Semua terjadi begitu cepat. Arthur Fleck berubah dari seorang badut jalanan dan komedian yang malang jadi Joker yang menembak mati pembawa acara favoritnya persis ketika ia jadi bintang tamu talkshow di layar TV. Membawa kerumitan tersendiri dalam hubungan Joker dan problem orang baik.

“Tidak ada yang akan peduli kalau orang sepertiku yang mati,” ujarnya beberapa saat sebelum melepaskan peluru tajam ke Murray Franklin yang diperankan Robert De Niro. Tembakannya jadi alarm bahwa seorang “monster” tanpa tujuan apapun bisa lahir dengan cara yang tidak pernah diantisipasi.

Joker dan Problem Orang Baik

Arthur yang diperankan secara menawan oleh Joaquin Phoenix, sukses menampilkan seorang pemberontak otentik yang lahir dari perasaan putus asa, jengah, dan frustasi. Ada perbedaan penting yang perlu ditekankan. Joker tidak perlu tercebur ke cairan kimia beracun supaya jadi musuh bebuyutan Batman, ia cukup dilempar bertemu berandalan perundung, orang kaya rasis dan politik negara yang brengsek.

Sistem buruk jaminan sosial, retorika busuk kesejahteraan, dan politisi korup pongah sudah lebih dari cukup untuk memperparah kepanikan dan kecemasan pada orang-orang pinggiran macam Arthur. Ide pertentangan kelas memang begitu sentral dalam film Joker. Ia hidup di apartemen kumuh dengan cita-cita dan ambisi jadi komedian sukses. Tapi nasib terlampau berat dipikul sendirian.

Film Joker (2019) garapan Todd Phillips tidak perlu material baru atau berbeda dari sinema sejenis yang pernah kita saksikan. Formulanya masih sama bahwa pudarnya harapan politik bisa meledakkan pergolakan dan pemberontakan. Phoenix berhasil memberi interpretasi kesedihan dan kegilaan Joker dengan cara yang berbeda dibanding Heath Ledger pemeran Joker dalam Batman: The Dark Knigt (2008).

Film ini istimewa karena penonton dipercaya merekonstruksi sendiri “kegilaan” Joker tanpa ada sosok Batman. Barangkali itulah yang membuat beberapa pengamat menganggap film ini terlampau serius dan amat rinci. Asal usul lahirnya Joker sebagai figur antagonis yang dimiliki Kota Gotham selama ini dinarasikan melalui kontradiksi dengan Batman yang “rasional”, “teratur”, dan berorientasi pada “moral.” Joker, sebaliknya, representasi dari “tanpa pola”, “tanpa motivasi”, atau “tanpa rujukan moral apapun.”

Nyeleneh dan nyentrik Joker tak butuh sosok Batman sebagai pembanding. Karena, ada dunia yang begitu tidak klop dengan Arthur yang lebih dari cukup untuk melemparnya pada nihilisme total. Dunia ini, sejak awal gamblang, tak teredam, dan menggelinding. Memunculkan fenomena Joker dan problem orang baik.

Orang Baik atau Orang Jahat?

Arthur bekerja di perusahaan kecil penyedia layanan hiburan badut. Awalnya kehidupan berjalan begitu saja, ia rutin minum obat, pergi ke psikiater, dan belajar tekun supaya jadi komedian sukses. Kecuali karena gangguan syaraf yang membuatnya bisa tiba-tiba tertawa, ia bukan orang yang sepenuhnya berbeda atau aneh. Nasib sial tidak menghentikannya mencintai ibunya yang tua renta dan menjalin asmara dengan seorang perempuan. Sampai di situ, ia cuma orang biasa yang kurang beruntung dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Frustasi pertama datang pada malam ketika ia mulai sadar bahwa tidak ada yang masuk akal dalam hidupnya. Ia pria yang dipecundangi hidupnya sendiri. Perempuan tua yang dirawatnya itu adalah dusta bagi jiwa Arhur yang kacau balau. Tidak dijelaskan apakah ibu Arthur memang menyimpan rahasia  asal usul siapa ayahnya atau sekedar delusi akut. Badan dan jiwanya terlanjur muak dan jengkel berat berhadapan dengan realitas yang pecah, berlubang, dan ambruk.

Dirinya berubah pada pelatuk pertama yang meletus di gerbong kereta pada malam di hari ketika ia dipecat dari pekerjaannya. Peluru kedua dan ketiga juga dimuntahkan dari laras pendek yang diberikan Randall, rekan kerja yang turut membuat Arthur dipecat. Tapi kebangkitannya yang sempurna sebetulnya dideklarasikan ketika membunuh ibu angkatnya, tidak lama berselang setelah dua detektif mengintainya karena kasus penembakan yang menewaskan tiga bankir muda yang bekerja pada Thomas Wayne itu.

Arthur jelas orang baik. Tidak ada yang menyangsikan bahwa ia sudah hidup dengan akal sehat sejauh yang ia bisa. Ada batas di mana seseorang akan mengambil jarak atau mengubah konsesi tentang moral. Persis, begitulah Arthur mengubah atau menggeser dirinya dari kebanyakan definisi kita soal baik dan buruk. Dalam problem Arthur, tidak cukup jadi orang baik. Karena ia lebih luas melihat konsep “baik” dan “jahat” tadi sebagai titik gerak, instabil, dan berpindah-pindah.

Menjadi orang baik jelas bukan perkara tidak melakukan hal yang jahat. Tapi pilihan untuk bertindak pragmatis dan realistis dengan kenyataan. Bahwa “baik” dan “jahat” sepenuhnya melekat dalam struktur sosial, sama juga artinya dengan menafikan aspek perasaan subjektif orang-orang yang menerima ekses ketertiban dan stabilitas sosial.

***

Orang-orang yang menanggung dampak buruk dari semua kepengaturan sosial itu adalah “Arthur” dalam kehidupan nyata. Mereka adalah orang-orang bawah yang bahkan dengan umpatan paling sopan pun akan membuat mereka bunuh diri.

Film ini memang tidak rumit atau repot-repot membahas involusi sosial yang lazim kita pahami melalui ketimpangan, segregasi, dan marjinalisasi. Film ini juga tampak tidak berpretensi untuk menyajikan materi yang berat tentang kemarahan-kemarahan kelas bawah terhadap kelas atas. Tapi menarik, banyak orang yang bicara dilema menjadi orang “baik” atau “jahat.”

Problem menjadi “baik” atau “jahat” bukan tema sentral dalam film ini. Tapi kebanyakan orang membicarakannya. Bisa jadi karena tidak ada yang lebih problematis dalam kehidupan kita kecuali moral. Sebab, mungkin semua orang merasa mirip Arthur.

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda