Harusnya Saya Tidur 15 Jam Sehari: In Memoriam Agus “Lenon” Edy Santoso

 Harusnya Saya Tidur 15 Jam Sehari: In Memoriam Agus “Lenon” Edy Santoso
Ilustrasi: IBTimes.ID            

Oleh: Rizaludin Kurniawan *

Agus “Lenon” Edy Santoso: in Memorian

“Mas, tahu apa yang dikatakan KH. Ahmad Dahlan saat sakit dan dilarang Istrinya berdakwah”? Iya Mas, “dimisalkan setan yang melarang kebaikan”  jawab saya.  Iya, jadi mas tidak usah larang-larang saya ikut kegiatan Lazis Muhammadiyah, saya justru merasa sehat dan senang kalau ikut-ikut acara Muhammadiyah itu, lanjut dia bicara sambil diselingi batuk berkali-kali.

Sejak obrolan itu, saya tidak pernah lagi melarang atau menahan dia untuk berhenti dari kegiatan Lazismu. Selain saya yakin istrinya atau teman-teman lain pasti sudah mengingatkan hal yang sama  sebelumnya. Yang bisa saya lakukan atau teman-teman lain di Lazismu, yaitu mengingatkan jangan lupa obatnya dibawa atau mengajak makan kalau dia kelihatan belum makan.

Itulah dia Agus Edy Santoso alias Agus Lenon sahabat saya di Lazismu. Semangat juangnya luar biasa.  Padahal sejak setahun ini, sakit jantungnya tak kunjung sehat sempurna. Bahkan, kata dia,  sebenarnya dokter menyarankannya untuk tidur 15 jam sehari.

Tahun 2019, dia menjabat Direktur HRD di Lazismu. Dan awal tahun ini, kembali jadi wakil ketua Badan Pengurus Lazismu. Sedangkan saya menjabat bagian fundraising. Ber-Muhamadiyah bagi dia Itu membahagiakan, banyak nostalgia masa lalu yang dia ceritakan kenapa aktivis di Muhammadiyah.

Selain mengidolakan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, KH AR. Fachruddin (1968-1990), alasan lain karena ajakan kawan kuliah dulu dan kawan “wakuncar” waktu kunjung pacar naik sepeda ontel di jogja dulu yaitu Mas Hajriyanto Thohari, mantan ketua PP Muhammadiyah yang sekarang menjabat  Dubes RI untuk Lebanon.

“Hebatnya, Muhammadiyah ini  organisasi pergerakan. Jadi selalu bergerak bikin pembaruan, maka benar lagu Mars Muhammadiyah Sang Surya menyebutkan “Muhammadiyah Gerakanku” bukan “Muhammadiyah organisasiku”,  kata dia semangat sambil menyanyikan potongan bait Mars Sang Surya ciptaan Djarnawi Hadikoesoemo ini.

“…Ya Allah Tuhan Rabbiku

Muhammad Junjunganku

Al Islam Agamaku

Muhammadiyah Gerakanku”

Berkali-kali dia menyebutkan hebatnya syair Mars Muhammadiyah ini. Dengan filosofis, dia jelaskan maknanya Muhammadiyah sebagai “gerakan” dan makna Muhammadiyah sebagai “organisasi”. Lagi-lagi, batuk jadi selingannya. Tapi tidak mengurangi semangat penjelasan dia yang berapi-api dan senyum lebarnya.

Aktivisme Agus “Lenon”

Dia tidak segan mengkritik kita, atau mitra-mitra Lazismu, bahkan cenderung provokatif. Setiap ada kejadian bencana apa saja selalu dia bertanya, kenapa Mas tidak melakukan fundraising, itu sudah ada jatuh korban? Lalu saya jawab, apa setiap bencana harus semua direspon melakukan fundraising, Mas? Dia dengan tegas jawab “iya kalau bisa” atau minimal kita harus bergerak cepat bantu, kata dia.

“Gerakan Cepat Bantu”, berpihak pada kaum marginal, orang-orang miskin, dan difable jadi perhatian lebih almarhum. Maka, saat setelah selesai pemakaman, tidak heran saya lihat sekitar delapan orang kaum difabel melayat ke rumah duka almarhum berbaur dengan ratusan tokoh-tokoh pergerakan, aktifis Muhammadiyah, dan  aktivis-aktivis lima zaman lainnya.

“Aktivis itu semangat juang, panggilan jiwa, bukan pekerjaan!”, kata Hariman Siregar mengantarkan pesan terahir di atas tanah kuburan milik almarhum sendiri, samping sungai Ciliwung yang seakan dia persiapkan untuk peristirahatan terahirnya.

Tanah Ciliwung  ini juga sebagai pertanda bahwa dia dulu pernah berjuang sejak puluhan tahun lalu, menuntut kesejahteraan, dan keadilan para warga di bantaran sungai Ciliwung yang sampai saat ini belum tuntas.

Mungkin berharap perbaikan nasib ini, akan datang pada kawan lamanya Gubernur Anies Baswedan yang juga berkenan hadir mengantarkan kepergian almarhum di RS Harapan Kita.

“Semua saksi kalau Agus Edy Santoso itu orang baik, dan semoga keluarga yang ditinggalkan bisa menerimanya dengan tabah”, ujar Gubernur DKI Jakarta ini disaksikan wajah sedih istri almarhum. Juga para aktivis lainnya di Ruang keberangkatan jenajah RS Harapan kita Jumat 10/1/20 pukul 23.04.

Ditemani rintik hujan dan puluhan pelayat lainnya, kami antarkan kepergian almarhum, semua dari kami bersaksi atas perjuangan dan kebaikan almarhum dan semoga khusnul khatimah. Aamiin

*Sahabat Pergerakan di Lazismu

.

Editor: Yahya Fathur R

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Admin

Admin

http://pemred.ibtimes.id

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam

Related post

2 Comments

    Avatar
  • I simply want to mention I am new to weblog and definitely savored you’re page. Probably I’m going to bookmark your site . You absolutely have good posts. Thanks a bunch for revealing your web page.

  • Avatar
  • There are some interesting moments in this post however I don?t know if I see all of them center to heart. There is some credibility however I will hold opinion until I check into it further. Excellent short article, thanks and we want a lot more! Included in FeedBurner too

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.