Pemuda dan Al-Qur'an: Konstruksi Istimewa yang Mulai Rapuh - IBTimes.ID
Akhlak

Pemuda dan Al-Qur’an: Konstruksi Istimewa yang Mulai Rapuh

4 Mins read

Peran pemuda dalam setiap peradaban manusia selalu memiliki tempat yang sangat strategis bagi perkembangannya. Dari masa ke masa, generasi muda selalu ikut berpartisipasi dalam mewarnai kemajuan peradaban pada masing-masing zaman. Oleh karena itu, ada sebuah pepatah Arab yang mengatakan:

إِنَّ فِي يَدِ الشُّبَّانِ أَمْرُ الأُمَّةِ وَ فِي إِقْدَامِهَا حَيَاتُهَا

“Sesungguhnya urusan umat ini berada di tangan para pemuda dan kehidupan umat terdapat pada kemajuan pemudanya.”

Setiap pemuda memiliki peran masing-masing bagi kemajuan peradabannya, tak terkecuali para pemuda generasi Islam dari era salaf hingga era modern saat ini.

Pemuda Hebat dalam Catatan Sejarah

Pada masa awal kehidupan Islam, tercatat beberapa pemuda yang mempunyai peran sentral dalam perjuangan dakwah Islam. Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib, yang menjadi rujukan ilmu setelah Rasulullah SAW, Usamah bin Zaid sang pemimpin pasukan perang termuda kala itu, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas dua pemuda yang brilian pemikirannya, Zaid bin Tsabit sang penulis wahyu, serta yang lainnya (radhiyallahu anhum).

Beberapa waktu lalu, ramai pemberitaan dunia tentang alih fungsi kembali Hagia Sophia menjadi masjid oleh pemerintah Turki yang dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan. Mengulang sejarah yang pernah dibuat oleh seorang pemuda, yang memimpin Daulah Turki Utsmaniyah + 6 abad yang lalu, Sultan Muhammad II, “Al-Fatih”, setelah beliau membebaskan Konstantinopel (baca: Istanbul).

Dalam catatan sejarah, Al-Fatih masih terbilang sangat muda tatkala membebaskan Konstantinopel. Beliau berusia 21 atau 22 tahun. Pendidikan yang menempa dirinya menjadi pemuda yang hebat. Ia dapatkan pendidikan itu dari dua guru utama, Syekh Aaq Syamsuddin dan Syekh Ahmad al-Kurani, sejak beliau berusia sangat muda.

Begitu pula ayahnya, Sultan Murad II, beliau tercatat sebagai salah satu pemimpin terbesar dan bijaksana dalam masa kekuasaan Daulah Turki Utsmaniyah.

Baca Juga  Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Proklamator bangsa Indonesia sekaligus Presiden RI yang pertama, Soekarno pernah berkata, “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Kalimat di atas senantiasa menjadi motor semangat perjuangan para pemuda bangsa Indonesia untuk ikut turut berperan bagi kemajuan peradaban bangsa. Baik sejak awal berdirinya Indonesia hingga saat ini.

Tentu akan sangat panjang bila tokoh-tokoh muda setiap generasi disebutkan di sini. Namun, kita tetap menyimpulkan bahwa pemuda yang hebat senantiasa ada di setiap masa untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya.

Dampak Kemajuan Zaman bagi Pemuda

Seiring berkembangnya zaman, para pemuda tentu tidak mau ketinggalan life style abad 21 dari segala hal yang berkaitan dengan fashion, food, feature ala anak-anak muda milenial. Hal ini tentu menjadi sifat alamiah remaja di saat kondisi psikologisnya sedang mengalami transisi dari kanak-kanak menuju ranah dewasa. Ditambah pesatnya kemajuan teknologi menjadikan mereka seolah-olah terbuai dalam kenikmatan hidup.

Kondisi pergaulan anak muda di wilayah Barat tentu akan berbeda dengan wilayah Timur. Barat terkenal akan kebebasan pergaulannya, sedangkan Timur dikenal dengan ciri khas sopan santunnya. Statemen tersebut tidak mesti tepat karena beberapa wilayah di Timur juga menerapkan kebiasaan Barat, begitu pun sebaliknya.

Hal tersebut hanya sekadar generalisasi penilaian, tetapi tetap saja menimbulkan kesan negatif di kalangan masyarakat, terutama jika telah disangkutpautkan dengan budaya Barat tersebut.

Jika ditarik sebuah benang merah, maka akan memunculkan sebuah paham yang sudah menggeneralisasi pola pikir masyarakat. Pikiran yang berkembang adalah bahwa peran pemuda semakin hari semakin memudar dan selalu menjadi objek penilaian negatif masyarakat.

Begitu pula dengan apa yang kita lihat sehari-hari. Sebagaimana yang diungkapkan sebagian orang tua, bahwa anak muda zaman ini selalu dianggap kurang berguna, lemah, pemalas, dan stigma negatif lainnya.

Baca Juga  Tafsir Al-Qur’an Tidak Cocok dengan Konsep Hermeneutika

Kaum muda proletar tersebut bisa jadi mayoritas pemuda zaman ini. Terbukti dari maraknya pemberitaan negatif atau pun tingkah laku yang sia-sia dan tidak berguna di media massa atau media sosial.

Konten-konten unfaedah atau juga merusak, justru banyak dipertontonkan generasi muda di media sosial dan menjadi keresahan tersendiri bagi kalangan orang tua maupun para pendidik.

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam faktanya masih terdapat beberapa komunitas yang berdiri untuk membina pemuda agar berperan aktif di masyarakat sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing.

Al-Qur’an as the Life Guide

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam sekaligus pedoman kehidupan sehari-hari menjadi keyakinan pokok (baca: iman) dalam jiwa kaum muslimin, di mana jika ada yang meragukannya sedikit saja maka otomatis kesempurnaan imannya akan terkikis.

Al-Qur’an juga menjadi bukti akan kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW sekaligus menisbahkan diri beliau menjadi pemimpin dan orang nomor satu sepanjang sejarah manusia.

Prof. Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa sedikitnya ada 3 aspek dalam Al-Qur’an yang membuktikan keautentikannya. Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Kedua, pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya (sains).

Di dalamnya, semua aspek kehidupan manusia yang berkemajuan dijelaskan secara detail dan lengkap. Mencakup aturan-aturan dalam ibadah, muamalah, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, pemerintahan, dan lain-lain.

Al-Qur’an menjadi guide bagi kaum muslimin dalam meniti dunia untuk menyebarluaskan ajaran Islam sekaligus mempersiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya (akhirat). Ibarat kata, apa pun masalah hidupnya, maka Al-Qur’anlah solusinya.

Konstruksi Istimewa

Sangat mungkin kemajuan Islam dapat dicapai kembali jika para pemudanya berpegang teguh dan menguasai Al-Qur’an, serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Islam dapat merengkuh kejayaan, khususnya dalam ilmu pengetahuan pada masa lampau. Sebab, kedudukan Al-Qur’an menjadi ajaran pokok dan ilmu dasar yang ditanamkan pada generasi mudanya.

Baca Juga  Amal Saleh yang Diterima: Tanda-tanda yang Terlihat

Tokoh-tokoh agung, seperti Imam Syafi’i, Imam an-Nawawi, Imam Al-Ghazali, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lain-lain merupakan sedikit di antara banyaknya cendekiawan muslim yang hafal dan menguasai Al-Qur’an sejak belia.

Begitu pun al-Khawarizmi, al-Biruni, al-Battani, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan ilmuwan muslim lainnya. Mereka menguasai Al-Qur’an dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an menjadi ilmu pengetahuan baru yang membantu kejayaan Islam, yang pada akhirnya “dicuri” oleh Barat sebelum Rennaissance.

Pola pikir pemuda yang mulai matang, jika dipadukan dengan pemahaman Al-Qur’an dapat menjadi satu kesatuan yang sangat brilian dan istimewa untuk membangun kembali peradaban Islam yang maju.

Peradaban yang berjiwa ukhrawi, namun tetap mengembangkan kehidupan duniawi dengan sebaik-baiknya. Sekaligus menjadi benteng dari kerusakan pola pikir orang-orang kafir yang hanya memiliki orientasi kehidupan dunia saja sehingga selalu menimbulkan kerusakan di mana-mana.

Pengembangan pola pikir berlandaskan Al-Qur’an tersebut bisa diterapkan dalam berbagai hal, seperti gerakan literasi ilmiah, gerakan filantropi, seni atau pun kebudayaan.

Maka, saya menyimpulkan bahwa pemuda yang menguasai dan mempelajari Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya merupakan sebuah konstruksi istimewa bagi sumber daya masyarakat muslim dalam membangkitkan kembali kejayaan dan kemajuan Islam. Insya Allah.

Editor: Lely N

Avatar
6 posts

About author
Alumni TMI PP. Darussalam Kersamanah, Mahasiswa
Articles
    Related posts
    Akhlak

    Taubat Nasuha untuk Revolusi Akhlak

    3 Mins read
    Sedang ramai orang bahas kata ‘revolusi akhlak’ yang akan dilakukan seorang tokoh agama sekembalinya ke Indonesia. Di sudut lain, ada yang melihat…
    Akhlak

    Kado Langit untuk Guru: Kemuliaan para Pendidik

    3 Mins read
    Biasanya, para guru mendapatkan kado yang bermacam-macam dari anak didiknya. Ada yang memberi hadiah berupa sabun, roti, baju, peniti emas, hingga ada…
    Akhlak

    Kiat Sukses dengan Selalu Melibatkan Allah SWT

    3 Mins read
    Menginginkan sesuatu atau bercita-cita mewujudkannya adalah hal yang umum dirasakan setiap manusia. Untuk mencapai hal tersebut harus dengan rasa sabar, ikhlas disertai doa…

    Tinggalkan Balasan