Kelahiran Muhammad Adalah Berkah Bagi Pertanian

 Kelahiran Muhammad Adalah Berkah Bagi Pertanian

cnnindonesia

Oleh: Nu’man Iskandar*

Waktu itu, musim semi pada pertengahan April, Halimah beserta keluarga besarnya, kafilah bani Sa’ad melakukan perjalanan dari Ta’if ke Makkah. Ta’if sendiri adalah sebuah kota perkampungan yang berada di sisi timur dari kota Makkah.

Waktu tempuh dari Ta’if ke Makkah waktu itu sekitar 7 hari dengan menggunakan unta. Jika naik kuda, bisa dicapai dalam waktu 2-3 hari. Jalur perjalanan yang digunakan oleh orang-orang Ta’if ke Makkah ini sebenarnya sama dengan jalur yang digunakan oleh Abrahah saat ingin menghancurkan Ka’bah. Hanya saja sebelum memasuki wilayah Ta’if, pasukan Abrahah ini telah diluluhlantakkan oleh ababil.

Dulu, para saudagar dari Yaman dan Ethiopia yang hendak ke Makkah pasti singgah di Ta’if. Berbeda dengan wilayah lain, Ta’if adalah sebuah daerah yang cukup subur di jazirah arab. Di daerah ini terdapat mata air dan sungai kecil yang bermuara pada sebuah danau. Jika kita berkunjung ke Ta’if saat ini, sisa-sisanya bisa kita jumpai pada Saiysad National Park.

Ta’if adalah jalur penting perdagangan. Meski begitu, daerah ini sulit untuk berkembang menjadi sebuah kota, meski juga dilintasi para saudagar dari berbagai penjuru sebagaimana Madinah yang menjadi kota persinggahan. Umumnya para saudagar hanya singgah saja sementara dan tidak melakukan banyak interaksi. Oleh karena itu Ta’if tetaplah Ta’if sebagai kota perkampungan.

Muhammad dan Martin Lings

Menurut Martin Lings, hal ini terjadi karena karakter masyarakat Ta’if sendiri, tipe masyarakat agraris yang sulit untuk mau berubah dan menerima hal baru. Hal ini nanti bisa kita jumpai pada peristiwa nabi hijrah ke Ta’if, yang justru menolak kedatangan nabi. Padahal ditempat itu ada banyak teman-teman nabi pada saat masih kecil. Nabi adalah bagian keluarga orang-orang bani Ta’if.

Sudah menjadi kebiasaan bani Sa’ad setiap musim semi mereka pergi secara rombongan ke Makkah. Biasanya mereka menjual hasil pertaniannya sekaligus menawarkan berbagai jasa pada orang-orang Makkah. Dari menawarkan jasa untuk menjadi penggembala hingga menjadi ibu susuan.

Halimah dan suaminya Harits, adalah orang jenis manusia yang istimewa di bani Sa’ad. Meski hidup dalam kekurangan, namun keluarga itu dikenal sebagai keluarga yang jujur dan amanah. Keduanya juga dikenal memiliki akhlak yang baik. Dari semua kitab tentang sirah nabawi, agaknya hanya Martin Lings yang secara detail mampu menggambarkan siapa Halimah dan Harits, suaminya tersebut.

Sesampai di Makkah, Halimah segera menjumpai orang-orang Makkah dan menawarkan jasa sebagai ibu susuan. Semua menolaknya karena kemiskinan Halimah, mereka sama sekali tidak melihat akhlaq dan kejujuran Halimah. Dan terbukti, setelah beberapa hari, orang-orang Makkah yang Halimah datangi tidak mau menggunakan jasa Halimah.

Pada saat yang sama, orang-orang bani Sa’ad yang datang ke Makkah tersebut juga tidak ada yang mau memberikan tawarannya kepada Aminah. Bagi orang-orang Ta’if yang datang ke Makkah waktu itu, memberikan tawaran kepada Aminah adalah sebuah kerugian besar.

Sebab, meski berasal dari keluarga bangsawan, Aminah sendiri dipandang sebagai orang miskin. Aminah dipandang sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya sehingga dianggap tidak bisa memberikan upah.

***

Aminah dan Halimah kemudian sama-sama berdoa. Aminah berdoa agar ada diantara orang-orang Ta’if yang datang le Makkah tersebut bersedia menjadi ibu susuan, dan Halimah berdoa agar segera mendapatkan bayi susuan. Dan kemudian, doa kedua orang tersebut kemudian Allah kabulkan.

