Menghidupkan Spiritualitas di Era Modern dengan Neo Sufisme
Tasawuf

Menghidupkan Spiritualitas di Era Modern dengan Neo Sufisme

4 Mins read

Pada era modern ini yang banyak sekali permasalahan yang muncul dalam kehidupan manusia, tentu saja diluar kemudahan-kemudahan yang ia tawarkan bagi manusia. Namun disamping itu modernitas juga menimbulkan krisis multi dimensi yang tak berkesudahan yang dialami oleh manusia modern di era dewasa ini.

Di antara krisis yang sedang dialami oleh manusia modern tersebut adalah krisis spiritual yang begitu parah, yang tidak pernah terjadi sepanjang perjalanan sejarah peradaban manusia. saat ini manusia tengah terjebak dalam dunia paradoks yang menggiring mereka ke dalam keagamaan yang absurd dan profan.

Seorang pembaharu muslim dari Pakistan yang terinspirasi dari Ibnu Taimiyah, mencoba menjawab permasalahan yang tengah dialami oleh manusia modern saat ini dengan memunculkan konsep kesufian yang baru yang ia sebut dengan neo-sufisme. Pembaharu itu adalah Fazlur Rahman (1919-1988). Sebenarnya selain Rahman masih banyak sekali para tokoh muslim yang mengggagas neo-sufisme dengan bahasa yang lain, namun dengan konteks yang kurang lebih sama.

Latar Belakang Munculnya Neo Sufisme

Neo sufisme pertama kali dimunculkan oleh pemikir muslim kontemporer, yakni Fazlur Rahman dalam bukunya, “Islam” (1979). Kemunculan istilah itu tidak begitu saja diterima oleh para pemikir muslim, tetapi justru memancing polemik dan diskusi yang luas.

Sebelum Fazlur Rahman, sebetulnya di Indonesia Hamka telah menampilkan istilah tasawuf modern dalam bukunya ”Tasawuf Modern”. Tetapi dalam buku ini tidak ditemui kata neo-sufisme.

Dalam keseluruhan isi buku ini, terlihat adanya kesejajaran prinsip-prinsipnya dengan tasawuf Al-Ghazali kecuali dalam masalah uzlah. Jika Al-Ghazali mensyaratkan uzlah dalam penjelajahan menuju kualitas hakikat, maka Hamka justru menghendaki agar seseorang pencari kebenaran hakiki tetap aktif dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Menurut Fazlur Rahman, perintis apa yang ia sebut neo sufisme, adalah Ibnu Taimiyah (w. 728H) yang kemudian diteruskan oleh muridnya Ibnu Qayyim, yaitu tipe tasawuf yang terintregasi dengan syariah.

Baca Juga  Mengenal Perbedaan dengan Pemikiran Kalam Ibnu Qayyim

Kebangkitan sufisme di dunia Islam dengan sebutan neo sufisme, nampaknya tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama seperti penolakan terhadap kepercayaan yang berlebihan kepada sains dan teknologi, selaku produk modernisme. Modernisme dinilai telah gagal memberikan kehidupan yang bermakna bagi manusia, karenanya orang kembali ke agama. Karena, salah satu fungsi agama adalah memberikan makna bagi kehidupan.

Di samping itu, menurut Rahman neo-sufisme ini muncul karena penolakan terhadap konsep zuhud pada kaum sufi terdahulu yang cenderung melakukan isolasi diri. Yang menimbulkan keganjilan dalam beragama Islam. Hal ini menurut Rahman tidaklah sesuai dengan tuntunan al-Quran dan al-Hadist. karena hal itu tidaklah membuat seseorang beragama Islam secara kaffah.

Konsep Neo Sufisme

Menurut Fazlur Rahman selaku penggagas istilah ini, neo sufisme adalah ”reformed sufism”, sufisme yang telah diperbaharui. Jika pada era kecemerlangan sufisme terdahulu, aspek yang paling dominan adalah sifat estatik-metafisis atau mistis filosofis, maka dalam sufisme baru ini digantikan atau di reform dengan prinsip-prinsip Islam ortodoks.

Fenomena neo sufisme yang fazlur Rahman munculkan hampir sama dengan yang dilkukan Tariqah Sanusiyah yang ada di Afrika Utara. Tariqah ini didirikan oleh Muhammad bin Ali-al-Sanusi (w. 1275 H) di Makah. Tariqah Sanusiyah adalah sebuah Tariqah yang menerapkan kesufian yang ketat namun mereka aktif dalam praksis kemasyarakatan.

Tujuan dari neo sufisme sendiri sebenarnya adalah penekanan yang lebih intens pada penguatan iman sesuai dengan prinsip-prinsip aqidah Islam dan penilaian terhadap kehidupan duniawi sama pentingnya dengan kehidupan ukhrawi. Prinsip ini dikenal dengan penyeimbangan (tawazun) antara yang bersifat duniawi dengan yang bersifat ukhrawi agar tercapainya pemahaman Islam secara kaffah, tidak secara parsial saja.

Baca Juga  Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi, Mana yang Baik?

Sikap puritanis pendukung neo sufisme menyebabkan perbedaan dengan paradigma sufisme terdahulu yang mengarahkan para pengikutnya untuk membenci duniawi sehingga mereka pasif. Berlainan dengan neo sufisme, yang malah mendorong dan memotivasi para pengikutnya agar aktif dan kreatif dalam kehidupan ini.

Sufisme terdahulu terlihat cenderung tertutup terhadap perkembangan pemikiran diluar, sehingga pengertian uzlah itu bukan saja dalam arti lahiriyah, tetapi juga dalam pengertian uzlah dari pendapat yang beragam. Lain halnya dengan neo sufisme yang justru sangat mendukung keanekaragaman pemahaman keagamaan dan hidup dalam pluaritas masyarakat manusia.

Neo sufisme berupaya untuk menampung berbagai paham yang berkembang baik yang bersifat hukum atau fiqih, aspek teologis maupun aspek sufisme untuk kemudian dikristalisasikan. Mereka tidak menutup diri dari perkembangan dunia dan peradaban manusia, tetapi justru sangat menekankan pentingnya perlibatan diri dalam masyarakat secara intensif.

Cara pandang dan gaya hidup yang demikian dituangkan dalam semacam dotrin yang disebut “Ruhaniyah Al-Ijtima’iyah” atau spiritualisme sosial, istilah ini berasal dari judul buku karangan Said Ramadlan, yaitu seorang penggerak neo-sufisme di Jeneva.

Tujuan utama dari neo-sufisme bukanlah ittihad, fana’ baqa’, hullul, atau wahdatul wujud. Namun yang menjadi tujuan neosufisme adalah kesalehan sosial yang imbang antara esoteris dan eksoteris.

Perbedaan Dan Persamaan Neosufisme Dengan Tasawuf Terdahulu

Dari keseluruhan pemaparan di atas, terlihat adanya persamaan dan perbedaan antara sufisme terdahulu dengan neo-fisme. Yang penting dicatat adalah sebagai berikut:

Pertama, kelahiran sufisme klasik dan kebangkitan neo-sufisme nampaknya termotivasi oleh faktor-faktor yang sama. Yakni gaya kehidupan yang glamour dan materistik-konsumeristik, formalisme pemahaman, pengalaman keagamaan sebagai imbas dari rasionalisme, dan faktor kekerasan perebutan hegemoni kekuasaan yang merasuki seluruh aspek kehidupan manusia.

Baca Juga  Menghidupkan Spiritualitas Modern Bersama Neo-Sufisme

Kedua, kesucian jiwa rohaninya. Bahwa keduanya sama mendambakan dan menekankan betapa urgennya kebeningan dan kesucian hati nurani dalam segala aspek kehidupan umat manusia. Hal ini sering disebut dengan tazkiyah an-nafs.

Ketiga, pendekatan esoteris. Keduanya sama berkeyakinan, bahwa untuk memahami dan menghayati mana keagamaan harus melalui pendekatan pengalaman metafisis atau al-kasyf. Namun dalam dalam hal kemutlakan nilai kebenarannya, terlihat antara keduanya ada perbedaan yang tajam.

Sufisme terdahulu meyakini secara mutlak kebenaran yang diperoleh melalui esoteris-al-kasyf, tetapi neosufisme akan menyakini kebenaran itu apabila sejajar dengan syariat. Di samping itu, sufisme terdahulu hanya mengakui pendekatan esoteris sebagai satu-satunya yang dapat digunakan dalam rangka penghaatan keagamaan. Sedangkan neosufisme tetap mengakui terhadap pluralitas pendapat.

Keempat, dzikrullah dan muraqobah. Keduanya sama-sama meyakini betapa pentingnya masalah ini dalam segala situasi demi tercapainya ridha Allah. Kelima, sikap ‘uzlah. Jika sufisme terdahulu menempuh cara hidup ‘uzlah total, maka neosufisme menempuh cara itu hanya sewaktu diperlukan saja. Sekedar untuk menyegarkan wawasan melalui musahabah-introspeksi.

Keenam, zuhud, askestisme. Sufisme terdahulu “membenci” kehidupan duniawi karena dianggap menghalangi pencapaian tujuan. Tetapi, sufisme baru menyakini kehidupan duniawi ini sangat bermakna dan sangat penting. Oleh karena itu, kehidupan duniawi harus diperjuangkan dan harus disesuaikan dengan kepentingan ukhrawi.

Menurut pandangan ini, makna kehidupan duniawi tergantung pada keterkaitannya dengan nilai ukhrawi yang dihasilkan aktivitas duniawi itu. Karena mereka berkeyakinan, bahwa neosufisme menjadi satu-satunya alternatif kultur yang dapat mengkonter kultur materialisme-konsumeris dan hedonis.

Editor: Yusuf

Avatar
6 posts

About author
Peneliti Studi Islam dan Penulis Essai Lepas
Articles
Related posts
Tasawuf

Tanpa Renungan, Agama Tak Lagi Berarti Apa-Apa

5 Mins read
Manusia yang Luput Merenung Pernahkah Anda sejenak meletakkan segala kesibukan? Meletakkan segala kewajiban? Kemudian, mencoba menikmati kenyataan. Kenyataan, atau realitas, baik natural…
Tasawuf

Uzlah Sangat Penting Bagi Masyarakat Modern

4 Mins read
Uzlah Perspektif Al-Ghazali Perubahan sosial abad modern mengalami kemerosotan cukup drastis, di mana arusnya mengalami serangan ideologi yang didominasi oleh pola kehidupan…
Tasawuf

Memahami Tasawuf Modern Buya Hamka

4 Mins read
Buya Hamka dan Tasawuf Modern Tasawuf Modern–Akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 dikenal dengan masa Renaissance atau masa kebangkitan bagi bangsa…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa