Mengakhiri Kesadaran Teknokratis Muhammadiyah

0
327
Mengakhiri Kesadaran Teknokratis Muhammadiyah
Ilustrasi. Sumber: Suara Muhammadiyah
Oleh: Muhammad Afriansyah*

 

Mengakhiri kesadaran teknokratis Muhammadiyah tidak lepas dari bahasan tentang ideologi. Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah selalu menyerukan dan mengajak kepada seluruh umat manusia untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam, yaitu dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah senantiasa berupaya melakukan koreksi dan evaluasi terhadap berbagai pemikiran dan pengamalan keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka pemurnian di bidang aqidah dan ibadah. Disesuaikan dengan Alquran dan Sunah Rasulullah, di samping juga selalu berusaha untuk melakukan pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan. Mengikuti kemajuan zaman dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip Islam.

Apa Jadinya Muhammadiyah Tanpa Organisasi?

Identitas gerakan Muhammadiyah tersebut tetap terpelihara selama 107 tahun dalam kalender masehi. Hingga kini berkat adanya instrumen penting yang diyakini dan dilegalkan dalam Muhammadiyah sebagai suatu keniscayaan, yaitu organisasi.

Maka, tanpa menjadi suatu organisasi, bisa dipastikan hanya dalam sejarah kita bisa menjumpai dan mengenal Muhammadiyah. Bahkan tanpa menjadi organisasi, sangat mustahil kita bisa ber-Muhammadiyah.

Karena bentuknya yang berupa organisasi ini juga, Muhammadiyah memiliki 13 majelis dan 8 lembaga yang mengelola AUM. Juga 7 ortom (organisasi otonom) yang merupakan wadah perkaderan, dari tingkat nasional hingga desa-desa.

Tapi ada gejala lain yang muncul pada Muhammadiyah yang sudah besar nan mapan, yaitu gejala birokratisasi dalam tubuh Muhammadiyah. Gejala ini menjangkiti seluruh elemen persyarikatan, baik AUM, majelis, lembaga, bahkan ortom. Gejala ini dapat dideteksi dari beragam aktivitas dari setiap organ berupa sistem administrasi dan birokrasi yang diterapkan.

Saya akan ambil satu contoh umum, yaitu rapat. Sebagaimana organisasi pada umumnya, rapat menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk membahas berbagai permasalahan yang menyangkut organisasi, di samping juga untuk bersilaturahim antar anggota dan antar pimpinan.

Alih-alih berfungsi ganda, rapat lebih cenderung pada poin yang pertama, sehingga mau tidak mau poin kedua yaitu silaturahim terpengaruh dengan jadwal rapat. Kalau tidak diimbangi dengan pertemuan non-formal (selain rapat), maka silaturahim antar anggota dan antar pimpinan hanya terjadi sewaktu rapat berlangsung. Selebihnya hanya silaturahmi digital.

Baca Juga  Refleksi Hari Lahir ke 107 Muhammadiyah

Masih terdapat gejala birokratisasi lain, yang sesungguhnya tidak sesederhana contoh rapat di atas. Gejala birokratisasi ini sudah menjadi rutinitas (atau bahkan budaya) organisasi yang berlangsung secara terus-menerus. Oleh Kuntowijoyo ini disebut sebagai kesadaran teknokratis. Kebalikan dari kesadaran teknokratis adalah kesadaran ideologis.

Mengakhiri Kesadaran Teknokratis Muhammadiyah

Kuntowijoyo dalam esainya tersebut menjelaskan bahwa masyarakat modern adalah technological society, masyarakat teknologis. Masyarakat yang di dalamnya terdapat dominasi teknik. Yang dimaksud dengan teknik bukan hanya yang bersifat material, contohnya mesin (dalam rupa apa pun), namun juga gejalan non-material, yaitu organisasi.

Di dalam masyarakat teknologis inilah, kesadaran teknokratis sangat kentara memengaruhi aktivitas masyarakat, di hampir segala bidang kehidupan. Kesadaran yang merupakan dampak dari kemajuan teknologi ini, menimbulkan kekhawatiran akan menyusutkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan secara besar-besaran.

Segalanya hanya akan dilihat dari sudut pandang teknis. Manusia akan menjelma menjadi one dimensional man, manusia satu dimensi. Sensibilitas terhadap problematika semacam kesenjangan sosial, KKN, kondisi demokrasi negeri ini, penegakan HAM, berpotensi lenyap dari jangkauan pembahasan keseharian kita.

Agaknya ini cocok dengan Muhammadiyah. Selayaknya organisasi yang bebasis ideologi, tidak semestinya kesadaran teknokratis yang menjadi ruh gerakan persyarikatan. Ideologi Muhammadiyah yang sedari dulu sudah dirumuskan dan hingga kini masih terus dikaji, sudah semestinya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari warga Muhammadiyah. Di mana pun, kapan pun, dalam situasi apa pun, dan di posisi apa pun di persyarikatan.

Setidaknya hampir 2 bulan ini, perbincangan mengenai keberadaan ideologi salafi di tubuh persyarikatan menjadi polemik tersendiri bagi warga Muhammadiyah, secara online. Polemik tersebut kira-kira diawali oleh tulisan berisi kegelisahan salah satu pimpinan Muhammadiyah di Jawa Timur yang mengeluhkan banyak dari karyawan PKU Muhammadiyah menampilkan simbol-simbol paham salafi dalam bekerja.

Baca Juga  Jihad Konstitusi Muhammadiyah: Model Baru Politik Kaum Modernis

Disusul kemudian oleh Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas yang juga membicarakan gejala salafi yang semakin aktif bergerak di tubuh persyarikatan. Bahkan hingga “menguasai” masjid-masjid Muhammadiyah.

Masih banyak lagi problem-problem persyarikatan yang membicarakan persinggungan ideologi Muhammadiyah dengan ideologi lain. Persinggungan ini tidak sekadar dalam tataran perdebatan wacana ilmiah. Namun sudah merembes pada perilaku menampakkan simbol-simbol paham.

Bagi beberapa pimpinan Muhammadiyah, gejala ini sangat “meresahkan” dan “membuat gerah” kalau bukan malah sudah merasa “kebakaran jenggot”. Pada kasus karyawan yang bekerja di PKU Muhammadiyah di atas, solusi sementara yang dilakukan oleh pimpinan AUM adalah dengan menegaskan peraturan PKU mengenai cara berpakaian bagi para karyawannya.

Muhammadiyah Rumah Besar Umat Manusia

Namun, hal ini justru akan semakin menyuburkan kesadaran teknokratis. Bakal terus mendominasi berjalannya aktivitas pelayanan PKU Muhammadiyah.

Bukan mustahil gejala ini akan menjalar ke semua bagian organ persyarikatan. Pimpinan majelis, lembaga, ortom, bahkan pimpinan Muhammadiyah dari semua level kepemimpinan. Tentu jika tidak segera diatasi dengan cepat dan tepat. Kasus yang terjadi di PKU Muhammadiyah detik ini tentunya juga terjadi di semua Amal Usaha Muhammadiyah, sekolah, perguruan tinggi, bahkan di masjid-masjid milik Muhammadiyah.

Muhammadiyah adalah rumah besar bagi seluruh umat manusia. Kalau ada pimpinan Muhammadiyah yang mengeluarkan pernyataan demikian, sebagai warga Muhammadiyah saya 100% sepakat tanpa keraguan sedikitpun. Hal inilah juga yang menjadikan rumah besar ini menjadi sangat riskan. Besar kemungkinan diperebutkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap kelangsungan bangunan beserta isi rumah besar ini.

Pihak-pihak tersebut tentunya hanya menginginkan kelangsungan kariernya dan para koleganya tetap utuh lestari. Tanpa memperdulikan kelangsungan regenerasi kepemimpinan lewat perkaderan.

Pemersatu Muhammadiyah

Berbagai elemen masyarakat khususnya umat Islam dari berbagai golongan dan paham berbondong-bondong memasuki rumah besar. Dengan berbagai macam kepentingan yang dibawa.

Hal ini sangat berpotensi menjadikan rumah besar ini sebagai medan perang kepentingan berbagai golongan dan paham. Rumah besar ini memang tidak pernah menolak siapa pun dan pihak mana pun untuk bekerja sama dalam hal apa pun. Baik itu dari umat Islam sendiri maupun dari kalangan non-Islam. Muhammadiyah nyaris punya segalanya.

Baca Juga  111 Tahun Buya HAMKA : Dari Panji Masyarakat Hingga ke Hati Umat

Dalam sifat Muhammadiyah yang terkandung dalam rumusan Kepribadian Muhammadiyah, poin kedua: memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah; dan poin kedelapan: kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam, serta membela kepentingannya; dengan tegas menyebutkan sikap rumah besar ini bagi siapa pun itu yang hendak bekerjasama dengan rumah besar ini.

Kalau memang benar Muhammadiyah adalah rumah besar umat manusia yang bersedia menaungi kehidupan banyak orang dan mau bekerjasama dengan pihak mana pun, maka Muhammadiyah harus siap dengan konsekuensi perang kepentingan yang bakal terus berlangsung di dalam tubuhnya.

Salah satu yang paling berat adalah perang kepentingan yang berdasarkan paham keagamaan yang berbeda dari yang dianut oleh Muhammadiyah. Jika demikian adanya, lantas apa yang menyatukan kita di Muhammadiyah? Hingga hari ini, satu-satunya jawaban yang masih dapat dipertanggungjawabkan adalah organisasi.

Ideologis-Teknokratis Beriringan

Maka, penguatan ideologi dan konsolidasi organisasi menjadi langkah konkret dan realistis untuk mengakhiri kesadaran teknokratis Muhammadiyah. Hingga kini ideologi dan konsolidasi organisasi masih terus dijalankan oleh segenap elemen di persyarikatan. Penguatan ideologi dan konsolidasi organisasi adalah dua gerakan yang sekaligus menanamkan (internalisasi) kesadaran ideologis dan kesadaran teknokratis.

Dua kesadaran ini tetap harus berjalan beriringan, meski dengan porsi yang kadang  fluktuatif sesuai dengan situasi, kondisi, dan toleransi. Sebagai organisasi yang berbasis ideologi, mutlak adanya kebutuhan untuk terus menerus diinternalisasikan kepada segenap orang yang tetap bernaung di dalam rumah besar ini. Rumah besar umat manusia, Muhammadiyah.

 

*) Anggota Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2019/2020. Tim Research and Development Djazman Research Institute


IBTimes.ID - Kanal Islam Berkemajuan, dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi Kamu ke Rekening

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here