Halimah kemudian datang kepada Aminah dengan menawarkan jasa tersebut, dan Aminah kemudian menerimanya. Hati Halimah berdetak kencang ketika memasukai kamar nabi yang baru dilahirkan beberapa hari tersebut. Ada perasaan bahagia yang datang tiba-tiba setelah Halimah melihat nabi. Waktu itu Halimah melihat nabi dalam kondisi tidur. Ia belum pernah melihat bayi “seamazing” itu.

Halimah baru menyadari, bahwa detak kencang dihatinya adalah kebahagian karena akan berjumpa dengan bayi istimewa yang kelak menjadi Rasul penutup. Halimah dan Aminah dipertemukan dalam doa yang sama, doa dalam kepasrahan, keikhlasan dan ikhtiar.

Setelah melakukan beberapa kesepakatan dalam perjanjian, bayi Muhammad itu dibawa Halimah. Aminah menitipkan beberapa perbekalan untuk kebutuhan Halimah dan bayi Muhammad. Halimah sangat bahagia mendapat amanah itu, apalagi bayi Muhammad tidak pernah merepotkan Halimah. Bertambah bahagialah keluarga Harits tersebut dengan adanya anggota baru dalam keluarga. Doa dua ibu dan kebahagiaan itulah yang menjadi bekal dalam pengasuhan nabi.

Energi doa dan bahagia itulah yang menjadi kunci keberhasilan kehidupan Halimah dan Harits kelak sebagai penggembala ternak karena setelah mengasuh nabi ternaknya cepat bertambah banyak dan air susu yang melimpah. Padahal pada saat sebelum mengasuh Muhammad, jumlah ternak Halimah adalah yang paling sedikit diantara orang-orang Ta’if. Demikian juga dengan air susunya, setelah mengasuh nabi, domba Halimahlah yang paling melimpah.

Diceritakan, pada saat menggembala bersama suaminya, Halimah seringkali melantunkan syair-syair nasehat dalam puisi arab. Syair yang melembutkan hati. Bayi Muhammad pun selalu menyimaknya dengan baik. Kelembutan hati yang kelak dimiliki Muhammad.

***

Masa balita nabi, atau masa-masa emas umur belajar nabi dihabiskan bersama dengan keluarga Halimah dan Harits sebagai keluarga penggembala hingga setidaknya 4 tahun. Pada umur 2 tahun, Halimah datang menemui Aminah agar diperbolehkan meneruskan mengasuh Muhammad, Aminah kemudian menyetujuinya. Dengan adanya Muhammad keluarganya menjadi berkah. Termasuk keberkahan pada ternak yang digembalanya tersebut.

Seandainya tidak ada peristiwa dada nabi yang dibelah oleh Jibril, mungkin nabi tidak segera dikembalikan kepada Aminah. Setelah dada nabi dibelah, Halimah buru-buru mengembalikan Muhammad pada Aminah.

Namun demikian ada hikmah dibalik peristiwa tersebut, nabi akhirnya juga cukup mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri. Masa kecil nabi, ia mendapatkan dua kasih sayang dari dua orang ibu, ibu kandungnya selama 4 tahun dan ibu susuannya selama 4 tahun. Aminah meninggal pada saat umur nabi sekitar 8 tahun.

Nabi yang sejak kecil hidup dan ada pada lingkungan sebagai penggembala, hal inilah yang kemudian menjadi bekal nabi membina para penggembala dan petani pada saat hijrah ke Madinah. Nabi yang juga memiliki pengalaman sebagai pedagang juga sangat berpengaruh pada keberhasilan pengelolaan pasca panen. Mengalahkan sistem riba yang telah berkembang saat itu. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam Al Quran.

Selain itu, setelah nabi hijrah, peternakan dan pertanian lain seperti kurma, gandum, dan anggur berkembang pesat di Madinah. Ini yang menjadi dasar mengapa umat Islam begitu kuat saat itu, meski waktu itu nabi dan ummat Islam diboikot dalam perjanjian Hudaybiah. Tapi kerena telah berdaulat dalam pangan, semua kesulitan dapat terlewati.

Hari ini, kita memperingati hari kelahiran nabi 12 Rabiul Awal 1441 H/9 November 2019 M. Sholawat kita haturkan pada beliau. Dalam sejarah, beliau adalah pembawa keberkahan dalam pertanian kita. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad…

Salam Brutal…

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *