Memimpin Itu (Seharusnya) Menderita

 Memimpin Itu (Seharusnya) Menderita
Ilustrasi. Sumber: Getty Images            
Oleh: Nur Azis Hidayatulloh*

 

Keserakahan tengah menimpa sebagian pemimpin kita, terbukti semakin maraknya pemimpin kita yang terjerembab dalam korupsi. Keteladan yang menjadi laku mereka khianati, hanya karena kesenangan sesaat. Bahkan Memimpin itu (seharusnya) menderita.

Kemerosotan teladan yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari berkurangnya sosok pemimpin kita yang mempunyai integritas. Semua orang sekarang bisa terjerembab pada lubang kehinaan, yang mungkin tidak pernah kita bayangkan selama ini. Puncak kejayaan seseorang bisa seolah runtuh seketika.

Ketika keputusan bertindak telah meluncurkan mereka dari track yang selama ini tidak ada dalam kamus pribadi mereka. Sistem telah membuat semua orang menjadi budak dari rutinitas yang bisa menjebak. Keharusan untuk bertindak sesuai mayoritas menjadi laku dalam hidup saat ini.

Bukan Pemimpin yang Ada Ketika Ada Maunya dan Uangnya

Seorang pemimpin yang dielu-elukan bisa saja terperosok dalam perilaku hina seperti korupsi dan diskriminasi modern, yakni kebijakan yang tak adil. Bahwa menjadi pemimpin di era seperti sekarang tidak bisa mengandalkan ketenaran dan kejayaan nama semata. Diperlukan mental yang kokoh dan tangguh mengemban amanah yang bisa saja menjatuhkan menjadi sehina-hinanya manusia.

Kehadiran sosok pemimpin yang memberikan keteladan cukup penting saat ini. Diperlukan pemimpin yang berdiri di atas penderitaan rakyat yang mereka pimpin. Pemimpin yang berada terdepan ketika rakyatnya membutuhkan, bukan pemimpin yang ada ketika ada maunya dan uangnya. Kasus korupsi yang menggerogoti dan memunculkan pesimisme akan adanya pemimpin bersih mencambuk kita semua yang masih mempunyai angan pemimpin yang bersih dan adil.

Kemunduran jumlah pemimpin yang berintegritas tidak lepas dari orientasi seseorang menginginkan dan berharap menjadi pemimpin. Karena sejatinya seseorang sebelum memegang kekusaan (publik) sudah memiliki citra sebagai pemimpin, yakni bagi diri sendiri.

Dari kesadaran inilah, sejatinya kita semua sadar bahwa hidup kita tidak bisa berjalan secara bebas dan mengalir begitu saja. Perlu adanya kompas diri yang harus ditanamkan sejak memimpin diri sendiri. Bagaimana bisa memimpin khalayak, apabila diri sendiri masih mementingkan ego sesaat (kenikmatan dunia) daripada ego global (kenikmatan kolektif).

Orientasi menjadi penting dimiliki pribadi sejak dini, karena orientasi berjalan seperti prinsip atau ideologi. Bisa menjadi kebiasaan (habit) karena sering digunakan dan dimulai sejak dini. Apabila memiliki orientasi yang berbasis nilai semisal tujuan (goals) hidup yang terarah maka akan menjadi jalan yang mengantarkan ke tujuan tersebut.

Memimpin Itu (Seharusnya) Menderita

Menjadi pemimpin dan memimpin bukanlah pekerjaan yang mudah dan murah. Pemimpin harus belajar tidak hanya mengendalikan satu atau dua orang, tapi beribu pasang kepala yang tidak seragam dalam pola pikirnya. Mereka dianugerahi oleh Tuhan masing-masing akal yang tidak seragam. Karenanya, penting untuk belajar kepemimpinan, dimulai sejak dini dengan memimpin pribadi sendiri.

Gambaran perilaku koruptif akhir-akhir ini bagaikan cambuk bagi kita semua. Bangsa kita membutuhkan pemimpin yang bisa memberikan nilai, baik bagi dirinya maupun rakyatnya. Nilai yang membersamai dalam hal pembelajaran tentang tata kelola pemerintahan yang bersih, anti diskriminasi dan ketidakadilan.

Pemimpin harus memberikan nilai ini disetiap gerak hidupnya, mereka terjun dalam dunia yang membawahi ribuan rakyatnya. Bukan hanya jabatan yang mereka berikan tapi harapan dan juga impian mereka hadirkan dalam setiap saat ketika bertemu sang pemimpin.

Krisis kepercayaan terhadap pemimpin bisa saja terjadi berkelanjutan apabila mereka yang menduduki jabatan tidak merubah krisis ini dengan harapan. Memberikan solusi atas mewabahnya gaya hidup pejabat yang serba mewah, memberikan teladan sederhana atas segala kondisi hidup kepada masyarakat. Seperti ungkapan KH Agus Salim bahwa “Memimpin itu Menderita” (Leiden Is Lijden).

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Avatar

RedaksiIB

IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam

Related post

3 Comments

    Avatar
  • I just want to say I’m new to weblog and actually savored you’re web-site. More than likely I’m want to bookmark your site . You really come with remarkable posts. Thanks a bunch for sharing your website.

  • Avatar
  • It?s difficult to locate knowledgeable people on this topic, however you seem like you know what you?re speaking about! Many thanks

  • Avatar
  • I’d should talk to you here. Which is not some thing I do! I quite like reading a post which will make people believe. Also, many thanks permitting me to comment!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.