikatan maupun pimpinan amal usaha. Padahal jamaah akar rumput adalah fondasi sesungguhnya dari gerakan ini.

“Penanam ideologi islam berkemajuan kepada jamaah akar rumput Muhammadiyah, yang menjadi basis pengikut Muhammadiyah di lapisan paling bawah juga perlu dilakukan. Sehingga gelombang bergerak di dalam dakwah di Muhammadiyah bisa sinergis dan integratif antara pimpinan organisasi dan basis pengikutnya,” ucap Gus Bach.

Pernyataan Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah tersebut menyentuh persoalan mendasar dalam tubuh organisasi besar mana pun. Ideologi yang hanya hidup di ruang rapat pimpinan, tanpa terinternalisasi hingga ke pengikut paling bawah, cepat atau lambat akan kehilangan daya geraknya. Muhammadiyah dengan jutaan pengikutnya menghadapi tantangan serupa, dan pengajian Al Manar pagi itu menjadi salah satu ikhtiar untuk menjawabnya.

Pilar pertama yang diurai Gus Bach adalah dakwah pencerahan. Islam Berkemajuan dimaknai sebagai aktualisasi dakwah yang membawa umat keluar dari kegelapan menuju kondisi yang terang dan tercerahkan. Bukan sekadar slogan, gagasan ini menuntut proses nyata pembebasan akal dan budi dari kejumudan berpikir.

Pencerahan dalam kerangka ini juga berarti pembebasan akidah dari kesyirikan menuju tauhid yang lurus dan kokoh. Bagi jamaah akar rumput, pesan semacam ini punya arti praktis. Mereka hidup di tengah masyarakat yang masih bergumul dengan tradisi campur aduk antara ajaran agama dan kepercayaan lama.

Ketika pencerahan hanya dipahami sebagai wacana kader di forum musyawarah wilayah, dampaknya tidak akan terasa di majelis taklim kampung. Justru di titik itulah pengajian seperti Al Manar berperan penting, menjadi jembatan yang menurunkan bahasa ideologi menjadi bahasa yang bisa dicerna jamaah sehari hari.

Baca Juga:  Kiat Membangun Sikap Optimis ala Muslim Milenial

Pilar kedua adalah keberpihakan pada kaum lemah, miskin, dan mustadhafin melalui teologi Al Ma’un. Gus Bach menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat dalam kerangka ini tidak boleh berhenti pada kata dan wacana, melainkan harus diwujudkan lewat aksi nyata.

Klaim ini bukan tanpa bukti di lapangan. Data terbaru dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah mencatat organisasi ini telah mengelola sekitar seratus dua puluh dua rumah sakit, lebih dari lima ribu tiga ratus sekolah dan madrasah, ratusan klinik kesehatan, serta ribuan amal usaha sosial yang tersebar dari kota hingga pelosok desa. Semua amal usaha itu adalah wajah konkret dari teologi Al Ma’un yang selama ini digaungkan.

Namun besarnya jaringan amal usaha tidak otomatis berarti jamaah akar rumput merasakan keterhubungan ideologis dengan capaian tersebut. Banyak warga Muhammadiyah di kampung hanya tahu ada sekolah atau rumah sakit berlabel Muhammadiyah tanpa memahami bahwa itu adalah buah dari teologi pembebasan yang mereka anut sendiri. Di sinilah letak pekerjaan rumah penguatan ideologi yang disinggung Gus Bach.

Kemiskinan struktural yang masih membelit sebagian masyarakat Indonesia menuntut Muhammadiyah untuk terus mendekatkan jarak antara amal usaha besar dan jamaah kecil di ranting. Ketika jamaah memahami bahwa dirinya bagian dari gerakan pembebasan, bukan sekadar penerima manfaat pasif, energi gerakan akan tumbuh dari bawah, bukan hanya turun dari atas.

Kajian ilmiah tentang sejarah Muhammadiyah mencatat bahwa keberpihakan pada kaum lemah bukan gagasan baru. Jauh sebelum istilah Islam Berkemajuan populer, KH Ahmad Dahlan telah mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem, yang menjadi cikal bakal gerakan sosial Muhammadiyah untuk memberdayakan rakyat pribumi yang termarginalkan pada masa kolonial. Lembaga inilah yang kemudian merawat anak yatim dan kaum dhuafa di Yogyakarta jauh sebelum negara hadir mengurus kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Cendekiawan Moeslim Abdurrahman kemudian menafsir ulang teologi Al Ma’un menjadi konsep Islam Transformatif, yaitu paradigma keislaman yang berpihak nyata pada kaum lemah, bukan sekadar wacana normatif di atas mimbar. Gagasan ini yang kemudian diteruskan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah untuk menghadapi wajah kemiskinan baru di abad ke dua puluh satu, yang tidak lagi sesederhana kemiskinan di masa kolonial. Rangkaian sejarah ini menegaskan bahwa Al Ma’un bagi Muhammadiyah bukan slogan, melainkan garis perjuangan yang diwariskan turun temurun.

Selain amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan, praktik teologi Al Ma’un juga terlihat jelas dalam gerakan filantropi Muhammadiyah lewat Lazismu. Lembaga amil zakat ini menargetkan penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah nasional sebesar lebih dari 600 miliar rupiah pada tahun 2025, dengan kenaikan target sekitar dua puluh persen setiap tahunnya. Dana tersebut disalurkan untuk program pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan penanggulangan kemiskinan hingga ke tingkat ranting.

Baca Juga:  Pilpres 2019, Umat Islam sebagai Penentu?

Di sisi kebencanaan, Muhammadiyah Disaster Management Center berdiri sejak tahun dua ribu sepuluh sebagai unsur pembantu pimpinan yang bergerak khusus menangani tanggap darurat, mitigasi, dan pemulihan pascabencana di seluruh Indonesia. Lembaga ini konsisten hadir di lokasi bencana, mulai dari banjir dan longsor di berbagai daerah hingga gempa bumi, dengan mengerahkan relawan dan jaringan logistik sampai ke pelosok yang sulit dijangkau. Kehadiran cepat MDMC di titik bencana menjadi bukti bahwa teologi Al Ma’un tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir secara fisik saat masyarakat membutuhkan pertolongan.

Keberpihakan pada kaum tertindas juga merambah misi kemanusiaan lintas negara. Sejak tahun dua ribu delapan belas, Muhammadiyah telah mengalokasikan dana lebih dari empat puluh miliar rupiah untuk program kemanusiaan di Palestina, mulai dari kebutuhan pangan, medis, hingga fasilitas darurat bagi pengungsi.

Muhammadiyah Aid, yang menggabungkan kerja Lazismu dan MDMC, juga tercatat terlibat dalam misi kemanusiaan di Rohingya Myanmar, Filipina bagian selatan, Maroko, dan sejumlah wilayah konflik maupun bencana lain di dunia. Semua kiprah ini menegaskan bahwa keberpihakan pada mustadhafin dalam Islam Berkemajuan tidak mengenal batas wilayah maupun kebangsaan.

Namun capaian besar di level nasional dan internasional ini kembali pada persoalan yang diangkat Gus Bach. Jamaah akar rumput perlu memahami bahwa dirinya adalah bagian dari rantai panjang gerakan tersebut, bukan sekadar penonton yang membaca berita bantuan kemanusiaan di media sosial. Ketika seorang warga kampung ikut berinfak lewat kotak amal ranting, ia sesungguhnya sedang menyambung mata rantai yang sama dengan bantuan kemanusiaan yang sampai ke Gaza maupun ke lokasi bencana di dalam negeri.

Pilar ketiga yang ditekankan adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi Gus Bach, Islam yang maju adalah Islam yang berlandas pada ilmu pengetahuan, sehingga mampu memimpin peradaban, bukan sekadar mengikuti arus zaman.

Tuntutan ini semakin relevan di era digital, ketika dakwah tidak lagi cukup dilakukan lewat mimbar dan majelis taklim konvensional. Jamaah akar rumput, terutama generasi muda di lingkungan Muhammadiyah, kini lebih banyak menyerap informasi keagamaan lewat media sosial dan platform digital ketimbang pengajian tatap muka.

Baca Juga:  Kampanye hingga Praktik Toleransi di UIN Raden Mas Said Surakarta

“Islam berkemajuan Muhammadiyah selain membawa pencerahan, dan melakukan pemberdayaan, juga mengupayakan adanya kemajuan masyarakat, islam yang maju adalah Islam yang berlandas pada ilmu pengetahuan, islam harus unggul dalam penguasaan IPTEK, dengannya Islam bisa menjadi pemimpin peradaban yang unggul dan maju,” kata Gus Bach.

Jika penguasaan iptek hanya dimiliki kalangan kampus dan pimpinan pusat, kesenjangan literasi digital antara elite organisasi dan jamaah bawah akan melebar. Padahal justru jamaah akar rumput yang paling rentan terpapar informasi keagamaan yang keliru atau paham yang bertentangan dengan semangat Islam Berkemajuan. Penguatan literasi digital di level ranting menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap program.

Tiga pilar tersebut, pencerahan, teologi Al Ma’un, dan penguasaan IPTEK, hanya akan bermakna jika bergerak sebagai satu kesatuan yang menyambungkan pimpinan organisasi dengan jamaah paling bawah. Gus Bach menyebut pentingnya sinergi dan integrasi antara pimpinan dan basis pengikut agar dakwah Muhammadiyah bergerak sebagai gelombang, bukan gerakan elitis yang berhenti di level pengurus.

Sejarah organisasi keagamaan manapun menunjukkan pola serupa. Gerakan yang bertahan lama bukan yang paling kuat struktur pusatnya, melainkan yang paling erat ikatan ideologisnya dengan pengikut di lapangan. Muhammadiyah dengan struktur berjenjang dari pimpinan wilayah hingga ranting memiliki potensi besar untuk itu, asal saluran penguatan ideologi benar benar sampai ke titik paling ujung.

Pengajian Ahad pagi seperti di Al Manar bisa menjadi model kecil dari upaya besar ini. Ketika seorang tokoh datang menyapa langsung jamaah Muhammadiyah di kampung, bukan hanya menyampaikan ceramah umum, tetapi mengulas fondasi ideologis organisasi, jarak psikologis antara pusat dan akar rumput perlahan menyempit.

Penguatan ideologi Islam Berkemajuan bagi jamaah akar rumput bukan proyek jangka pendek yang selesai dalam satu kali pengajian. Ia adalah pekerjaan berkelanjutan yang menuntut konsistensi dari seluruh jenjang kepemimpinan Muhammadiyah, dari pimpinan pusat hingga pengurus ranting di kampung terpencil.

Masa depan dakwah Muhammadiyah pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana jamaah akar rumput merasa memiliki dan memahami ideologi yang mereka anut, bukan sekadar mengikutinya secara turun temurun. Ketika pencerahan akal, keberpihakan pada yang lemah, dan penguasaan ilmu pengetahuan benar benar hidup di tingkat jamaah bawah, barulah Islam Berkemajuan menjadi ruh yang sesungguhnya, bukan sekadar jargon yang bergema di podium pimpinan.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru