Detik-detik Kematian Umar - IBTimes.ID
Tarikh

Detik-detik Kematian Umar

5 Mins read

Tragedi penusukan Umar bin Khattab ini cukup detail dibagikan oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, yaitu Biografi Umar bin Khattab. Saya akan share ringkasan kisah itu tanpa menghilangkan substansinya.

Pelaksanaan Rencana Keji

Hari masih gelap. Azan subuh dikumandangkan. Serombongan muslim menuju masjid untuk salat. Pagi buta itu, Umar menjadi imam salat seperti biasanya. Di belakangnya ada Abdurrahman bin Auf, Amr bin Maimun, dan sahabat lainnya.

Salat subuh pun dimulai. Umar mulai membaca surah. Ia lalu sampai di bacaan, “Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Al-Ahzab: 38)

Tiba-tiba, ada seseorang yang menerobos barisan salat. Ia adalah Abu Lu’luah, seorang Majusi penyembah api yang memiliki dendam itu. Ia merangsek ke barisan depan dan menusuk punggung Umar, lalu menusuk perut Umar dengan beberapa kali tusukan. Menurut Ibnu Saad, Umar tertusuk sampai lima kali di perutnya.

Umar berteriak, “Allahu Akbar! Seseorang membunuhku!” Umar lalu menarik tangan Abdurrahman bin Auf maju ke depan. Seseorang harus menggantikan Umar untuk menjadi imam salat. Umar sendiri jatuh roboh.

Suasana di barisan depan salat menjadi kacau balau. Para sahabat berteriak dan mengepung pelaku. Abu Lu’luah berusaha meloloskan diri dengan menerobos barisan salat lagi. Sementara barisan salat bagian belakang tidak mendengar kegaduhan itu. Mereka pikir Umar lupa bacaan salat atau apalah, sehingga mereka berucap, “Subhanallah, subhanallah”. Mereka ingin mengingatkan supaya Umar melanjutkan gerakan salat.

Satu-satunya penjelasan yang masuk akal dari hal ini adalah karena jamaah salat subuh saat itu membludak. Muslim dan muslimah yang ikut salat subuh di zaman Umar begitu meluber hingga ke jalan. Saking banyaknya, sampai orang yang ada di barisan belakang tidak sadar ada kegaduhan di barisan depan. Suara mereka tak terdengar saking jauhnya jarak.

Itulah satu-satunya penjelasan yang make sense. Amazing, bukan? Subuh seperti itu lah yang kita inginkan. Tapi baiklah, mari kita kembali ke kisah penusukan itu.

Pembunuh yang Bunuh Diri

Alkisah, para sahabat di bagian depan barisan tidak membiarkan si pelaku lolos. Mereka pun menyergapnya. Seorang sahabat berhasil membebat pelaku dengan sebuah kain. Terjadilah gelut dan perkelahian.

Baca Juga  Teruslah Mengkritik, tapi Harus Siap Pula Dikritik

Di tengah suasana perkelahian, Abu Lu’luah menyabetkan senjatanya ke mana-mana. Bet bet! Amukannya berhasil menewaskan enam sampai sembilan orang sahabat. Sungguh kekuatan yang gila. Ia kalap dan jadi seperti anjing gila.

Sederhananya bisa dibilang, ditambah Umar, sebenarnya Abu Lu’luah membunuh sepuluh orang sahabat Nabi saw.

Abu Lu’luah menyadari bahwa ia takkan lolos. Walau sudah mengamuk seperti itu, ia hanya sendirian dikepung para sahabat lain. Maka, di tempat itu, ia langsung bunuh diri dengan menusukkan senjata yang ia pegang ke dirinya sendiri. Para sahabat terpaku melihat darah mengalir.

Umar yang sejak tadi terbaring karena tertusuk, lalu berkata kepada Ibnu Abbas, “Ibnu Abbas, lihat siapa yang membunuhku!” Ibnu Abbas menghampiri jasad si pelaku. Sebelumnya, orang-orang tidak begitu sadar siapa si pelaku. Prioritas para sahabat adalah menangkap si pelaku.

Kini si pelaku sudah tewas bunuh diri. Ibnu Abbas pun mengenalinya. Lalu ia kembali ke Umar dan berkata, “Ia budak Mughirah”. “Ash-Shana?”, tanya Umar memastikan. Itu nama panggilan Abu Lu’luah. “Iya”, Ibnu Abbas menjawab pasti.

“Alhamdulilah Allah tidak menjadikan matiku ini di tangan orang yang mengaku Islam!”, timpal Umar.

Keputusan-Keputusan Di Saat Sekarat

Para sahabat segera memanggil dokter untuk memeriksa Umar. Lalu, dokter tergopoh-gopoh datang dan memeriksa Umar. Ia tampak berpikir keras. Sang dokter memberi minuman kurma dan susu ke Umar. Mereka semua bergidik ngeri ketika melihat susu itu keluar dari luka tusukan Umar.

Jelas sudah. Artinya, pisau itu telah merobek lambung Umar. Lima tusukan dari Abu Lu’luah telah melobangi lambung Umar. Para sahabat tahu bahwa umur Umar takkan lama lagi.

Tapi bukan Umar namanya kalau ia terpuruk di situasi ini. Ia segera memanggil anaknya Abdullah bin Umar. “Lihatlah, apakah aku punya hutang?”. Ternyata, hutangnya Umar ada 86.000 (tidak diketahui apakah dalam bentuk dinar atau dirham).

Umar lalu memberikan pelajaran yang sangat penting. “Jika harta keluarga Umar cukup untuk melunasinya, maka lunasilah dengan harta tersebut. Apabila belum cukup, maka mintalah ke Bani Adi bin Kaab. Apabila belum cukup juga, mintalah ke kabilah Quraisy. Dan jangan minta kepada yang lain.” Ustaz Asep Sobari menjelaskan bahwa beginilah karakter masyarakat muslim yang saling membantu. Namun, tanggung jawab bantuan itu sifatnya berjenjang.

Baca Juga  Hijrah Nabi Ibrahim: Dari Politeisme Menuju Monoteisme

Dimulai dari keluarga sebagai unit utama dan satuan terkecil dari masyarakat. Jika ada anggota keuarganya yang kesulitan, keluarganya yang harus membantunya. Jika keluarganya tidak sanggup, maka lingkup masyarakat yang lebih powerfull wajib membantunya, yaitu klan atau keluarga besarnya.

Jika keluarga besarnya masih belum sanggup membantu, maka unsur masyarakat yang lebih besar lagi yang wajib membantunya –misalnya suku atau komunitas lain. Dan seterusnya begitu. Jika semua sudah tidak sanggup lagi karena urusannya sangat sulit, barulah tataran masyarakat yang paling besar, yaitu negara, turut membantu.

Masyarakat Impian

Jika perkataan Umar ini kita praktikkan, kita akan memiliki masyarakat yang sehat. Kita akan menjadi masyarakat yang saling membantu. Inilah jenis masyarakat yang jadi impian seluruh manusia di dunia. Dan pada zaman Umar, masyarakat seperti itu mewujud dengan nyata.

Untuk bisa saling membantu seperti itu, kita di zaman modern ini tentunya membutuhkan banyak sekali komunitas, paguyuban, klub, atau apa pun namanya. Mereka semua fokus terhadap masalah-masalah tertentu dan semua anggota saling bahu-membahu untuk membantu. Itulah masyarakat Islam sejatinya.

Tak ada lagi cerita orang yang bunuh diri karena terlilit hutang pinjaman online. Atau tidak ada lagi orang yang membantai satu keluarga demi membelikan susu anaknya yang kelaparan.

Kemudian, Umar juga menyuruh Abdullah bin Umar ke rumah Aisyah. Ia titip salam dan meminta izin kepada Aisyah untuk dikuburkan bersama kedua sahabatnya. Abdullah bin Umar bergegas datang ke rumah Aisyah, tapi ia malah mendengar suara tangis. Rupanya, kabar Umar tertusuk sudah lebih dahulu sampai ke telinga Aisyah.

Ia meminta izin Aisyah untuk masuk ke rumahnya. Aisyah pun mengizinkan. Di dalam rumah, Abdullah melihat Aisyah menangis sambil duduk. Ia mengizinkan permintaan terakhir Umar itu, “Sebenarnya aku ingin tempat itu jadi kuburanku. Akan tetapi, biarlah hari ini aku mendahulukan kepentingan Umar daripada kepentinganku sendiri.”

Keadaan Umar makin memburuk. Amr bin Maimun mengeluh, “Belum pernah terjadi suatu musibah sebelumnya seperti hari ini”. Sebelum benar-benar tewas, Umar pun menunjuk dewan untuk memilih siapa khalifah selanjutnya.

Baca Juga  Muhammad Iqbal (1) : 72 Tahun Wafatnya Pemikir Besar Islam

Saat-saat Terakhir Umar

Para sahabat berada di sisi Umar pada saat-saat terakhirnya. Ibnu Abbas menghibur Umar, “Bergembiralah menyambut surga, Amirul Mukminin. Engkau masuk Islam ketika orang-orang masih kafir, berjihad bersama Rasulullah saw. ketika orang-orang menghinanya, dan ketika Rasulullah wafat beliau meridaimu. Dalam kekhalifahanmu tidak ada dua orang yang saling berselisih dan engkau meninggal sebagai syahid.”

Utsman kemudian bersaksi tentang detik-detik kematian Umar. “Aku menemani Umar sementara kepalanya berada dalam pangkuan anaknya, Abdullah bin Umar.” Umar berkata, “Letakkanlah pipiku menempel di bumi.” Kemudian dia melanjutkan, “Bukankah pipiku dan tanah ini sama? Letakkanlah pipiku di bumi ini.”

Umar mengatakan hal ini dua atau tiga kali, kemudian kakinya dilebarkan dan aku mendengar ia berkata, “Malangnya diriku, malangnya ibuku jika Allah tidak berkenan mengampuni dosaku.”

Umar pun mengembuskan napas terakhir. Ia disalatkan dengan dipimpin oleh Shuhaib bin Sinan ar-Rumi. Jenazah Umar dibawa ke rumah Aisyah dengan berjalan kaki. Para sahabat meminta izin kepada Aisyah untuk masuk ke dalam rumahnya. Aisyah pun berkata, “Masukkanlah jenazahnya.”

Utman bin Affan, Said bin Zaid, Shuhaib bin Sinan, dan Abdullah bin Umar turun ke liang lahat untuk menguburkan Umar. Maka, jasad pria perkasa pun kini terbaring di tanah. DI sampingnya, ada kedua sahabat sepanjang hidupnya, yaitu Nabi saw. dan Abu Bakar.

Ibnu Abbas berkeliling kota Madinah, ingin mengetahui reaksi para penduduknya atas kematian Umar. Lalu Ibnu Abbas memberikan kesaksian, “Saya tidak melewati satu rumah pun, kecuali penghuninya menangis karena kehilangan orang yang paling cerdas dari bangsa mereka”.

Editor: Lely N

Avatar
5 posts

About author
Digital Marketer
Articles
Related posts
Tarikh

Strategi Dakwah Habib Ali bin Abdul Ghadir di Ujung Barat Banyuwangi

3 Mins read
Tepat di sisi ujung barat Kabupaten Banyuwangi, terdapat satu kecamatan yang lebih kental akan suku Madura. Kalibaru namanya, adalah kawasan lembah di…
Tarikh

Sastra Pers dan Gerakan Islam di Era Kebangkitan Nasional

7 Mins read
Awal abad ke-20 disebut sebagai era kebangkitan nasional. Kemerdekaan Indonesia terjadi tahun 1940-an, tetapi apinya sudah menyala di awal tahun 1900-an. Kondisi…
Tarikh

Adat sebagai Identitas Masyarakat Pribumi

3 Mins read
Buku Ferry Hidayat yang berjudul Antropologi Sakral: Revitalisasi Tradisi Metafisik Masyarakat Indigenous Indonesia, sangatlah menarik untuk dipahami tentang adat dan di mana…

Tinggalkan Balasan