Inspiring

Buya Syafii: Potret Sang Guru Bangsa

3 Mins read

Sang Guru Bangsa

Guru Bangsa I Pada bagian akhir autobiografinya yang bertajuk, “Titik-titik Kisar di Perjalananku”, Buya Syafii Maarif menulis tentang agendanya di hari tua. “Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini, agenda utamaku adalah untuk berbuat sesuatu, betapapun kecilnya, agar Indonesia sebagai sebuah bangsa negara tetap utuh, tidak terkoyak oleh kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat”.

Prof. Ahmad Syafii Maarif, kedalaman ilmu, keteduhan spiritual dan dedikasi moralnya, membuat ia jamak dipanggil “Buya”. Sebuah pengakuan kultural tentang sosok besar ini yang juga didapuk sebagai “Sang Guru Bangsa”.

Buya Syafii pernah merasakan gelora yang membara sebagai “pembela gigih” ortodoksi Islam, bahkan dia akuinya, hingga di usia 40, dalam benaknya adalah cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Titik kisarnya terjadi saat usianya sudah melampaui bilangan 40, saat ia berkesempatan menimba ilmu di Universitas Chicago. Di bawah bimbingan Fazlur Rahman, sosok Begawan pemikiran modern Islam, memantik titik kisar bagi kebangkitan intelektual dan spritualnya.

Kian luas ilmunya, makin luwes pula rohaninya menerima ragam perbedaan. Kian dalam kebijaksanaannya, makin teduh sosoknya merangkul semua golongan. Dedikasi dan komitmen yang akhirnya mengantarkan beliau pada khidmat sejati sebagai Sang Guru Bangsa.

Ketika KH. Ma;ruf Amin sowan ke rumah beliau di Yogya, saat itu KH. Ma’ruf Amin telah resmi menyandang status sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Jokowi. Sebagai sahabat, Buya memberi pesan jika nantinya KH. Ma’ruf terpilih sebagai wakil presiden.

“Terhadap kelompok Syiah dan Ahmadiyah, Kiai Ma’ruf agar mau berpikir ulang. Mereka harus diperlakukan sebagai warga negara penuh, sekalipun kita tidak setuju dengan pandangan keagamaannya. Pengusiran dan persekusi terhadap mereka harus dihentikan sekali dan untuk selama-lamanya.”

Baca Juga  Siti Aisyiah Hilal Memimpin Aisyiyah 7 periode

Komitmen Buya Menjaga Keutuhan Bangsa

Buya telah melampaui habitusnya di Muhammadiyah, organisasi yang pernah ia pimpin. Bahkan Buya bukan lagi milik umat Islam Indonesia saja, Buya adalah milik seluruh bangsa Indonesia, yang ia pikirkan dan perjuangkan bukan lagi sekadar diri dan golongannya, tapi bangsa ini, agar tetap utuh tak terkoyak.

“Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia tidak boleh menang sendiri. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman harus dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional.” Tulis Buya dalam autobiografinya.

Komitmen Buya pada upaya menjaga keutuhan bangsa adalah teladan yang ia wariskan, selain segudang ilmu dan pendar pencerahan yang ia tinggalkan, bukan hanya bagi umat Islam tapi pada seluruh bangsa Indonesia.

Politik Identitas yang berjubahkan agama, adalah salah satu yang sangat ia prihatinkan. Bagi Buya, Pancasila sudah selesai sebagai ideologi bangsa yang menyatukan semua elemen bangsa yang bhinneka. Tentulah tak elok bila anak-anak bangsa masih tersekat-sekat dalam pergumulan politik berbasis identitas, yang hanya mementingkan kelompok identitasnya saja.

Kenapa Buya bisa sampai pada kisar pemikiran tersebut, apakah karena komitmen beliau kepada Islam sudah luntur dan tercemari oleh die-ide sekularis?. Jika ada yang berpikiran demikian dan menuding Buya sebagai orang yang liberal, sekuler dan anti Islam. Saya pastikan orang tersebut gagal paham terhadap sosok Buya.

“Aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam, Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam, bukan saja karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar, lebih dari itu. Justru karena aku sedikit memahami hakikat ajaran Islam untuk mengukuhkan pilar-pilar kemanusiaan yang inklusif, toleran, ramah dan santun.” Tegas Buya dalam autobigrafinya.

Baca Juga  Hijrah Intelektual Buya Syafii: Puritanisme ke Progresif

Bagi Buya, Islam adalah agama peradaban, bukan agama kebiadaban. Dengan gambliag, Buya menyebut pelaku teror yang mengatasnamakan Islam sebagai penganut teologi horor, yang “berani mati tapi takut hidup”.

Selain Gus Dur, sangat langka sosok yang mendedikasikan dirinya secara penuh dan utuh demi menjaga keutuhan bangsa. Melampaui habitusnya, merangkul semuanya, menjadi bapak dan guru bangsa. Buya adalah satu dari sosok yang amat langka itu.

Duka Mendalam atas Kepulangan Buya Syafii

Hari ini, di hari Jumat yang penuh berkah, sosok teladan itu mengakhiri masa baktinya di muka Bumi. Allah menganugerahkan usia yang cukup panjang (87 tahun) dan beliau mengisi usia panjang itu dengan panjangnya dedikasi bagi umat dan bangsa yang amat dicintainya.

Kepergian Buya menyisakan duka amat mendalam, bagi anak-anak bangsa, khususnya mereka yang termarjinalkan karena identitasnya yang minor. Buya adalah sosok bapak yang melindungi, memberikan penghiburan dan bersuara lantang membela “anak-anaknya” yang terasingkan.

Bagi anak-anak bangsa, Buya Syafii adalah Sang Guru Bangsa yang terus mengayomi, membimbing dan memberi pencerahan. Dengan ilmunya Buya mencerdaskan dan mencerahkan, dengan dedikasinya Buya menorehkan jejak teladan.

Selamat jalan Buya, kepergianmu menorehkan kesedihan teramat sangat, bagai anak yang kehilangan sosok bapak yang dikaguminya dan bagai murid yang ditinggal sang guru yang diteladaninya.

“Apakah angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku menutup mata, tidaklah penting bagiku. Setidak-tidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu pada bangsa yang kucintai ini.”

Berpulanglah dalam damai Buya, bapak dan guru kami. Kiranya di ufuk tertinggi senyum Sang Nabi menyambut arwahmu. Semoga kami diberikan kekuatan untuk melanjutkan agenda besarmu untuk umat dan bangsa ini.

Baca Juga  Yusuf Al-Qaradawi, Ulama Moderat yang Menghasilkan Ratusan Karya

Editor: Soleh

Print Friendly, PDF & Email
1 posts

About author
Peneliti Agama dan Kepercayaan (BRIN) Tinggal di Makassar
Articles
Related posts
Inspiring

Bintu Syathi’, Mufassir Perempuan Modern Pertama yang Hobi Menulis

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi’ atau yang sering kita kenal dengan nama Aisyah Bintu Syathi’ lahir pada tanggal…
Inspiring

Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Jadilah Perempuan Mandiri!

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Profil Ning Imaz Fatimatuz Zahra Ning Imaz Fatimatuz Zahra atau akrab disapa dengan panggilan Ning Imaz tak…
Inspiring

Aceng Zakaria, Ulama Jago Baca Kitab Kuning dengan Segudang Karya

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Ribuan orang berkumpul di Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat untuk ikut mensalati jenazah alm. KH Aceng…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *