Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read

Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era modern. Pada bagian ini, akan dibahas hubungan teologi dan kemanusiaan.

Kehidupan Sosial di Atas Ibadah

Menurut Jalaludin Rakhmat, butir-butir yang sangat prinsipal dan mencerminkan pandangan Islam tentang peranan agama, adalah:

Pertama, Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat (annas) dari berbagai kegelapan kepada cahaya; dari zhulumat kepada annur (Ibrahim: 1, Al-Maidah: 15, Al-Hadid: 9, Ath-Thalaq: 10-11, Al-Ahzab: 41-43, Al-Baqarah: 257). “Al-Islam minhaju taghyiri”, kata Fatih Yakan (1980). Islam adalah agama yang menghendaki perubahan’ ia datang bukan untuk membenarkan status quo. Ia datang untuk memperbaiki status quo.

Zhulumat adalah bentuk jamak zhulm: ketidaktahuan tentang syariat, pelanggaran atas syariat Allah, dan penindasan. Islam datang untuk membebaskan mereka dari hidup yang berdasarkan kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan tentang syariat menuju pengertian tentang halal dan haram, dari kehidupan yang penuh beban dan belenggu ke arah kebebasan. Inilah misi Islam; inilah misi para Nabi a.s serta pelanjut Nabi. 

“Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”(Q.S. Al-A’raf {7}: 157).

***

Kedua, Istilah Islam untuk pembangunan ialah tashyir. Prinsip tahyir ditegaskan dalam firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…(Q.S. Ar-Ra’d {13}: 11). Islam memandang perubahan sosial harus dimulai dari perubahan individual. Secara berangsur-angsur, perubahan individual ini harus disusul dengan perubahan institusional. Setelah mengerjakan kewajiban Muslim terhadap sesamanya, Islam menetapkan institusi zakat. Setelah menganjurkan persaudaraan, Islam menetapkan institusi muakhat.

Ketiga, Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari peningkatan dimensi intelektual (pengenalan akan syariat Islam), kemudian dimensi ideologikal (berpegang pada kalimat tauhid). Dimensi ritual harus tercermin pada dimensi sosial. Dalam Islam, salat selalu dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat; salat harus mencegah fahsya  dan munkar (Q.S. Al-Ankabut: 45); salat selalu dikaitkan dengan zakat dalam banyak ayat Alquran; salat diperintahkan bersamaan dengan perintah-perintah dalam kehidupan sosial (Q.S. Al-Ma’arij: 22-28; Al-Ma’un; Al-Baqarah: 83; dan sebagainya).

Baca Juga  Kiai Ahmad Badawi: Ulama Ahli Nahwu Saraf yang Lentur Berdakwah

Dalam beberapa hadis disebutkan, bahwa ibadah yang tidak disertakan dengan amal saleh dalam kehidupan sosial, tidak diterima Allah. Mereka yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, mereka yang salat malam dan shaum, tetapi meyakiti tetangganya, mereka yang beribadah tetapi merampas hak orang lain dan sebagainya, dinyatakan tidak melaksanakan agamanya.

Kekurangan dalam ibadah ditebus (kifarat-nya) dengan menunjukkan amal saleh, seperti memberi makan orang miskin, tetapi, cacat dalam kehidupan sosial tidak dapat ditebus dengan ibadah ritual. Saya berani mengatakan bahwa dimensi sosial ajaran Islam memperoleh proporsi yang jauh lebih besar daripada dimensi ritual atau mistikal.

***

Keempat, Islam memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Alquran ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (Q.S. Al-Fajr: 18-22). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya saja (Q.S. Al-Hasyr: 7). (Ibid, h. 42-43)

Uraian di atas memberikan pemahaman, bahwa nilai-nilai dogma dan doktrin agama (Islam) membangkitkan semangat dan merangsang gairah (eksitasi) penganut agama terhadap ajaran agama yang dianutnya. Selain itu, keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tumbuh dengan pesat dalam hati penganut agama karena rangsangan semangat untuk mengaktualisasikan agama dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan Universal

Eksitasi teologi dalam menyelamatkan kemanusiaan universal secara prinsip dapat dipahami dari empat poin: PertamaIslam adalah agama pembaharuan. Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat dari berbagai kegelapan kepada cahaya; dari zhulumat kepada annur. Makna lebih luas adalah merubah gelap menjadi terang,  jahil menjadi tercerahkan, kerusakan menjadi lebih baik, awam menjadi lebih cerdas, pemahaman sempit menjadi lebih berwawasan, dan seterusnya.

Maka sangat jelas, bahwa Islam adalah agama yang menghendaki perubahan, kehadiran Islam bukan untuk membenarkan status quo atau “kemapanan”, kejumudan, pinggiran, dan keterbelakangan lainnya. Jadi, datangnya untuk memperbaiki status quo.

Ketercerahan itu bisa berwujud ketidaktahuan tentang syariat, pelanggaran atas syariat Allah, dan penindasan. Islam datang untuk membebaskan mereka dari hidup yang berdasarkan kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan tentang syariat menuju pengertian tentang halal dan haram, dari kehidupan yang penuh beban dan belenggu ke arah kebebasan. Inilah misi Islam; inilah misi para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah peran teologi dalam kemanusiaan.

Baca Juga  Membumikan Teologi ala Hassan Hanafi

Kedua, Islam adalah agama kemajuan. Islam memandang perubahan sosial harus dimulai dari perubahan individual. Secara berangsur-angsur, perubahan individual ini harus disusul dengan perubahan institusional. Setelah mengerjakan kewajiban Muslim terhadap sesamanya, Islam menetapkan institusi zakat. Setelah menganjurkan persaudaraan, Islam menetapkan institusi muakhat. Dalam konteks kemanusiaan Islam sangat menganjurkan pembelaan dan “keberpihakan” penganut agama terhadap kaum dhu’afa dan kaum papa lainnya.

Ketiga, Islam adalah agama kemanusiaan. Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari peningkatan dimensi intelektual (pengenalan akan syariat Islam), kemudian dimensi ideologikal (berpegang pada kalimat tauhid). Dimensi ritual harus tercermin pada dimensi sosial. Dalam Islam, salat selalu dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat; salat harus mencegah fahsya  dan munkar; salat selalu dikaitkan dengan zakat dalam banyak ayat Alquran; salat diperintahkan bersamaan dengan perintah-perintah dalam kehidupan sosial.

Kemudian, dalam beberapa hadis disebutkan, bahwa ibadah yang tidak disertakan dengan amal saleh dalam kehidupan sosial, tidak diterima Allah. Seperti: mereka yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, mereka yang salat malam dan shaum, tetapi meyakiti tetangganya, mereka yang beribadah tetapi merampas hak orang lain dan sebagainya, dinyatakan tidak melaksanakan agamanya.

Kekurangan dalam ibadah ditebus (kifarat-nya) dengan menunjukkan amal saleh, seperti memberi makan orang miskin, tetapi, cacat dalam kehidupan sosial tidak dapat ditebus dengan ibadah ritual. Jadi,  dimensi sosial ajaran Islam memperoleh proporsi yang jauh lebih besar daripada dimensi ritual atau mistikal.

Keempat, Islam adalah agama keadilan. Islam memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Alquran ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan. Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya saja.

Membumikan Kemanusiaan Kaum Beriman

Pertama: Dimensi ritual, yakni gemar beribadah. Spirit kemanusiaan kaum beriman akan bangit apabila dirinya tidak berjarak dengan keteguhannya dalam beribadah dengan khusyuk dan tawadhu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran spiritual dengan rajin beribadah menjadikan kaum beriman tergugah untuk membela kemanusiaan yang ditemui dalam kehidupan nyata. Karena ibadah ritual harus berbanding lurus dengan semangat dalam ibadah sosial (amal saleh), sebagai manifestasi keimanan yang sesungguhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, Dimensi inteklektual, yakni gemar mencari ilmu dan mengamalkannya. Semangat keberpihakan pada kemanusiaan senantiasa terpelihara apabila kaum beriman gemar mencari “referensi” tentang kemanusiaan universal. Sikap tersebut dilakukan dengan gerakan keilmuan. Kegemaran mencari ilmu akan bertambah ilmu, pengetahuan dan wawasan, dengan modal itulah diimplementasikan dalam amal nyata dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Baca Juga  Pemikiran Jalaludin Rakhmat (1): Peran Agama di Era Modern

Ketiga, Dimensi sosial, yaitu senantiasa menjaga pergaulan dan lingkungan yang baik. Realitas terpinggirnya kemanusiaan adalah tidak berpihaknya institusi terhadap kaum dhu’afa, sehingga mereka terjerabab dalam krisis kemanusiaan yang “akut”. Maka sebagai kaum beriman mesti menata pergaulan dan lingkungan yang tetap kondusif. Karena krisis kemanusiaan yang “akut” bisa memunculkan konflik dan perpecahan.

***

Keempat, Dimensi ideologikal, yakni giat berdakwah menyampaikan risalah kebenaran. Krisis kemanusiaan bisa saja faktor kesenjangan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan distribusi pembangunan yang tidak merata. Maka kewajiban kaum beriman menyampaikan nilai-nilai kebenaran agama kepada pihak yang menyebabkan krisis kemanusiaan dan mereka yang terkena dampak krisis kemanusiaan tersebut. Paling tidak dengan semangat penyadaran dan pencerahan tersebut bisa mengetuk hati pemilik “kedigdayaan” dari semua elemen dan stata sosial, ekonomi, budaya dan politik, untuk peduli pada kaum dhu’afa.

Kelima, Dimensi mistikal, yaitu senantiasa sabar dan tawakal. Sebagai kaum beriman hanya diberi hak berusaha untuk menyelamatkan umat dari krisis kemanusiaan. Namun dalam realitas sosial sering berhadapan dengan rasa benci, iri hati, hasad, fitnah, hujatan dan “persekongkolan” jahat untuk merintangi pembelaan dan “keberpihakan” pada kaum dhu’afa.

Maka kesabaran adalah obat penawar dalam susah, penat, dan letihnya perjuangan. Dan tawakal kepada-Nya, bahwa gagal dalam membela kemanusiaan adalah jauh lebih mulia daripada berhasil merusak kemanusiaan dan meracuni rasa kemanusiaan sebagai umat manusia ciptaan Tuhan.

Teologi dan Kemanusiaan Wujud Kedamaian yang Teduh

Pohon kehidupan senantiasa kokoh apabila akarnya tertancap pada tujuh petala bumi, ranting, cabang dan dedaunannya rimbun menembus tujuh petala langit, dan bunga serta buahnya muncul dalam setiap musim yang memberi “gizi” dan “nutrisi” pada makhluk di bawah “kolong” langit dunia ini.

Makna dari pernyataan di atas adalah, bahwa iman/ teologi dan kemanusiaan, apabila disatukan dalam realitas kehidupan nyata adalah merupakan wujud kedamaian yang teduh. Identitas iman dan kemanusiaan tersebut adalah umpama pohon, yakni:

Pertama, akar tertancap kokoh (ashluhaa tsabitun); tauhid yang murni dalam hati.
Kedua, cabangnya menjulang ke langit (far’uhaa fis samaa’); amal saleh dan ibadahnya vartikal hanya kepada Allah.
Dan ketiga, berbuah setiap saat (tu’ti ukulahaa kulla hiinin); pribadi Mukmin penebar akhlakul karimah di mana saja dan kepada siapa saja.

Editor: Nabhan

Avatar
11 posts

About author
Alumnus Program Pascasarjana (PPs) IAIN Kerinci Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Kosentrasi Studi Pendidikan Karakter. Pendiri Lembaga Pengkajian Islam dan Kebudayaan (LAPIK Center). Aktif sebagai penulis, aktivis kemanusiaan, dan kerukunan antar umat beragama di akar rumput di bawah kaki Gunung Kerinci-Jambi. Pernah mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam “Ummul Quro” Semarang.
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral

3 Mins read
Dunia pemikiran Islam Indonesia kembali terguncang dengan kembalinya kehadirat Tuhan seorang pemikir Islam garda depan, cendekiawan yang sufistik Dr KH Jalaluddin Rakhmat….
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (1): Peran Agama di Era Modern

4 Mins read
Semasa kuliah di STAIN Kerinci, ada beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat yang saya baca dari beberapa bukunya. Seperti: Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus;…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa