Mimpi Bertemu Rasulullah: Mitos atau Fakta? - IBTimes.ID
Editorial

Mimpi Bertemu Rasulullah: Mitos atau Fakta?

4 Mins read

Media sedang diramaikan perihal seorang ustadz yang dipolisikan karena mengaku bermimpi bertemu Nabi Muhammad Rasulullah shallawallahu ‘alahi wasalam. Hal ini mungkin terasa aneh dan agak janggal. Sebuah mimpi yang hadir ketika kita tidur, dapat  membawa seseorang pada delik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi mimpi adalah sesuatu yang dilihat dan dialami dalam tidur. Di sisi lain mimpi juga dapat diartikan sebagai angan-angan atau pun cita-cita.

Memimpikan Nabi Muhammad

Mimpi merupakan hal yang lumrah  dan wajar dialami setiap manusia yang sedang tertidur. Namun, tidak bermaksud memberikan opini terkait permasalahan yang sedang dialami oleh ustadz tersebut terkait mimpi. Tetapi, ada hal yang menarik yakni apakah mimpi bertemu Rasulullah itu sebuah kenyataan dalam mimpi? Atau hanya perasaan semata bagi orang yang bermimpi tersebut? Tentunya ini menjadi menarik untuk kita gali lebih dalam.

Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, juga ada seorang ustadz ternama yang mengaku berkali-kali bahkan bermimpi bertemu Rasulullah. Tetapi mungkin mimpinya berbeda kali yaa. Serta ada hal-hal lain yang tidak dapat kita ketahui. Mungkin ada beberapa orang di dunia ini mengalami hal yang sama. Mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang kita juga belum tahu seperti apa rasanya. Namun beberapa literatur menyebutkan bahwa mengalami mimpi bertemu dengan Rasulullah pernah dirasakan oleh orang-orang mukmin. Ditambah lagi sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallawallahu ‘alahi wasalam bersabda,

وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atas diriku secara sengaja maka hendaknya dia mengambil tempat duduk dalam neraka.”(HR. Bukhâri 110)

Jadi, sebagaimana hadis di atas, bahwa jika seseorang bertemu Rasulullah dalam mimpinya, pastinya itu benar Rasulullah, karena setan tidak dapat menyerupai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ciri – Ciri Mimpi Bertemu Nabi

Setidaknya ada 3 hal yang bisa membuat kita yakin kalau memang itu adalah Nabi Muhammad shallawallahu ‘alaihi wasallam; Pertama, seseorang dalam mimpinya akan menjumpai sosok yang berkata, “Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah nabimu,” Jadi, beliau memperkenalkan bahwa dirinya adalah Nabi Muhammad kepada yang sedang memimpikannya. Bukan hanya sekadar melihat saja, tetapi Nabi juga menyampaikan dirinya. Kedua, seseorang yang sedang bermimpi melihat sosok yang sangat agung dan diagungkan dan ia meyakini bahwa orang yang ditemuinya dalam mimpi tersebut bukanlah orang sembarangan. Serta meyakini bahwa orang tersebut adalah Nabi Muhammad meski tidak ada orang yang memberitahukan hal tersebut.

Baca Juga  Editorial IBTimes: Kami Bersama Gerakan #RakyatBergerak

Ketiga, ketika seseorang yang sedang bermimpi melihat seseorang yang dihormati. Lalu ada orang yang memberitahukan kepadanya bahwa orang tersebut adalah Rasulullah shallawallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga ciri tersebut dituliskan oleh seorang ulama Mesir bernama Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz dalam sebuah bukunya yang berjudul “Ra’aytun Nabiyya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Mi’atu Qishshatin min Ru’an Nabiy” . Dalam Bahasa Indonesia berarti “Aku bermimpi bertemu Rasulullah: Ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi”. Dalam buku tersebut juga dikisahkan bahwa mimpi bertemu Nabi Muhammad bukanlah hal yang biasa dan mudah dialami oleh seseorang.

***

Ketika memimpikan bertemu Nabi Muhammad bisa jadi merupakan sebuah ekspresi kerinduan dan kecintaan seseorang kepada Rasulullah, di zaman sekarang sudah pastilah kita tidak dapat bertemu dengan Nabi, tetapi bisa jadi kita menjumpainya dalam alam mimpi yang kerap memberikan petunjuk ataupun isyarat akan suatu hal. Namun, apabila kita menceritakan sebuah mimpi padahal kita tidak pernah mengalaminya, akan menjadi sebuah dusta yang amat besar. Dari Watsilah bin al-Asqa’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْرَى الفِرَى أَنْ يُرِيَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ

“Sungguh termasuk kedustaan yang paling besar adalah menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami.” (HR. Bukhari 7043 dan Ahmad 16980).

Jadi, apakah ustadz tersebut benar-benar bertemu atau melihat sosok Nabi dalam mimpinya? Wallahu a’lam bishawab. Lalu bagaimana agar kita yakin kalau kita bertemu dengan Rasulullah dalam mimpi?

Cara Mengetahui Kebenaran Mimpi Nabi

 Pada dasarnya, mimpi adalah bunga tidur. Namun, bunga tidur itu akan semakin indah jika dalam mimpi kita bertemu dengan sosok yang mulia, Rasulullah Muhammad shallawallahu ‘alaihi wasallam. Yang perlu kita ingat adalah, setan memang tidak dapat menyerupai wajah Nabi shallawallahu ‘alaihi wasallam, tetapi setan bisa menyerupai wajah lain dan mengaku sebagai Nabi atau orang yang melihatnya mengira bahwa dia Nabi, padahal sejatinya setan. Lalu, ketika seseorang dalam mimpinya melihat sosok berwajah cerah, berbaju putih dan dengan ciri yang mengagumkan lainnya, bukan jaminan bahwa itu adalah Nabi Muhammad.

Baca Juga  Asal Muasal Ilmu Kalam

Dimaksud bermimpi bertemu, melihat, dan berbicara dengan Nabi adalah melihat Rasulullah sebagaimana ciri fisik dan wajah beliau. Oleh karenanya, jika ada seseorang yang mengaku bermimpi melihat Nabi shallawallahu ‘alaihi wasallam. Maka perlu dicocokkan lagi dengan ciri fisik beliau, lalu bagaimana cara mengenali fisik Nabi agar tidak tertipu oleh tipu daya setan dalam mimpi?

Maka tidak ada cara lain kecuali mengetahui bagaimana ciri-ciri fisik Nabi Muhammad melalu hadis-hadis serta keterangan sahabat yang menceritakan cirinya (fisik Nabi). Dengan literasi yang cukup, seperti seperti apa bentuk rambut Nabi, postur tubuhnya, hingga tinggi badannya. Maka kita akan memahami dan benar-benar yakin dengan mimpi bertemu Rasulullah yang kita alami. Pengetahuan akan hal ini sudah banyak dituliskan dalam hadis. Bahkan dibukukan oleh para ulama, salah satunya yang diistilahkan dengan Kitab Asy-Syama-il. ‘

Perbedaan Mimpi Nabi ataupun Godaan Setan

Apabila ada seseorang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Shallawallahu ‘alahi wasallam jika dalam adab sebelum ia tidur dalam keadaan suci dari hadas dan najis, membaca doa dengan ditambahi surat-surat yang membuatnya terlindung dari godaan setan melalui mimpi. Serta ia memahami dan mengerti bagaimana ciri-ciri Rasulullah Shallawallahu ‘alaihi wasallam, maka ia adalah orang yang beruntung karena benar-benar bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad shallawallahu ‘alaihi wasallam.

Tetapi apabila hal-hal tersebut tidak, semisal ia tidur dalam keadaan najis, lalu kurangnya literasi dalam memahami ciri Rasulullah, namun mengaku bermimpi bertemu beliau. Maka sesungguhnya ia telah berdusta. Dalam kitab Fathul Bari, (12/384-385) banyak dijelaskan tentang mimpi bertemu dengan Rasulullah. Pada intinya adalah ketika kita mengetahui bagaimana fisik Nabi, maka kita akan bisa mengenali beliau meski dalam mimpi.

Baca Juga  Tafsir Klepon Islami: Logika Absurd yang Mengasyikkan

Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman, memimpikan bermimpi bertemu dengan Rasulullah adalah hal yang sangat istimewa. Tidak semua orang mengalaminya. Pastinya kita merasakan hal yang berbeda, mimpi bertemu Rasulullah bisa menjadi fakta ketika kita mengetahui seperti apa kondisi fisik, ciri-ciri Nabi. Tentunya kita mendapat informasi akan hal itu dari hadis yang shahih. Tetapi jika hanya sesosok putih saja, tanpa suatu hal yang memenuhi kriteria dan literasi akan ciri Nabi Muhammad. Maka bisa jadi itu hanya setan yang menjelma bahkan mengaku sebagai Nabi.

Hal yang Dilakukan Ketika Mengalami Mimpi Bertemu Nabi

Mimpi bertemu Rasulullah adalah hal yang bisa saja terjadi kepada umatnya, karena itu ketika ada seseorang yang mengaku bertemu dengan Nabi shallawallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpinya, harusnya kita bertabayyun dulu akan kebenaran mimpi tersebut. Mimpi kadang baik dan kadang juga buruk, mimpi yang baik itu pasti datangnya dari Yang Maha Baik, dan mimpi buruk datang dari setan. Berdasarkan hadits yang shahih dari rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam:

الرؤيا الصالحة من الله، والحلم من الشيطان، فإذا رأى أحدكم ما يكره فلينفث عن يساره ثلاثا، وليتعوذ بالله من الشيطان ومن شر ما رأى ثلاثاً، ثم ينقلب على جنبه الآخر، فإنها لا تضره ولا يخبر بها أحداً

 “Mimpi yang baik itu dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka hendaknya ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan jangan ceritakan kepada seorang pun mimpi tersebut” (HR. Bukhari no. 6995, Muslim no. 2261).

Semoga nantinya kita dapat bertemu dengan Nabi Muhammad Rasulullah shallawallahu ‘alaihi wasallam, baik secara langsung di surga kelak, maupun dalam mimpi. Aamiin. (*)

Editor: RF Wuland
Avatar
72 posts

About author
Guru MI Muhammadiyah 06 Tebluru dan SMA Muhammadiyah 3 Maduran
Articles
Related posts
Editorial

Surat Terbuka Untuk Panji: Jika Tak Mampu Beri Solusi, Jangan Gaduh!

5 Mins read
Pada Rabu (20/1) malam, saya sedang memegang kartu Uno bersama dengan beberapa teman sesama aktivis Muhammadiyah. Tangan kanan saya memegang kartu Uno,…
Editorial

Sukriyanto AR: Pemimpin yang Diperlukan Muhammadiyah

2 Mins read
Di tengah gegap-gempita kasus penembakan 6 Aktivis FPI, ada tulisan viral yang berjudul Memuhammadiyahkan Rizieq Shihab terbit di tanwir.id. Beragam macam tanggapan…
Editorial

Muhammadiyah: Penegakan Protokol Covid Harus Adil

1 Mins read
Beredar pernyataan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti bahwa Muhammadiyah meminta agar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menegur kerumunan yang terjadi di acara Habib Rizieq…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa