Dinasti Ottoman (6): Mehmed I, Antara Keluarga dan Kekuasaan - IBTimes.ID
Tarikh

Dinasti Ottoman (6): Mehmed I, Antara Keluarga dan Kekuasaan

5 Mins read

Mehmed I

Mehmed I (Mehmed Çelebi [Pangeran Mehmed], Kırışçı [Tuan Muda]) adalah Sultan Ottoman, dikenal juga sebagai Sang Pendiri Kedua, putra Bayezid I  (berkuasa 1389–1402) dan Devlet Hatun (putri emir Germiyan, sebuah kerajaan Turkoman Anatolia), lahir pada 1387 dan meninggal 1421.

Mehmed muncul sebagai pemenang dari perang internal (1402–13) akibat dari kekalahan Ottoman oleh Tamerlane di Pertempuran Ankara pada 1402. Ia dianggap sebagai pendiri kedua negara Ottoman karena ia menyatukan kembali kerajaan Ottoman setelah mengalahkan saudara-saudaranya pada 1413. Meskipun pada saat kematiannya pada 1421, wilayah negara tersebut masih lebih kecil dari yang dipegang oleh ayahnya, Bayezid I pada puncak kejayaannya.

Pasca Pertempuran Ankara

Setelah Pertempuran Ankara, Timur mengembalikan daerah kekuasaan kepada para Emirat yang sebelumnya dianeksasi oleh Bayezid I. Apa yang tersisa dari Ottoman menjadi wilayah yang diperebutkan di antara putra Sultan Bayezid I.

Enam putra sultan yang masih hidup pada 1402 (Süleyman, İsa, Kasım, Mustafa, Musa, dan Mehmed), Pangeran Mustafa dibawa ke ibukota Samarkand Timur (sekarang Uzbekistan), bersama dengan Bayezid sendiri.

Pangeran Süleyman, İsa, Mehmed, dan Musa (yang juga ditangkap Timur dalam pertempuran tetapi kemudian dibebaskan) bertempur melawan satu sama lain untuk mendapatkan kendali tunggal atas wilayah Ottoman yang tersisa. Pangeran Kasım, yang berada di Bursa pada saat Pertempuran Ankara, dibawa oleh kakak laki-lakinya Süleyman ke Balkan dan kemudian dikirim sebagai sandera kepada Kaisar Bizantium Manuel II (memerintah 1391–1425); ia tetap di ibukota Bizantium Konstantinopel sampai kematiannya pada tahun 1417.

Dari empat pangeran yang tersisa, Süleyman menempatkan dirinya di Balkan, memerintah wilayah Ottoman di sana, sementara Mehmed menguasai wilayah Tokat-Amasya di Asia Kecil.

Dari sini, Mehmed pindah ke Bursa, merebut kota dari saudaranya, Isa. Ketika Isa bergerak melawan Mehmed dalam aliansi dengan penguasa emirat Kastamonu, Mehmed mengalahkan dan membunuhnya di Eskişehir pada 1403–04. Namun, segera Pangeran Süleyman menyeberang ke Anatolia dan merebut Bursa dari Mehmed, yang mundur ke Tokat.

Pada titik ini tampaknya Pangeran Süleyman akan muncul sebagai satu-satunya penguasa wilayah Ottoman di kedua sisi Bosporus. Memang, beberapa sejarawan menerimanya sebagai sultan, dan menamainya Süleyman I.

Baca Juga  Muhammad Abduh (8): Sang Mujaddid dan Karya-karya Monumentalnya

Namun, Pangeran Süleyman tidak pernah menjadi satu-satunya penguasa di wilayah Ottoman; dia segera kehilangan kendali atas wilayahnya dan dikalahkan untuk kemudian dibunuh.

***

Dari basisnya di Tokat, Mehmed sekarang mendorong saudaranya Musa untuk menantang Süleyman. Musa muncul di Balkan timur pada 1406, menerima undangan dari voievod (gubernur) Mircea dari Wallachia (bagian dari Rumania saat ini), yang mencoba untuk mencegah penggabungan kekuasaan Ottoman di wilayahnya.

Pada Mei 1410, Musa merebut ibu kota Süleyman di Edirne memperluas kekuasaannya melalui semenanjung Gallipoli. Ketika Süleyman kembali dari Anatolia untuk menegaskan kembali kekuasaannya di Balkan, Musa mengalahkan dan membunuhnya di Edirne pada Februari 1411.

Beberapa kebijakan agresif Musa adalah mengasingkan mantan pengikut Kristen Utsmaniyah di Balkan yang berpihak pada Mehmed, yang pada saat ini dianggap kurang kuat. Musa juga mengepung ibu kota Bizantium, Konstantinopel, meskipun tidak berhasil, karena dia takut Bizantium dapat menggunakan saudaranya Kasım atau putra Pangeran Süleyman, Orhan, keduanya tinggal di Konstantinopel sebagai sandera, untuk memicu pemberontakan terhadapnya.

Pengepungan tersebut meyakinkan Kaisar Manuel bahwa Musa adalah ancaman yang lebih besar, dan karenanya dia juga mendukung Pangeran Mehmed melawan Musa. Dengan bantuan Serbia, Byzantium, penguasa perbatasan Turki di Balkan, dan beberapa emirat Anatolia, Mehmed akhirnya berhasil mengalahkan Musa pada Juli 1413 dalam pertempuran yang terjadi di selatan ibukota Bulgaria saat ini, Sofia. Musa sendiri terbunuh saat kudanya tersandung.

Setelah muncul sebagai pemenang dari perang saudara Ottoman, Pangeran Mehmed, yang dikenal mulai sekarang sebagai Sultan Mehmed I (1413–1421), bersiap untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya atas kerajaan Ottoman. Mantan pengikut Ottoman atau negara vassal (termasuk Wallachia, Serbia, dan Byzantium) mengakui kekuasaan Mehmed dan pada gilirannya menerima jaminan bahwa sultan Ottoman yang baru akan menjalankan kebijakan damai di Balkan. Kemudian, Mehmed I menyeberang ke Asia Kecil untuk menaklukkan para amir Anatolia Turkoman yang telah mendukung para pesaingnya.

Baca Juga  Diwan Al-Barid: Departemen Pos pada Zaman Dinasti Abbasiyah

***

Perlawanan emir Karaman di Turki tengah, dan Cüneyd, amir Aydın yang berbasis di Izmir di Turki barat, sangat kuat. Mehmed mengalahkan Cüneyd pada 1414 dan mengubah wilayahnya menjadi subprovinsi atau “sancak”, menunjuk Cüneyd sebagai gubernur untuk Nikopol di Danube (Bulgaria modern). Meskipun Mehmed mengalahkan Emirat Karaman pada tahun 1415, emirat mereka terbukti menjadi musuh yang jauh lebih kuat, seperti yang akan segera ditemukan oleh Mehmed dan penerusnya.

Keberhasilan Mehmed membuat khawatir kaisar Bizantium Manuel. Dalam langkah putus asa ia melepaskan putra Pangeran Süleyman, Orhan ke Wallachia, dalam rangka mengumpulkan kekuatan melawan kekuasaan Ottoman di Balkan. Namun, Mehmed menangkap dan membutakan Orhan sebelum dia bisa mencapai Wallachia.

Masalah sultan masih jauh dari selesai. Pada tahun 1415, saudara laki-laki Mehmed, Mustafa, muncul pertama kali di Anatolia dan kemudian di Wallachia di mana dia memulai negosiasi dengan Bizantium, Venesia, dan Wallachia mengenai serangan bersama terhadap Mehmed. Meskipun Mehmed dan penulis sejarah Ottoman kemudian menganggapnya sebagai penipu dan dengan demikian menjulukinya “Mustafa Palsu,” walaupun masuk akal bahwa dia memang saudara laki-laki Mehmed, yang dibebaskan oleh putra dan penerus Timur, Shah Rukh (memerintah 1405–147), yang juga tidak menginginkan konsolidasi kekuasaan Ottoman di bawah Mehmed di Anatolia. 

Bagaimanapun, masalah yang ditimbulkan Mustafa dan sekutunya (termasuk mantan pemberontak dan gubernur Nikopol yang baru diangkat, Cüneyd) terbukti berumur pendek, karena mereka dikalahkan oleh Mehmed dan berlindung di kota Byzan-tine Salonika. Pada musim gugur 1416 Mehmed berhasil mendapatkan perjanjian dengan Kaisar Manuel yang mana Mustafa dan Cüneyd akan ditahan di tahanan Bizantium selama masa pemerintahan Mehmed dengan imbalan kompensasi tahunan sebesar 10.000 dukat emas.

Mustafa bukan satu-satunya ancaman bagi Sultan Mehmed pada tahun 1416. Di barat daya delta Danube di Deli Orman atau Hutan Liar (di Roma bagian selatan dan timur laut Bulgaria saat ini) pemberontakan yang berbahaya meletus melawan pemerintahan Mehmed, yang dipimpin oleh seorang Muslim yang karismatik. Seorang hakim (kadı) dan mistikus, Sheikh Bedreddin. 

Baca Juga  Dinasti Umayyah (3): Kebangkitan Amir Muawiyah I, Merancang Sebuah Wangsa

***

Bedreddin lahir pada tahun 1358 di Simavna (Kyprinos di timur laut Yunani), seorang putra dari hakim Muslim setempat dan istrinya seorang mualaf Yunani.  Sekitar tahun 1410, Pangeran Musa menunjuk hakim militer Bedreddin di Edirne, tetapi masa jabatannya berakhir dengan kemenangan Mehmed, yang pada tahun 1413 membuangnya ke Iznik.  Mungkin di Iznik-lah Bedreddin berkenalan dengan gerakan perlawanan yang pada tahun 1416 memuncak dalam pemberontakan di Anatolia yang dipimpin oleh Torlak Kemal dan Börklüce Mustafa.  Sheikh Bedreddin, yang tampaknya adalah pemimpin ideologis gerakan tersebut, menyeberang ke Balkan dan memicu pemberontakan lain di barat daya Delta Danube.

Dia mendapatkan dukungan dari banyak tuan tanah (penguasa perbatasan) yang menentang Mehmed karena Sultan telah mencabut hibah tanah yang diberikan kepada mereka oleh Bedreddin atas nama Pangeran Musa.  Namun, pasukan Mehmed dengan cepat menangkap Bedreddin.  Dia dituduh mengganggu ketertiban kesultanan dengan tuduhan pengambilalihan tanah kesultanan dan aliran yang menyimpang. Dia digantung di depan umum pada tanggal 18 Desember 1416, di pasar Serres di Makedonia. Meskipun Bedreddin dikalahkan, idenya tetap populer di antara tarekat darwis Bektashi dan pendukung mereka, Janissari, infanteri elit para sultan.

Setelah mengetahui pemberontakan ini juga didukung di Anatolia dan Balkan, Mehmed menghukum mereka yang telah mendukung pemberontak.  Pada 1419, sultan mengalahkan Mircea dari Wallachia dan memaksanya menerima kekuasaan Ottoman. Mehmed juga berhasil memaksa Emirat Karaman tunduk.

Perhatian utama sultan di tahun-tahun terakhirnya adalah mengamankan takhta bagi putra tertuanya, Murad.  Dia membuat kesepakatan dengan Kaisar Manuel bahwa Murad akan diakui sebagai penerus Mehmed, putranya Mustafa akan tetap di Anatolia, dan dua putra bungsu, Yusuf dan Mahmud, berusia delapan dan tujuh tahun, akan diserahkan kepada Manuel, bersama Mustafa dan akan mendapatkan uang tahunan untuk biaya pemeliharaan mereka.  Ketika Mehmed I meninggal pada tanggal 25 Juni 1521, sesuai dengan rencana ia digantikan putra tertuanya Murad II (berkuasa 1421–1444; 1446–51).

Editor: Yahya FR

Avatar
32 posts

About author
Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin Adab & Dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Dapat disapa melalui akun Instagram @lhu_pin
Articles
Related posts
Tarikh

Beginilah Cara Ikhwanul Muslimin Masuk ke Indonesia

3 Mins read
Lahirnya Ikhwanul Muslimin Hasan al-Banna al-Syahid Hasan bin Ahmad Abd. Al-Rahim al-Banna atau yang biasa dikenal dengan Hasan al-Banna merupakan pendiri Ikhwanul…
Tarikh

Pernikahan Zaid dan Zainab Bukti Pembaruan Sosial Rasulullah

3 Mins read
Arab Pra Islam Arab pra Islam dikenal dengan zaman jahiliyah (masa kebodohan). Zaman ini memiliki budaya yang tidak manusiawi dan tidak berakhlak….
Tarikh

Tradisi Kompolan: Religiusitas, Sosial, atau Ekonomi?

2 Mins read
Masyarakat Madura dikenal sebagai entitas yang taat beragama dan teguh dalam memegang tradisi keagamaan. Segala aktivitas senantiasa dilakukan dan disandarkan pada nilai-nilai…

Tinggalkan Balasan