Dawuh Mbah Malik tentang Beragama yang Menggembirakan - IBTimes.ID
Inspiring

Dawuh Mbah Malik tentang Beragama yang Menggembirakan

4 Mins read

Hari itu langit cerah. Angin sejuk melambai mesra. Kantuk sangat kuat menerpa. Tapi agaknya susasana hati kami agak sedikit berbeda dari segala kenyamanan yang diberikan oleh alam ini: mendung. Sebagaimana halnya pepatah kuno, “Mendung adalah simbol kegelisahan, lantaran realitas yang terjadi, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.”

Bagi sebagian orang, tentu anak-anak muda dianggap bukanlah golongan yang mumpuni membaca tanda-tanda alam, isyarat batin,  dan riak-riak kehidupan. Hingga sekarang, di mana pun tempatnya, agaknya janggal jika yang muda yang memimpin. Terlebih, yang memikirkan dan memberikan perhatian sungguh-sungguh. Tapi mungkin dalam situasi yang mendesak, mau tidak mau, yang belia harus mengambil peran.

“Bagaimana mungkin institusi sebesar ini harus menjadi tanggungjawab anak-anak muda?” Kata salah seorang dari kami, yang merasa bahwa tanggungjawab kepemimpinan itu terlalu berat untuk ditanggung. “Terlebih bahwa, ini adalah institusi pendidikan tinggi. Ini universitas. Tempat para mahasiswa ditempa menjadi sarjana: manusia yang kecerdasannya setengah dewa,” lanjutnya.

Saat itu, pertemuan belum dimulai. Tapi seperti biasanya, kami berkumpul terlebih dahulu, karena berbagai alasan. Saya sendiri merasa karena “mendung” dan tidak punya pilihan kecuali gelisah terhadap keadaan. Sementara yang lain, memang anak-anak yang disiplin. Sisanya adalah gerombolan ikut-ikutan. Sembari menanti sosok yang kita tunggu-tunggu, kita mendiskusikan tentang pentingnya universitas memberikan sumbangsih pada persoalan keberagamaan yang semakin konservatif, keras, kasar, beringas, dan tidak memberikan tempat pada pentingnya welas asih. 

Persoalan pendidikan bukanlah persoalan yang main-main. Ini adalah persoalan di mana masa depan anak manusia dipertaruhkan. Jadi, ini adalah perkara peradaban. Bagaimana caranya membuat seonggok daging, kemudian berjiwa.

Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara, “Berbudi pekerti luhur.” Artinya, tidak hanya berilmu, namun juga berkarakter mulia dan pandai merasa. Jika pendidikan juga dianggap tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada moderasi keberagamaan yang semakin mengeras, berarti kita bisa menyebutnya gagal.

Baca Juga  KH Zainal Musthafa: Simbol Perjuangan di Tanah Sunda

***

“Adik-adik, mari masuk ke dalam. Mbah Malik sudah datang dan sudah bisa kita mulai diskusinya.” Seru seorang pimpinan universitas, memanggil kami semua. Kali ini, posisi kami berlawanan dengan generasi tua – duduk di bagian kiri meja bundar – dan Mbah Malik, berada di depan, bagian tengah.

Saya pikir, hanya anak-anak muda yang gelisah. Ternyata tidak. Hampir semua orang juga mungkin merasakan hal yang serupa. Tapi kami tidak tahu bagaimana semangat yang dimiliki oleh generasi yang lebih senior dari kami, apakah mereka masih memiliki semangat untuk menggerakkan perubahan, ataukah justru sudah lelah.

Mbah Malik yang biasanya tenang, kali ini tampak berbeda. Ia lebih sering menghisap rokoknya dalam-dalam. Padahal, itu rokok tanpa filter. Jenis rokok berat.

Ia memulai perbincangan mengenai pentingnya kampus Muhammadiyah memberikan kontribusi pada proses moderasi keberagamaan. Tanpa kontribusi itu, maka suatu saat kita – entah kapan – akan berhadapan dengan merebaknya perilaku umat beragama yang bar-bar, destruktif, dan jauh dari nilai kemanusiaan yang luhur.

Di tahun empat puluhan, setelah Perang Dunia Kedua usai, pihak pemenang justru terpecah menjadi dua kelompok yang secara diametral saling berhadapan-hadapan: kapitalisme vis-à-vis sosialisme dalam ekonomi, liberalisme melawan komunisme, blok Barat versus blok Timur, atau Amerika berhadapan dengan Uni Soviet. Di tahun 1991, Perang Dingin berakhir dan muncul sebagai pemenang adalah negeri Paman Sam.

Ternyata, pemenang inilah yang menjadi kekuatan hegemonik yang baru. Sebagai hegemon, Amerika memainkan banyak peran bagi negara-negara Muslim, khususnya di Timur Tengah. Urusan minyak, gas, air, keamanan, pasar senjata, konflik sektarianisme (Sunni-Syiah), Palestina-Israel, dan banyak lagi yang lainnya.

Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, bahwa dunia Islam banyak dirugikan. Hanya negara-negara yang taat seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman dan seterusnya, yang mendulang sedikit untung. Sekurang-kurangnya, keamanan nasional mereka terjamin.

Baca Juga  Karya Anak Bangsa: Penemuan Vent-I untuk Pasien Covid-19

***

Pada akhirnya, satu dekade kemudian (2001), terjadilah fenomena 11 September. Gedung pencakar langit, World Trade Center (WTC) diruntuhkan oleh sebuah aksi teror yang mengatas-namakan Islam. Sejak saat itu, dunia Islam murung. Irak yang pernah kehabisan energi pada tahun 1980an lalu diporak-porandakan pada 1990an karena menginvasi Kuwait, di tahun 2003 betul-betul dihancurkan oleh kekuatan militer Barat. Hingga sekarang, perang yang terjadi di sana belum usai. Demikian juga dengan Libya, Suriah, Yaman, dan Palestina. Menyusul beberapa negara lainnya yang tidak stabil seperti Mesir, Yordania, Qatar, dan lainnya.

Badai yang terjadi di Timur Tengah, juga menggulung tanah air kita. Bom Bali begitu dahsyatnya pada 2002. Aksi terorisme mengatasnamakan Islam merebak di mana-mana, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Kehidupan sosial dan politik di Indonesia, semakin menunjukkan wajahnya yang sedikit lebih garang. Ada warna “radikal” di antara wajah Muslim Indonesia yang warna-warni.

Kini, reformasi yang sudah berusia hampir dua dekade belum berhasil mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan yang paripurna. Otoritarianisme Orde Baru memang sudah usai. Tapi dengan adanya liberalisasi iklim politik, semua golongan boleh ikut bertarung, terutama kelompok Islam kanan yang keras. Di pertengahan 2019, di mana hajatan politik elektoral hendak dihelat, konservatisasi sikap keberagamaan semakin meruncing. Pengkafiran mengarah kepada persekusi. Intoleransi mewujud tindakan kekerasan atas nama agama yang membuat ngeri.

Mbah Malik menuturkan, “Adik-adik yang baik, maka menaburkan keberagamaan itu harus dalam suasana mencerahkan. Demikian juga dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Bermuhammadiyah itu harus menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Lebih jauh lagi, sampai pada tahapan memberdayakan.”

***

Ia kemudian kembali menghisap rokoknya lebih dalam lagi. Entah sudah berapa batang yang ia habiskan kali ini. Sepertinya banyak.

Baca Juga  Ibnu Batutah: Sang Teladan Penjelajah Dunia

“Kita bisa memulainya dari Universitas Muhammadiyah Malang. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, harus menjadi ujung tombak moderasi keberagamaan yang kebablasan itu. Karakter yang harus kita tanamkan sebagai para pendidik dan aktivis pergerakan adalah karakter Islam washatiyyah, Islam yang moderat.” Kali ini nadanya sedikit lebih lepas.

“Apakah kalian siap? Tanggungjawab ini ada pada kita semua, terutama generasi muda. Saat ini masanya di mana generasi muda yang menjadi pelopor kebajikan. Generasi muda harus mengambil peran dalam pergerakan bersama persyarikatan!” Tegasnya meminta persetujuan.

Tentu kami dengan kompak menjawab, “Siap.” Justru orang-orang tua yang enggan bersuara menanggapi dengan sikap. Mungkin mereka terbiasa menjawab dalam hati.

Dengan menjawab “siap” itulah kami merasa sedikit lega. Hati kami memang gelisah karena harus berhadapan dengan persoalan konservatisme keagamaan yang merebak hebat, tapi kini tak lagi mendung karena diisi oleh energi yang luar biasa.

Ketika pertemuan saat itu usai, kami keluar ruangan. Ternyata langit tetap cerah dan angin membisikkan kata-kata: jalanmu sudah benar.

Editor: Yahya FR

Avatar
65 posts

About author
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, pendiri the Reading Group for Social Transformation (RGST).
Articles
    Related posts
    Inspiring

    Ali Shariati dan Humanisme Islam

    3 Mins read
    Permasalahan manusia adalah salah satu permasalahan terpenting dibandingkan dengan permasalahan lainnya, sehingga dewasa ini kehidupan beragama menyoroti betapa penting kedudukan manusia yang…
    Inspiring

    K.H Ahmad Sanusi: Ulama dan Pahlawan yang Dilupakan

    4 Mins read
    Sukabumi, kota dengan wilayah terkecil di Jawa Barat, pernah memiliki seorang ulama yang mumpuni di awal abad 19, ia adalah K.H Ahmad…
    Inspiring

    Mbah Liem dan Slogan NKRI Harga Mati

    3 Mins read
    “NKRI harga mati!” Begitulah kata-kata yang sering saya dengar dari ceramah-ceramah dan pidato-pidato kebangsaan. Bahkan, kata-kata tersebut akan kita temukan di spanduk-spanduk,…