Pendidikan Ideal ala Rasulullah - IBTimes.ID
Tarikh

Pendidikan Ideal ala Rasulullah

2 Mins read

Tradisi keilmuan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah umat manusia.

Seiring dengan berkembangnya zaman, maka diikuti pula oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, ketika Allah menurunkan risalah-Nya kepada Muhammad, wahyu yang pertama turun adalah perintah untuk berliterasi.

‘Membaca’ dalam konteks surat Al-Alaq tidak hanya dimaknai sebagai proses membaca dan menulis di atas lembaran kertas saja. Namun, lebih dari itu, perintah iqra’ disini memiliki arti membaca keadaan alam sekitar, membaca ayat qauliyah dan juga ayat kauniyah.

Untuk merealisasikan risalah yang diembannya ini, Nabi Muhammad sejak masa awal dakwahnya telah memperhatikan tempat pendidikan. Karena memang pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi keberlangsungan suatu masyarakat.

Lembaga Pendidikan Islam dalam Sejarah

Dalam tonggak sejarah Islam, tercatat banyak sekali bermunculan lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Di antaranya adalah Darul Arqam, Madrasah Ashabus Suffah, dan lain sebagainya.

Darul Arqam sendiri memiliki arti rumah yang terletak di dekat Jabal Shafa milik salah seorang sahabat Nabi yang bernama Al-Arqam bin Abi Arqam. Beliaulah yang menyedekahkan rumahnya sebagai tempat pendidikan dan juga perkaderan Islam.

Darul Arqam sejatinya merupakan madrasah ula (pertama) dalam dakwah Islam yang founder-nya adalah Nabi Muhammad SAW dan kurikulumnya merupakan inti sari pendidikan yang berasal dari Al-Qur’an.

Proses pendidikan di rumah Arqam ini melahirkan tokoh-tokoh hebat yang dicatat menggunakan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Tokoh-tokoh tersebut antara lain Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Zaid bin Haritsah, dan masih banyak tokoh lainnya yang di kemudian hari memiliki peran besar bagi tersyiarnya dakwah Islam.

Baca Juga  Guru Besar Muda-Muda: Tantangan dan Harapan

Lembaga pendidikan yang selanjutnya mungkin jarang terdengar di telinga kita, tetapi peran lembaga ini begitu besar bagi keberlangsungan dakwah Islam.

Lembaga itu dikenal dengan istilah Madrasah Ashabus Shuffah. Sebuah tempat yang terletak di Masjid Nabawi.

Lembaga tersebut digunakan Nabi Muhammad untuk mendidik para sahabat. Pelajaran yang diajarkan antara lain adalah membaca, menulis, ilmu tajwid, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Mayoritas sahabat yang mengikuti pendidikan di Shuffah ini berasal dari kalangan orang miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. Lalu, orang-orang ini menetap di Shuffah Nabawi.

Dalam perjalanannya, madrasah Ashabus Suffah melahirkan banyak tokoh yang sangat berjasa dalam Islam, seperti Abu Hurairah, yang merupakan sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis, yakni sebanyak 5.374 hadis.

Kemudian, Abu Dzar Al-Ghifari yang disebut-sebut sebagai tokoh gerakan hidup sederhana, Salman Al-Farisi sahabat yang mengusulkan pembentukan parit saat perang Khandaq, dan masih banyak sahabat-sahabat Nabi yang sukses setelah mengikuti proses pendidikan di madrasah ini.

Peran Guru dalam Pendidikan

Penting untuk kita perhatikan bahwa di dua lembaga pendidikan di atas, seorang guru, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW, tidak hanya memberikan pengajaran tentang membaca dan menulis semata. Namun juga menanamkan nilai-nilai ketauhidan, akhlak, dan kepekaan sosial sebagai fondasi awal untuk menjadi insan yang tidak hanya sukses dalam menyerap ilmu pengetahuan, tetapi juga siap menjadi pioner-pioner dakwah untuk menyebarkan risalah.

Dalam konteks pendidikan, hari ini mungkin masih banyak dari tenaga pengajar kita yang dalam proses kegiatan belajar mengajarnya hanya sebatas menyampaikan materi saja, tanpa disertai dengan penanaman akhlak dan nilai-nilai ketauhidan.

Inilah yang menyebabkan pelajar hari ini hanya pintar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi saja. Mereka tidak mengetahui bahwa esensi dari ilmu tidak hanya proses membaca saja tapi juga diikuti dengan ketundukan kepada Sang Pencipta serta tumbuhnya kepekaan dalam melihat realita.

Baca Juga  Jilbab dan Cadar: Warisan Tradisi Pra-Islam?

Editor: Lely N

Avatar
1 posts

About author
Salman Rifqi Saputra
Articles
    Related posts
    Tarikh

    Kisah Ijazah Nama “Haji Achmad Dachlan” Oleh Gurunya, Sayyid Abu Bakar

    3 Mins read
    Guru dalam “kerata basa” atau pepatah Jawa adalah ”tiang kang digugu lan ditiru” atau orang yang dijadikan panutan dan yang diikuti segala…
    Tarikh

    Serat Cebolek: Ketib Anom Kudus Menegakkan Syariat

    4 Mins read
    Alkisah, ulama-ulama Pantura marah karena ada seorang tokoh agama dari Tuban, Haji Mutamakin atau Haji Cebolek mempelajari Serat Dewaruci dan mengajarkan ilmu…
    Tarikh

    Agar Kekayaan dan Kekuasaan Tetap Berlimpah dan Kokoh

    1 Mins read
    Hipotesis nya adalah: Jika kekayaan dan kekuasaan digunakan untuk menolong, maka kekayaan akan semakin berlimpah kekuasaan akan semakin kokoh. Sepasang suami istri…

    Tinggalkan Balasan