Kakbah dan Tragedi Penyerbuan dari Yaman

 Kakbah dan Tragedi Penyerbuan dari Yaman

Ilustrasi. Sumber: Dream.co.id

Pada awal Abad ke-6 Masehi, kota Makkah mengalami tragedi bersejarah yang tidak akan dilupakan oleh seluruh keturunan Suku Quraish. Yaitu tragedi penyerbuan dari Yaman yang dilakukan oleh militer di bawah kepemimpinan Gubernur (Raja Muda) Yaman, Abrahah. Konon, ia telah mendapat dukungan politik dari Imperium Romawi Timur (Bizantium) untuk menghancurkan Kuil Suci, Kakbah. Jejak-jejak sejarah ini terekam dengan baik dalam bentuk syair-syair Arab pra Islam.

Peristiwa bersejarah ini merupakan hasil konspirasi antara Imperium Bizantium dan Ethiopia (Habasyah) melawan Dinasti Himyar di Yaman. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 525 M, ketika Bizantium sedang berada pada puncak kejayaan di bawah kekuasaan Kaisar Justianus I.

Pasca tumbangnya kekuasaan raja-raja Tubba’ di Yaman, orang-orang dari Suku Himyar memegang kendali kekuasaan. Raja Dinasti Himyar generasi terakhir yang berkuasa di Yaman adalah Dzu Nuwas (Ibnu Khaldun menyebutnya Dzu Nu’an). Dia telah memeluk agama Yahudi.

Mengapa Dzu Nuwas yang memeluk agama Yahudi menindas kaum Nasrani, padahal kedua agama ini sama-sama meyakini Ketuhanan Yang Satu? Bahkan, sesungguhnya agama Nasrani merupakan kelanjutan dari agama Yahudi. Di sinilah sesungguhnya yang menjadi akar persoalan.

Kisah Asbab al-Ukhdud

Pasca pembuangan dari Babilonia (Abad ke-6 SM), bangsa Yahudi memang terpecah menjadi tiga kelompok utama. Kelompok pertama adalah para rahib dan bangsawan yang oportunis memanfaatkan posisi mereka untuk menumpuk kekayaan sendiri. Mereka juga berusaha memalingkan ajaran samawi yang otentik dengan memadukan unsur-unsur paganisme dari Babilonia dan Persia.

Kelompok kedua adalah para rakyat jelata yang menghendaki gerakan kembali ke khittah ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim as. Gerakan dikenal sebagai Sekte Essenes (Al-‘Isawiyyun) dipimpin oleh Nabi Yahya (4 SM), putra Nabi Zakaria. Adapun kelompok ketiga adalah para pujangga dan cendekiawan yang menghendaki pembaruan ajaran spiritual Yahudi. Di antara mereka adalah Ezra (‘Uzair) dan Jeremiah (650-580 SM). Mereka cenderung bersikap moderat dalam menyikapi perubahan paradigma spiritual kaum Yahudi yang mulai membelok dari tradisi Ibrahim yang otentik.

Raja Dzu Nuwas memeluk agama Yahudi dari aliran Saduki (Rabbinic) yang menentang keadatangan Nabi Isa Al-Masih. Bahkan, dia memiliki kecenderungan untuk mengkultuskan para Rahib (Pendeta). Al-Qur’an mensinyalir keyakinan kaum Yahudi yang telah menyelewengkan ajaran monoteisme samawi dan menjadikan rahib-rahib mereka sebagai “tuhan-tuhan selain Allah swt” (Qs. At-Taubah[9]: 31, 34). Kelompok Nasrani Najran merupakan aliran Nasrani Nestorian yang masih murni berpegang pada ajaran tauhid (Al-Hawariyyun).

Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan bahwa salah seorang di antara Nasrani Najran yang ditindas oleh Raja Dzu Nuwas dalam peristiwa pembakaran masal itu (Ashab Al-Ukhdud) berhasil meloloskan diri ke Bizantium. Dia yang berhasil lolos dari peristiwa pembantaian tersebut bernama Daus Dzu Tha’labahn (Sirah Ibnu Ishaq, h. 26). Setelah menemui Kaisar Justianus I di Konstantinopel, dia menceritakan segala apa yang telah dilakukan Dzu Nuwas terhadap umat Nasrani di Najran.

Lobi Politik Abrahah

Terdorong oleh rasa tanggungjawabnya yang telah memeluk agama Nasrani, Kaisar Justianus I berjanji akan menindak Dzu Nuwas. Namun, jarak antara Konstantinopel dan Yaman amat jauh. Karena itu, menurut sejarawan Joesoef Sou’yb (1979), Kaisar Justianus I mengirim surat kepada Sang Negus Ethiopia (Habasyah) yang pada waktu itu menjadi sekutunya. Ethiopia adalah negara satelit bagi Bizantium.

Sang Negus Ethiopia mengirimkan pasukan untuk menumpas Dinasti Himyar di Yaman pada tahun 529 M. Dinasti Himyar berhasil dikalahkan oleh pasukan Ethiopia di bawah panglima Aryat. Tetapi, sikap Aryat sangat sinis dan kurang toleran terhadap kebudayaan bangsa Yaman. Dia sempat mengolok-olok betapa rendahnya kebudayaan bangsa Yaman.

Di antara pasukan Ethiopia di bawah pimpinan Aryat mulai terpecah. Sebagian tidak menerima sikap Aryat yang tampak kurang toleran terhadap tradisi setempat. Namun, sebagian tetap patuh kepada perintah Aryat. Di antara pasukan Ethiopia yang tidak patuh terhadap Aryat adalah Abrahah, seorang keturunan Ethiopia yang taat memeluk agama Nasrani. Dia pun berhasil membunuh Aryat dalam sebuah duel memperebutkan posisi pimpinan.

Kematian Aryat mengundang kemarahan bagi sang Negus di Ethiopia. Tetapi Abrahah sendiri langsung menyatakan penyesalannya. Dia kemudian memohon ampun kepada Sang Negus atas kesalahan yang telah dibuatnya. Pada akhirnya, Abrahah diserahi kekuasaan atas tanah Yaman untuk waktu tertentu. Abrahah disuruh menunggu kebijakan Sang Negus berikutnya pasca pembunuhan Aryat.

Tampaknya, Abrahah seorang politisi yang mahir sekaligus licin. Dia menggunakan lobi politik tingkat tinggi dalam menyikapi kesalahan perbuatannya yang telah membinasakan seorang panglima kepercayaan Sang Negus. Abrahah membangun sebuah Katedral besar dan megah di kota San’a (Yaman) yang secara khusus didedikasikan kepada Sang Negus di Ethiopia. Di samping itu, Abrahah juga bermaksud hendak memalingkan kiblat bangsa Arab yang lebih condong ke Ka’bah.

Penyerbuan dari Yaman

Orang-orang keturunan Suku Quraish marah besar mendengar kebijakan Abrahah yang hendak memalingkan kiblat bangsa Arab dari Ka’bah (Makkah) ke gereja megah di kota San’a. Salah seorang keturunan Suku Kinanah (klan Quraish) marah besar melihat gereja megah di San’a. Dia kemudian meluapkan ekspresi kekesalannya dengan melakukan pengrusakan terhadap gereja tersebut. Kejadian inilah yang kemudian memicu kemarahan Abrahah sehingga dia bersikeras untuk menghancurkan Ka’bah.

Pada sekitar tahun 570 M, Yaman telah dikuasai sepenuhnya oleh Abrahah. Kebijakan Abrahah untuk menyerbu kota Makkah dan akan menghancurkan Ka’bah merupakan hasil konspirasi politik antara Imperium Bizantium (Justianus I), Ethiopia (Negus), dan Yaman (Abrahah). Keuntungan politik yang amat besar bagi Bizantium jika Gubernur Yaman berhasil menghancurkan kota suci, Makkah, yang di dalamnya terdapat rumah suci, Ka’bah.

Rezim Bizantium memiliki obsesi untuk menyatukan dunia di bawah kekuasaannya.
Keberadaan kota Makkah, terutama karena di dalamnya terdapat Bangunan Suci yang diyakini oleh seluruh umat agama-agama samawi, telah membuat rasa iri kekaisaran Bizantium. Dengan memberikan dukungan kepada Gubernur Yaman keturunan Ethiopia yang berada di bawah pengaruhnya, Imperium Bizantium bermaksud hendak menghancurkan Kakbah.

Tragedi penyerbuan dari Yaman ini menjadi salah satu pertanda kemunculan Nabi Besar yang diyakini sebagai Nabi Akhir Zaman, Nabi Muhammad saw. lahir ditandai dengan serangan besar Gubernur Abrahah dari Yaman yang bermaksud akan menghancurkan Ka’bah. Dengan kekuatan militer yang amat kuat, Gubernur Yaman itu menyerbu kota Makkah untuk menghancurkan Kakbah.

Setelah pasukan Abrahah sampai di sebuah perkampungan di luar Makkah (Muqammas), dia memberitahukan penduduk setempat bahwa tujuannya bukan untuk memerangi mereka. Akan tetapi, pasukan Abrahah itu hendak menghancurkan Ka’bah. Penduduk Makkah ketakutan melihat kekuatan pasukan Abrahah yang jumlahnya amat besar.

Pada saat pasukan Abrahah mendekati Kakbah, Abdul Muthalib (Shayba), kakek Nabi Muhammad saw yang menjaga Rumah Suci, berlari ke arah pegunungan untuk melihat pasukan dari Yaman. Ketakutan tiba-tiba menyelimuti hatinya. Dia lantas berdoa kepada Allah swt agar Kuil Suci dapat diselamatkan (Sa’ad Abd. Wahid, 2004, h. 115).

Daun Dimakan Ulat

Sejarah mencatat peristiwa besar ini berhasil digagalkan oleh aksi “sekawanan burung” (Thairun Ababil) yang tiba-tiba datang secara menggumpal membentuk awan hitam di langit. Kawanan burung aneh tersebut langsung menyerang pasukan bergajah (Ashhabu Al-Fiil) secara bertubi-tubi dengan batu-batu kerikil yang amat tajam dan panas (bi khijaratin min sijjil).

Pasukan dengan kekuatan yang sangat besar dan tangguh tersebut langsung kocar-kacir. Mereka berlarian tunggang-langgang diterpa bebatuan kerikil yang amat tajam dan panas. Ternyata, Kehendak Allah swt lain dengan kehendak Abrahah.

Kekuatan pasukan penghancur yang dipimpin oleh Abrahah justru malah hancur sendiri. Kondisi mengenaskan pasukan bergajah yang dipimpinnya dilukiskan dalam Al-Qur’an seperti halnya “daun-daun yang dimakan ulat” (ka ‘ashfin ma’kul). Tragedi bersejarah ini direkam dengan baik dalam Al-Qur’an Surat Al-Fil (105) ayat 1-5.

Setelah tragedi besar penyerbuan pasukan Yaman yang dipimpin oleh Gubernur Abrahah, lahir seorang bayi laki-laki di Makkah. Menurut sejarawan Joesoef Sou’yb (1979), Abrahah sendiri sempat berhasil melarikan diri dari serbuan Burung Ababil. Dia berhasil pulang ke kota San’a (Yaman) dengan susah-payah. Sayang, sesampainya di kota San’a justru ajal langsung menjemputnya.

Lahirlah kemudian bayi laki-laki di Makkah setelah peristiwa bersejarah tersebut. Kelahirannya bertepatan dengan hari Senin tanggal 12 Rabi’ Al-Awwal atau 20 April 571 M. Dia keturunan klan Abdul Muthalib, dari klan utama Abdi Manaf, dari Suku Quraish yang silsilahnya bertemu dengan tokoh Adnan. Adapun silsilah Adnan melewati beberapa generasi bertemu dengan tokoh Ismail putra Nabi Ibrahim.

***

Abdul Muthalib gembira setelah mendengar dirinya mendapat seorang cucu laki-laki. Sebagaimana tradisi bangsa Arab pada umumnya, setiap keluarga yang mendapat anak laki-laki merasa menerima anugerah besar. Abdul Muthalib langsung menggendongnya sambil mengitari Ka’bah sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran cucunya.

Dia putra Abdullah bin Abdul Muthalib dari istrinya, Aminah bint Wahb Az-Zuhriyah. Konon, Aminah sempat memberinya nama “Ahmad.” Tetapi, Abd. Muthalib justru memberinya nama “Muhammad. Dia lahir pada 53 tahun sebelum Takwin Islam.

Mu'arif

Redaktur Suara Muhammadiyah yang Aktif mengkaji sejarah Muhammadiyah-Aisyiyah, Anggota MPI dan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah. Sedang menempuh studi doktoral UIN Sunan Kalijaga dan bergabung dalam program riset Humanitas Global Indonesia.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *