Oleh: Robby Karman*

Akhir-akhir ini muncul kegelisahan terkait paham “salafi” yang semakin diminati di kalangan warga Muhammadiyah. Penulis sengaja memberi tanda kutip mengingat pada kenyatannya paham salafi tidak satu corak. Namun secara umum, salafi adalah sebuah paham yang berkeyakinan bahwa beragama yang benar adalah yang mengikuti cara beragama 3 generasi awal Islam, yakni sahabat, tabiin dan tabiut tabiin.

Dalam tulisan berjudul Menyikapi Tren Salafisme di Muhammadiyah yang dimuat pwmu.co, Dr. Biyanto Wakil Sekretaris PWM Jawa Timur menyampaikan kegelisahan Dr. Anwar Abbas Ketua PP. Muhammadiyah terkait gejala menguatnya faham salafisme di amal usaha Muhammadiyah. Hal ini terlihat dari pakaian yang berbeda dari umumnya. Yakni bercadar untuk perempuan dan bercelana cingkrang bagi laki-laki.

Menurut beliau, menghadapi gejala tersebut, sebaiknya pimpinan AUM menegaskan aturan berbusana di AUM yang sesuai dengan paham agama Muhammadiyah. Tidak perlu beradu dalil karena tidak akan ada habisnya. Yang terpenting adalah adanya ketegasan dari pimpinan AUM tersebut tentang kode etik berpakaian.

Kritik cukup keras datang dari Nurbani Yusuf Ketua PDM Kota Batu terkait tema yang sama. Dalam tulisannya di ibtimes.id yang berjudul Muhammadiyah Salafi, Persilangan Identitas Baru? Nurbani menyoroti ketidakberdayaan kader dan pimpinan Muhammadiyah dalam menghadapi gempuran ideologi salafi.

Menurutnya, Muhammadiyah terlalu sibuk dengan amal usaha namun lupa pada state of mind (manhaj) mengapa AUM didirikan. Hal ini membuat salafi mempunyai masa depan gemilang di Muhammadiyah. Gejalanya sudah mulai terlihat. Di mana, jamaah Muhammadiyah lebih taat fatwa dari ulama salafi dibanding dengan ulama majelis tarjih.

Infiltrasi Paham Salafi

Sebelum masuk ke tema utama yakni bagaimana cara menangkal faham salafi di persyarikatan, ada beberapa poin yang perlu kita fahami bersama. Dalam rumusan sifat-sifat Muhammadiyah poin 2 dijelaskan bahwa sifat Muhammadiyah adalah memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Dalam poin 8 disebutkan bahwa Muhammadiyah bisa bekerjasama dengan organisasi Islam manapun dalam rangka menyiarkan dan mengamalkan ajaran Islam.

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahi dua poin sifat Muhammadiyah di atas dan merusak ukhuwah Islamiyah antara Muhammadiyah dengan Salafi.

Kita tetap menghargai Salafi Sebagai sebuah paham agama. Namun persoalannya adalah saat salafisme melakukan infiltrasi dan mengambil alih Muhammadiyah dari dalam.

Misal, Pimpinan ranting Muhammadiyah mempunyai mesjid yang dibangun oleh jamaah Muhammadiyah. Karena marbotnya berpaham salafi, kajian dan amalan ibadahnya tidak ikut tarjih namun ikut paham Salafi.

Fenomena seperti di atas yang coba kita kritisi, karena justru merusak harmoni internal umat sendiri.

Ketua Umum PP. Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir dalam buku Meneguhkan Ideologi Gerakan Muhammadiyah mengatakan: “Jika Muhammadiyah melakukan peneguhan terhadap ideologi gerakan bagi seluruh warga dan sistem organisasinya, maka bukan berarti sedang membangun ketertutupan dan berhadapan dengan pihak lain, lebih-lebih secara konfrontatif.

Namun, Muhammadiyah sedang menata dan mengurus rumah tangganya sendiri agar kokoh dan tidak diganggu siapapun yang membuat gerakannya lemah dan centang perenang. Muhammadiyah selalu menjunjung tinggi ukhuwah dan kerjasama dengan pihak manapun.

Mengapa Paham Salafi Dipermasalahkan?

Sekitar tahun 2005 sampai 2010, Muhammadiyah pernah mengalami konflik yang sama dengan harakah tarbiyah. Hal tersebut membuat PP Muhammadiyah mengeluarkan SK PP Muhammadiyah Nomor 149 tahun 2006 tentang konsolidasi organisasi. Pasca keluarnya SK tersebut anasir tarbiyah mulai menyingkir dari Muhammadiyah.

Hari ini penulis melihat hubungan Muhammadiyah dengan tarbiyah cukup baik seperti halnya dengan NU. Hidayat Nur Wahid diundang ke pengajian PP Muhammadiyah. Harmonisasi antara tarbiyah dan Muhammadiyah justru terjadi saat harakah tarbiyah saling menghormati dan tidak saling menginfiltrasi.

Selanjutnya saat ada yang mencoba mengkritik gejala salafisme di Muhammadiyah. Seringkali pihak yang merasa tersindir tidak menerima. Kemudian mereka mencoba melakukan serangan balik dengan argumen, mengapa salafi dipermasalahkan sementara orang-orang liberal di Muhammadiyah tidak dipersoalkan?

Argumen ini sekilas benar, namun mengandung kecacatan. Kenapa Salafi dipermasalahkan? Jawabannya karena yang mengambil alih mesjid, yang melawan fatwa tarjih (misalnya penolakan hisab wujudul hilal oleh M. Abduh Tuasikal) adalah Salafi. Kalau yang melakukan itu orang liberal kita pasti akan melawan mereka juga.

Lagi pula liberalisme ini kalaupun ada di Muhammadiyah namun tidak banyak bisa mempengaruhi akar rumput secara masif dibanding salafisme. Penulis melihat Majelis Tarjih dan Tajdid dalam metode dan fatwanya dapat menengahi dinamika salafisme dan liberalisme dalam Muhammadiyah.

Maka selama ikut fatwa MTT jangan khawatir jadi liberal. Pada kenyataannya justru Paham Salafi banyak yang mendelegitimasi fatwa MTT. Misalnya musik haram mutlak, isbal haram mutlak, cadar sunnah, hisab haram dll. Upaya delegitimasi ini anehnya banyak justru diamini oleh warga Muhammadiyah sendiri.

Langkah-langkah Membentengi Paham Salafi

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Tentu hal ini tidak bisa diratapi saja tanpa ada aksi nyata. Penulis menawarkan tiga pendekatan yang bisa dilakukan:

  1. Pendekatan Otoritas

Pendekatan ini sama seperti yang diuraikan oleh Dr. Biyanto sebelumnya, yakni pimpinan Muhammadiyah atau pimpinan AUM harus bersikap tegas terhadap salafi. Kalau masih mau berada di Muhammadiyah ikut aturan Muhammadiyah.

Kalau tidak, silahkan keluar. Pendekatan ini efektif jika pimpinan Muhammadiyah atau AUM tersebut sudah mempunyai infrastruktur dan sumber daya manusia yang mapan. Mengeliminasi seseorang tidak akan mengganggu sistem karena segera ada penggantinya.

Namun bagaimana jika misalnya di salah satu masjid Muhammadiyah yang bisa menjadi marbot full time hanya 2 orang dan mereka semua fahamnya salafi? Lantas mencari penggantinya susah?

Kasus seperti ini harus menjadi otokritik juga bagi kita. Jangan salahkan jika mesjid Muhammadiyah dikuasai Salafi, wong warga Muhammadiyah juga jarang salat di masjid. Begitu kira-kira argumen yang sering penulis dengar. Bagi penulis argumen ini adalah otokritik yang bergizi yang harus ditindaklanjuti bersama.

  1. Pendekatan Intelektual

Mudir Ma’had Darul Arqam Garut yang sekaligus juga guru penulis Ayi Mukhtar, Lc, M.E.Sy pernah mengatakan kepada penulis: “Zaman dulu, jika ada paham di luar Muhammadiyah berusaha masuk ke dalam persyarikatan, maka oleh kader Muhammadiyah diajak diskusi, dan justru kader Muhammadiyah yang berusaha membuatnya ikut Muhammadiyah. Sekarang seolah-olah kita hanya panik dengan ancaman ideologi lain, dan kurang percaya diri dengan ideologi Muhammadiyah sendiri.”

Mendengar pernyataan itu penulis tersadar, bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Hari ini paradigma kita seolah bertahan dari gempuran ideologi Salafi, kita bertahan agar warga Muhammadiyah tidak terpengaruh paham lain.
Kenapa tidak kita ubah paradigma itu dengan bagaimana caranya supaya jamaah salafi tertarik untuk menjadi Muhammadiyah?

***

Hal ini tentu bisa dilakukan jika memang kita mempunyai bekal yang cukup untuk berdiskusi mengkritik Salafi sekaligus meyakinkan kelebihan Muhammadiyah.

Contohnya salafi menurut penulis bukanlah pengikut Salaf sejati. Namun mengikuti Salaf berdasarkan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Baz, Nashirudin Al Albani, dan Ibnu Utsaimin.

Kenyataannya dalam setiap tulisannya seringkali mengutip fatwa ulama-ulama di atas, tidak langsung fatwa sahabat atau tabiin.

Lagi pula jika kita lihat secara jujur, dialektika para sahabat yang merupakan generasi salaf sangatlah dinamis. Misalnya Bilal bin Rabah pernah berselisih dengan Umar bin Khattab tentang pembagian tanah ghanimah.

Bilal menganggap Umar telah menyalahi nash Alquran, sebaliknya Umar meyakini bahwa apa yang dilakukannya demi kemaslahatan.

Kisah ini menunjukan bahwa pada masa salaf sudah ada dua pemikiran yakni yang tekstual seperti Bilal dan kontekstual seperti Umar. Lantas kenapa kelompok salafi yang sekarang hanya mengakui pendekatan tekstual dan menyingkirkan pendekatan kontekstual?

Inilah yang membedakan ideologi salafi sekarang dengan salafi versi Muhammad Abduh. Dimana menurut Abduh kembali kepada Alquran dan sunnah berarti mendayagunakan akal dalam memahami Alquran dan sunnah untuk menjawab masalah kekinian. Tentu Muhammadiyah lebih mendekati salafisme Abduh dibanding dengan kaum salafi hari ini.

Konkretnya hari ini kader Muhammadiyah tidak boleh takut lagi berdiskusi dengan siapapun termasuk salafi.

  1. Pendekatan Spiritual

Menurut penulis, keunggulan Salafi yang memang harus diakui adalah bisa memenuhi dahaga spiritual jamaahnya. Spiritualitas yang kental juga bisa kita temui dalam komunitas jamaah tablig atau tarekat. Namun menurut Salafi (begitu juga Muhammadiyah) dua entitas di atas adalah cenderung bid’ah.  Sementara salafi mengklaim yang diajarkannya adalah Islam murni. Ini yang menjadi nilai plus salafi dibanding dengan komunitas Islam lain.

Ada yang mengatakan bahwa Muhammadiyah kering spiritualitasnya karena lebih fokus kepada membangun amal usaha. Penulis menganggap hal ini adalah otokritik yang bermanfaat walau bukan tanpa catatan.

Bagaimana Teladan Kiai Dahlan?

Djarnawi Hadikusumo dalam Buku Matahari-Matahari Muhammadiyah menggambarkan sosok KH Ahmad Dahlan sebagai berikut: Dari gelembung di bawah kedua matanya dapat ditandai bahwa dia kurang tidur malam, asyik membaca atau berpikir serta berdzikir kepada Allah.

Dalam hal berpakaian sangat sederhana namun bersih. Bersarung palikat yang dililit tinggi dari atas mata kaki, mengenakan baju jas tutup berwarna putih, kepalanya berpilitkan serban yang pantas letaknya. Kesemuanya itu menggambarkan pribadinya sebagai manusia taqwa kepada Allah,serba teliti dan hati-hati dalam setiap perkataan dan langkahnya.

Uraian di atas menggambarkan betapa Kiai Dahlan adalah seorang yang saleh secara spiritual kalau tidak disebut sufi. Bahwa dibalik kecerdasan dan gerakan Kiai Dahlan, terdapat sikap religus dan spiritual yang tinggi. Jika ingin meneladani Kiai Dahlan, maka harus bisa menyeimbangkan antara gerakan sosial dengan ibadah mahdhah.

Spiritualitas Muhammadiyah bukanlah spiritualitas yang menjumudkan. Namun spiritualitas yang menggerakkan. Aktifitas ibadah mahdhah baik wajib maupun sunnah bagi Muhammadiyah bukan hanya untuk meraih kepuasan batin semata, namun sebagai sarana men-charge diri agar semakin semangat dalam beramal saleh.

Jika ada warga Muhammadiyah yang lebih memilih salafi karena mendapatkan asupan spiritual dari salafi, maka kader Muhammadiyah harus bisa menunjukan dan membuktikan bahwa Muhammadiyah juga memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Kebutuhan asupan rohani mirip-mirip dengan kebutuhan jasmani. Ada orang yang makan sedikit sudah kenyang, ada juga yang makannya banyak.

Ada tipe orang yang kebutuhan spiritualnya lebih banyak dibanding yang lain. Muhammadiyah harus merangkul orang tipe ini dan memberikannya asupan yang dibutuhkan. Dengan tetap memberikan asupan intelektual dan melibatkannya dalam gerakan sosial. Tipe orang seperti inilah yang cocok dijadikan marbot di masjid-masjid Muhammadiyah.

Jangan sampai semua kader Muhammadiyah melakukan intisyar fil ardh namun tidak ada yang fokus di mesjid-mesjid Muhammadiyah. Muhammadiyah harus bisa mencetak kader-kader yang fokus dalam persoalan spiritual ini.

*Sekretaris Jendral DPP IMM 2018-2020

2 komentar

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda