Jamaluddin Al-Afghani (11): Respon Gerakan Al-Mahdi di Sudan

 Jamaluddin Al-Afghani (11): Respon Gerakan Al-Mahdi di Sudan
Djarnawi Hadikusuma, penulis artikel ini. Poto: IBTimes.Id/Istimewa            

Oleh: Djarnawi Hadikusuma

Agama Islam memasuki Sudan pada abad ke-11, kemudian menjadi merata dan kuat pada abad ke-16, hingga muncul gerakan Al-Mahdi pada abad 19. Dinasti Mamluk yang memerintah di sana sampai tahun 1811. Ketika Muhammad Ali menghancurkan mereka dan sesudah itu Sultan langsung takluk kepada Mesir, sejak itulah perkembangan dan kedudukan Islam semakin kuat dan maju.

Pada pertengahan abad ke-19, lahirlah di Sudan seorang anak bernama Muhammad. Ayahnya bernama Abdullah, seorang pembuat perahu yang miskin. Menurut keterangannya, ia masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Muhammad seorang yang cerdas dan gemar belajar agama dan Tasawuf.

Gerakan Al-Mahdi di Sudan

Pada tahun 1870 ia pergi mengasingkan diri ke sebuah pulau di Sungai Nil. Pulau itu, Abba namanya. Di pulau itulah, dia mengunci dirinya dalam sebuah gua di tepi sungai. Ia akhirnya mengakukan diri sebagai ”Al-Mahdi” yang diturunkan Allah ke bumi untuk memimpin dunia dengan kebenaran dan keadilan. Dalam waktu singkat, gerakan Al-Mahdi memperoleh banyak pengikut. Di antaranya seorang yang amat setia bernama Abdullah bin Muhammad Al-Faqih.

Pemerintah Mesir merasa khawatir. Maka pada bulan Juli 1881 gubernur di Sudan, Rauf Pasya, memanggil dia untuk datang ke Khartum. Akan tetapi, Abdullah tidak memperdulikan panggilan itu. Bahkan ia menyatakan diri sebagai penguasa negeri Sudan yang terlepas sama sekali dari Mesir. Dianggapnya pemerintah Mesir karena tunduk kepada Inggris telah menyimpang. Apalagi dia pun mengetahui bahwa rakyat Mesir sangat menderita karena ketidakadilan Khadewi dan pajak yang terlalu tinggi.

Rauf Pasya yang tidak sadar kekuatan Abdullah yang sebenarnya. Ia telah mengirimkan hanya 200 orang tentara ke pulau Abba dengan sebuah perahu untuk menangkapnya. Al-Mahdi dan pengikutnya menyergap mereka di tengah malam sehingga hampir semua tentara Mesir menjadi korban. Kecuali beberapa orang yang berhasil menyelamatkan diri kembali ke perahu dengan berenang.

Baca Juga  Cara Rasulullah Menaklukan Istri (3): Sekali lagi Bukan untuk Jomblo

Perluasan Kekuasaan Al-Mahdi

Al-Mahdi kemudian memindahkan kedudukannya ke Kordofan. Bulan Mei 1882, pemerintah Mesir menyerang dengan 6.000 orang tentaranya. Namun serangan tersebut dapat dihancurkan oleh pasukan Al-Mahdi. Kemenangannya ini menyebabkan jumlah pengikutnya bertambah banyak. Seterusnya, pada bulan Januari 1883, ditaklukkannya kota Ubaid. Sebuah kota yang makmur perdagangannya, maka dipindahkannya pula kedudukannya ke kota itu.

Nama Abdullah semakin tersohor dan orang berdatangan menyatakan setianya. Sementara itu, Ahmad Arabi telah dibuang ke Sailan. Muhammad Abduh diasingkan ke Beirut. Jamaluddin berada dalam buangan di Heyderabad. Sementara Mesir telah jatuh ke tangan Inggris dengan posisi Taufik sebagai Khadewi.

Kemudian, Hick Pasya dengan sepuluh ribu tentara Mesir berangkat ke Sudan. Sekali lagi, Al-Mahdi unggul dan tentara Hick Pasya porak-poranda. Seluruh Sudan jatuh ke dalam kuasa Al-Mahdi. Pada bulan Desember 1883, Darfur pun jatuh ke tangannya.

Jamaluddin dan Kekuasaan Inggris yang Terancam

Inggris telah putus asa dan memanggil Jenderal Gordon yang telah menumpas pemberontakan di Taiping, untuk datang ke Khartum. Kedatangan Gordon juga sekaligus untuk mengungsikan warga negara Eropa yang ada di sana ke Mesir. Dia tiba di kota itu pada tanggal 18 Februari 1884 lalu menghubungi Al-Mahdi untuk berdamai. Akan tetapi, Al-Mahdi menolak. Bahkan ia menuntut agar Gordon menyerah. Pada tanggal 22 Agustus diserangnya Khartum dari segala jurusan.

Inggris menyadari bahwa bahaya telah memuncak, maka digunakannya akal yang licik. Jamaluddin Al-Afghani yang sedang termangu-mangu karena majalahnya yang berhenti terbit, dipanggilnya datang ke London. Ditawarkan kepadanya untuk menjabat Sultan. Yaitu supaya memerintah seluruh Sudan. Diberinya wewenang untuk memerintah sesuka hatinya, asal tidak memusuhi Inggris. Inggris yakin bahwa Jamaluddin akan menerima tawaran itu. Karena disangkanya Jamaluddin berjuang selain membela umat tentu juga untuk kekuasaan diri pribadinya. Akan tetapi, dugaan tersebut meleset. Jamaluddin berjuang tidak untuk dirinya, tetapi ikhlas karena Allah. Tawaran yang empuk manis itu ditolaknya mentah-mentah.

Baca Juga  Jamaluddin Al-Afghani (6): Berjuang di Bawah Tirani Mamluk

Segera Gordon diperintahkan menyerang. Terjadi pertempuran yang amat sengit. Di satu pihak tentara Inggris bertempur karena komando, di lain pihak pasukan Al-Mahdi bertahan dan berjuang karena keyakinan serta mencari ridla Allah. Sekalipun pos terdepan Al-Mahdi di Matamah dapat direbut, namun pada malam hari tanggal 25 Januari 1885, pasukan Al-Mahdi menyerbu dan merebut Khartum dan Gordon terbunuh di istananya.

Akhir Kekuasaan Al-Mahdi

Maka, Muhammad bin Abdullah yang bergelar ”Al-Mahdi,” seorang anak tukang perahu yang miskin, karena keyakinan dan keberaniannya telah menjadi penguasa seluruh Sudan dan berkedudukan di Khartum.

Pada pertengahan bulan Juni 1885, Al-Mahdi menderita penyakit tipus dan wafat seminggu kemudian. Tetapi ia masih sempat mengangkat sahabatnya yang setia, Abdullah bin Muhammad, menjadi penggantinya bergelar ”Khalifah.” Kekuasaanya semakin meluas, akan tetapi musuhnya pun bertambah pula. Italia dan Abessynia memusuhi dan menyerangnya pula. Serangannya untuk menaklukkan Mesir gagal.

Akhirnya, pada tahun 1896, sepasukan tentara Mesir yang amat besar jumlahnya di bawah pimpinan panglima perang Inggris bernama Kitchener menghancurkan kerajaan baru ini. Dan Khalifah Abdullah pun tewas dalam pertempuran tersebut. (Bersambung)

Sumber: buku Aliran Pembaruan dalam Islam dari Jamaluddin Al-Afghani Sampai KHA Dahlan karya Djarnawi Hadikusuma. Pemuatan kembali di www.ibtimes.id lewat penyuntingan

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *