Kenabian dan Wahyu Terakhir Menurut Ziauddin Sardar dan Fazlur Rahman - IBTimes.ID
Kalam

Kenabian dan Wahyu Terakhir Menurut Ziauddin Sardar dan Fazlur Rahman

3 Mins read

Hampir semua agama di dunia, terkhusus agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam) bertumpu pada “wahyu” dan “nabi” untuk menegaskan eksistensinya. Maka dari itu, ‘wahyu” dan “nabi’ menjadi pilar yang sangat penting dalam sebuah agama, tidak terkecuali Islam.

Umat Islam meyakini bahwa, Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan Al-Qur’an adalah wahyu terakhir. Umat Islam juga percaya bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna dan paripurna. Keyakinan bahwa Muhammad ﷺ menjadi nabi terakhir dan Islam adalah agama yang sempurna memberi tanggung jawab besar bagi umat Islam (Fazlur Rahman, 2017: 119).

Secara teori, Islam memang agama yang sempurna. Namun praktiknya, akibat perbuatan orang Islam sendiri, Islam tidak akan pernah menjadi sempurna (Ziauddin Sardar, 2014: 383).

Definisi Nabi

Kata nabi secara harfiah berarti “orang yang membawa berita”. Secara terminologi, nabi berarti “seseorang yang diberi wahyu oleh Allah Swt., baik diperintahkan untuk menyampaikan (tablig) atau tidak.” Jika ia diperintahkan untuk menyampaikan kepada yang lain, maka ia disebut “rasul”.

Sebetulnya ada banyak pendapat seputar perbedaan antara nabi dan rasul ini. Di samping yang disebutkan di atas tadi, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa rasul adalah seseorang yang diwahyukan “syari’at” baru, sedangkan nabi tidak. Sebagian yang lain lagi mengatakan bahwa rasul adalah yang diutus dengan kitab suci, sedangkan nabi tidak.

Menurut Ziauddin Sardar (2014: 377), Al-Qur’an membedakan antara Nabi dan Rasul, meskipun keduanya sama-sama mendapat wahyu dari Allah, hanya Rasul yang menerima wahyu dalam bentuk kitab suci.

Namun di samping pendapat mayoritas ini, masih ada lagi satu pendapat yang nampaknya layak dipertimbangkan juga; yaitu bahwa semua nabi adalah rasul, dan semua rasul adalah nabi.

Baca Juga  Ziauddin Sardar dan Penafsiran Ulang Terhadap Wahyu

Menurut mazhab ini, masalahnya adalah terletak pada relativitas sudut pandang. Yaitu jika dilihat dari sisi hubungannya dengan audiens atau umat manusia, maka ia adalah rasul; dan jika dilihat dari sisi hubungannya dengan Allah Swt., maka ia adalah nabi.

Nah, di sini jadi jelas bahwa masalah definisi ini adalah masalah ijtihadiyyah dan tidak tergolong masalah yang dilarang berbeda atau qatiyyat dalam agama. Apalagi masing-masing pendapat di atas juga memiliki dalil-dalil pijakan yang kuat dari Al-Qur’an maupun sunah (Anis Malik Thoha: 2010).

Definisi Wahyu

Dalam arti lughawanya, “wahyu” adalah, sebagaimana disimpulkan oleh Rashid Ridha (2005: 25), “pemberitahuan yang bersifat tertutup dan tidak diketahui pihak lain dan cepat serta khas hanya kepada yang dituju”.

Kemudian dari arti lughawi ini, para ulama membangun definisi “wahyu” secara teknis (terminologis) atau istilah; yakni “pemberitahuan Allah Swt. kepada seorang nabi tentang berita-berita gaib, syariat, dan hukum tertentu.”

Dari definisi ini, jelas bahwa konsep “wahyu” dalam Islam harus mengandung dua unsur utamanya; yaitu pertama, pemberi berita (Allah SWT), dan kedua, penerima berita (nabi). Sehingga tidak dimungkinan terjadinya wahyu tanpa keduanya atau menafikan salah satunya (Anis Malik Thoha: 2010).

Menurut Ziauddin Sardar (2014: 377), wahyu bisa dilihat dan dirasakan. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” Ini mengindikasikan bahwa pewahyuan adalah pengalaman intuitif dan visioner.

Kenabian sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

Kenabian adalah salah satu tema pokok dalam Al-Qur’an. Melalui para nabi, Tuhan memandu manusia untuk menjauhi dosa dan kesalahan menuju kebaikan dan keadilan. Menurut Ziauddin Sardar (2014: 374), peran dan fungsi nabi adalah membawa umat manusia menuju perbaikan fisikal dan moral.

Baca Juga  Tauhid dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Para nabi juga mendorong manusia untuk meraih cita-cita dan kedudukan yang lebih mulia dan lebih tinggi seraya mengilhami dan menanamkan dalam diri mereka kebajikan yang membawa diri mereka lebih dekat kepada Tuhan.

Maka, kenabian bukan sekedar metode bagi Tuhan untuk menyampaikan risalahnya kepada manusia, melainkan juga tanda kasih dan rahmat-Nya kepada manusia dan seluruh makhluknya (Sardar, 2014: 374-375).

Tidak jauh berbeda dengan Ziauddin, Fazlur Rahman (2017: 117) memahami bahwa kenabian dan pewahyuan secara umum, landasannya adalah kasih sayang Tuhan dan ketidakmatangan moral dan motivasi manusia.

Beban dan Tanggung Jawab Umat Islam

Menurut Fazlur Rahman (2017: 119), klaim umat Islam bahwa nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dan Al-Qur’an adalah wahyu terakhir menjadi beban berat yang harus dipikul umat Islam. Klaim tersebut lebih merupakan kewajiban, alih-alih keistimewaan; meski umat Islam lebih memandangnya sebagai keistimewaan.

Sedangkan menurut Ziauddin Sardar (2014: 383), secara teori risalah yang dibawa Muhammad ﷺ (Islam) memang sempurna dan paripurna:

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Namun dalam praktiknya, akibat perbuatan manusia, Islam tidak akan pernah sempurna.

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir karena risalah yang dibawanya (Islam) telah mencapai bentuk finalnya. Kini, yang tersisa adalah memahami risalah itu dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ziauddin Sardar (2014: 383), upaya ini merupakan perjuangan abadi tiada akhir.

Fakta bahwa Muhammad adalah nabi terakhir mengandung arti bahwa pengikutnya memiliki tanggung jawab khusus: mereka harus bisa membuktikan lewat sikap dan perilaku, bahwa risalah mereka memang bentuk agama final yang sempurna dan paripurna.

Baca Juga  Tauhid Sosial, dari Tuhan untuk Manusia

Berjuang Melawan Fir’aun Masa Kini

Para nabi telah memainkan peran mereka dengan sangat baik. Mereka telah memotivasi kita untuk berperilaku sesuai dengan tatanan moral. Jika menengok Al-Qur’an, para nabi pada dasarnya telah berjuang melawan tiga jenis manusia, yang diperankan oleh Fir’aun, Haman, dan Qorun.

Setelah risalah dan kenabian ditutup oleh Muhammad ﷺ, kini, giliran kita memainkan peran. Kini, giliran kita untuk berjuang melawan Fir’aun, Haman, dan Qorun masa kini.

Editor: Zahra

Avatar
7 posts

About author
Rizal Muhlisin, lahir di Cilacap, 15 Maret 2000. Umur 20 tahun. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UMS semester 4. Selain menjadi mahasiswa UMS, juga menjadi mahasantri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran.
Articles
Related posts
Kalam

Islam Liberal dan Islam Literal: Benci, tapi Rindu

4 Mins read
Islam Liberal dan Literal yang Saling Berhadapan Dalam sejarah dunia pemikiran Islam, kata liberal sering dihadapkan dengan kata literal. Pengutuban dua pola…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah 3: Spirit dalam Pembentukan Perilaku Manusia

2 Mins read
Pemetaan Perilaku Manusia Selanjutnya, Ibn Bajjah mambahas tentang bentuk-bentuk spirit (syu’ar ruhaniyah) dalam hal perilaku manusia setelah ia mengkaji tentang pemetaan perilaku…
Kalam

Pemikiran Ibn Bajjah (2): Jiwa, Akal Ma’rifah, dan Akhlak

3 Mins read
Setelah penulis memaparkan salah satu pemikiran Ibn Bajjah di artikel sebelumnya yang bertajuk Konsep Metafisika Menurut Ibn Bajjah, dengan ini sangat penting…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa