Runtuhnya Khilafah, Munculnya Gerakan Islam - IBTimes.ID
Tarikh

Runtuhnya Khilafah, Munculnya Gerakan Islam

3 Mins read

Melihat sejarah runtuhnya Khalifah Turki  Utsmani pada tahun 1924 disebabkan beberapa faktor, faktor internal dan eksternal. Keadaan tambah parah setelah munculnya penyakit al-wahn di kalangan penguasa Turki, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati (Jama’ah Shalahuddin UGM )

Selain faktor internal juga ada faktor eksternal, munculnya gerakan nasionalis, sosialis, dan sekuler. Ide-ide gerakan itu membuat wilayah di bawah kekuasan Khalifah Turki Utsmani ingin memerdekakan diri.

Bangsa yang berkeinginan untuk memisahkan diri adalah Bangsa Arab, sehingga pemerintah Turki sangat geram dengan yang berhubungan dengan Arab. Secara tidak langsung menjauhkan Turki dari ulama yang berbau Arab, dari sini tertutupnya keran Ijtihad.

Keadaan menjadi semakin miris ketika invasi teknologi dari Barat, muncul ulama yang mengharamkan teknologi Barat, dan juga muncul ulama yang membolehkan. Terjadilah keraguan di kalangan rakyat karena terpecah pemahaman, sehingga rakyat mulai tidak percaya dengan hukum Islam.

Gerakan Nasionalis dan Sekuler di Turki

Pada perang Dunia I Turki Utsmani kalah, beberapa wilayah kekuasaan jatuh ke tangan Sekutu. Ketika itu Khalifah hanya punya jabatan tetapi tidak mempunyai kekuasaan. Hanya sebatas jabatan pemimpin agama, bukan pemimpin Negara.

Turki memerdekan diri, Mustofa Kemal Attaturk mengambil kesempatan sebagai tokoh Nasionalisme. Mempunyai ide untuk membuat Negara Turki modern yang nasionalis, sosialis, dan sekuler. Berdirinya Negara Turki yang sekuler, negara tidak membeci ajaran Islam tetapi tidak mengatur Islam.

Misalnya, biro Haji dibubarkan hal itu bukan urusan negara, mau berhaji mau tidak itu bukan urusan negara. Tidak boleh ada nama ke Arab-Araban, nama makam sahabat Abu Ayyub al-Anshari jadi Eyup. Aya Sofya yang tadinya masjid dikembalikan jadi gereja lagi, memang asalnya gereja. Tidak boleh pakai peci di luar masjid, hanya diperbolehkan mengenakannya di dalam masjid.

Baca Juga  Sunan Kalijaga : Wayang Kabatinan Islam

Membangun Kembali Khilafah

Setelah Khalifah Turki dihapus pada tahun 1924, dunia Islam begitu kaget karena selama ini menganggap bahwa Istambul adalah pusat kekuatan politik bagi dunia Timur. Timbul pro dan kontra di umat Islam Timur tentang Khilafah, karena di dalam Al-Quran tidak memberikan garis tegas untuk masalah Khilafah.

Setelah Raja Ibnu Saud menaklukan Makkah pada tahun 1924, beliau berambisi untuk menjadi Khalifah Islam. Untuk menunjang hal itu beliau megundang umat Islam untuk menghadiri kongres Khalifah mengutip dari A History Modern Indonesia (1981) yang disusun M.C. Ricklefs. (Titro.ID, 2019)

Pada tahun 1925 para ulama ingin membentuk lagi sistem Khilafah melakukan pertemuan di Kairo, Mesir beberapa ulama tersebut tidak menemukan titik temu. Mereka sepakat untuk tidak sepakat alias bubar jalan, bagaimana sistem pemilihan khalifah, bagaimana sistem pengangkatan Khalifah siapa yang membaiat.

Membentuk Partai Politik

Baru terbentuk partai politik di dunia Arab pada tahun 1941 oleh Michel Aflaq. Beliau beragama Kristen Ortodoxs punya semangat nasionalis, mengkader pemuda Arab agar bisa semangat nasionalis, merdekakan bangsa Arab dari sekutu.

Berdirilah partai pertama nasionalis, Partai Ba’ath, mengkader umat Islam Arab agar lebih mencintai bangsanya. Umat Islam merasa harus punya partai sendiri, karena Partai Baath ini pendirinya orang kristen ortodoxs dan ideologinya berasal dari Pransis mengambil pemikiran Ernest Renan.  

Bedirinya Gerakan Politik Islam

Pertama kali ada Gerakan politik Islam di bangsa Arab bernama Ikhwanul Muslimin Tahun 1928 yang didirikan oleh Hassan Al-Banna mengkader umat Islam Arab. Banyak tokoh yang berasal dari Ikhwanul Muslimin.

Hassan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin dengan alasan kebangkitan Islam akan membuat dunia muslim mampu mengejar ketertinggalan dari dunia Barat dan menggulingkan kekuasaan kolonial.

Baca Juga  Khalifah Ali (10): Memilih Gubernur Baru dan Surat Kosong Muawiyah

Ikhwanul Muslimin era Hassan Al-Banna adalah berideologi nasionalis dan sosialis. Pada tahun 1948 pemuda Ikhwanul Muslimin membunuh Perdana Mentri Mesir yang bernama Mahmud Fahmi al-Nuqrashi. Mengetahui hal itu Hassan al-Banna menangis dan memarahi pemuda tersebut. “Kamu itu bukan membunuh Perdana Menteri Mahmud Fahmi al-Nuqrashi, tetapi membunuh saya,” kata Hassan al-Banna kepada pemuda tersebut.

Benar pada tahun 1949 Hassan al-Banna meninggal di bunuh. Pada Agustus 1966 Sayyid Quthub, pentolan Ikhawanul Muslimin yang menjadi inspirasi ideologi Ikhwanul Muslimin karena menulis buku panduan.

Sayyid Quthub oleh rezim Nassir dibunuh dengan cara di gantung, simpatisan Ikhwanul Muslimin menjadi-jadi terus melakukan perlawanan terhadap kekuasaan rezim pemerintah.(Merdeka.Com, 2019)

Pada tahun 1954 Ikhwanul Muslimin dibubarkan, setelah dibubarkan banyak sempalan berbagai aliran seperti Jama’ah Takfir wal Hijrah. Walaupun, pada akhirnya diakui lagi sebagai partai dan ikut pemilu di Mesir.

Perlunya Gerakan Alternatif Islam

Pada saat Muhammadiyah berdiri tahun 1912 hampir seluruh dunia Islam sedang dalam cengkraman para penjajah. Di tengah keadaan seperti itu, Muhammadiyah membawa slogan Islam berkemajuan, walaupun belum disebut sebagai gerakan modern kala itu.

Namun, dalam berjalanya waktu Muhammadiyah tidak bisa lepas dari gerakan Dakwah dan Tadjid. Beberapa prestasinya sudah terukir menemani  langkah umat Islam Indonesia, yang sudah bisa melewati susahnya perjuangan era kolonialisme, era kemerdekaan, era orde lama, era orde baru, dan era reformasi.

Banyak organisasi keagamaan selain di Indonesia, tidak berjalan mulus seperti Muhammadiyah. Misalnya ormas keagamaan di Mesir dan Pakistan yang berhadapan dengan pemerintahan. Sedangkan Muhammadiyah tidak berhadap-hadapan langsung dengan negara, itu karena Muhammadiyah sejalan dengan negara. Walaupun, ada kritis itu hanya sebagai manifesto amar ma’ruf nahi munkar.

Mungkin karena Muhammadiyah mengambil peran di dunia pendidikan sehingga tidak tergoda oleh politik praktis. Walaupun, setelah masa reformasi peran tokoh Muhammadiyah bisa berubah sesuai dengan tantangan zaman.

Baca Juga  Benang Merah Essenes dan Umat Islam

Para tokoh Muhammadiyah dan pengurus di tingkat jenjangnya tidak bisa lepas dari tanggung jawab intelektualnya. Untuk menghadapi perkembangan zaman, hal ini berbeda dengan tantangan 100 tahun yang lalu awal berdiri Muhammadiyah.

Apakah Umat Islam siap untuk menghadapi intelektual pemuda dari negara Barat. Siap atau tidaknya kita akan tetap menghadapai kedatangan mereka. Kedatangan beberapa intelektual muda dari Negara Barat akan mewarnai sejarah peradaban Islam di Abad 21.

Editor: RF Wuland
Avatar
13 posts

About author
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nusantara Bekasi | Warga Muhammadiyah
Articles
Related posts
Tarikh

Strategi Dakwah Habib Ali bin Abdul Ghadir di Ujung Barat Banyuwangi

3 Mins read
Tepat di sisi ujung barat Kabupaten Banyuwangi, terdapat satu kecamatan yang lebih kental akan suku Madura. Kalibaru namanya, adalah kawasan lembah di…
Tarikh

Sastra Pers dan Gerakan Islam di Era Kebangkitan Nasional

7 Mins read
Awal abad ke-20 disebut sebagai era kebangkitan nasional. Kemerdekaan Indonesia terjadi tahun 1940-an, tetapi apinya sudah menyala di awal tahun 1900-an. Kondisi…
Tarikh

Adat sebagai Identitas Masyarakat Pribumi

3 Mins read
Buku Ferry Hidayat yang berjudul Antropologi Sakral: Revitalisasi Tradisi Metafisik Masyarakat Indigenous Indonesia, sangatlah menarik untuk dipahami tentang adat dan di mana…

Tinggalkan Balasan