Ada ironi yang sedang kita hadapi hari ini. Di tengah banjir informasi, kita justru semakin miskin kedalaman. Kita membaca semakin banyak, tetapi memahami semakin sedikit. Kita mengenal semakin banyak tokoh, tetapi semakin jarang menemukan teladan. Mungkin karena itulah, kepergian Prof. Chamamah Soeratno pada 7 Juli 2026 terasa bukan sekadar kehilangan seorang Guru Besar, filolog, atau mantan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah. Kita kehilangan seorang intelektual yang sepanjang hidupnya menunjukkan bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menerangi kehidupan.
Prof. Chamamah adalah generasi cendekiawan yang percaya bahwa membaca adalah cara merawat peradaban. Sebagai filolog, beliau mengabdikan hidupnya meneliti manuskrip-manuskrip lama. Namun sesungguhnya, yang beliau rawat bukan sekadar naskah, melainkan ingatan. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung yang menjulang, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga memori, menghargai pengetahuan, dan belajar dari perjalanan sejarahnya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini, beliau memilih ketenangan ilmu. Di saat banyak orang berlomba menjadi yang paling terdengar, beliau lebih memilih menjadi yang paling bertanggung jawab terhadap setiap gagasan yang disampaikan. Pengaruhnya tidak lahir dari sensasi, tetapi dari keluasan wawasan, ketekunan membaca, dan kerendahan hati dalam membimbing orang lain.
Saya berkesempatan merasakan langsung keteladanan itu. Seusai Musyawarah Wilayah Muhammadiyah DIY, ketika saya dipercaya menjadi Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, saya menulis sebuah opini di Kedaulatan Rakyat tentang hubungan Muhammadiyah dan Keraton Yogyakarta. Saya tidak pernah menduga tulisan itu sampai kepada Prof. Chamamah.
Suatu hari beliau menelepon saya. Hampir satu jam kami berdiskusi. Beliau mengapresiasi gagasan yang saya tuliskan, tetapi juga mengajukan sejumlah catatan dan pertanyaan yang memperkaya perspektif saya. Tidak ada nada menggurui. Tidak ada kesan sedang mengoreksi. Yang saya rasakan adalah seorang guru yang dengan tulus sedang merawat tradisi berpikir.
Percakapan singkat itu meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pujian terhadap sebuah tulisan. Saya melihat bagaimana seorang intelektual memandang ilmu. Bagi Prof. Chamamah, ilmu tidak berhenti di ruang kuliah, perpustakaan, atau jurnal ilmiah. Ilmu harus hadir dalam denyut gerakan, memberi arah bagi organisasi, membantu membaca realitas, dan menjadi penuntun dalam mengambil keputusan. Keilmuan dan pengabdian bukanlah dua jalan yang berbeda. Keduanya adalah satu tarikan napas yang sama.
Pelajaran itulah yang terasa semakin mahal hari ini. Kita tidak kekurangan orang berpendidikan. Setiap tahun lahir ribuan sarjana, magister, doktor, bahkan profesor. Namun gelar akademik tidak selalu melahirkan keluasan pandangan. Kepintaran tidak selalu menghadirkan kebijaksanaan. Kita membutuhkan lebih banyak intelektual yang bersedia mendengarkan sebelum berbicara, membaca sebelum menyimpulkan, dan membimbing tanpa merasa paling benar.
Muhammadiyah dibangun di atas fondasi ilmu. Perintah pertama yang turun kepada Nabi bukanlah bekerja, melainkan iqra’, membaca. Karena itu, gerakan ini akan tetap hidup selama tradisi membaca, berpikir, dan berdialog terus dirawat. Prof. Chamamah telah memperlihatkan bahwa ilmu yang sejati bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga melahirkan manusia-manusia yang mencintai ilmu dan terdorong untuk terus belajar.
Barangkali di situlah makna terdalam mengenang beliau.
Kita tidak sedang berhenti pada sosoknya, melainkan melanjutkan jejak yang telah beliau tinggalkan. Jejak itu tidak hanya terdapat dalam buku-buku yang beliau tulis atau manuskrip yang beliau sunting, tetapi juga dalam setiap pikiran yang menjadi lebih jernih karena nasihatnya, dalam setiap penulis yang menjadi lebih hati-hati karena bimbingannya, dan dalam setiap kader yang belajar bahwa organisasi memerlukan ilmu sebagaimana ilmu memerlukan pengabdian.
Kini Prof. Chamamah telah berpulang. Namun saya percaya, seorang intelektual sejati sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir melalui gagasan yang diwariskan, melalui murid-murid yang diterangi pikirannya, dan melalui nilai-nilai yang terus hidup dalam gerakan yang dicintainya.
Selamat jalan, Prof. Chamamah Soeratno. Terima kasih telah mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang dikuasai, melainkan sesuatu yang diabdikan. Dan mungkin, itulah jejak yang tidak akan pernah habis dibaca oleh waktu.
(Editor: Anas)


