back to top
Kamis, September 3, 2026

Menuju Muktamar ke-49, Muhammadiyah Persiapkan Risalah Kesemestaan

Lihat Lainnya

IBTimes.IDMuhammadiyah tengah menyiapkan pijakan baru untuk memperluas kiprahnya melampaui batas negara. Gagasan tersebut diwujudkan melalui penyusunan Risalah Kesemestaan Muhammadiyah, yang diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi Muhammadiyah menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan pada 2027.

Rencana penyusunan Risalah Kesemestaan Muhammadiyah disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saad Ibrahim dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (28/8/2026).

Menurut Saad, dokumen tersebut bukan sekadar rumusan administratif organisasi. Risalah Kesemestaan Muhammadiyah lahir dari kebutuhan untuk menerjemahkan semangat dakwah Islam yang memiliki pesan kemaslahatan bagi seluruh manusia ke dalam gerakan Muhammadiyah di tingkat global.

Saad melihat dimensi internasional dalam Islam telah muncul sejak masa awal sejarahnya. Ia mencontohkan hijrah Nabi Muhammad SAW serta hijrah Utsman bin Affan ke Habasyah sebagai bagian dari sejarah yang menunjukkan bahwa penyebaran Islam sejak awal tidak hanya berkutat di Jazirah Arab.

“Karena itu ini namanya semacam upaya untuk membangun patriotisme, untuk berkiprah secara internasional,” ungkapnya.

Memperluas Gerakan, Memperkuat Kontribusi

Dalam pandangan Saad, internasionalisasi Muhammadiyah tidak semestinya dimaknai sebatas memperbanyak struktur organisasi di luar negeri. Perluasan tersebut harus berjalan bersama upaya menghadirkan kontribusi nyata dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat global.

“Maka kalau Muhammadiyah kemudian berusaha untuk membangun semangat dalam konteks spirit, dalam konteks patriotisme, untuk internasionalisasi itu adalah konsekuensi logis dan sudah niscaya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Alasan Tidak Ada Wali di Muhammadiyah!

Karena itu, Risalah Kesemestaan Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi salah satu landasan untuk membaca posisi dan peran Persyarikatan dalam menghadapi persoalan global.

Saad menjelaskan bahwa internasionalisasi Muhammadiyah dapat ditempuh melalui dua jalur. Pertama, pendekatan struktural dengan memperkuat jejaring serta kelembagaan Muhammadiyah di berbagai negara. Kedua, pendekatan kultural melalui peningkatan kontribusi warga Muhammadiyah dan masyarakat Muslim dalam lingkungan sosial masing-masing.

Pendekatan kultural menjadi penting, khususnya di negara-negara dengan populasi Muslim minoritas. Kehadiran Muhammadiyah diharapkan mampu menunjukkan wajah Islam yang membawa kedamaian, kemajuan, dan kemaslahatan.

Dalam konteks tersebut, Risalah Kesemestaan Muhammadiyah menjadi upaya untuk merumuskan arah gerakan agar internasionalisasi tidak berhenti pada ekspansi kelembagaan. Dokumen ini diarahkan untuk memperkuat pemikiran dan orientasi dakwah Muhammadiyah dalam konteks masyarakat dunia.

Menjelang Muktamar ke-49 di Medan pada 2027, Risalah Kesemestaan Muhammadiyah menjadi salah satu gagasan yang memperlihatkan bagaimana Persyarikatan sedang mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman yang semakin global.

Dengan demikian, Risalah Kesemestaan Muhammadiyah dapat menjadi jembatan antara akar gerakan yang telah dibangun selama lebih dari satu abad dengan tanggung jawab Muhammadiyah untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi kemanusiaan dan peradaban dunia. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru