Prof Yunahar: Orang Minang di Bastion Kebudayaan Jawa

 Prof Yunahar: Orang Minang di Bastion Kebudayaan Jawa
Ilustrasi: IBTimes            

Prof. Yun. Malam itu tanggal 2 Januari 2019 jam 21.00 (Waktu Beirut lima jam lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat), sebuah berita duka dari Tanah Air kembali saya terima lagi: Prof. Dr. K.H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag., telah dipanggil kembali ke hadirat Allah SWT.

Beliau adalah salah seorang Ketua PP Muhammadiyah (2015-2020), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat (MUI), Ketua BPH Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Ketua Dewan Pengawas Syariah BSB (Bank Syariah Bukopin), Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan berbagai jabatan penting lainnya sebagai ladang amal pengabdiannya kepada negara, bangsa, dan umat Islam Indonesia. Bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, terlebih lagi keluarga besar Muhammadiyah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Sungguh, Muhammadiyah saat ini benar-benar berduka: dalam waktu kurang dari dua bulan kehilangan dua Ketua Pimpinan Pusat-nya yang paling handal dan diandalkan, serta seorang Wakil Ketua Lembaga tingkat pusat. Belum lama berselang Muhammadiyah kehilangan Prof. Dr. Bahtiar Effendy (21 Nopember 2019), Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kerjasama Luar Negeri, bidang yang sangat penting dan strategis sebagai ujung tombak internasionalisasi gerakan Muhammadiyah; disusul lagi ditinggalkan oleh Prof. Yunahar Ilyas (2 Januari 2020), Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tabligh dan Tarjih, bidang utama dan terutama dalam Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar; kemudian disusul wafatnya Agus Edy Santoso (10 Januari 2020), Wakil Keta Badan Pengurus LAZISMU.

Sungguh kehilangan tiga pemimpin secara beruntun tersebut  merupakan pukulan tersendiri bagi organisasi Islam moderen terbesar di Indonesia, bahkan dunia ini. Kepergian keduanya akan berpengaruh besar bagi gerak dan langkah Muhammadiyah ke depan. 

Kedekatan Saya dengan Prof. Yun

Saya dekat Prof Yun, demikian saya biasa menyapanya, rasanya belum terlalu lama. Tentu, sejak menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1993-1998) saya sudah mulai kenal beliau dan sering bertemu dalam acara-acara atau pertemuan-pertemuan organisasi. Barulah ketika menjadi Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah (Periode 2000-2005, periode kepemimpinan Buya Syafii Maarif) saya menjadi semakin  lebih mengenalnya oleh karena beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah.

Sebagai ketua majelis yang sangat penting dan dipentingkan dalam Muhammadiyah peran ketua majelis menjadi sangat menonjol. Sebagai salah satu ulama muda yang berbakat yang pendapat-pendapatnya lurus-lurus alias lempeng-lempeng saja, Prof Yun sejak lama digadang-gadang oleh banyak warga Muhammadiyah untuk menjadi pelanjut KH. Azhar Basyir, MA., Prof. Asmuni Abdurrahim, dan Ustadz Muhammad Muqaddas Lc., MA., dalam hal menekuni bidang Tabligh dan Tarjih.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Kematian Randi-Yusuf

Saya rasa Prof. Yun bisa dikatakan sebagai salah satu mata rantai terpenting penjaga gawang ortodoksi dalam Muhammadiyah yang bisa diandalkan. Setelah Ustadz Muhammad Muqaddas wafat, peran Prof. Yun di Muhammadiyah tampak sekali kian menonjol. Beliau memang seorang yang tekun belajar agama, dan berdisiplin dalam bidang itu. Dapat lah dikatakan bahwa hampir seluruh hidupnya dihabiskan melulu untuk belajar (dan mengajar) agama: dari tingkat dasar,  menengah pertama, menengah atas, sarjana (S1-nya malah rangkap dua dalam bidang agama semuanya), master, sampai tingat doktor, tetap disiplin dalam bidang dirasah Islamiyah.

Berbeda dengan kebanyakan aktifis lainnya yang studinya tidak disiplin alias zig-zag: S1-nya apa, S2-nya apa, dan S3-nya apa! Saya malah punya beberapa teman S1-nya agama, S2-nya Kebijakan Publik, dan S3-nya Hubungan Internasional. Bahkan ada seorang yang S1-nya Teknik Industri, S2-nya Administrasi Negara, dan S3-nya Kajian Islam dan Timur Tengah! Hehehe…. Prof Yunahar Ilyas berbeda: lempeng saja belajar agama (Islam)!.

Bastion Kebudayaan Jawa

Setelah lulus sarjana (Lc.) dari Mohammad Ibnu Saud Islamic University, Riyadh, Arab Saudi (1983), putra Minang kelahiran Bukittinggi ini sempat pulang ke Padang untuk mengelesaikan sarjana S1 lagi di IAIN Imam Bonjol, Padang (1984). Tetapi selepas itu beliau menghabiskan hidupnya lebih banyak di Yogyakarta daripada di Sumatera Barat. Beliau mengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan kemudian mengambil doktor di UIN Yogyakarta. Bahkan kemudian menetap di kota gudeg itu.

Rupanya beliau mengikuti jejak Buya Syafii Maarif, putra Minang kelahiran Sumpur Kudus, yang juga menjadikan Yogyakarta sebagai tanah airnya yang utama. Ini penting sekali di-reiterate dalam tulisan ini: hidup di tengah-tengah pusat kebudayaan Jawa yang begitu panjang telah menjadikah beliau mengalami proses Jawanisasi yang cukup intensif dan ekstensif. Dia memahami dan menghayati sekali kebudayaan Jawa khas Yogyakarta.

Di kota yang menjadi pusat dan bastion kebudayaan Jawa ini, rupanya, atau lebih tepatnya: rasa-rasanya, Prof. Yun telah belajar banyak tentang kebudayaan Jawa. Dalam Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah tahun 2017 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof Yun dan saya berduet menjadi nara sumber membawakan materi tentang “Islam Wasathiyah dalam Perspektif Kebudayaan”. Saya kaget sekali karena Prof. Yun banyak sekali menjelaskan Islam Wasathiyah dari parpektif kebudayaan Jawa dengan mengemukakan cerita-cerita tentang simbol-simbol kejawaan. Dia bahkan menjelaskan dengan menarik dan bagus sekali arti tokoh Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Bahkan beliau bisa menerangkan beberapa “logika Jawa”, termasuk beberapa spekulasi Jawa yang mirip “othak-athik-gathuk” khas Jawa itu secara lucu sekali.

Tak heran pimpinan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia yang menjadi peserta Pengkajian Ramadhan yang jumlahnya 600-an itu menjadi terpukau dan tertawa ger-geran. Terus terang saja saya yang berbicara setelah beliau merasa kehabisan bahan! Semua sudah diborong habis oleh Prof Yun!

Baca Juga  Qarana dalam Al-Qur'an: Waspadai Cocokologi Menyesatkan!

Memang Prof Yun selalu bisa menjelaskan konsep Islam Wasathiyah secara bagus dan menarik sekali. Referensi keislamannya  yang luas yang dikumpulkan sejak usia dini hidup di lingkungan keluarganya yang agamis, bersekolah secara disiplin dalam ilmu-ilmu agama sejak Madrasah Ibtidaiyah sampai Doktor, dan hapalannya yang luar biasa banyak akan ayat-ayat Al-Quran, hadist, dan qaidah-qaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, yang kesemuanya itu telah terakumulasi dalam khazanah keilmuannya sedemikian rupa, sehingga mampu menjelaskan setiap materi, seperti Islam Wasathiyah, tersebut di atas dengan baik sekali.

Wasathiyah bagi Prof Yun adalah tengahan, tapi tengahan yang lurus laksana ihdina l-shirat al-mustaqiem, tidak menyeleweng ke kanan dan tidak pula menyimpang ke kiri, tidak liberal dan tidak radikal, tidak ekstrim (tatharruf, ghullu, over dosis) dan tidak serba boleh atau permisif (ibahiyah). Watsatiyah juga tidak bersikap hegemonik dengan menganggap hanya pendapatnya sendiri yang benar. 

Hajriyanto Y. Thohari

Sebagai dai dan guru dari para dai Muhammadiyah, Prof Yun tidak lupa selalu menganjurkan para dai Muhammadiyah, seraya mengutip sebuah hadist, untuk yassira wa la tu’assira (memudahkan, jangan mempersulit), basysyira wa la tunafira (berikan kabar gembira sehingga menggembirakan, jangan membikin susah sehingga orang lari). 

Salah besar orang yang mengatakan beliau keras, apalagi kaku. Saya rasa beliau sangatlah luwes dalam taktik dan strategi, tetapi tegas dalam prinsip. Demikian juga dalam soal-soal pemahaman keagamaan. Pernah beliau saya minta untuk membina jamaah karyawan sebuah bank yang saya perhatikan sangat kaku dan rigit dalam amalan-amalan sunat. Setelah beberapa waktu beliau menyampaikan informasi kepada saya perkembangan jamaah tersebut dan mengatakan bahwa mereka itu terlalu kaku atau rigid. Salafi sendiri tidak begitu, katanya.

Kepribadian Prof Yun

Setiap minggu sekali sejak dua periode terakhir Prof Yun memberikan pengajian Tafsir Al-Quran di aula Gedung Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta yang dikoordinasi oleh Pak Risman Muchtar. Meski bukan peserta tetap, dua tiga kali saya pernah mengikuti pengajian tafsir itu. Prof mengajarkan tafsir Al-Quran dengan cara membaca setiap ayat dan kata perkata dalam ayat tersebut secara mendalam dan menafsirkan maknanya panjang dengan ayat yang lain, dengan hadits, dengan contoh-contoh dalam sejarah Islam, dan kemudian dikaitkan dengan hal-hal yang aktual yang terjadi dalam kehidupan.

Bacaannya yang luas akan kitab-kitab tafsir, baik yang klasik maupun yang moderen, menjadikan penjelasan-penjelasannya kaya dan komprehensif. It’s okey! Saya rasa tafsirnya sangat moderat dan terbuka. Meski dalam hal-hal yang prinsip, misalnya menyangkut akidah, beliau tegas, tetapi dapatlah dikatakan paham keagamaannya juga lumayan longgar dan penuh tasamuh dengan pendapat-pendapat lain yang berbeda. Maklum beliau seorang sarjana dan guru besar yang sangat berjiwa schooler. Figur seperti beliau saya rasa akan sangat lah tepat untuk memimpin umat Islam Indonesia yang makin beragam paham dan pemahaman keagamaannya seperti sekarang ini.

Baca Juga  Perempuan, Pengetahuan, dan Peradaban

Dulu pernah ada yang mengira bahwa Prof Yun ini orangnya terlalu serius, kalau pidato tidak pernah melucu, atau bahkan keras. Anggapan itu banyak yang salah: Prof Yun, apalagi akhir-akhir ini, banyak melucu. Tapi lucunya buya bukan melucu untuk melucu, sehingga sampai mencari-cari cerita sekadar untuk bisa melucu. Prof Yun melucu yang ada konteksnya dengan tema dan topik ceramahnya.

Pernah ada jamaah pengajiannya yang sambil bertanya kepada Prof Yun tentang berbakti kepada orang tua. Tapi sambil bertanya orang itu mengecam orang-orang yang kalau bicara dengan ibunya pakai bahasa Jawa Ngoko dan tidak pernah mencium tangan ibunya. Prof Yun menjawab santai: berbakti itu tidak harus dirunjukkan dengan mencium tangan. Saya malah kalau pamitan sama ibunda saya dengan melaambaikan tangan atau berdada-saja saja, atau sekedar bilang “mak saya pergi!”. Ketawalah semua jamaah pengajian tersebut! Hehehe.

Prof. Yun orangnya tidak kaku dalam berpendapat. Bahkan dalam hal-hal tertentu cukup santai dan rileks. Sependek pengetahuan saya, dia tidak pernah bicara dalam nada keras dalam rapat-rapat pleno PP. Bukan hanya itu. Dalam berperilaku dan bertutur kata pun dia sangatlah Jawa: nada bicaranya datar, pilihan diksi-diksinya biasa, kurang straigth forward, dan, ini yang penting, tidak pernah bicara keras dalam Rapat-Rapat Pleno PP Muhammadiyah. Bahkan dalam beberapa hal dia seringkali jauh lebih Jawa daripada orang Jawa! Saya sebagai orang Jawa kadang malu hati menyaksikan beliau yang selalu sedemikian datar dalam berbicara dan moderat dalam menyikapi setiap masalah yang muncul di rapat.

Pernah terjadi sesuai rapat pleno PP yang sesekali berlangsung keras, saya melihat Prof Yun menjabat tangan Ketua Umum PP seraya memberikan pujian kepada Ketua Umum dengan mengatakan:  “Alhamdulillah, untung sekali tadi Pak Ketua Umum tidak terpancing emosional!”. Artinya, Prof Yun tidak menghendaki terjadinya hal-hal yang emosional yang tadi sempar berlangsung di rapat. Dan memang hal seperti itu hanya sesekali, bahkan mungkin sekali atau dua kali saja terjadi. Orang-orang PP ini kan pada dasarnya orang-orang baik dan terpercaya itikad baiknya.

Walhasil, semua tahu dan sadar sepenuhnya bahwa urusan-urusan yang dihadapi Muhammadiyah memang tidak ada yang perlu dipertegangkan secara emosional. Wong semuanya niatnya baik.

Prof Yun, salah satu pemimpin terpenting Muhammadiyah, telah pergi meninggalkan kita. Pemimpin boleh datang dan pergi, come and go, tapi Muhammadiyah harus tetap eksis dan survive. Patah tumbuh hilang berganti, esa hilang dua terbilang, patah satu tumbuh seribu! Laksana sang surya, Muhammadiyah harus terus bersinar menerangi semesta.*

Editor: Azaki Khoirudin

IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis dan editor yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
Mandiri 137-00-5556665-3
A.n Litera Cahaya Bangsa

Hajriyanto Y Thohari

Hajriyanto Y Thohari

Duta Besar RI di Beirut

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *