Serat Cebolek: Ketib Anom Kudus Menegakkan Syariat - IBTimes.ID
Tarikh

Serat Cebolek: Ketib Anom Kudus Menegakkan Syariat

4 Mins read

Alkisah, ulama-ulama Pantura marah karena ada seorang tokoh agama dari Tuban, Haji Mutamakin atau Haji Cebolek mempelajari Serat Dewaruci dan mengajarkan ilmu mistik yang dipandang sesat. Para ulama itu berpikir bahwa tidak patut agama Islam dicampuradukkan dengan ajaran kosmologi pra-Islam.

Kisah tersebut ditulis dalam Serat Cabolek atau Serat Cebolek karya Yasadipura I. Serat Cabolek berkaitan dengan Haji Mutamakin yang mempelajari Kita Dewaruci atau Kitab Bimasuci.

Serat Cabolek tersebut dialihaksarakan oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto disertai alih bahasa oleh Hadisuprapto dan diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1981.

Terbitan tersebut didahului dengan cerita perdebatan antara Kiai Rifai Kalisalak berhadapan dengan Penghulu Batang, ulama muda Mas Haji Pinang dan para ulama lain dengan difasilitasi Raden Tumenggung.

Penelitian mendalam tentang Serat Cabolek dilakukan oleh S. Soebardi dalam disertasinya di The Australian National University tahun 1967 yang diterbitkan atas inisiatif KITLV melalui Penerbit Springer Belanda tahun 1975 dengan judul The Book of Cabolek. Soebardi menggunakan beberapa naskah yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Disertasi tersebut diterbitkan versi Indonesianya oleh Penerbit Nuansa Bandung tahun 2004.

Mosi Ulama kepada Raja

Serat Cabolek berisi aduan para ulama Pantura dengan juru bicara Ketib Anom Kudus, yaitu sekretaris penghulu yang berwenang di masjid Agung Kudus dalam menangani ibadah hingga pengadilan. Ketib Anom beserta para ulama Pantura mengadukan Kiai Mutamakin kepada Raja Mangkurat Kartasura setelah sebelumnya mereka mengirimkan surat edaran kepada para ulama Pajang, Mataram, Kedu, Bagelen, dan Mancanegara. Ketib Anom adalah sosok ulama sepuh yang fasih dan cerdas. Karena Amangkurat IV wafat, maka pemeriksaan kasus itu diteruskan oleh Pakubuwana II.

Haji Mutamakin didakwa telah mengajarkan ilmu mistik sesat, menolak syariat, memberi nama anjingnya Kamaruldin, nama seorang khatib, dan menternak 12 anjing dari Kudus dengan salah satu bernama Abdul Kahhar, nama penghulu Tuban. Ia didakwa merusak aturan dan hukum sehingga layak dihukum bakar. Sebanyak 142 ulama Jawa berkumpul di Kraton Kartasura. Mereka berkumpul di rumah Patih Danureja, yang mendukung mosi para ulama, sebelum mereka bertemu Raden Demang Urawan, ketua pengadilan, yang juga kerabat Raja.

Baca Juga  Nabi Ibrahim AS (4): Pelarian Hingga Menjadi Keluarga Teladan

Setelah dipilih perwakilan ulama dan Bupati serta Wedana, Demang Urawan menjembatani komunikasi mereka dengan Raja. Tapi Raja dan Demang Urawan cenderung berpendapat bahwa tindakan Haji Mutamakin tidak salah karena karya Kabudhan hanya untuk perlambang untuk membuka kesejatian. Raja menyatakan ketidaksukaan akan kegaduhan yang dibuat para ulama dan Patih Danureja, yang masih Uwak Raja.

Ketib Anom Membela Ulama

Saat menyampaikan pendapat Raja kepada para utusan ulama dan Bupati, mereka semua takut dengan kemarahan Raja. Tapi Ketib Anom Kudus maju dan membela posisi ulama. Sosoknya membawa spirit Sunan Kudus, seorang penghulu masjid Demak, panglima Islam yang mengalahkan kekuasaan terakhir Majapahit di Kediri dan mengakhiri perlawanan Ki Ageng Pengging, kerabat Majapahit yang juga murid Seh Siti Jenar. Ketib Anom itu adalah menantu Bupati Kudus. 

Alhasil, Demang Urawan kewalahan menghadapi argumen ulama sepuh dari Kudus yang tegas, berani, dan angkuh meski lembut suaranya. Ketib Anom menegaskan bahwa tugas Raja adalah melindungi sunah Nabi. Kalau Raja menolak, keindahan wajahnya akan lenyap dan negara akan suram. Demang Urawan melaporkan hasil pertemuan itu kepada Raja. Raja tertawa, lalu mengajak Demang Urawan dan Patih Danureja menjalankan shalat Jumat dan memberi hadiah tanah kepada para ulama karena mereka telah menjaga Raja dari bahaya ilmu kebatinan. Raja juga melarang pengajaran ilmu yang tidak sesuai syara.

Selanjutnya, Demang Urawan meminta Ketib Anom untuk menjabarkan isi kitab Bimasuci yang dipelajari Haji Cebolek. Ketib Anom lalu mengajak para ulama, pejabat, dan Demang Urawan untuk mendiskusikan isi Serat Bimasuci, namun melarang Haji Cabolek ikut berbicara. Selama pertemuan, Haji Cabolek hanya terdiam dan menunduk. Ketib Anom menyuruh Haji Cabolek belajar kitab lagi ke Tanah Arab.

Baca Juga  Mengapa Umat Islam Masih Tertinggal dari Umat-umat lain?

Serat Dewaruci

Sementara itu, Serat Dewaruci adalah kisah spiritual Bima, salah seorang Pandawa, yang diutus Pendeta Durna. Oleh karena itu, Serat tersebut disebut juga Bimasuci, yaitu Bima yang mendapatkan kesucian batin. Versi macapat tahun 1793 dan tembang gedhe tahun 1803 keduanya disusun oleh Yasadipura I, pujangga kraton Surakarta.

Bima pertama diutus untuk mencari Tirtapawitra (air suci) di goa Candramuka dikaki gunung Gadamadana dan hutan Tibrasara. Bima atau Werkudata bertemu dengan dua raksana, yaitu: Rukmuka/ Rukmamuka dan Rukmakala dan bertarung sehingga kedua raksasa kalah dan mati.

Keduanya berubah wujud menjadi Dewa Indrabayu dan menemui Bima pada malam harinya. Dewa Indrabayu memberitahu Bima bahwa air Tirtapawitra tidak ada di gunung Gadamadana dan menyarankan Bima untuk kembali ke Pendeta Durna. 

Pendeta Durna memerintahkan Bima mencari air suci ke pusat Samudera. Bima menuruti dan menuju Samudera yang ganas. Ia berhasil menaklukkan Samudera yang bergolak dengan ilmu jalasengara. Bima juga bertarung dengan naga besar yang muncul dari dalam samudera dan melilit serta menyemburkan bisa padanya. Bima berhasil membunuh sang naga dengan kuku Pancanaka.

Akhirnya, Bima bertemu Dewaruci, secara bahasa adalah Dewakotor, namun mengandung arti Dewa yang sudah suci. Dewaruci seperti anak kecil, berjalan kesana kemari di Samudera dengan acuh tak acuh. Saat bertemu Bima, ia menanyakan kemana tujuan, namun Bima tidak tahu dimana pusat Samudera.

Dewaruci menyuruh Bima masuk ke telinga kirinya. Bima heran karena ukuran Dewaruci hanya sebesar ibu jarinya, atau sebesar burung pipit dalam gambaran Serat Cabolek. Namun ternyata Bima bisa muat masuk ke telinga Dewaruci.

Begitu sampai di dalam telinga Dewaruci, Bima masuk di alam tidak berbatas. Ia bertemu lagi dengan Dewaruci yang mengajarkannya tentang pancamaya dan warna-warna sebagai simbol nafsu, penjelasan tentang jagad gedhe/ makrokosmos dan mikrokosmos/ jagad kecil, penjelasan mengenai pramana (kehidupan dari badan yang berasal dari Dia), penjelasan tentang ilmu pelepasan, dan penjelasan mengenai mati di dalam hidup atau hidup dalam kematian. Bima mencapai pencerahan dan kesucian sehingga disebut Bimasuci.

Baca Juga  Pengajian: Modal Awal Gerakan Muhammadiyah

Pengajaran Ketib Anom Kudus

Ketib Anom menjelaskan isi Serat Dewaruci dengan penafsiran sesuai ajaran Islam. Bima masih terperangkap nafsu karena mengabaikan Al-Qur’an dan hadis. Ketib Anom juga membabarkan pemahaman lahir dan batin, keharusan mengabdi sejalan dengan tuntunan hukum Islam, dan bahwa budi luhur adalah perbuatan yang sejalan dengan syariat Islam.

Demang Urawan menitikkan air mata demi mendengar penjelasan Ketib Anom. Ia menyesali karena tidak belajar Al-Qur’an sejak kecil.

Ketib Anom lalu memberi nasehat kepada Demang Urawan. Ketib Anom juga mengajak tiga kiai untuk membaca Suluk Malang Sumirang yang ditulis Sunan Panggung. Sunan Panggung dihukum bakar oleh para ulama karena congkak mengajarkan tentang persatuan badan (panteisme), melanggar etika, mengajarkan kesesatan dan melanggar hukum agama dan adat.

Ketib Anom menutup pesannya agar para hamba selalu waspada dalam ibadah. Orang yang tidak mengetahui ilmu sesat maka belum sempurna ilmunya. Inti keyakinan yang benar ada pada syahadat dan shalat. Kedamaian itu hanya pemberian dari Tuhan.

Editor: Yahya FR

Related posts
Tarikh

Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

4 Mins read
Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad…
Tarikh

Masuk Surga dan Neraka karena Seekor Lalat

2 Mins read
Kisah ini bermula dari dua orang pemuda yang sedang melakukan suatu pengembaraan. Suatu ketika di sebuah majelis ilmu, Imam Thariq bin Syihab…
Tarikh

Kisah Ijazah Nama “Haji Achmad Dachlan” Oleh Gurunya, Sayyid Abu Bakar

3 Mins read
Guru dalam “kerata basa” atau pepatah Jawa adalah ”tiang kang digugu lan ditiru” atau orang yang dijadikan panutan dan yang diikuti segala…

Tinggalkan Balasan