Ketika Pak AR Memimpin Yasinan

 Ketika Pak AR Memimpin Yasinan

Ilustrasi. Sumber: Tirto.ID

Ada cerita  yang menarik, ketika di Talangbalai. Adalah tatkala Pak AR disuruh mengisi Yasinan. Kisahnya begini, sewaktu di Talangbalai, kalau Pak AR berangkat dan pulang mengajar di Madrasah Muhammadiyah, selalu melewati rumah seorang tokoh agama. Tokoh yang dituakan seperti seorang kyai kalau di Jawa.

Tokoh itu sehari-hari dipanggil ‘Angku’, artinya kyai juga. Sebagai orang muda, kalau kebetulan Angku ada di luar, di depan rumahnya, Pak AR selalu memberi salam dan mengajak tersenyum.

Tetapi karena Angku itu tahu bahwa Pak AR orang Muhammadiyah. Ia punya prasangka buruk bahwa orang Muhammadiyah itu jelek, suka merusak agama, kristen putih dan sebagainya. Maka salam itu tidak pernah dijawab.

Baca Juga: Islam Enteng-entengan Ala Pak AR

Meskipun begitu, tetap saja setiap Pak AR lewat di depan rumahnya dan melihat Angku ada di luar selalu memberi salam sambal tersenyum, tapi tetap saja Angku itu tidak menjawab.
Akan tetapi, setelah beberapa minggu diberi salam, akhirnya Angku itu mau juga menjawab salam meskipun hanya denganjawaban ‘lam’ atau ‘salam’.

Dan, tetap saja kalau melewati rumah Angku itu Pak AR selalu tersenyum dan selalu memberi salam, walaupun hanya dijawab dengan singkat-singkat.

***

Pada suatu hari, setelah beberapa minggu dan setelah berkalikali diberi salam, Angku itu menjawab salam dengan lengkap “wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”. Mendengar jawaban yang lengkap itu, Pak AR berhenti dan mendekati terus menjabat tangan Angku itu erat-erat dengan tersenyum sambal mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Melihat perlakuan Pak AR itu, Angku itu terheran-heran. Dengan ‘terpaksa’ tersenyum bertanya, “Mengapa Guru mengucapkan terima kasih kepada saya? Apanya yang diterima kasihi?” Kata Pak AR, “Angku sudah menjawab salam saya dengan lengkap. Itu kan doa. Doa seorang ulama seperti Angku tentu sangat membahagiakan saya. Karena itu saya harus menyampaikanrasa terima kasih. Sekali lagi terima kasih”.

Mendengar jawaban Pak AR itu, Angku itu seperti tercenung beberapa saat dan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Apa Guru ini orang Muhammadiyah?” Jawab Pak AR sambil tersenyum, “Lho. Iya. Saya ini anak orang Muhammadiyah. Saya disekolahkan di sekolah rakyat (SR) sekolah di Muhammadiyah terus ke Muallimin dan Darul Ulum Muhammadiyah. Sekarang saya ditugaskan di sini sebagai guru Muhammadiyah, yang menugaskan Pimpinan Muhammadiyah, Hoofd Bestuur Muhammadiyah”.

“Mengapa?“ Tanya Pak AR. Jawab Angku, “Orang Muhammadiyah kok baik? Kata orang, orang Muhammadiyah itu sering begini, begitu, merobah-robah agama, sering membid’ah-bid’ahkan”. Mendengar jawaban Angku itu Pak AR tertawa terpingkal-pingkal. Kata Pak AR, “Semua orang Muhammadiyah itu baik.

Guru-guru saya jauh lebih baik dari saya. Tapi kebanyakan orang bilang begitu, seperti kata Angku tadi”. Kata Pak AR kemudian, “Sekarang Angku telah melihat sendiri, bukan kata orang dan bertemu sendiri dengan saya. Orang Muhammadiyah itu ya seperti
saya ini, bahkan kebanyakan lebih baik dari saya”.
“Kalau begitu kata orang itu tidak benar”, kata Angku setengah bergumam.

Sejak itu hubungan antara Pak AR dengan Angku semakin baik. Sebagai orang muda dan pendatang, Pak AR sering bersilaturrahim ke rumah Angku. Tukar pikiran. Pak AR lalu diminta mengisi yasinan segala.

Tentu saja Pak AR selalu datang, dan memanfaatkan kesempatan itu untuk berintegrasi dengan masyarakat. Tetapi, secara pelan-pelan mengubah yasinan itu menjadi pengajian, diawali dengan yasinan ‘gaya baru’, yaitu dengan menerjemahkan dan memahami kandungan surat Yasin, tidak sekedar membaca surat Yasin saja.

***

Lama-lama perkumpulan yasinan itu menjadi semacam majelis pengajian Al Qur’an. Pak AR melaksanakan tugas berdakwah di Sumatara Selatan selama hampir 10 tahun, berpindah dari satu cabang ke cabang yang lain, hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan mengajar di madrasah-madrasah Muhammadiyah, mengisi pengajian ranting dan cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah, aktif memimpin kepanduan Hizbul Wathan, melatih tabligh di Pemuda Muhammadiyahdan berbagai kegiatan lainnya.

Karena kegiatannya itu, lambat laun muncul kader-kader Muhammadiyah di cabang-cabang yang pernah ditinggali Pak AR. Di tempat-tempat itu Muhammadiyah juga mulai dikenal, tumbuh dan berkembang.

Setelah hampir 10 tahun bergaul dengan masyarakat di Palembang (Sumatera Selatan), Pak AR pulang kembali ke desanya, Bleberan, Banaran, Galur (Yogyakarta), pada tahun 1944.
Penduduk desanya telah mengetahui bahwa Pak AR telah pernah dan berpengalaman mengajar. Oleh karena itu, H. Dawam Rozy, Kepala Sekolah Darul Ulum (tempat sekolahnya dulu) meminta agar Pak AR bersedia mengajar. Permintaan itu dipenuhi dan tugas
itu dilaksanakan sebaik-baiknya.

Selengkapnya: Baca Buku Biografi Pak AR K.H. Abdur Rozaq Fachruddin Ketua Muhammadiyah (1968-1990) Oleh: Sukriyanto

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *