H. Abdullah Tjan: Tokoh Tionghoa Muhammadiyah Pembendung Zending

 H. Abdullah Tjan: Tokoh Tionghoa Muhammadiyah Pembendung Zending

Ilustrasi. Sumber: Facebook

H. Abdullah Tjan atau H. Abdullah Tjan Hoatseng dilahirkan pada 14 Juni 1877 di Tobelo, Maluku Utara. Ia adalah sosok Tionghoa dari keluarga Tjan dan keturunan kelima yang memeluk agama Islam.

Eksistensinya sebagai seorang Tionghoa-Muslim yang minoritas tidak mengurangi kepiawaiannya dalam berdakwah terutama wilayah Halmahera Utara kala itu menjadi lading penginjilan bagi zending.

Alhasil, Abdullah Tjan adalah seorang pendakwah cum jihadis Qur’an dan Hadis. Halmahera Utara menjadi ladang penginjilan oleh Utrechsrhe Zending Venreniging (UZV) sejak terjadi gempa bumi 22 Mei 1864 dipimpin oleh Pdt. Hoveker.

UZV sebelumnya beroperasi di Irian Barat Pdt. Van Dijken, Pdt. de Bode mengabdikan diri ke Galela pada 1865 dan Pdt. van Been mulai bertugas di Tobelo pada 1871.

Namun tempat tinggal Tjan, kampung Gamsung adalah tempat yang paling sulit ditembus. Tjan pun pada akhirnya menjadi sosok alim ulama yang mampu membendung pengaruh zending.

Zending: Perlawanan Tjan Terhadapnya

Abdullah Tjan pun resmi mendapatkan amanah menjadi Imam atau alim ulama di Tobelo. Ia mulai gencar menghidupkan kegiatan keagamaan. Tidak sekadar berdakwah, namun juga merawat dan mengembangkan tempat ibadah dan kajian keislaman seperti masjid dan mushola.

Ramadhan di Tobelo pun menjadi semarak berkat keuletannya membimbing umat Islam disana. Alhasil, kultur Islam pun kembali hidup dan menyala-nyala disana. Abdullah Tjan sebenarnya sudah menjadi ketua Muhammadiyah Halmahera Utara di Galela (1928) namun karena kepentingan dakwah yang lebih luas, ia pun berusaha sekuat tenaga merintis Muhammadiyah di Tobelo.

Permohonan izin untuk membawa sinar surya ke Tobelo ditolak oleh Pemerintah Kolonial HindiaBelanda. Namun, akal tak habis karena ia akhirnya mendirikan Persatuan Islam Tobelo (Persit), sebuah organisasi Islam dengan nuansa Muhammadiyah (karena sejatinya memang Muhammadiyah).

Baca Juga  Satu Abad Taman Pustaka: Menggerakkan Pengetahuan

Abdullah Tjan melaporkan sikap Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda kepada Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta. PB Muhammadiyah akhirnya mengizinkan pendirian Muhammadiyah Tobelo tanpa izin, hal itulah yang membuat Tjan semakin bersemangat dalam beramar maruf nahi munkar.

***

Rintangan pun banyak dihadapi oleh Abdullah Tjan baik sebagai seorang minoritas Tionghoa-Muslim dan sebagai pengurus Muhammadiyah Tobelo. Semangat tuntutlah ilmu walau sampai negeri Tiongkok membuatnya bersemangat dalam berdakwah karena asal usul Tionghoa yang dipandang sebagai suatu episentrum turut membuat dirinya harus bermanfaat bagi umat Islam dan sesama manusia.

Muhammadiyah pun berkembang sangat pesat di Tobelo dan Madrasah Muhammadiyah pun juga berdiri di sana. Misi Zending (Kristen) yang merasa “lahan dakwahnya” diambil alih oleh Muhammadiyah melakukan aksi-aksi untuk memblokade dakwah Islam.

Aksi-aksi tersebut awalnya hampir berhasil karena keadaan umat Islam di Tobelo masih belum sejahtera dan butuh uluran materi untuk menyambung hidup, disitulah Zending beraksi.

Abdullah Tjan pun tak kehabisan akal, ia Bersama Mohammad Amal (Imam Galela), Humar Djama (Imam Morotai), dan Amly Sidik (Imam Kao) membentuk Imam Permusyawaratan Onderafdeling Tobelo (IPOT) untuk menjaga dakwah Islam di sana.

Peranan Abdullah Tjan sebagai tokoh Muhammadiyah jelas menjadi bumerang bagi misi Zending sehingga pembunuhan karakter pun dilakukan untuk mencegah Abdullah Tjan dan kawan-kawan berkuasa dalam dakwah namun pada akhirnya gagal juga.

***

Abdullah Tjan adalah sosok multitalenta yang kuat dilapangan namun gagah dalam bersidang. Ia selalu mengalahkan argumentasi pendeta-pendeta Zending yang ingin mengalahkannya baik sebagai sesama pengkabar langit maupun sebagai pribadi.

Ia juga kerap diserang oleh bangsanya sendiri yaitu para hakim Sya’ra di Ternate namun dilindungi oleh Sultan Ternate karena kebaikan dan kecerdasannya. Ketangkasan Tjan dalam masalah administrasi juga membuatnya dipercaya sebagai staf KUA di Maluku, meski demikian ia tetap menjadi Imam Tobelo dan semakin giat berdakwah terutama selepas menunaikan ibadah haji.

Baca Juga  Siti Bariyah: Perempuan Pertama Penafsir Ideologi Muhammadiyah

Selengkapnya: Baca buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan MPI PP Muhammadiyah


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *