Meraih Kebenaran Agama Tiada Henti - IBTimes.ID
Akhlak

Meraih Kebenaran Agama Tiada Henti

5 Mins read

Bagi yang ateis, mungkin saja institusi atau agama secara lembaga dianggap kurang penting. Sikap tersebut bisa saja disebabkan cara pandang yang “miring” melihat pengikut agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan yang saling klaim kebenaran, dan terkadang tersulut api permusuhan hingga menjadi konflik horizontal. Sehingga, muncul paham yang berpandangan “terbalik” yakni: bertuhan tanpa beragama.

Setiap agama memiliki dogma, doktrin, dan ritus masing-masing yang bersumber dari Kitab Suci dan risalah Nabi atau Rasul. Hanya sejauh mana dogma, doktrin, dan ritus itu mampu mengantarkan umat beragama pada kecerdasan pikiran, ketercerahan batin, dan keteguhan komitmen secara spiritualitas.

Baik yang ateis maupun yang teis, potensi konflik tidak dapat dihindarkan. Baik atas nama agama maupun non-agama (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan negara). Sebagaimana siapa ciptaan Tuhan konflik merupakan sarana pendewasaan manusia. Seperti Bertarand Russel menyatakan, “Manusia secara abadi terlibat dalam tiga konflik dasar, yaitu melawan alam, melawan orang lain, dan melawan dirinya sendiri” (Russel, 1951: 18).

Jadi, orang-orang ateis bisa saja menganggap agama sebagai sumber konflik. Namun antara diri mereka dan alam pun sering memunculkan konflik. Dan pada suatu masa, mereka pun akan mengalami konflik batin dalam diri mereka sendiri.

Maka wajar, Sastraperadja berpendapat, bahwa agama merupakan sared canopy (kanopi sakral) yang melindungi manusia dari chaos, situasi tanpa arti.

Karena lewat Kitab Suci dan risalah Nabi atau Rasul, menuntun pemeluk agama ke jalan kebenaran. Tuhan lewat pesan Langit membimbing manusia untuk mengangkat kemuliaan manusia dalam kemanusiaan. Risalah para Nabi atau Rasul mengajarkan teladan sebagai moral dalam menapaki kehidupan. Dan melalui ritus atau peribadatan, menjadikan pengikut agama memiliki estetika hidup dalam pergaulan sesama hamba Tuhan di bumi.

Signifikansi Agama Secara Privasi-Sosiologis

Sedemikian signifikansinya agama bagi umat manusia, tentu dikarenakan agama merupakan wilayah privasi, baik secara pribadi maupun sosial.

Manusia membutuhkan “peta” hidup yang jelas dari mana awal dan akhir yang akan dijalani setiap fase kehidupan yang dijalani. Manusia memerlukan “jangkar” hidup yang arungi setiap detak jam dari waktu ke waktu. Dan manusia ingin bersila pada akar yang kuat, bersandar pada pohon yang kokoh, bernaung pada dahan yang rindang, serta menikmati “buah” yang segar dan bergizi.

Baca Juga  Memaafkan Tak Berhenti pada Momen Lebaran

Menurut Thomas F. O’Dea dalam buku Sosiologi Agama, menyebutkan ada enam fungsi agama. Adapun fungsi agama itu, yakni:

Pertama, agama mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu di luar dirinya. Ia memberikan dukungan moral dari ketidakpastian hidup manusia. Ia juga memberikan berbagai alternatif penyelamatan dari kekecewaan dan kesedihan, serta kegelisahan manusia. Dengan demikian, agama menyediakan sarana emosional bagi manusia, menopang nilai-nilai dan tujuan yang telah terbentuk, memperkuat moral, dan membantu mengurangi kebencian.

Kedua, agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui pemujaan dan peribadatan dengan memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di tengah ketidakpastian dalam hidupnya, serta dalam menghadapi perubahan sejarah diri.

Ketiga, agama mensucikan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Agama juga mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu. Menempatkan disiplin kelompok di atas kepentingan dan dorongan individu.

Keempat, agama dapat memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlembaga yang dapat dikaji kembali secara kritis.

Kelima, agama memberikan fungsi identitas yang sangat penting. Agama memberikan kesempatan bagi individu untuk mengenal dirinya, baik pada masa lampau maupun masa mendatang yang tak terbatas. Agama memperluas ego manusia dengan memberikan spirit bagi alam semesta. Demikian juga alam semesta menjadi berarti bagi dirinya.

Keenam, agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia. Perkembangan usia seseorang mempengaruhi karakteristik tingkat keberagamaan manusia (O’Dea, 1994: 26-29).

***

Jadi, beragama bukanlah persoalan identitas pada KTP. Akan tetapi, beragama sesungguhnya mencari pengikat “tali-batin” supaya kokoh dan tak rapuh. Kejiwaan dan emosional manusia memerlukan ketercerahan dan peneguhan, yang dipandu melalui Kitab Suci dan ritus atau ibadah.

Agama bukanlah candu! Agama adalah kecenderungan kejiwaan dan emosional manusia untuk memiliki sandaran harapan dan tumpuan hidup yang mampu menguasai akal, kalbu, nurani, dan roh suci manusia. Maka kekuatan gaib itu adalah Tuhan dan risalah Nabi dan Rasul.

Baca Juga  Sunni-Syiah di Indonesia: Mungkinkah Terjadi Integrasi?

Signifikansi Agama Secara Publik-Sosiologis-Antropologis

Menurut Talcott Person dalam buku The Social System, bahwa agama dan integrasi nilai, dalam kepentingan bersama, masalah nilai-nilai yang dianut di masyarakat merupakan hal yang penting. Biasanya persoalan nilai bersangkut dengan institusi keagamaan. Dalam arti bahwa agama merupakan hal yang penting di dalam masyarakat. Dengan agama, nilai-nilai yang ada dan terbentuk di masyarakat akan mendapatkan makna akhir bagi setiap manusia. Contoh kasus di Uni Soviet, komunisme telah melakukan penekanan terhadap agama. Tetapi, kenyataannya agama tidak dapat dilemahkan oleh gerakan komunisme, bahkan sebaliknya gerakan komunisme telah menguatkan dan memenangkannya (Person, 1951: 162).

Walaupun ada yang menganggap agama dan budaya itu relatif. Namun, esensi agama tentu berbeda dengan budaya. Ritus berupa ibadah mahdah dan ghairu-mahdah sering dipahami sebagai budaya. Substansi ritus atau ibadah sesungguhnya sesuatu yang sakral dan bersifat ketuhanan. Ritus atau peribadatan tidak lahir dari pemikiran manusia, akan tetapi merupakan panduan dari Kitab Suci dan Tuhan serta risalah Nabi dan Rasul.

Dalam Islam, kebudayaan bisa saja seperti: masjid, surau, syair/nasyid, qasidah, kaligrafi, kuburan, pesantren, perayaan, dll. Yang semua itu terlahir dari pemikiran dan perkembangan zaman. Baik berupa artikulasi, asimilasi, maupun adaptasi budaya.

Beragama Sebagai Fitrah Kemanusiaan: Mencerahkan dan Meneguhkan

Beragama sesungguhnya merupakan fitrah manusia. Karena manusia memiliki potensi akal, kalbu, nurani, dan roh, seharusnya bisa memahami hakikat penciptaannya, seperti firman Allah “Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat {51}: 56)

Dalam beragama pun, Tuhan memberikan hak prerogatif manusia untuk memilih, seperti disebutkan dalam pesan Langit-Nya; “Tidak boleh ada paksaan dalam agama, sebab telah jelas berbeda kebenaran dan kesesatan…” (QS. Al-Baqarah {2}: 256)

Kesadaran keagamaan dan keberagaman agama pun harus dipahami sebagai “kehendak” dan “keinginan” Tuhan tanpa harus memaksakan keyakinan agama antar umat beragama, sebagaimana firman-Nya: “Jika seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu akan beriman setiap orang di muka bumi, semuanya. Apakah engkau (Muhammad) memaksa manusia sehingga beriman semua? (QS. Yunus {10}: 99).

Baca Juga  Ibrah Kesabaran Nabi Ayyub dalam Pandemik COVID-19

Kewajiban umat beragama adalah mengajak umat manusia untuk menerima kebenaran agama, mungkin saja ada yang menerima dan ada yang menolak. Allah pun telah menyinyalir hal tersebut, seperti firmanNya: “Jika mereka menolak (seruanmu, Muhammad), sesungguhnya engkau hanyalah berkewajiban menyampaikan berita yang terang.” (QS. Al-Nahl {16}: 82).

***

Komitmen untuk teguh di jalan kebenaran adalah sangat signifikan sekali. Sebagaimana pesan langit menjelaskan: “Katakan (wahai Muhammad), ‘Kebenaran itu berasal dari Tuhanmu sekalian. Maka barangsiapa mau percaya, silakan percaya dan barangsiapa mau menolak, silakan menolak.’ “Sesungguhnya Kami (Tuhan) menyediakan bagi orang-orang yang zalim (menolak Kebenaran) api neraka yang nyalanya meliputi penjuru…sedangkan mereka yang percaya (kepada Kebenaran) dan berbuat baik, benar-benar Kami tidak akan mengabaikan balasan baim siapa saja yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi {29-30)

Apabila kebenaran ajaran agama telah dipahami hingga menjadi wawasan, maka akan terikat buhul “tali-batin” dengan rasa nyaman beragama, seperti firman Allah: “Dialah (Allah) yang menurunkan rasa tentram dalam jiwa orang-orang yang beriman agar mereka bertambah dalam iman beserta iman mereka (yang ada dari semua) (QS. Al-Fath {48}:4).

Rajutan keimanan yang terjalin dan berkelindan dalam kalbu senantiasa kokoh, tercerahkan, dan meneguhkan, sebagaimana pesan langit Ilahiah: “Mereka (orang yang kembali kepada Allah) itu semuanya beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan ingat (dzikir) kepada Allah. Ketahuilah, dengan ingat kepada Allah hati menjadi tentram.” (QS. Al-Ra’d {13}: 28)

Maka, tugas pengikut agama dan tokoh agamalah yang harus senantiasa berperan aktif dalam mencerdaskan, mencerahkan, dan meneguhkan kalbu setiap pemeluk agama. Agama tidak cukup hanya normatif dalam Kitab Suci tapi agama harus aktif dalam laku hidup; doktrin dan dogma tidak terejawantahkan tanpa usaha pemeluk dan peran tokoh agama mengapresiasi dalam kerja-kerja kemanusiaan; dan ritus ibadah tidak terkesan sebagai simbolistik kesalahan ritual, akan tetapi harus berkembang dalam kesalehan sosial-kemanusiaan.

Avatar
30 posts

About author
Alumnus Program Pascasarjana (PPs) IAIN Kerinci Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Kosentrasi Studi Pendidikan Karakter. Pendiri Lembaga Pengkajian Islam dan Kebudayaan (LAPIK Center). Aktif sebagai penulis, aktivis kemanusiaan, dan kerukunan antar umat beragama di akar rumput di bawah kaki Gunung Kerinci-Jambi. Pernah mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam “Ummul Quro” Semarang.
Articles
Related posts
Akhlak

Psikologi Islami: Karakter Sabar dalam Ibadah Puasa

6 Mins read
Keutamaan Puasa Secara Lahir dan Batin Dari macam-macam ibadah, apabila ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, maka puasa merupakan ibadah yang berbentuk…
Akhlak

Lakukan ini Saat Menyambut Bulan Ramadhan!

2 Mins read
Menyambut Ramadhan Jika kita sebagai hamba selalu memohon untuk terus dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di setiap tahunnya, maka kita juga harus…
Akhlak

Muslim Sejati itu Saleh Sosial, bukan Saleh Ritual!

5 Mins read
Menjadi Seorang Muslim Apa sebenarnya yang diinginkan Allah dari kita? Kita yang sejak lahir adalah Muslim, tentu sudah sepatutnya tidak merasa keislaman…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa