Oleh: Sukriyanto AR*

Berkaitan dengan Undang-undang Keormasan tentang Pancasila sebagai asas tunggal. Pada prinsipnya Pak AR tidak mau menjilat sebagai pernyataannya:

“Pokoknya saya tidak mau menjilat, kalau pemerintah salah, ya harus kita ingatkan. Caranya, langsung bertemu dengan baik-baik, bicara baik-baik. Tidak perlu demonstrasi. Amalkan saja perintah Al Qur’an; “Tawashau bi al haqq, tawashau bi ash shabr”. Alhamdulillah, saya selalu bertemu pejabat kita bila sedang berkunjung ke daerah. Dan kita bicarakan semua permasalahan yang menjadi ganjalan kita dengan baik dan sabar, tidak perlu emosi, tidak perlu marah-marah”.

Waktu asas tunggal diundangkan, hal itu merupakan tantangan bagi Muhammadiyah. Melalui siaran radio, Pak Harto mengatakan bahwa semua kekuatan sosial politik harus menerima
asas Pancasila.

Setelah mendengar siaran itu, Pak AR memanggil anggota PP Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta. Para anggota PP Muhammadiyah itu juga mendengar bahwa semua kekuatan sosial dan politik, termasuk organisasi kemasyarakatan, harus berdasarkan Pancasila.

Dengan adanya siaran radio itu Pak AR melontarkan suatu pertanyaan kepada anggota PP Muhammadiyah. Berbagai tanggapan muncul dalam pertemuan itu, maka diambil
keputusan agar Umat Islam khususnya anggota Muhammadiyah untuk sementara bersikap diam.

Pada pelantikan anggota DPR/ MPR tahun 1983, Pak Harto mengatakan, maksud asas Pancasila adalah asas bernegara, bermasyarakat dan berpolitik. Bila asas Pancasila itu dijadikan asas bernegara, bermasyarakat dan berpolitik, Muhammadiyah dapat memahaminya. Dengan demikian orang Islam di Malaysia dapat menjadi anggota Muhammadiyah, tetapi dari segi bernegara tidak boleh.

Pancasila itu bagian dari pergaulan dalam masyarakat Indonesia, kesepakatan masyarakat Indonesia. Jadi Pancasila sebenarnya merupakan wujud dari pengamalan hablun minnanas. Karena soal asas Pancasila itu, karena di lingkungan Muhammadiyah masih terjadi pro dan kontra, dan keras, memanas.

Dinamika Pra-Penerimaan Asas Pancasila

Maka, Muktamar Muhammadiyah yang mestinya tahun 1981 di Solo, mundur karena menunggu pelaksanaan pemilu dan pelantikan presiden. Pada tahun 1984 Pak AR menghadap Pak Harto, mengharap beliau (Pak Harto) bersedia membuka Muktamar di Solo yang akan diselenggarakan tahun 1985.

Menanggapi permohonan itu, Pak Harto mengatakan bahwa beliau dapat hadir membuka Muktamar, asal Muhammadiyah menerima asas Pancasila. Setelah dibicarakan dengan anggota pengurus PP Muhammadiyah akhirnya berkesimpulan bahwa bagi Muhammadiyah asas Pancasila itu diterima dan tidak apa-apa.

Muhammadiyah dapat berasas Pancasila dalam bermasyarakat, bernegara, dan berpolitik. Pak Harto sampai mengatakan kepada Pak AR, “Pak AR, saya ini muslim, lho. Tapi, karena negara Indonesia berdasarkan Pancasila, walaupun saya muslim, sebagai presiden saya penuhi garis-garis Pancasila. Artinya, tidak pure Islam (dalam pengertian sempit)

Asas Pancasila itu juga dibicarakan Pak AR dengan Menteri Agama Munawir Sjadzali, yang mengatakan bahwa asas Pancasila adalah asas berpolitik, bermasyarakat, dan bernegara. Muhammadiyah menerima asas Pancasila dalam berpolitik, bernegara dan bermasyarakat.

Pertemuan untuk masalah itu diadakan berkali-kali. Pak AR diundang ke Jakarta untuk berbincang-bincang, atau kadang Menteri Munawir yang datang ke Yogyakarta. Proses ini cukuplama sehingga muktamar yang mestinya dilaksanakan tahun 1981 baru terlaksana pada tahun 1985.

Dalam pembicaraan itu, Pak Munawir mengatakan, bahwa sebenarnya Muhammadiyah ingin dijadikan pelopor untuk menerima asas Pancasila, tetapi yang lebih dulu malah NU.
Setelah selesai Muktamar Muhammadiyah, dikatakan bahwa asas Muhammadiyah adalah Pancasila, banyak orang Muhammadiyah yang menyatakan keluar dari Muhammadiyah.

Muhammadiyah Menerima Asas Pancasila

Dengan kenyataan ini, Pak AR menjelaskan kepada anggota Muhammadiyah bahwa Pancasila diletakkan bukan untuk menempatkan Pancasila di atas Islam. Muhammadiyah tetap berdasar Islam dan tetap sebagai gerakan Islam yang melaksanakan amar makruf dan nahi munkar.

Ia memberikan perumpamaan. “Begini, kalau kita pergi ke masjid untuk shalat Jum’at mengendarai sepeda motor, Negara RI mewajibkan orang yang naik sepeda motor lewat jalur helm harus pakai helm. Karena lewat jalur helm, saya gunakan helm. Helm tersebut tidak mengubah Islam saya. Niat saya shalat Jumat ikhlas dan untuk mencari ridho Allah. Anggap saja asas Pancasila sebagai helm”. Akhirnya, Pancasila diterima di Muktamar.

Sejak tahun 1988 Pak AR banyak beristirahat karena sakit vertigo, para anggota PP Muhammadiyah menganjurkan Pak AR untuk tidak berkantor dulu. surat-surat harus yang ditanda tangani,  akan dikirim ke rumahnya.

Meskipun sakit vertigo, Pak AR masih aktif mengisi pengajian. Bersama Pak Mukhlas Abror, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammdiyah DIY, Pak AR rutin datang ke studio RRI untuk
melakukan rekaman kuliah subuh untuk empat kali siaran.

Setiap kali siaran memakan waktu 15 menit. Di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, setiap hari Kamis rubrik Pak AR Menjawab masih muncul. Pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat masih banyak disampaikan oleh Mas Suparno S. Ady dan Pak AR masih terus menjawab dan berkomunikasi dengan pembaca KR lewat rubrik itu.

Sedang untuk di TVRI Yogyakarta, Ia hanya sesekali mengisi acara pengajian pada malam Jum’at.

*PENULIS BIOGRAFI PAK AR FACHRUDDIN KETUA UMUM MUHAMMADIYAH 1968- 1990

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda