Kartini, Perempuan Progresif yang Perjuangannya Dianggap Gagal - IBTimes.ID
Irfani

Kartini, Perempuan Progresif yang Perjuangannya Dianggap Gagal

4 Mins read

Kartini dalam Pertanyaan

Kartini Perempuan – Setiap Hari Kartini, anak-anak sekolah, tepatnya orang tuanya, sibuk karena ada “Kartinian” di sekolah. Kartinian artinya berpakaian adat ke sekolah dan adanya tampilan-tampilan. Lagu “Ibu Kita Kartini” menjadi menu wajib pada peringatan Ibu Kartini.

Namun, di tengah menguatnya kesadaran tentang kesetaraan status perempuan dengan pria, arti penting Kartini seolah menjadi klise. Muncul pertanyaan-pertanyaan dekonstruktif tentang kependekaran dan keperjuangan Kartini. Bahkan ada komentar yang menyatakan dahulu kagum dengan Kartini, tetapi sekarang tidak lagi.

Muncul kritik bahwa Kartini adalah sosok yang gagal mewujudkan mimpinya. Ia ingin bebas dari belenggu tradisi pingitan dan pembatasan ruang perempuan, tetapi akhirnya menyerah dengan menjadi istri ke-4 Bupati Rembang. Ia ingin menempuh pendidikan tinggi tetapi akhirnya tidak bisa meraihnya.

Prestasinya yang nampak adalah menyulap tempat mengaji di belakang rumahnya menjadi sekolah untuk anak-anak, tetapi itu juga tidak bisa dibilang sukses. Ia besar karena berinteraksi dan berkorespondensi dengan pejabat Belanda yang memandangnya sebagai model keberhasilan politik etis. Ia besar karena para sahabat pena Belandanya.

Demikian segala kritik yang mungkin ditujukan kepada Sang “Ibu Kita.” Pada peringatan Hari Kartini ini mungkin ada beberapa aspek yang bisa dibaca kembali dari Kartini.

Kartini: Perempuan di Tengah Aras Modern

Kartini bukanlah perempuan pertama yang mendapat pendidikan sekolah modern. Sudah ada ratusan perempuan bersekolah. Karena pada masanya, hanya 11 perempuan yang bisa bersekolah di sekolah Pemerintah Hindia Belanda ELS.

Namun, Kartinilah yang berani menyuarakan kegelisahannya kepada teman-teman Eropanya dengan bahasa Belanda sehingga dipahami oleh pengambil kebijakan pendidikan Pemerintah maupun kalangan lain. Surat-suratnya diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, seperti ke bahasa Inggris dalam Letters of Javanese Princes .

Setamat dari ELS 1892, ia harus masuk dalam pingitan sebagaimana layaknya perempuan ningrat. Pingitan berlangsung dari sejak lulus ELS hingga menikah tahun 1898-an. Seorang istri Asisen Residen Jepara, Marie Ovink-Soer yang dekat Kartini, membujuk Sosroningrat untuk melepaskan Kartini dari pingitan.

Baca Juga  Membayangkan Aisyah Istri Rasulullah Seperti Nyai Ontosoroh, Kartini, atau Siti Walidah

Usaha itu hanya berlaku sebentar pada tahun 1896. Kartini dan dua adik perempuannya (Kardinah dan Roekmini) bisa berjalan-jalan ke Semarang. Tapi setelah itu, mereka harus masuk dunia pingitan kembali.

Ayahnya, Raden Sosroningrat, dan kakeknya, Pangeran Tjondronegoro IV, adalah kalangan priyayi berpikiran maju. Semua anaknya bersekolah di sekolah Eropa di Jawa, dari ELS hingga HBS. Sosroningrat adalah satu dari 4 Bupati di Jawa yang mampu berbicara dan menulis bahasa Belanda. Anak Sosroningrat ada yang kuliah di negeri Belanda.

Sosrokartono, kakak Kartini, bahkan menguasai lebih dari 20 bahasa asing dan menjadi wartawan New York Herald Tribune di Swiss, meski akhirnya memilih pulang dan membuka praktik pengobatan alternatif di Bandung. Sosrokartono pula yang membawakan Kartini bacaan-bacaan berbahasa Belanda.

Kartini sangat mendambakan kebebasan untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana gadis Eropa. Ia berlangganan Majalah De Nederlandsche Lelie, majalah tentang tentang gaya hidup perempuan dan feminisme. Ia didorong Marie untuk mencari sahabat pena di majalah tersebut.

Akhirnya ia temukan Estella Zeehandelaar (Stella), seorang gadis muda progressif di Belanda, pada tahun 1899. Surat-suratnya kepada Stella menjadi saksi pertama pemikiran dan pergulatan pikiran Kartini serta keresahannya dengan tradisi yang membatasinya.

Terobosan Kartini

Kartini melakukan tindakan kecil pemberontakan. Ia menghilangkan tatakrama berlebihan antara adik dan kakak di rumahnya yang membuat hubungan mereka kaku. Bahkan, ibu kandungnya, yang bukan dari keluarga priyayi, harus memanggilnya ndoro, sebagaimana laiknya bawahan kepada atasan.

Kartini juga bergurau dengan adiknya keras-keras yang tidak lazim bagi gadis priyayi. Ia juga menolak menikah dengan dijodohkan sehingga ia menikah di usia yang sudah “telat” untuk gadis pada masanya.

Ia juga menulis di media, termasuk di Bijdragen, jurnal bergengsi di Belanda yang masih eksis hingga era sekarang. Ia menulis tentang pernikahan orang-orang Arab di Jawa. Ia juga diberi kolom di sebuah majalah perempuan De Echo yang berbasis di Jogja.

Baca Juga  Manusia Angka

Namun, pikiran-pikirannya lah yang membuatnya dikenal luas sebagai gadis lokal yang berpikiran maju. Saat Mr. J.H. Abendanon ingin mencari masukan tentang rencana pendirian sekolah bagi gadis Bumiputera, Snouck Hurgronje menyarankan dia untuk bertemu dengan Kartini di Jepara tahun 1900, padahal Snouck juga tidak mengenal langsung Kartini.

H.J. Abendanon bersama dengan istri dan anaknya menjadi dekat dengan Kartini. Abendanon menjadi Direktur Pendidikan dan Industri Hindia Belanda tahun 1901. Ia mempertemukan Kartini dengan beberapa orang di Batavia.

Kartini ingin sekolah ke Belanda, bersama-saa adiknya. Melalui lobi Van Kol dan dukungan anggota parlemen sehingga mendapatkan kesempatan beasiswa belajar di Belanda. Namun Abendanon membujuknya untuk tidak mengambilnya, entah karena khawatir Kartini akan bergaul dengan orang-orang kiri, seperti Stella dan Van Kol, yang akan mengungkap pula ketimpangan sosial di Hindia Belanda.

***

Kartini sudah punya pikiran kritis saat itu dan juga sudah membaca Max Havelaar, satu novel kritik terhadap akibat tanam paksa di Banten yang ditulis oleh Multatuli. Namun, Abendanon lebih mendukung Kartini mewujudkan sumbangsihnya di negerinya.

Akhirnya, Kartini menyerah dengan bujukan Abendanon dan karena ayahnya sakit serta suara-suara miring karena ia belum menikah. Ia menyarankan agar kesempatan beasiswanya diberikan kepada Agus Salim, pria Sumatera yang cerdas.

Di tengah kesedihannya, masuklah lamaran-lamaran. Ia menerima lamaran Bupati Jepara, yang ia pandang berpikiran maju karena pernah studi di Belanda dan bisa memahami perilakunya yang cenderung lebih bebas dibandingkan gadis priyayi lain.

Ia melihat adiknya, Kardinah, yang menikah dengan priyayi (kemudian menjadi Bupati Tegal) baik-baik saja hidupnya. Kardinah bahkan di kemudian hari bisa mewujudkan cita-cita Kartini membangun sekolah untuk anak perempuan dan mendirikan rumah sakit di Tegal. Kartini sendiri bercita-cita untuk menjadi perawat.

Baca Juga  Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah

Namun, Kartini tidak berusia panjang. Ia meninggal setelah melahirkan anaknya, Soesalit, pada usia 25 tahun.

Sepeninggal Kartini, Abendanon dengan dukungan Asosiasi-Kartini di Den Haag, mewujudkan sekolah-sekolah Kartini yang berdiri di berbagai kita di Jawa ada tahun 1916.

Kartini: Perempuan yang Berpikiran Besar

Kelebihan Kartini adalah karena pikiran-pikran besarnya yang menginsirasi. Ia menunjukkan suara perempuan yang ingin maju.

Ia mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan, seperti orang Arab, Tionghoa, dan utamanya elit-elit Eropa. Ia juga membantu pengusaha lokal yang terbatas distribusinya dengan mencarikan pasar.

Ia bahkan bisa mempengaruhi ulama, Kiai Saleh Darat, untuk menulis penjelasan atas Al-Qur’an. Saat itu, Al-Qur’an hanya dibaca tanpa terjemah, apalagi penjelasan. Bagi pikiran kritis Kartini, ia ingin melihat pula esensi agamanya, yang kadang juga membuatnya gelisah, seperti praktik poligami yang umum dilakukan para priyayi, termasuk ayahnya.

Kartini mekar pada zamannya. Ia meninggal tepat pada peralihan abad dan dimulainya era kebangkitan nasional. Saat itu, sebagian priyayi mulai bangkit, khususnya mereka yang belajar di sekolah-sekolah tinggi khususnya STOVIA.

Meski Kartini berpikiran maju, ia tidak kehilangan akar. Ia memuji pendidikan ala Eropa, tetapi ia tidak setuju dengan pendidikan untuk pikiran semata. Baginya, rasa dan karakter juga penting.

Sekolah yang ia dambakan tidak persis sama dengan sekolah Eropa, tetapi sekolah seperti keluarga dengan Kartini sebagai ibunya. Ia ingin sekolah mengajarkan keterampilan, selain baca tulis, agar perempuan mampu mandiri.

Editor: Yahya FR

Related posts
Irfani

Sawah Untoh dan Jelen Luhuih (2): Pesatnya Perkembangan Kerinci Hilir

6 Mins read
Kisah ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya tentang Sawah Untoh dan Jelen Luhuih (1). Aku merasa beruntung karena selama masa tinggal di…
Irfani

Sawah Untoh dan Jelen Luhuih (1): Cerita Ekonomi Pertanian Kerinci Hilir

6 Mins read
Punggung Bukit Barisan, Kerinci, pada suatu pagi di tahun 2012. Udara pegunungan terasa sangat sejuk dan kami masih dalam suasana mudik lebaran….
Irfani

Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah

3 Mins read
Perbedaan Cara Penentuan Awal Puasa Ramadhan Salah satu ungkapan yang kerap muncul tiap bulan Ramadhan tiba adalah ungkapan “puasa ikut NU, lebaran…

Tinggalkan Balasan